![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Nathan melangkah ke dapur. Mengambil beberapa makanan dan mengisinya kesebuah piring.
Nathan kembali melangkah ke kamarnya, menghampiri Mira yang saat ini sudah duduk di sofa dan terlihat sudah sedikit tenang.
"Makan dulu!" Nathan duduk di samping Mira. Menyendok makanan dan menyodorkan ke mulut Mira.
"Saya bisa sendiri Tuan!"
"Sekali ini saja. Aku ingin memanjakanmu.,besok besok tidak mungkin sempat lagi seperti ini."
Nathan kembali menyodorkan sendok.
Canggung!
"Ah, iya." Mira perlahan membuka mulutnya.
"Kau harus makan yang banyak. Biar tidak kurus seperti ini." ucap Nathan.
"Apa saya kurus sekali?"
"Ya... Kau kurus sekali."
"Saya memang kurang makan. Sehari kadang satu kali saja. Itu pun.."
"Sudah cukup! Aku tidak ingin mendengar kisah sedih mu. Mulai detik ini kamu harus makan yang benar. Tiga kali sehari, bila perlu empat atau Lima kali sehari. Atau semuat perutmu."
"Eh.. tapi perut mu kecil. Pasti muatnya sedikit." ucap Nathan kembali.
Yang di ajak bicara meraba perutnya, meraba pipinya kemudian memperhatikan lengannya sendiri.
Nathan terkekeh, "Baru sadar?"
"Iya. Aku .. Saya kurus sekali."
"Saya akan makan yang banyak kalau begitu."
"Baguslah."
Mira kembali membuka mulutnya ketika tangan Nathan kembali menyodorkan sendok. Mira rupanya tak sabar, merebut piring itu dari tangan Nathan.
"Saya kelaparan Tuan. Saya ingin makan sendiri saja." langsung melahap habis makanan itu dengan cepat.
"Kau mau nambah? Aku akan mengambil lagi." Nathan meminta piring Mira.
"Sudah. Saya sudah kenyang." jawab Mira cepat.
"Sudah ku duga, perut mu kan kecil." sahut Nathan sambil terkekeh.
Mira hanya tersenyum menanggapi ledekan Nathan. Menatap wajah tampan yang saat ini sungguh bisa memberi kenyamanan untuknya itu. Rasa terlindungi, rasa damai dan bahagia Mira rasakan saat bersama Nathan. Mira belum pernah merasakan itu sebelum bertemu dengan Nathan.
"Tuan. Terimakasih sudah menolong saya. Jika Tuan tidak datang. Saya tidak tau apa yang akan terjadi pada saya." ucap Mira.
"Jangan pergi lagi. Biarlah, jika suamimu marah. Aku yang akan menghadapinya. Aku akan segera mengurus ini untuk meminta pertanggungjawaban atas perbuatan suamimu padamu Mira." jawab Nathan.
"Tuan mau apa? Jangan lakukan sesuatu yang buruk padanya Tuan?"
"Kau masih membelanya?" Nathan menatap Mira.
"Bukan begitu. Walau bagaimanapun juga saya masih.."
"Istrinya. Begitu?" sahut Nathan.
"Kau ini! Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu Mira!"
Mira menggelengkan kepala. "Bukan begitu, tapi.."
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Jangan dipikirkan lagi kalau begitu. Yang penting kau selamat. Dan jangan ke sana lagi. Itu saja. Jika kau masih nekat. Berarti kau tidak menghargaiku." sahut Nathan, tapi otaknya berpikir keras untuk segera memberi pelajaran pada suami Mira.
Mira langsung terdiam cukup lama.
"Tuan. Apa Tuan Ken jadi mengirim uang untuk Ayah saya?" tanya Mira, ada ide untuk mengalihkan pembicaraan.
Nathan menoleh, kemudian mengangguk. "Tentu saja."
"Boleh aku meminjam hp untuk menelepon?"
"Ken sudah menghubungi nomor itu. Sebaiknya kau istirahat dulu. Tidak perlu banyak pikiran malam ini."
"Tapi.."
"Besok kau boleh meneleponnya."
Mira hanya bisa mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi Tuan!" Mira berdiri, membereskan piring bekas makannya.
"Biar nanti saja." Nathan segera menahan tangan Mira.
"Sekalian saya ke kamar Tuan. Katanya disuruh istirahat."
"Tidurlah di ranjang ku. Aku tidur di sofa." ucap Nathan. Meletakkan kembali piring dari tangan Mira di meja. Dan menuntun Mira ke ranjang.
"Tidurlah. Malam ini aku ingin menemanimu sampai kau tertidur." Merebahkan tubuh Mira di kasur.
"Tapi Tuan, kita.."
"Bukan Mahram? Bukan suami istri?" Nathan segera ikut berbaring di sisi Mira yang langsung bangun dan duduk menyandarkan punggungnya disisi ranjang.
Nathan tidak peduli, malah memeluk tubuh Mira, menaruh kepalanya dipangkuan Mira.
"Bukan hanya kau yang trauma. Tapi aku juga." Tangannya meraih tangan Mira, masih dengan posisi kepalanya dipangkuan Mira.
"Biarkan aku menjagamu malam ini saja."
Mira menarik tangannya. Menyentuh kepala pria itu. Membelai rambut Nathan.
"Aku yang trauma kenapa jadi Tuan yang manja?"
"Eh, salah ya?" Nathan segera bangun.
"Hehe , aku tidak sadar!"
"Ayo. Tidurlah." Nathan menepuk bantal.
"Aku janji akan pindah ke sofa setelah kau tidur. Jangan khawatir. Aku bukan pria jahat! Jika aku jahat, kau sudah habis dari kemarin kemarin. Aku bahkan sudah melucuti bajumu. Tidak ingat? Apa perlu ku ingatkan?" Nathan mendekatkan wajahnya.
Mira segera menggeleng. Rasa khawatirnya sedikit menghilang ketika mendengar ucapan Nathan barusan. Benar saja.,jika pria ini jahat Mira mungkin sudah habis sejak pertama terbaring di ranjang ini.
Mira akhirnya berbaring miring membelakangi Nathan yang masih duduk. Sejenak , ia menoleh untuk memastikan. Melihat itu Nathan melambaikan tangannya.
"Hei! Kau ingin aku memelukmu biar cepat tidur?"
"Ti.. tidak!" Mira langsung menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.
Nathan hanya bisa duduk di samping Mira, perlahan menggerakkan tangannya untuk menepuk nepuk halus punggung Mira.
Setelah sekian lama, Nathan menarik sedikit selimut Mira untuk memastikan bahwa Mira sudah tertidur. Benar saja, Mira berbalik. Dengan keadaan sudah terlelap.
Nathan memperhatikan wajah itu. Menarik nafas beratnya. Menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah penuh tekanan itu.
Dada Nathan kali ini bergemuruh. Hatinya tiba tiba terasa sesak.
__ADS_1
"Apa ini?" Nathan menekan dadanya sendiri.
Lalu kembali menyentuh wajah yang sudah terlelap itu.
"Aku ingin membahagiakan mu Mira. Aku ingin.. aku ingin bersamamu saja. Bisakah?" Nathan menyibakkan rambut Mira yang menutupi sedikit keningnya.
"Aku jatuh cinta padamu. Ya.. Aku mungkin sudah gila. Aku mencintai istri orang. Tapi pernikahan mu tidak bahagia. Salahkah aku jika ingin membahagiakan mu?"
"Aku ingin merebutmu dari suami gila mu itu. Aku akan merebutmu. Bahkan aku ingin membuat perhitungan dengan laki laki yang sudah menyakitimu selama kau berada di kota ini." Nathan terus berbisik sendiri. Kemudian menata bantal. Saat ingin merebahkan kepalanya, ia teringat janjinya pada Mira yang akan tidur di sofa. Nathan mendengus kemudian membanting kepalanya. Menatap langit langit kamarnya. Menoleh kembali pada wajah Mira yang tepat ada dihadapannya itu.
"Aku benar benar sudah gila. Berada satu ranjang dengan wanita? Haha.. Sungguh luar biasa!"
Lalu pria itu berkali kali mendaratkan bibirnya ke kening Mira. Lalu menciumi tangan Mira.
"Bisa bisanya aku jatuh cinta pada istri orang. Ya Tuhan! Ternyata begini rasanya jatuh cinta. Menyenangkan sekali." Nathan tersenyum sendiri.
"Bodo amatlah." kemudian menarik lembut kepala Mira kedalam dadanya. Mendekap erat tubuh Mira lalu ikut terlelap.
Belum juga pagi, mungkin masih di atas subuh.
Mira menggeliat, merasa sesuatu yang berat menindihnya. Saat ia membuka
mata dan menoleh, Mira terkejut bukan kepalang. Melihat Nathan sedang mendengkur halus dengan posisi memeluknya bebas tanpa dosa.
"Tuan! Tuan Nath!" Mira langsung histeris sambil berusaha mendorong tubuh Nathan.
Tentu saja Nathan yang sedang di alam mimpi langsung terkejut dan sontak bangun.
"Ada apa? Ada apa Mira?" Nathan langsung duduk mengguncang bahu Mira.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa tidur disini? Anda??" Mira segera memeriksa bajunya.
"Eh, eh. Tidak ada yang terjadi Mira! Astaga! Aku.. aku ketiduran. Sungguh aku tidak sengaja." untung Nathan segera sadar.
"Baiklah, Baiklah. Aku pindah, aku pindah. Maafkan aku. Sungguh, ini diluar rencana." Nathan segera beranjak.
Bug...!!
Mira melempar Nathan dengan sebuah bantal.
"Sudah terlanjur! Kau sudah tidur memeluk ku tanpa dosa, sekarang mau pergi begitu saja hanya dengan kata maaf!" teriak Mira.
Nathan menghentikan langkahnya lalu berbalik.
"Baiklah. Jika itu mau mu. Aku akan menemanimu lagi kalau begitu." segera naik keatas ranjang kembali.
"Eh,.. Tuan mau apa? Pergi!!" Mira mendorong tubuh Nathan.
"Ya Tuhan! Mau mu apa sih? Aku harus tidur dimana coba? Mau ke sofa di panggil. Di sini diusir. Bagaimana sih?" Nathan kembali merebahkan kepalanya.
"Tuan.. Pindah. Jangan disini, ihh..!" Mira kembali berteriak.
"Astaga Mira! Kenapa berteriak! Aku masih mengantuk berat. Ini juga belum pagi. Ayolah, jangan menggangguku!"
"Tuan! Anda tidak merasa bersalah sama sekali!!" memukul mukul lengan Nathan.
"Aduh!! Kalau mau marah, atau rasa bersalah, urusan besok pagi. Ayolah. Aku masih mengantuk. Mataku susah melek Mira! Tidur lagi!" segera menarik tubuh Mira dengan paksa dan menyelimutinya sampai kepala. Dia sendiri membalikkan badan membelakangi Mira.
Mira dengan rasa kesal menarik selimutnya, mengintip punggung Nathan. Kemudian ikut membalikkan badan.
"Dia malah tidur lagi?" gumam Mira, juga membalikan badan membelakangi Nathan.
Nathan hanya pura pura terpejam, bibirnya tersenyum menang!
_________
__ADS_1