![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Nathan menyeret langkahnya untuk keluar rumah. Wajah terpaksa tergambar begitu jelas .
Tapi demi istri tercinta, ia tetap melakukannya.
Seorang Penjaga menyapa. " Tuan Nath, Anda akan keluar?"
"Ah, iya."
"Tapi ini sudah malam." heran.
"Aku tau kalau ini sudah malam!" melotot.
"Ah, maksudnya. Apa tidak sebaiknya, Tuan Nath di temani seseorang? Tuan Ken mungkin?"
Nathan hanya mendengus, sedikit melirik pintu kemudian menghampiri mobilnya.
'Lebih baik, aku mengajak Ken saja.'
Baru saja hendak menghubungi Ken, orang yang dimaksud sudah berjalan sedikit terburu ke arah mobil yang lain.
"Ken!"
Tangan yang hampir membuka pintu mobil itu berhenti, lalu menoleh. "Tuan Nath!"
"Malam malam begini kau mau kemana?" menghampiri.
"Kau sendiri mau kemana?"Nathan balik bertanya.
Ken mendengus. Menekuk wajah sedihnya. Menyandarkan punggungnya di badan mobil.
"Rimbun, ingin makan otak otak." menoleh pada Nathan yang tergelak.
"Belikan Ken. wanita ngidam harus di turuti. Hanya otak otak ini." ucap Nathan.
"Masalahnya, Rimbun ingin makan otak otak yang di jual di Kota Tua Fattahila. Gila tidak!"
"Buahahaha..." Nathan tertawa keras.
"Hebat sekali istrimu. Sekali ngidam bikin susah!"
"Anda sendiri? Mau kemana malam malam begini. Kenapa sendirian? Biasanya kau akan memanggilku?" melirik Nathan yang masih tergelak.
Seketika tawa Nathan berhenti. Wajahnya mulai tertekuk. Dengan menyandarkan punggungnya ke badan mobil juga.
"Tadi juga aku hampir memanggilmu. Tapi kau sudah nampak duluan." jawab Nathan.
"Kenapa wajah anda tertekuk? Ada yang berat?" Ken kembali bertanya.
"Mira. Dia ingin makan nasi goreng."
"Astaga! Hanya nasi goreng. Belikan Tuan. Demi Nona."
"Hanya nasi goreng kepalamu itu. Tau tidak Mira ingin nasi goreng dari mana?"
Ken menggeleng.
"Mangga Besar 13!"
"Buahahaha....!" kini Ken yang tertawa terpingkal-pingkal.
"Mana tidak boleh menyuruh Fic atau pelayan. Harus aku Ken! Bayangkan! Mangga besar 13 itu dimana? Jauh!"
Ken masih tertawa.
"Diam kau! Istrimu sama saja. Kota Tua Fattahila itu dekat dengan Mangga Besar!"
Ken berhenti, memicingkan sebelah matanya.
"Lets Go. Demi si buah hati. Ayo kita berangkat!" ucap Ken tegas.
"Ah iya. Kau benar. Semangat Ken!" keduanya TOS.
Masuk mobil yang sama dan segera melaju di tengah malam.
Terdengar mereka tertawa di dalam mobil yang melaju cepat itu. Sambil sesekali terdengar percakapan dari keduanya.
"Kau ingin anakmu berjenis kelamin apa Tuan?"
__ADS_1
Nathan menoleh, setelah berpikir sejenak. "Jika boleh meminta, aku jelas ingin seorang Putra."
Ken tersenyum. "Semoga saja. Agar menjadi Penerus mu!"
"Lalu Kau mendapatkan seorang Putri." menunjuk Ken.
"Dan setelah besar nanti .." Ken menoleh.
"Mereka kita nikahkan." sahut Nathan.
"Mantap!" ucap Ken.
"Lalu Salah satu dari mereka tidak mau!"
"Kemudian kabur.." sahut Ken.
"Haha...!" keduanya kembali tertawa.
"Aku berharap mereka jodoh. Tapi kembali pada mereka. Apakah mau atau tidak. Kita tidak bisa memaksa." ucap Nathan .
"Kau benar. Belum tentu juga jenis kelamin mereka seperti yang kita inginkan!" sahut Ken.
Akhirnya mereka terdiam setelah puas tertawa bahagia.
Sepakat untuk tidak ingin mengetahui jenis kelamin calon bayi mereka. Bukan untuk kejutan. Hanya saja, takut kecewa!
Setelah beberapa saat lamanya, laju kendaraan mereka menuju Kota Tua Fattahila. Beruntung meskipun sudah larut malam, penjual otak otak masih ada. Itu sudah menjadi tradisi penjual kaki lima di Kota Tua itu, berdagang hingga subuh.
Lalu mereka menuju Mangga besar 13, untuk mencari nasi goreng permintaan Mira. Tidak butuh waktu lama nasi goreng itu sudah di tangan Nathan.
Ken pun memutar kendaraan untuk kembali pulang.
Bayangkan! Sudah menjadi istri para pria hebat, mereka masih ingin memakan makanan dari pinggiran jalan!
Dua pria itu hanya bisa menepuk kepala masing masing.
Tak lagi percakapan, terus melaju ingin sampai cepat ke rumah.
Tapi apa? Setelah sampai ke kamar masing masing malah para istri sudah tertidur nyenyak. Tidak bisa di bangunin lagi. Lalu? Otak otak dan nasi gorengnya yang didapat jauh jauh. Nganggur!
Nathan dan Ken juga teler dibuat mereka.
Huh!
Menebah dada. "Sabar Ken!"
"Kau juga Tuan, harus sabar!"
Kantor, tentu terbengkalai sudah. Baru saja Nathan hendak menyuruh Ken untuk pergi ke kantor.
"Ken. Aku tidak mau di tinggal. Kau jangan pergi dulu!" Rimbun sudah merebahkan kepalanya di paha Ken. Sambil merengek rengek.
"Iya, iya. Tidak usah merengek seperti ini lah." jawab Ken.
Nathan mengintip itu di balik pintu.
Memutar tubuhnya untuk kembali ke kamarnya.
'Tidak mungkin aku menyuruh Ken ke kantor jika begini. Biar aku saja kalau begitu.'
Baru saja masuk ke kamar.
"Nath. Apa kau mau pergi?"
"Eh, iya Sayang. Bagaimana?"
Mira sudah menarik tangannya. Menyandarkan kepala di bahu Nathan. Melingkarkan kedua tangannya.
"Temani aku ya? Jangan ke kantor dulu. Suruh saja Ken yang pergi."
huh! mana bisa. Istrinya juga sedang sekarat!
"Nath! Kau mementingkan pekerjaan dari aku dan Beby?" menarik lengan Nathan.
"Eh tidak mungkin. Aku tidak akan pergi. Aku akan menemanimu. Sampai Beby lahir!" cepat memeluk istrinya.
"Harus. Kau kan sudah pernah berjanji begitu." Mira mengingatkan.
__ADS_1
"Iya sayang." beberapa kali mencium kepala Mira.
Begitu hari hari mereka seterusnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan Ken! Perusahaan bisa bangkrut kalau begini." keluh Nathan suatu malam.
"Itu yang sedang aku pikirkan Tuan." Ken duduk lemas di sofa. Disusul Nathan di sampingnya.
"Lalu kita harus bagaimana? Mira tidak mau ditinggal sedikitpun. Kau tau tidak, aku kencing saja di tungguin di depan pintu kamar mandi. Parah kan?"
"Jangan begitu Tuan. Namanya juga wanita hamil. Hamil muda memang aneh aneh kelakuannya." sahut Ken.
"Sok tau. Sok tua!" menunjuk kening Ken.
"Setidaknya aku lebih berpengalaman di bidang wanita." bantah Ken menunjuk dada Nathan.
"Taik kau! Ijab kabul sampai tiga kali saja bangga masalah wanita!" sindir Nathan.
"Hehe, jangan ungkit itu lagi Tuan. ." Ken terkikik geli mengingat kejadian memalukan baginya itu.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan kita?" Nathan kembali mengeluh.
"Tidak perlu khawatir. Besok, dan seterusnya aku akan pergi."
"Lalu Rimbun? Apa dia tidak pencak silat jika kau pergi? Kau tinggal geser saja suaranya langsung menggelegar ke seluruh ruangan." sahut Nathan.
"Biarkan saja. Mau atau tidak aku akan pergi ke kantor besok!" jawab Ken tegas.
"Bodoh kau! Kalau dia mengamuk, lalu dia pulang ke rumah keluarganya? Mau di taruh kemana wajah kita Ken? Rimbun itu Putri dari keluarga Fiandi!" kembali menunjuk.
"Astaga Aku lupa!" Ken menggeleng kepala.
"Lalu kita mau bagaimana? Mana mungkin kita harus begini terus? Perusahaan bisa bangkrut Tuan. Lalu kita mau makan apa?" sambung Ken, dengan nada mulai cemas.
"Kau bisa minta makan ke keluarga Fiandi. Lalu aku, pulang ke kampungnya Mira. Menggarap sawah disana. Beres kan?" jawab Nathan tanpa beban.
"Kau menyerah Tuan!" Ken berdiri tiba tiba.
"Mana bisa seperti itu? Kita susah payah memperjuangkan Perusahaan itu, sekarang kau akan membiarkan perusahaan itu sirna begitu saja?" Ken emosi.
"Tidak Bodoh! Itu hanya bayanganku saja jika semua benar benar terjadi. Makanya berpikir Ken! Kau kan hebat dalam hal pikir memikir! Ayo berpikir!" Nathan juga berdiri.
Ken tertawa, ia tau jika Nathan hanya bercanda, kembali duduk. Nathan pun sama.
Keduanya kini tenggelam dalam pikiran masing masing. Mencari solusi bagaimana agar perusahaan mereka tetap berjalan stabil tanpa kehadiran mereka sepenuhnya disana. Dan mereka masih bisa mendampinginya para istri yang sedang ngidam parah itu.
"Ah!" Tiba tiba Ken mengacungkan telunjuknya.
"Kau menemukan solusinya?" Nathan cepat bertanya.
"Tentu!"
"Bagaimana?"
"Hanya ada satu solusi yang tepat!"
"Apa Ken?" sungguh penasaran.
"Sudah saatnya. Dia ikut andil dalam perusahaan. Tidak sia sia selama ini kita mendidiknya dengan baik dan benar! Sudah saatnya dia membuktikan kemampuannya!" ucap Ken sambil memangggut-manggutkan kepala.
"Ah, kau benar Ken. Kau benar. Otaknya encer seencer es krim meleleh. Meskipun umurnya masih muda, tapi sikap dan sifatnya sangat dewasa." sahut Nathan.
"Iya Tuan. Tepat. Pasti dia dapat diandalkan!"
"Kalau begitu, cepat kau panggil dia Ken!" perintah Nathan.
"Siap." Ken berdiri. Segera bergegas.
"Fic!" berteriak kuat ketika baru di ujung tangga.
Hanya hitungan detik, Fic sudah berlari menghampiri.
"Iya Tuan. Ada apa?"
"Kami ingin berbicara padamu. Duduk lah!" Nathan kali ini yang langsung menyuruh.
________________
__ADS_1