![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Hanya selang satu hari saja dari hari dimana Ken resmi melamar Rimbun. Acara pernikahan mereka pun benar benar akan dilaksanakan.
Tanpa ada persiapan khusus atau pun pesta meriah.
Bahkan tidak menyebar undangan satu pun entah dari pihak Keluarga Rimbun ataupun dari Pihak Ken sendiri. Hanya kerabat dekat saja yang di undang secara langsung untuk datang.
Bukan tanpa alasan, semua itu keinginan dari Rimbun yang meminta langsung pada Ken sendiri. Meskipun awalnya dapat penolakan keras dari Kakek ataupun dari pihak Ken.
Sehari sebelum hari itu di mulai.
"Rimbun tidak ingin ada pesta Kek, untuk apa sih? Toh semua orang tidak ada yang Rimbun kenal. Dan tidak ada yang kenal dengan Rimbun." ucap Rimbun , ketika mereka sedang berkumpul untuk membahas perihal pernikahan.
"Justru itu Rim, kita perlu mengadakan pesta besar agar kau mengenal dunia sekelilingmu sekarang itu seperti apa, dan Mereka mengenal siapa kau sebenarnya. Bukan hanya para Pemulung saja yang mengenalmu!" tegas Ken.
"Tidak perlu. Yang ada nanti yang datang malah mantan mantannya Tuan Ken. Mantan mantan mu kan anak anak orang orang kaya seperti kalian!" Bantah Rimbun.
"Tidak akan Rimbun Jelek? Jika kau keberatan mereka datang, aku bisa melewati mereka kok, tidak akan mengundang satu pun dari mereka." sahut Ken guna memastikan Rimbun.
"Aku pokoknya tidak mau!" Rimbun tetap saja menolak.
"Itu tidak mungkin Rimbun?" Kakek melotot ke arah Rimbun.
"Keluarga mu ini cukup terkenal dipenjuru kota. Fiandi Jaya! Siapa yang tidak mengenal Perusahaan Mendiang Ayahmu itu. Semua juga tau, jika Tuan Fiandi sudah berpulang dan Kakek kehilangan cucu perempuan Kakek! Nah, ini saatnya Kakek memberitahukan pada dunia, jika Putri Fiandi yang hilang sudah di ketemukan. Yaitu Kau!" Tegas Kakek.
"Kakek, nanti juga semua akan tau pada akhirnya. Tidak harus dari pesta pernikahan. Rimbun pokoknya tidak mau. Malu sekali di lihat lihat banyak orang. Sampai di shooting shooting segala. Pokoknya tidak mau. Titik!" Rimbun tetap bersikeras.
"Sayang, tidak boleh seperti itu donk." kini Al' ikut angkat bicara.
"Okelah keluarga kita bisa mengerti. Tapi bagaimana dengan keluarga Tuan Ken. Tuan Kenzie Ariellio Baseefa! Seorang sekretaris paling keren, paling terpopuler, paling hebat di antara para sekretaris sekretaris seluruh perusahaan yang ada. Masa mau menikah secara diam diam saja?" sambung Al' sudah sama kesalnya dengan Kakek dan juga Ken dalam menghadapi kerasnya watak Rimbun.
"Hah! Siapa tadi? Kenzie Ariellio Baseefa?" Galfok dengan nama panjang yang baru saja di sebut oleh Kakaknya.
Rimbun menoleh pada Ken.
"Itu nama panjang mu?" bertanya.
"Iya."
"Serius? Bagus sekali. Hihi..Jadi gemes deh, Tuan Kenzie Ariellio Baseefa!" Rimbun mencubit kedua pipi Ken.
Ken tersenyum.
"Nama panjang ku memang bagus."
"Iya, bagus ya?"
"Kau suka?"
Rimbun mengangguk. "Suka sekali."
"Kalau begitu, kau bersedia untuk memeriahkan pernikahannya kita dengan sebuah pesta?" kesempatan Ken untuk merayu Rimbun.
"Tidak mau." sambil menggeleng, kemudian Rimbun mendekat pada Ken untuk berbisik.
"Kenapa kau di panggil Ken sih? Kenapa tidak Kenzie, itukan lebih keren. Atau Ariel, itu kan nama penyanyi favorit aku. Atau Ariellio. Kan bagus?"
"Ribet Rimbun, Ken lebih simpel. Singkat, padat dan jelas."
"Jelek tau. Kenapa tidak Baseefa saja itu terdengar lebih baik."
"Rimbun! Kita ini sedang membahas pernikahannya kita. Kenapa malah membahas nama sih?" keluh Ken.
"Eh, iya. Aku sampai lupa gara gara galfok sama nama panjangmu."
__ADS_1
"Lalu bagaimana? Kau mau kan cucu Kakek yang cantik? Kita adakan pesta besar. Kak Al' akan mengurus semuanya untuk itu. Iya kan Al'?" tanya Kakek, kemudian menoleh pada Al'.
"Ah iya. Tentu saja. Aku akan mengurus semuanya. Tidak perlu khawatir. Aku akan menyewa Gedung terbesar dan termegah di kota ini untuk pernikahan adik kesayanganku." jawab Al'.
"Aku tidak mau kak Al'. Pernikahan itu tidak harus selalu dengan pesta. Yang terpenting menikah secara Sah di depan Agama dan Negara." jawab Rimbun tetap saja sama.
"Ah, baik lah baiklah. Kita adakan pesta di rumah ini saja ya? Yang penting ada pesta." sahut Kakek cepat.
Rimbun nampak terdiam sebentar.
"Kalau begitu, begini saja. Pernikahannya kita undur saja. Aku ingin membiasakan diriku dulu dengan dunia kalian. Duniaku sebelumnya kan tadinya tidak seperti ini. Setelah aku siap. Maka Pesta pun siap. Jadi menikahnya Tahun Depan saja!"
"Hah! Tahun depan? Yang benar saja jelek! Kau mau menyiksaku?" Ken kini yang melotot ke arah Rimbun.
"Siapa yang menyiksa, aku hanya ingin terbiasa dulu dengan kehidupan kalian."
"Ahh!" Ken memijat keningnya. Kepalanya langsung merasa pusing memikirkan permintaan Rimbun untuk menikah tahun depan.
'Yang benar saja. Tahun depan? Bulan depan saja aku sudah tidak mungkin sanggup, apalagi lagi tahun depan.'
"Tuan Ken? Menikah tahun depan saja ya? Nanti aku akan bersedia dengan adanya pesta." Rimbun menepuk bahu Ken.
"Tidak. Tidak bisa Rim. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan menikahi mu secepatnya." sahut Ken.
"Lalu bagaimana? Aku tidak mau ada pesta Tuan. Kenapa tidak mengerti perasaanku? Aku ini hanya bekas wanita Pemulung yang tiba tiba berada di keluarga mewah ini. Aku.."
"Ya baiklah. Baiklah. Tidak akan ada pesta. Kita akan menikah hanya di depan penghulu saja." Ken akhirnya mengalah pasrah.
"Tapi Nak.."
"Kek, kita tidak bisa memaksa Rimbun. Mungkin benar, Rimbun memang belum nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Tidak apa apa Kek. Yang saya inginkan adalah Menikahi Rimbun. Menjadikan istriku tanpa harus di kenal seluruh Dunia. Setelah bersamaku nanti, mungkin Rimbun akan terbiasa dan kita bisa mengadakan pesta tahun depan." ucap Ken pada Kakek.
Kakek hanya bisa mengangguk.
"Lalu kapan kalian akan menikah?" Kini Al' yang bertanya.
"Besok saja." sahut Rimbun, membuat semua menoleh padanya.
"Besok?" Ken menganga.
"Lebih cepat lebih baik kan? Kau bilang sendiri kemarin. Bila perlu besok." sahut Rimbun.
"Ah iya. Kau benar. Lebih cepat lebih baik." balas Ken.
Semua tertawa, dan pada akhirnya setuju. Pernikahan mereka akan dilaksanakan besok tanpa pesta.
Waktu pun bergulir terasa begitu cepat. Dua puluh empat jam penuh ketegangan bagi Ken akhirnya berlalu.
Pagi ini, semua sudah kembali berkumpul di ruangan besar keluarga Fiandi.
Ken dengan Jas putihnya sudah duduk bersanding dengan Rimbun yang memakai kebaya putih saja. Di hadapan mereka sudah ada sang Penghulu dan Kakek yang siap menyatukan jiwa dan raga mereka dengan sebuah ikatan suci.
Nathan dan Mira tentu ada diantara keluarga dekat Rimbun. Duduk di belakang calon mempelai bersama Al'.
Ayah pun tidak ketinggalan.
Suasana yang nampak begitu hening itu semakin menegangkan mana kala sang Penghulu sudah mulai bertanya tentang kesiapan mereka.
Ken yang tidak bisa menutupi gugupnya pun menjawab siap dengan nada cukup gemetaran.
Nathan terkikik kecil mendengar itu. Kemudian sempat berbisik.
"Tarik nafas Ken? Jangan Grogi. Begini saja Grogi. Dimana karisma mu sebagai Sekretaris terkeren di kota ini hah!"
__ADS_1
"Sial kau!" balas Ken, sama berbisik.
Ken memang benar benar Gugup. Sebagai seorang mantan Playboy yang tidak pandai merangkai kata untuk merayu wanita apalagi untuk hal sepenting seperti saat ini, tentu saja Ken sama sekali tidak berpengalaman. Padahal, jauh jauh hari Ken sudah menyiapkan mental. Dengan mengingat dan mencermati pernikahan Nathan dulu , Ken menganggap akan sudah sangat siap saat dirinya sendiri nanti menikah.
Ternyata tidak! Ken tetap masih gugup dan tegang. Terbukti, di ucapan pertama ijab kabul, Ken sempat salah.
"Saya... Saya Terima nikahnya ... Ah!" Ken menarik nafas.
Hingga yang kedua kalinya pun masih sama.
"Kita ulang sekali lagi Tuan." ucap sang Penghulu.
"Tidak boleh diulang dan tidak boleh terputus."
Ken mengangguk, melirik Rimbun yang sudah mendelik.
'Bisa tidak sih!'
"Jangan membuat malu Ken!" Nathan sempat berbisik lagi.
"Kau pasti bisa!" menepuk bahu Ken.
"Baik Tuan. Maafkan aku."
"Apa anda perlu mengambil wudhu lagi?" tanya Sang Penghulu.
"Tidak Pak. Tidak. Saya belum batal. Kita ulang sekali lagi ya? Kali ini saya pasti bisa." jawab Ken meyakinkan dirinya.
Penghulu mengangguk. "Anda harus konsentrasi. Apa ada yang menggangu pikiran anda?"
'Ah, iya. Saya memikirkan Calon istri saya itu. Dia galak sekali. Matanya saja sudah hampir keluar. Setelah ini aku pasti akan habis olehnya.'
"Tuan!"
"Ah, iya pak. Tidak ada."
"Baiklah. Kita ulang sekali lagi."
'Ayah... Ibu.. Tolong Putra mu!' Ken menjerit dalam hati.
Dan semua pada akhirnya, bernafas lega. Ketika ucapan ijab kabul Ken yang ketiga kalinya ini berjalan lancar dan sempurna!
"Bagaimana saksi? Sah?" penghulu menoleh pada para saksi.
"Sah! Sah!"
"Alhamdulillah! Sah!"
"Ah... Kita Sah Jelek! Akhirnya aku menikahimu sekarang!" saking girangnya Ken memeluk Rimbun tanpa mempedulikan mereka yang tertawa keras melihatnya.
"Tuan. Jangan begini dulu!" Rimbun mendorong tubuh Ken dengan wajahnya yang cukup merah menahan malu.
"Ken, sabar dulu. Kita perlu berdoa dan sungkeman." bisik Nathan.
"Ah iya. Maaf, maaf. Aku saking senangnya." Ken pun tersipu. Menatap wajah wajah Mereka yang masih menyisakan gelak.
Doa doa pun kini mengakhiri acara ijab kabul ini.
"Memalukan!" bisik Nathan saat memeluk dan memberi ucapan selamat pada Ken.
Ken hanya tersipu!
"Aku kalah darimu Tuan! Ku akui aku kalah. Aku tidak sekeren dirimu ternyata!"
__ADS_1
_________________