
Di kediaman Zion dan Raina.
" Ma...ma.."
Putra nya berlari dengan memanggil Raian yg sedang duduk di sofa ruang tamu.
" Apa yang kau lakukan, aku sangat lelah jangan menggangguku". Raina enggan menggendong putranya yg sedang minta di gendong olehnya, " Bi... bibi...".
" Iya nyonya".
Pelayan berlari dengan tergesa-gesa mendengar panggilan Raina.
" Apa yang kau lakukan ? tidak bisa kah kau bekerja dengan benar ?".
Omelnya pada sang pelayan.
" Lalu apa yg kau lakukan ?". Suara Zion terdengar dari arah pintu yang baru masuk ke dalam rumah, " Berhentilah melampiskan amarahmu pada orang lain yang tidak tau apa-apa".
" Jangan ikut campur, aku tidak sedang bicara denganmu". Celetuk Raina, seperti biasa wanita itu selalu kasar dan keras kepala.
" Bibi pergilah". titah Zion pada sang pelayan dengan sopan.
" Jika kau terus bekerja tidak becus begini aku akan langsung memecatmu".
" Jangan berani melakukan itu, dia adalah orang yang aku pekerjakan".
" Oh begitu ! tidak ada satupun orang yang kusuka di rumah ini".
" Hmm, aku juga tidak menyukaimu".
" Baguslah, karena kau tidak menyukaiku kenapa kau tidak mau menceraikan ku ?".
" Karena aku tidak ingin putraku tidak memiliki ibu".
" Jangan bercanda dengan ku, aku tidak menyukai anakmu itu".
" Dia juga anakmu, jangan lupakan itu".
" Aku tidak pernah mengakuinya, cam kan itu".
Zion hanya bisa menghela napas panjang menghadapi sikap kasar wanita yang sudah menjadi istrinya itu sejak 4 tahun yang lalu.
' Sekeras apa pun batu jika terus di tetesi air akan pecah juga, aku berharap dia juga bisa berubah suatu hari nanti'.
__ADS_1
Itulah keyakinan yang Zion tanamkan di dalam hatinya selama ini yang membuatnya terus bertahan.
*******
" Siapa ayah anak itu?".
Suara Risky membuyarkan lamunan Cyka yang sedang duduk dengan panik menunggu di depan ruang perawatan putrinya.
" Kau tidak perlu tau". Celetuk Cyka dengan suara seraknya.
" Anak itu terlihat sudah seumuran dengan Rehan, apa dia.."
" Berhentilah berpikir yang tidak-tidak, dia adalah putriku".
" Apa aku bilang dia bukan putrimu, lalu siapa ayah yang di maksud dokter sebelumnya? apa dia pak Fakhri ?".
" Siapa pun dia yang jelas itu bukan dirimu".
" Apa maksudmu, berhentilah bicara berbelit-belit denganku Cyka.."
" Apa yang harus kita lakukan ?". Tiba-tiba dokter yang merawat Richa keluar, " Kita sudah kehabisan stok darah di rumah sakit ini, tidak bisakah kau meminta suamimu untuk memdonorkan darahnya, karena jika darahmu tidak sama dengannya maka ayahnya pasti sama kan?". Lanjut dokter.
Cyka terduduk, kakinya sangat lemas.
" Apa yang terjadi ? kenapa kau diam saja, bukankah dokter memintamu untuk menghubungi ayahnya ?".
' Apa yang harus kulakukan ? aku tidak ingin dia tau kalau Richa adalah putrinya, aku tidak mau dia sampai tau hal itu'.
" Cyka... berhengilah menangis, apa kau tidak khawatir pada putrimu ?".
Suara Risky meninggi karena geram melihat Cyka diam saja dan hanya menangis.
" Tapi putriku tidak memiliki ayah, dia tidak punya seirang ayah".
Mata Risky melebar ia terkejut mendengar ucapan Cyka.
" Apa kau bercanda ? anak mana yang lahir tanpa ayah, apa kau hamil dengan setan, jangan bercanda katakan yang sebenarnya siapa ayah anak kamu agar putri mu bisa dapat segera di selamatkan, apa kau ingin dia mati ?".
Deg.
Kalimat yg di ucapkan Risky menusuk jantungnya. Keegoisannya bisa saja membahayakan nyawa anaknya.
" Cyka.."
__ADS_1
Suara Fakhri terdengar dari sudut ruangan yang sedang berlari mendekat.
" Apa yang terjadi? apa Richa baik-baik saja ? kenapa kau menangis ? bicaralah".
Fakhri mencengram lengannya.
" Baguslah kau disini, jadi katakan padaku siapa ayah anak itu?".
" Apa ? kenapa kau bertanya padaku ?".
" Karena dia tidak mau memberitahuku berapa kali pun akau bertanya".
" Kalau begitu aku juga tidak bisa memberitahumu, karena aku tidak memiliki hak untuk bicara".
" Ok, tetap lah diam jika kalian ingin melihat anak itu meninggal". celetuk Risky yang sudah mulai kesal.
Fakhri terkejut mendengar ucapan Risky.
Karena kesal Risky hampir beranjak pergi meninggalkan kedua orang tersebut.
" Kalau begitu.. selamat dia, karena hanya kamu yang bisa menyelamatkannya". Pada akhirnya ia menyerah juga dan angkat bicara.
' Mami nggak mau kehilangan kamu sayang, maaf karena Mami begitu egois, maafin Mami sayang'.
Risky kembali mendekat, " Setelah aku menyelamatkan putrimu, kau harus menjelaskan banyak hal padaku Cyka". Ucap Risky seraya masuk ke dalam ruang perawatan untuk mendonorkan darahnya.
Fakhri sudah menduga hal ini sejak kejadian tadi siang saat di perayaan.
" Maaf pak".
" Lupakan saja, tidak ada yg harus di maafkan".
" Maaf karena sudah membohongi bapak selama ini".
" Aku bukan orang yg bodoh yg dengan mudah dapat kau bohongi, itu karena aku tidak perduli saja dengan masa lalumu, karena semua orang punya masa lalu yang tidak dapat dengan mudah ia ceritakan pada orang lain".
" Terimakasih".
" Akulah yang seharusnya minta maaf".
" Maaf untuk apa?".
" Kau tidak perlu tau untuk saat ini, fokus saja pada putrimu".
__ADS_1
Benar hal apa pun tidak penting saat ini di bandingkan kondisi putrinya.