![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
"Bagaimana kabarmu Tuan Ken?" Rimbun bertanya. Mereka sudah sama sama duduk di sofa yang berada dikamar milik Ken.
"Kabarku? Tentu tidak baik."
"Kau sakit?" mendengar jawaban Ken, tentu Rimbun cemas, segera memeriksa kening Ken.
"Sakit." Ken menatap wajah Rimbun yang begitu dekat itu.
"Tapi Kok tidak panas? Apa sudah berobat?" Rimbun masih memeriksa, bahkan tangannya meraba lengan dan leher Ken.
Ken mendengus kesal.
"Aku sakit jiwa karena memikirkan mu! Jadi yang panas hatiku, bukan jidat!" menunjuk kening Rimbun.
"Hihi, kau ini. Kan aku sudah meminta maaf. Masih marah ya?" Rimbun meraih tangan Ken yang sedang menunjuk keningnya.
"Kau mau apa kesini? Aku tanya, kau mau apa? Sekedar ingin melihatku atau karena kau merindukan aku?" kini Ken yang bertanya.
"Dua duanya." jawab Rimbun, ringan.
"Dua duanya?" Ken seperti tidak percaya.
"Aku ingin melihatmu dan aku, aku kangen juga." Menunduk, sambil malu malu.
Ken tergelak. "Ternyata kau kangen juga padaku ya?" menyentil hidung Rimbun.
"Iya. Selama tinggal di rumah itu, entah kenapa aku memikirkan mu terus Tuan Ken. Aku jadi kangen padamu. Aku kangen memukul mu, kangen bertengkar denganmu..-"
"Kangen pelukanku." potong Ken, langsung memeluk Rimbun dari belakang.
"Eh, tidak. Kau salah paham!" cepat cepat bergeser. Tapi Ken tak mungkin membiarkan Rimbun bergeser darinya. Mendekapnya dengan erat.
"Kau tadi sudah berani memelukku, bahkan di depan Tuan Nath. Kenapa sekarang ingin menolak?" bisik Ken.
"Tadi, tadi kan ada orang. Kalau tidak ada orang begini, aku takut." rengek Rimbun.
"Takut? Kau masih takut padaku?" Kini mengangkat wajah Rimbun. Dengan posisi kepala Rimbun di bahunya.
"Bukan begitu, aku, aku.." Rimbun gugup, sambil menatap kedua mata Ken yang terus memandanginya.
"Aku sangat merindukanmu, Jelek. Kau tidak merasakan itu." Ken menyentuh bibir Rimbun, dengan satu tangan menahan kepala Rimbun.
Rimbun ingin bersuara, tapi kerongkongan nya seperti tercekik saja. Hanya bisa menatap kedua mata Ken. Dengan jantung yang sudah tak karuan.
"Apa sedikit pun, kau tidak merindukan aku?" tanya Ken, tanpa melepaskan pandangannya.
"Aku, aku merindukan mu, jika tidak, mana mungkin aku kemari untuk menemui mu." jawab Rimbun, juga masih tak melepaskan pandangannya.
"Sungguh?"
Rimbun hanya mengangguk.
"Bukan Rindu untuk memukulku?"
Rimbun menggeleng.
"Bukan Rindu, untuk bertengkar denganku?"
Rimbun kembali menggeleng.
"Kau Rindu pelukanku?"
Rimbun mengangguk kecil.
"Kau Rindu ciumanku?" tangan Ken kembali menyentuh bibir Rimbun.
Rimbun kembali mengangguk kecil. "Aku merindukan semuanya."
Hati Ken mendadak berbunga bunga. Dada pria itu hampir meledak dibuat oleh jawaban Rimbun kali ini.
__ADS_1
"Sungguh?"
Rimbun mengangguk kembali.
"Kalau begitu, aku ingin mencium mu. Kau tidak boleh menolaknya lagi. Kita akan mengobati Rindu kita sayang. Aku merindukan mu Rimbun. Aku merindukanmu."
Suara Ken kali ini sungguh terasa meresap ke hati Rimbun, membuat gadis itu tidak mampu menjawab. Saat Ken merapatkan bibirnya, Rimbun hanya bisa memegang erat lengan Ken.
Begitu lembut, Ken mengulumm bibir Rimbun. Memutar bibirnya untuk menguasai bibir gadis itu.
Desiran hangat kini menjalari tubuh Rimbun karena ulah Ken itu. Sesaat Rimbun terdiam, kemudian bibirnya ikut bergerak lembut. Berganti mengulumm. Tentu saja perbuatan Rimbun itu membuat Ken semakin melayang layang. Pria itu bahkan menekankan tubuhnya untuk memperdalam ciuman mereka. Tangan Rimbun meremas lengan Ken, sementara tangan Ken menekan pinggang Rimbun.
Cukup lama mereka bergulat dengan bibir mereka, mengambil jeda waktu untuk mengisi oksigen, kemudian mengulanginya lagi. Hingga pada akhirnya, Ken tak mampu menahan hentakan hentakan kuat yang terus mendominasi tubuhnya.
Tangan Ken mulai tak terkontrol, menerobos masuk kedalam baju gadis itu, Kemudian mulai meraba punggung Rimbun. Kini tangan itu berputar haluan, meraba perut ramping Rimbun dan terus merambat ke atas. Hingga menemukan sesuatu yang dikehendaki oleh naluri dewasanya. Kemudian meraba kedua gumpalan itu, tanpa melepaskan bibirnya.
Tangan itu mulai meremas.
Mata Rimbun seketika terbelalak.
"Tuan!" menahan tangan yang sudah mencengkeram dadanya itu.
"Berhenti!"
"Sebentar saja Rim, aku ingin menghafal bentuknya." rengek Ken, tak juga menahan gerakan tangannya.
"Jangan!"
Ken terperangah, ketika Rimbun menarik paksa tangannya.
"Kita tidak boleh berlaku sesuka hati kita Tuan? Kita belum resmi!" Rimbun mengingatkan, menatap Ken yang masih dengan nafas memburunya.
"Maaf." Ken mengusap wajah Rimbun dengan rasa bersalahnya.
"Maaf ya? Jangan marah." ucap Ken kembali.
Rimbun hanya tersenyum. Kemudian meluruskan duduknya. Bergeser sedikit sambil membetulkan pakaiannya serta Rambutnya.
"Aku ingin melamar mu. Apa kau bersedia?" Ken memutar matanya, menjelajahi wajah Rimbun yang masih sibuk menyisir rambutnya dengan jari jemarinya.
"Rimbun. Jawab!"
"Ah iya. Aku kemari, karena Kakek memintaku untuk bertanya padamu."
"Bertanya? Bertanya apa?" tanya Ken, sedikit terkejut.
"Kata Kakek, kapan kau akan melamar ku?"
"Apa?" Ken cukup tercengang, sungguh tak menyangka jika Rimbun berkata demikian.
"Benarkah? Kakek mu bicara seperti itu?"
"Iya kok. Benar. Jika tidak percaya, boleh bertanya pada Kak Al'. Kakek berbicara di depan kak Al' juga."
"Kata Kakek, kalau kau tidak segera melamar ku, maka aku tidak boleh bertemu denganmu lagi."
Ken meraih tangan Rimbun. "Aku akan melamar mu, nanti malam." jawabnya cepat.
"Haha.. Kenapa terburu buru?"
"Aku tidak ingin terlambat."
"Tapi aku belum ingin secepat itu." Rimbun menunjuk hidung Ken.
"Aku tidak peduli. Jika Kakek mu menerima lamaran ku, maka kau harus bersedia menikah denganku. Secepatnya. Bila perlu,besok. Besok kita akan menikah."
"Hah! Apa? Besok?" mata Rimbun seketika membulat.
"Ya. Besok!" Ken menegaskan.
__ADS_1
"Aku tidak mau secepat itu! Aku takut dengan pernikahan. Aku belum siap jika harus secepat itu." Rimbun masih saja menolak.
"Kau harus mau!" Ken menarik tubuh Rimbun.
"Tapi, aku sungguh takut Tuan." rengek Rimbun.
"Takut apa? Takut padaku?" Ken kini menatap tajam.
"Iya. Aku takut padamu. Kau galak!" tuding Rimbun.
"Aku akan lebih galak lagi jika kau menolak." Ken kini mendorong tubuh Rimbun hingga terlentang di sofa.
"Kau mau menikah denganku, atau akan memperkosa mu sekarang?" Ken sudah menindih tubuh Rimbun.
"Tuan, kau Gila!"
"Aku memang sudah Gila!" menekan kedua tangan Rimbun keatas dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangannya berusaha menyibak baju Rimbun.
"Ah, Geli Tuan. Berhenti!" Rimbun tergelak ketika Ken mengigit gigit kecil perutnya.
"Ayo menyerah lah. Kau mau, atau aku akan memperkosa mu." Ken kembali menggigit kecil, kali ini ke bagian pinggang Rimbun.
Gadis itu tidak bisa menahan geli, menarik tangannya dan berusaha mendorong wajah Ken.
"Berhenti, berhenti! Aku menyerah."
"Haha.." Ken tertawa menang.
"Kau mau?" Ken memegang kedua pipi Rimbun.
Rimbun tersenyum dan mengangguk.
"Kau mau menikah dengan ku?" Ken seperti tak percaya melihat anggukan Rimbun.
"Iya Tuan Ken yang Tampan. Kekasihku. Aku mau."
"Astaga! Aku sungguh bahagia mendengarnya." Ken kegirangan, memeluk erat Rimbun.
"Aku mencintaimu Rimbun. Aku mencintaimu Jelek."
"Aku juga."
"Hah! Apa?" Ken menarik tubuhnya, menatap kembali gadis itu.
"Kau juga mencintaiku?"
"Jika tidak, mana mungkin aku mau kau ajak menikah. Meskipun kau memaksa ku dan mengancam ku sekalipun." memukul lengan Ken.
"Kau tidak takut lagi padaku kan?"
"Tidak. Tenang saja."
"Meskipun aku galak?"
"Aku lebih darimu!"
"Ah iya. Aku lupa." Ken kembali memeluk Rimbun.
"Kau memang lebih galak dariku. Aku kadang yang takut padamu. Apalagi kalau kau sudah marah. Duniaku rasanya gelap gulita." ucap Ken, diiringi gelak kecil dari Rimbun.
"Aku bahagia sekali. Ya Tuhan... Aku bahagia!" Teriak Ken, mengeratkan pelukannya. Kini Ken memutar tubuh Rimbun. Merebahkan kepala Rimbun di dadanya, melingkarkan kedua tangannya ke pinggang gadis itu.
"Kita akan menikah. Dan setelah itu, kita tidak akan berpisah lagi. Sampai mati." ucap Ken, yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Rimbun.
Ken terus menciumi kepala Rimbun.
Hari ini, Ken merasa hari paling bahagia baginya. Sungguh dia tidak pernah menyangka jika akhirnya, cintanya terbalas.
Rimbun,
__ADS_1
Gadis itu sama halnya dengan Ken. Hatinya dipenuhi bunga bunga yang bermekaran. Semerbak bahagia. Dan Rimbun tanpa ia sadari, pelan namun pasti telah jatuh cinta pada Tuan Ken.
__________