![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Malam ini redup,
Rembulan terhalang mendung yang sedikit menebal. Bintang pun hanya sebagian saja yang terlihat, sisanya juga tertutup oleh awan.
Angin semilir berhembus menambah rasa dingin yang mulai menusuk tulang belulang sebagian manusia yang masih berada diluar rumah.
Di kamar ini,
Cuaca dingin sama sekali tidak terasa. Justru kehangatan yang sedang mengaliri kedua tubuh pasangan pengantin baru ini.
"Terimakasih Nath. Kau sudah mau membebaskan Ricard dari Hukuman mati."
"Aku melakukan itu karena aku sadar, semua ucapanmu benar, sayang."
Mira tersenyum, menaruh kepalanya di dada Nathan.
"Terimakasih Mira. Kau sudah menyadarkan aku, jika dendam itu tidak baik."
"Iya Nath. Sekarang, biarkan mereka menemukan kebahagiaan dengan jalan mereka sendiri. Sementara kita, melanjutkan masa depan kita dengan kebahagiaan kita."
Nathan mengangkat wajah Mira.
Memandangi wajah istrinya, lalu kedua bola mata Mira.
"Kau bahagia bersamaku?"
"Tentu saja, Nathan."
"Aku mencintaimu Mira."
"Aku juga mencintaimu Nathan."
Kedua mulut itu terus mengucapkan kata cinta yang begitu manis. Hingga wajah mereka kini sudah tak berjarak lagi.
Nathan mendorong pelan tubuh Mira hingga terbaring. Pria itu kini sudah bertumpu di kedua lututnya. Masih dengan menatap Mira. Kemudian kembali mendekatkan wajah mereka.
Bibir Nathan bergerak, melumatt lembut bibir kenyal milik Mira. Lembut dan pelan.
Kini Nathan mulai memperdalam ciumannya.
Dadanya terlihat naik turun, nafasnya semakin memburu saat Mira membalas ciumannya dengan sangat sempurna.
Darah keduanya berdesir hebat karena penyatuan bibir mereka itu.
Tangan Nathan mulai bergerak. Pelan namun pasti, menerobos dan menyeruak. Menyentuh setiap lekukan tubuh Mira.
Desahann Mira terdengar berkali kali ketika tangan Nathan menari nari di dalam bajunya, mulai menjalar kebagian sensitifnya.
Gelora diantara keduanya sudah tak bisa di bendung lagi, sama sama bangun, sama sama melepas baju pasangannya. Nathan menarik tali baju tidur yang dikenakan Mira. Mira pun sama, melepas kancing piyama milik Nathan.
Tetap tak ada suara, hanya deruan nafas yang semakin memburu diantara keduanya. Tatapan sendu dan kemudian saling mendekap.
"Aku mencintaimu Mira."
"Aku juga."
Diiringi ucapan cinta yang terus saja terucap, lalu gerakan gerakan sempurna dari Nathan yang mampu membuat Mira terbang ke awan. Hingga mengeluarkan suara eluhan yang begitu merdu di pendengaran Nathan.
Dan terulang kembali, malam kedua yang penuh desahann kebahagiaan.
****
Ken menuruni mobilnya. Cepat turun membukakan pintu mobil untuk Rimbun.
"Cepat sedikit. Ini mau Hujan deras." menarik tangan Rimbun dengan sedikit kasar.
Cepat cepat membuka pintu. Lalu terus melangkah menaiki tangga, masih dengan menarik tangan Rimbun.
Sampai di depan kamar.
"Masuk dan beristirahatlah. Ini sudah malam."
Rimbun hanya mendengus, menarik kenop pintu kamar. Sebelum menutup pintu, menoleh dahulu.
"Kau mau kemana?" bertanya dengan sedikit malas.
"Pulang." menjawab singkat.
"Eh, ini kan Rumahmu." seperti merasa bersalah.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengingkari janji ku." Ken berbalik.
"Di luar akan hujan deras, Tuan?"
"Kau mengijinkan aku menginap disini?" Ken memutar tubuhnya kembali.
"Hihi, ini kan Rumahmu. Jadi terserah kau saja." Rimbun menutup pintu.
Ken hanya terpaku menatap pintu itu.
"Sebenarnya, diijinkan menginap disini tidak sih?" menggaruk kepala.
"Ini kan rumahku. Benar kata si Jelek. Terserah aku!" Ken melangkah kembali. Bukan untuk pulang ke rumah Nathan, melainkan ke kamar lain.
Merebahkan diri di sofa sambil kedua tangan tertumpu dibawah kepalanya.
"Kenapa gadis itu hatinya sangat keras ya?" rupanya Ken sedang memikirkan Rimbun.
"Bagaimana caranya menaklukkan hati si Jelek sih? Masa iya aku harus memaksanya untuk menikah denganku. Kan gak asyik nantinya." terdengar membuang nafas dengan kasar, kemudian bangkit.
Ken memasuki kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sesekali pria itu menatap wajahnya sendiri di cermin.
"Sebenarnya aku tampan. Tapi kenapa Rimbun terus menolak ku?"
Memutar tubuhnya untuk meneliti.
"Postur sudah lumayan." bergumam.
"Apa karena aku kurang lembut? Atau, aku tidak bisa cara merayu wanita?" tetap bicara sendiri.
"Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin menikah Tuhan! Menikah dengan Rimbun. Tolong hamba mu ini Ya Allah!"
Ken membanting pintu kamar mandi. Kesal dengan dirinya sendiri.
Setelah berganti, merebahkan tubuhnya di ranjang. Pikirannya kembali melayang memikirkan Rimbun.
Kelimpungan. Ke kiri, ke kanan, kemudian bangun kembali.
"Kenapa tidak bisa tidur?"
"Apa aku lapar ya?"
"Tidak. Ini semua karena mungkin aku memikirkan Rimbun."
"Arg... Kenapa tadi menginap disini sih. Tidak bisa tidur kan?" kembali kesal pada diri sendiri.
Yang sedang dipikirkan, sudah mengorok di kamar sebelah.
Pagi,
Tok... Tok... Tok...!
"Tuan.. Tuan Ken." tidak ada jawaban.
"Tuan.. Apa anda tidak pergi ke kantor?" mengulang.
"Tuan! Tuan Ken!" lengkingan suara Rimbun yang begitu nyaring terdengar menembus tembok sekalipun.
"Tuan! Ini sudah siang. Anda tidak ke kantor?" kembali memanggil, kembali menggedor pintu.
Pintu terbuka, Ken sudah melotot ke arah Rimbun.
"Bringsik Rimbun! Ini masih pagi. Bikin orang jantungan saja." kesal Ken.
"Hehe, Kau tidak menyahut dari tadi. Ku pikir masih tidur."
"Aku menyahut, tapi karena sedang di kamar mandi, kau tidak mendengar suaraku." jawab Ken.
"Oh, maaf kalau begitu."
"Tuan. Matamu merah sekali. Ah, kau pasti tidak bisa tidur ya semalam."
Ken hanya melirik saja.
"Kenapa? Jangan jangan memikirkan aku ya? Haha.. Ingin menerobos ke kamar ku? Dasar mesum!" tuding Rimbun.
"Heh, apa yang kau katakan? Pikiran mu itu yang selalu jelek padaku. Mana mungkin aku ingin menerobos ke kamarmu hah! Meskipun kau kekasihku, Aku masih punya otak."
"Benarkah? Sayang sekali. Padahal aku menunggumu lho. Menunggumu menerobos ke kamarku." ejek Rimbun.
__ADS_1
"Hm.. kau menyia nyiakan kesempatan." ucap Rimbun lagi, sambil mendekatkan wajahnya sekilas kemudian berlari.
"Hah, Rim!" Ken terpaku.
"Jadi dia menungguku? Sial. Tau begitu, semalam aku benar benar akan menerobos kamarnya." ikut berlari mengejar Rimbun yang tertawa keras.
"Gadis Jelek! Kau sedang mempermainkan perasaanku?" Ken sudah menghadang langkah Rimbun.
"Haha.. Aku hanya bercanda."
"Bercanda katamu? Kau mau bermain main denganku?" kini menangkap tubuh Rimbun.
Menyeretnya ke sofa dan membanting tubuh itu disana. Ken cepat mengukung tubuh Rimbun.
"Tanggung jawab!"
"Aku hanya bercanda Tuan. Ampun!" Rimbun masih tergelak, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tidak bisa!" membuka kedua tangan Rimbun.
"Ampun Tuan. Sungguh!" Rimbun cekikikan ketika Ken menggelitik pingangnya.
"Gadis nakal. Kau ternyata menungguku semalam kan?"
"Tidak, aku hanya bercanda."
"Aku tidak peduli. Kau sudah mengatakan begitu, jadi aku akan menerobos mu sekarang. Menerobos benteng pertahanan mu." kini sudah meraup wajah Rimbun. Menatap buas.
"Kau mau apa?" memukul dada Ken, pria itu cepat menangkap tangan itu menekannya kuat.
Plup!
"Em, em..!"
Ken mengulumm bibir yang hendak bersuara kembali itu. Tak sedikit pun Ken memberi kesempatan Rimbun untuk bergerak lagi. Hingga Rimbun kini melemas pasrah.
Ken semakin brutal, merengkuh tubuh Rimbun dan menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya.
Cukup lama mereka berada diposisi itu. Ken melepaskan ciumannya, hanya sekedar memberi kesempatan Rimbun untuk bernafas kemudian mengulangi lagi.
"Sudah." memalingkan wajahnya.
"Sebentar lagi. Aku masih merindukan mu jelek." Ken menarik lagi wajah Rimbun, kali ini menciumi kedua bibir itu dengan begitu lembut. Sambil merengkuh pinggang Rimbun.
Tangan Rimbun mencengkeram kuat lengan Ken, kini bisa merasakan angannya melambung dengan perlakuan Ken pagi ini.
Desiran lembut mulai mengaliri darah gadis itu, menciptakan kenyamanan di setiap gerakan Ken.
Bibir Ken mulai turun ke leher Rimbun, lama bergerak disana.
"Ah, Tuan." Rimbun mendorong wajah Ken. Mengusap lehernya.
"Kau meninggalkan bekas lagi?"
"Tidak. Apa kau mau? Aku akan membuatnya kalau begitu." Ken kembali menarik tengkuk Rimbun.
"Tidak." menahan wajah Ken.
"Satu saja."
"Tuan. Ini sudah siang. Kita harus pergi ke Kantor. Bukan kah ada ke Pertemuan penting?" wajah Rimbun sungguh memerah, sengaja membuat alasan untuk mengakhiri.
Ken hanya mengangguk, mengusap bibir Rimbun yang basah karena ulahnya.
"Aku mencintaimu Bun." merapatkan kedua kening mereka.
"Aku harus bersiap." Rimbun berdiri cepat. Merapihkan rambut dan bajunya yang berantakan. Menoleh sebentar pada Ken dengan wajah yang semakin memerah menahan malu. Kemudian berlari ke kamar.
Ken tersenyum puas. Menyeka bibirnya.
Menatap punggung Rimbun yang berlari itu.
"Bahagianya hatiku."
Ikut berdiri, melangkah ke kamar dengan senyum bahagia menghiasi wajahnya.
Pagi yang indah untuk Ken!
________________
__ADS_1