![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Pagi,
Rimbun sudah bangun, melirik Ken di sofa. Namun tidak terlihat sedikitpun ujung rambutnya. Terbesit rasa khawatir yang cukup di hati Rimbun, ketika mengingat kejadian nekat Ken semalam.
Rimbun melangkah mendekat untuk memastikan.
Tidak ada. Tidak ada Ken disana. Kemudian melirik kamar mandi. Sedikit terbuka.
'Kemana dia?'
"Jangan jangan, dia gantung diri!" Rimbun berlari keluar kamar.
"Ken, Tuan Ken!" menjerit sambil berlari keluar. Nafasnya ngos ngosan. Berhenti sejenak untuk mengatur nafas, sambil memutar matanya.
"Hah!" terperangah, sekaligus merasa malu.
"Dasar tidak tau diri! Aku sudah khawatir, rupanya ngorok disini." melihat Ken telentang di atas Sofa
"Hhh!" mengepalkan tangannya, namun cepat memutar langkahnya untuk kembali ke Kamar.
Duduk membanting pantatnya di kasur.
"Aku tidak boleh terlalu peduli padanya. Aku kan masih marah! Kalau dia tau aku khawatir seperti tadi, bisa bisa dia besar kepala." gumam Rimbun.
"Tuan tidak beradab. Aku membencinya!" umpat Rimbun. Lama dia termangu memikirkan Ken.
Kemudian dia memutusan untuk ke kamar mandi.
Dan pagi ini Rimbun mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Melepaskan segala penatnya semalam dan membersihkan diri sebersih mungkin karena sudah beberapa hari ini tidak mandi.
Sesekali masih melirik jejak Ken yang menempel di dadanya.
"Pria laknat. Jika bukan karena aku takut kau mati dan aku akan jadi saksi yang akan di interogasi, mana mungkin aku mau memaafkan mu?" kembali mengumpat.
"Pacar? Hih, aku sudah jadi pacarnya. Memaksa lagi." masih saja kesal.
Rimbun menyelesaikan mandinya, meraih handuk untuk melilit tubuhnya. Kemudian keluar kamar mandi.
"Selamat pagi Jelek ku!" ucapan Ken dibarengi langkahnya dari balik pintu.
"Aaa....!" Rimbun berteriak, menyilangkan kedua tangannya di dada atasnya yang terbuka, sambil cepat berbalik.
Ken yang membawa nampan berisi sarapan terpaku dikakinya, melihat punggung mulus itu dihadapannya.
"Keluar!" Rimbun cepat melangkah menutup pintu dan menguncinya setelah mendorong tubuh Ken. Ken sendiri masih sempat melirik Rimbun.
"Galaknya Si Jelek! Untung ini tidak tumpah." gerutu Ken menatap makanan di atas nampan.
Rimbun cepat berganti dan kemudian membuka pintu kembali. Masih memasang wajah cemberut, membiarkan Ken masuk.
"Mau apa?" tanya Rimbun datar, namun terdengar getir di telinga Ken.
"Mau apa? Mau mengajakmu sarapan lah." jawab Ken santai tanpa beban seperti tidak merasa jika sudah ada yang terjadi semalam.
'Ckck, orang ini. Santai sekali. Tidak terpikir dosanya semalam!' umpat Rimbun dalam hati.
"Aku belum mau sarapan!" tegas Rimbun.
"Lho, kenapa?" bertanya sambil meletakkan makanan.
"Kalau belum mau ya belum mau!" mendelik.
"Ah, iya baiklah. Kau mau apa? Minum susu. Makan buah, atau.."
"Pulang! Aku mau pulang Tuan Ken!" berseru.
Ken membuang nafas kasar. "Kau masih marah padaku?"
"Tentu saja. Tentu saja aku masih marah." sahut Rimbun, menoleh dengan tatapan masih menyimpan benci.
"Bukankah semalam kau sudah memaafkan aku?" Ken meraih tangan Rimbun. Gadis itu cepat menarik tangannya.
"Aku memang sudah memaafkan mu, tapi aku belum lupa kejahatan mu. Dan aku masih marah padamu Tuan Ken!" menunjuk dada Ken.
Ken kembali membuang nafas kasarnya, mengusap wajahnya yang terlihat gusar.
__ADS_1
"Tidak apa. Tidak apa jika kau masih marah padaku. Aku memang pantas mendapatkannya." sahut Ken pelan.
"Segera berkemas lah. Aku akan mengantarmu pulang." ucap Ken datar, kemudian melangkah keluar.
Melihat wajah gusar itu, Rimbun sedikit merasa bersalah.
"Apa aku sudah keterlaluan padanya?" sambil merapihkan kamar itu. Mengemasi barang barangnya, baju pembelian Ken dan tak lupa baju kotor serta jaket milik Ken. Dengan menggunakan Koper kecil yang ia temukan di lemari.
Rimbun melangkah, menoleh kembali pada kamar itu sebelum keluar. Lama menatap kamar itu. Kenangan di kamar itu menari di benaknya.
Rimbun menutup pintu, menghampiri Ken yang sudah menunggunya.
Ken hanya melempar senyuman tipis saja. Tanpa bicara lagi, kemudian melangkah di ikuti Rimbun.
Sepanjang melangkah keluar Villa itu hingga sampai di mobil, tidak ada suara dari mereka berdua. Bahkan sepanjang perjalanan pun tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya sesekali terdengar Ken menghela nafas, dan Rimbun sesekali melirik wajah Ken yang terlihat menyimpan kegusaran.
Lama dalam keadaan hening, Ken terdengar bersuara.
"Kau tidak boleh pulang ke Kosan mu itu Rim."
"Kenapa?" cepat menoleh, cepat bertanya.
"Kost itu tidak layak untukmu."
"Sekali ini saja, menurut lah. Setelah itu terserah kamu." sambung Ken.
Rimbun hanya diam, tidak lagi ingin membantah.
Setelah beberapa saat lamanya di perjalanan, Mobil Ken berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar dengan pagar hitam yang kokoh. Terlihat seorang Satpam terburu membuka gerbang. Ken memasukan mobilnya.
Belum sempat Rimbun bertanya, Ken sudah membuka pintu dan turun. Lalu membukakan pintu mobil untuk Rimbun.
"Ayo turun?"
Rimbun ragu, tapi tetap melangkah turun.
Dia hanya bisa mengikuti langkah kaki Pria di depannya itu yang sudah melangkah terlebih dahulu.
Seorang Asisten wanita membukakan pintu.
"Iya Bu." jawab singkat Ken, menoleh pada Rimbun yang masih diam.
"Ayo, aku akan menunjukan kamarmu."
Rimbun melongo, namun tangan Ken cepat menariknya, membawanya melangkah dan menaiki tangga.
Kemudian di sana membuka pintu sebuah kamar.
"Tuan, tunggu dulu." cegah Rimbun sebelum Ken membawanya masuk ke kamar itu.
"Ini, Rumah siapa lagi?
Ken hanya menghela nafas, tetap menarik tangan Rimbun untuk masuk.
Mengajak Rimbun duduk di sofa.
Rimbun masih menanti jawaban dari Ken.
"Ini Rumahku, rumah yang pernah ku tempati bersama orang tuaku dulu."
"Tinggallah disini saja. Jika kau keberatan untuk aku kemari, aku tidak akan pulang sebelum kau sendiri yang meminta." ucap Ken kembali
"Tapi kan ini Rumahmu, kenapa kau bicara begitu?" Rimbun kali ini menatap dengan serius.
"Tidak apa apa,aku jarang juga pulang ke rumah ini. Aku lebih sering menginap di Rumah Tuan Nath."
"Tapi, aku tidak bisa tinggal disini."
"Untuk kali ini saja, kumohon menurut lah. Ini demi kebaikanmu Rimbun. Aku tidak akan mengganggumu. Percayalah." ucap Ken, kini mendekatkan duduknya.
"Kau kekasihku. Kau calon istriku. Jadi kau sudah menjadi tanggung jawabku. Aku hanya ingin kau tinggal di tempat yang nyaman saja."
Rimbun terdiam, menatap mata penuh keseriusan itu.
"Lalu barang barang ku bagaimana,"
__ADS_1
"Ya Tuhan? Barang apa sih? Disini kau tidak memerlukannya, semua keperluan mu akan ada yang menyiapkan." Sahut Ken.
"Kau mau kan?" Ken bertanya penuh harap.
Rimbun masih belum mengatakan iya. Masih saja terdiam.
"Rim."
"Ah, Tuan. Seorang gadis, tidak bagus tinggal di tempat seorang pria jika tanpa alasan yang tepat."
"Kau kekasihku Rimbun, sebentar lagi aku akan menikahimu. Itu alasan yang tepat!"
"Aku tidak akan kemari jika bukan kau yang meminta."
"Yakin? Tidak akan kemari jika aku tidak meminta?" Rimbun sekarang balik bertanya untuk meyakinkan.
Sinar mata Ken berubah ragu, sambil mengangkat kedua alisnya.
"Aku tidak tau juga." menggaruk tengkuk.
"Huh. Tidak bisa di percaya!" Rimbun meninju kecil dada Ken. Ken cepat menangkap tangan itu dan menariknya, hingga Rimbun jatuh ke pelukannya.
"Kenapa kau keras kepala sekali sih Jelek?" Ken kini mendekap gadis itu.
"Aku hanya ingin menjagamu, kemudian menikahi mu. Karena aku sangat menyayangimu. Tapi kenapa kau keras kepala sekali."
"Tuan, sudah ku bilang kalau aku itu,"
"Tidak mencintai ku?" Ken mengangkat wajah Rimbun.
"Kau bisa belajar untuk itu."
"Bisa atau tidak nantinya, aku akan tetap memaksamu untuk menikah setelah kau siap."
"Aku tidak pernah menginginkan wanita sebelum ini, dan Aku tidak menerima penolakan darimu Rimbun!"
"Kau tetap akan memaksamu meskipun aku tidak mau?" Rimbun melotot.
"Ya!" Ken juga melotot.
"Meskipun kau lari, aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia mana pun. Aku akan mendapatkan mu dan menyeret mu ke depan Penghulu."
"Tapi aku belum mau menikah Tuan Ken?"
"Tidak apa apa, aku akan menunggu sampai kau mau menikah. Setelah kau mau, kau harus menikah denganku. Jika sampai kau menikah dengan orang lain, maka aku akan membunuhnya. Membunuh siapapun yang berani menikahi mu."
"Kau mengancam ku lagi?" Rimbun menarik kerah baju Ken.
"Kau pikir aku takut padamu Hah!" Rimbun menatap tajam wajah Ken dengan jarak dekat.
Cup!!
Ken malah mencium kening Rimbun.
"Aku harus ke kantor. Kau baik baik disini. Beristirahat lah. Karena besok, kita akan menyambut hari Pernikahan Tuan Nath dan Nona Mira." Ken melepas tangan Rimbun dari kerahnya.
Sempat mencium tangan itu sebelum melepasnya.
Kemudian menarik tengkuk Rimbun untuk mencium bibirnya kembali.
Rimbun sempat berontak, namun Ken menahan kuat tangan itu dan melakukan ciuman dengan cukup lama, merapatkan tubuhnya pada gadis itu.
Dan ciuman Ken kali ini berhasil membuat Rimbun kewalahan, tidak berontak lagi dengan perasaan yang mulai melayang.
bahkan sampai menggigit kecil bibir Rimbun.
"Ah," Rimbun mendorong wajah Ken , ketika pria itu menggigit kecil bibirnya. Rimbun mengusap bibirnya yang terasa sakit.
"Kau sudah cukup ternoda! Kalau kau menolak untuk ku nikahi, kau akan merugi sendiri." bisik Ken. Kemudian berdiri.
Melirik Rimbun yang bersungut-sungut itu. Semakin manis di pandangan Ken.
"Tak perlu melakukan apapun. Seseorang akan menyiapkan semua keperluan mu. Aku pergi ya?" Ken melangkah meninggalkan Rimbun.
_______________
__ADS_1