![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Nathan dan Ken, tidak ada yang tidak khawatir. Keduanya sama sama diliputi rasa takut yang mendalam.
Duduk sebentar, lalu berdiri. Berjalan mondar mandir kemudian duduk lagi. Begitu terus hingga beberapa waktu lamanya.
Sampai dari ujung sana terlihat Fic berlari kecil mendekat, dengan baju yang sudah ia ganti rupanya.
Fic mengerem langkahnya mendadak ketika mata tajam milik Nathan meliriknya, seperti mata tombak yang siap menghujam dadanya. Fic menunduk.
Wajahnya berubah pias seketika saat Nathan sudah memutar tubuhnya.
Baru saja Nathan hendak melangkah mendekat, pintu ruangan terbuka.
"Dimana Suami Pasien?" sang Dokter bertanya.
Ketiga pria itu langsung berlari mendekat.
"Bagaimana keadaannya?" serempak mereka bertanya membuat Sang Dokter pria itu bingung menatap mereka bertiga secara bergantian.
Ketiganya pun saling melempar pandangan. 'Kenapa bisa bareng sih?'
"Yang mana suami Pasien?" Dokter mengulang.
"Saya Dokter! Bagaimana keadaannya?" sahut cepat Nathan dengan mendekatkan langkahnya.
"Oh, anda suaminya?" Dokter kembali mengulang untuk meyakinkan.
"Benar Dokter! Tuan Nath, suami Nona Mira. Hanya saja, saya yang membawa Nona Mira kemari." kini Fic yang menjawab.
"Oh, baiklah. Tuan.. Tuan Nath.."
"Nathan Dokter!" sahut Nathan tak sabar.
"Ah, iya. Tuan Nathan. Istri Anda, mengalami pendarahan hebat. Beruntung cepat di bawa kemari dan tidak terlambat. Jadi, Istri anda bisa tertolong. Tapi..--"
"Tapi Apa???" Nathan bertanya cukup keras.
"Maafkan kami Tuan. Kami sudah berusaha semampunya. Tapi Tuhan berkehendak lain. Nona Mira, harus kehilangan janinnya."
DUAR.....!!!!
Seketika tubuh Nathan hampir saja rubuh. Tubuhnya bergetar cukup hebat.
"Tuan. Anda harus kuat!" Ken dengan cekatan menopang tubuh Nathan.
"Ken.. Anakku. Anakku Ken...!!"
"Tuan! Anda harus tabah. Anda harus kuat demi Nona!" ucap Ken.
"Mira." desis Nathan.
"Aku ingin melihatnya Dokter." Nathan menoleh pada sang Dokter.
"Silahkan Tuan." Dokter mempersilahkan mereka.
"Tuan. Anda harus tabah. Mungkin ini belum rejeki kalian. Anda patut bersyukur, istri anda bisa selamat." ucap Sang Dokter itu sebelum Nathan melangkah masuk.
Nathan hanya mengangguk, kemudian melangkah di ikuti oleh Ken dan Fic.
Ditengah Ruangan itu, mereka bisa melihat beberapa Suster dengan Mira yang tengah terbaring lemah diatas ranjang. Matanya masih terpejam.
Ketiga Pria itu mendekat pelan dengan perasaan yang sama hancurnya.
Baru saja Nathan hendak meraih tangan Mira, Suster sudah menegurnya.
__ADS_1
"Tolong jangan mengganggu Pasien dulu sebelum Pasien bangun sendiri Tuan. Pasien baru saja tenang setelah sempat histeris tadi."
"Histeris?" tanya Nathan menarik lagi tangannya.
"Iya Tuan. Pasien histeris saat mengetahui jika kehilangan janinnya. Mohon untuk menjaga emosinya agar tetap stabil demi kesembuhan Pasien."
Nathan hanya bisa mengangguk pasrah.
"Kalau begitu saya permisi. Sebentar lagi, Pasien akan kami pindahan ke ruang Perawatan." Suster kemudian melangkah keluar.
Ketiga pria itu hanya bisa terpaku di kaki masing masing dengan jarak yang tidak terlalu dekat dengan ranjang Mira.
Dengan perasaan pilu yang terus menusuk tajam ulu hati mereka.
Tak begitu lama, tangan Mira terlihat bergerak. Matanya perlahan terbuka.
Ketiganya refleks mendekat.
Pertama yang Mira lihat adalah wajah Fic. Masih sangat jelas terekam dalam ingatan Mira, saat dimana Fic tepat waktu menembak tangan Ricard yang hampir saja melubangi perutnya. Masih jelas diingatnya, bagaimana pria itu berlari dengan membopong tubuhnya keluar menuju mobil, tanpa peduli dengan darahnya yang membasahi baju milik pria itu. Dan masih jelas Mira ingat, ketika Fic menangisinya sepanjang perjalanan sampai ke rumah sakit.
Kemudian Mira menoleh pada Pria di samping Fic.
'Pria itu, dia orang kesetiaan Nathan. Ah, dia sudah menjadi sahabat terbaikku.'
Ken, yang selalu memberi warna dalam hidup Mira akhir akhir ini. Mira akan terus tertawa jika ada Ken diantara dia dan Nathan.
"Ken." lirih Mira memanggil pria itu.
"Nona."
"Nath? Di mana Nathan, Ken?"tanya Mira , tanpa menoleh pada Nathan.
"Mira, aku disini." tak tahan lagi, Nathan langsung berhambur memeluk Mira.
Seketika mata Mira membulat. Mendorong tubuh Nathan dan bangun.
"Nathan!" Mira berteriak histeris.
"Sayang.. Kau tidak boleh banyak bergerak dulu." Nathan memeluk Mira dengan cepat.
"Kembali berbaring."
"Nathan! Dia membunuh bayimu!! Dia membunuh bayi kita!" Mira berontak dari pelukan Nathan.
"Mira. Tenang lah sayang . Tenang lah."
"Tidak! Lepaskan aku! Aku ingin membunuhnya. Aku ingin membunuh Ricard!! Aku ingin membunuhnya..!" Mira masih berontak dan terus berteriak.
"Mira. Ku mohon tenanglah. Ku mohon. Kau tidak boleh banyak bergerak dulu. Kau banyak mengeluarkan darah." Nathan sungguh ngilu hatinya. Melihat Mira terus meraung dan histeris. Nathan hanya bisa mendekap Mira, berusaha untuk menenangkannya.
Kedua pria yang masih berdiri disana pun sama. Hingga terasa meremang bulu kuduk mereka menyaksikan pemandangan didepan mata mereka itu. Seorang calon ibu yang gagal. Sudah pasti sangatlah terguncang jiwanya.
Mira masih menangis di dekapan Nathan.
"Bunuh dia Nathan, bunuh dia untukku. Untuk bayiku. Aku membencinya, aku membencinya." Mira memukuli dada Nathan dengan terus menangis.
"Aku akan membunuhnya. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri Mira, aku berjanji. Aku berjanji padamu. Kau harus tenang, kau harus tenang Mira. Kau bisa sakit lagi. Tenang lah." Nathan menghujani ciuman di kepala Mira. Dan terus mengusap lembut punggung wanita itu hingga Mira akhirnya melemas.
Masih dengan isakan, Mira menarik tubuhnya. Menatap wajah Nathan yang kini mengusap air matanya, dengan sesekali mengusap air matanya sendiri yang masih tetap mengalir.
"Maafkan aku Nath. Aku tidak bisa menjaga calon anakmu. Dia datang untuk membunuhku dan bayimu. Maafkan aku tidak bisa menjaganya!"
"Kau tidak bersalah Mira. Kau tidak bersalah. Ini salah biadab itu. Dia harus membayar mahal untuk semua ini. Kau tidak boleh bersedih. Kita tidak boleh bersedih. Aku akan mendapatkannya untukmu." ucap Nathan, kembali meraup wajah Mira dan menempelkan keningnya pada kening Mira.
__ADS_1
"Kau harus tenang agar cepat sembuh. Agar cepat pulang ke rumah kembali. Dan aku, akan mencari Ricard sampai dapat."
"Ayo, berbaring kembali." Nathan membaringkan Mira kembali.
Menggenggam tangan Mira, dengan tetap mengelus wajahnya.
"Nath. Bayi kita. Kau pasti kecewa padaku." Mira masih saja terisak.
"Tidak Mira. Tidak. Jangan berpikir seperti itu. Aku sangat bersyukur kau masih bisa selamat. Aku cukup lega kau baik baik saja. Jika saja, aku juga harus kehilangan kamu. Aku tidak tau lagi apa jadinya hidupku. Aku bisa hancur sehancur-hancurnya. Apa kau tau itu? Aku bisa GILA Mira!!" Nathan menatap dalam kedua mata Mira.
"Kau harus tenang Ya? Agar cepat pulih, dan kita bisa cepat pulang. Apa kau tau, kami tadi sudah selesai menyiapkan semuanya. Kita akan segera menikah."
Mira mengangguk. "Tapi bayi kita Nath?"
"Sudah sudah. Jangan kau pikirkan terus. Tuhan belum mempercayai kita. Bukankah, ada atau tidak ada dia, kita akan tetap menikah? Setelah menikah, kita bisa mencoba lagi bukan? Kita akan membuat bayi sebanyak yang kau mau." ucap Nathan kali ini sambil tersenyum. Mira hanya mengangguk dan berangsur tenang.
"Permisi Tuan?" suster masuk mengakhiri adegan pilu itu.
"Pasien akan kami pindahkan dahulu."
Nathan hanya mengangguk, mencium kening Mira kemudian menyisih.
Suster itu lalu mendorong ranjang Mira keluar untuk memindah Mira ke ruangan khusus perawatan.
Nathan dan dua pria di sampingnya itu hanya bisa menatap punggung sang Suster hingga menghilang dari pandangan.
"Argh.....!!!" Tiba tiba Nathan berteriak membuat Ken dan Fic terkejut.
Nathan terus berteriak sambil meninju ninju dinding Ruangan tersebut.
"Brengsekk kau Ricard! Anjinggg! Aku akan membunuhmu!"
"Argh....!!!"
"Tuan! Anda harus tenang. Anda tidak boleh seperti ini. Ini Rumah sakit!" ucap Ken menahan tangan Nathan yang sudah berdarah akibat tinjuan kerasnya pada dinding terus menerus.
"Arg....!" Nathan menepis tangan Ken.
"Anak ku Ken. Anak ku harus pergi gara gara si Bangsatt itu! Dia yang sudah menyebabkan bayi itu harus ada di perut Mira! Dan dia juga yang sudah mengeluarkannya secara paksa dari perut Mira!"
"Aku tau Tuan. Tapi kau harus tetap tenang demi Nona. Nona cukup terpukul dengan keadaan ini. Jika bukan kau, siapa lagi yang bisa menenangkannya??"
"Kau benar Ken! Mira sangat terpukul sekali. Dapatkan dia Ken! Kita harus mendapatkannya. Kali ini, aku bersumpah akan menabur otaknya di luar kepalanya!" mata Nathan sungguh memerah menahan kemarahan yang begitu meluap luap.
"Itu pasti Tuan. Kita akan mendapatkannya." sahut Ken, sama. Dengan amarah yang juga meluap di dadanya.
Melirik Fic yang mengangkat panggilan Hpnya yang terus berdering.
[Kami mendapatkannya Tuan Fic!]
Suara dari hp yang cukup terdengar itu mampu membuat Nathan menoleh pada Fic.
[Bagus!] jawab Fic, namun cepat di sambar oleh Ken.
[ Kalian mendapatkan Ricard?]
[Iya Tuan Ken. Kami sudah membekuknya!]
[Bawa bajingan itu ke markas Roy. Dan, jangan menyerahkannya pada Polisi!] perintah Ken, dengan mata yang sudah berubah seperti Singa yang sedang kelaparan.
[Siap Tuan!]
____________
__ADS_1
< Huhu... Bagi Vote ya kakak.. Minimal, komentar, like kalian dan bunga untuk Ketiga Pria hebat di atas!>