![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
"Lagi lagi kau membawa Wanita. Kakek bosan! Kakek belum mau punya Cucu menantu! Kau ini!" menunjuk kasar.
"Bawa adikmu! Bawa adikmu Al'. Temukan dia. Kakek hanya ingin Dia. Hanya ingin Rimbun!"
"Kakek! Lihat dulu gadis ini. Apa menurutmu, dia tidak mirip denganku?" Al' menarik Rimbun untuk lebih dekat dengan Kakek.
Kakek melengos. "Apa peduli ku. Mau mirip atau tidak, kau berharap kalian berjodoh? Haha.. Mana bisa!"
"Bukan begitu Kek? Lihatlah, dia mirip dengan Menantu mu. Dengan Ibu!" Al' kini memaksa Kakek untuk bangun.
"Biarkan saja! Aku tetap tidak akan merestui mu untuk menikah sebelum kau menemukan cucu kesayanganku Al'!"
Kakek berontak, menepis tangan Al' yang meraih lengannya dan kembali memalingkan wajahnya.
Al' mendengus, kemudian mendekatkan wajahnya.
"Dia Rimbun , Kek." berbisik.
"Hah!" Kakek menoleh, menatap Al'.
"Kau berbohong?" Kakek memukul pelan kepala Al'.
"Al' tidak berbohong. Dia cucumu." Al' mengulurkan Kertas hasil Tes DNA milik mereka.
Tangan Kakek meraih kertas itu. Tanpa bangun dari berbaring nya dia melirik kertas itu. Matanya melotot.
Seketika Kakek bangun. Kemudian berdiri. Menatap seksama Rimbun. Menoleh lagi pada Al'.
"Apa semua ini benar?"
Al' Mengangguk. "Al' menemukannya Kek. Dia Rimbun. Dia adikku. Cucu kesayanganmu Kek."
"Bahkan aku tidak percaya awalnya. Lalu kami melakukan Tes DNA. Semua ini benar Kek."
Tubuh Kakek gemetaran seketika. Mendekat pada Rimbun yang masih berdiri menatapnya.
"Rimbun..!" Kakek menjerit histeris, menubruk Rimbun.
"Cucuku.. Cucu Kakek!" Kakek tersedu.
Rimbun tak bisa menahan air matanya lagi. Dia juga ikut menangis.
Al', pria itu pun sama. Kini memeluk dua orang itu dengan tangan lebarnya. Ikut menangis.
Suasana dalam kamar itu berubah menjadi mengharukan, penuh tangisan kebahagiaan.
Hingga beberapa saat. Kini Al' membimbing Kakek untuk duduk di sofa. Rimbun pun duduk disebelahnya. Kakek masih memegang erat tangan Rimbun sambil satu tangan tak henti mengusap wajah Rimbun.
"Ya Tuhan. Kakek seperti bermimpi." Bertemu denganmu , Cucu perempuan ku satu satunya."
Rimbun hanya tersenyum, hatinya pun sama. Tidak pernah menyangka dan seperti bermimpi.
"Kau mirip sekali dengan Ibumu."
"Apa iya Kek? Rimbun tidak tau itu."
"Kau mirip Rimbun. Matamu, bibirmu. Kau mirip Ibu kita." sahut Al'.
"Iya. Kau mirip dengan nya. Tapi kok, rambutmu bisa lurus ya? Ayah dan ibu mu berambut keriting. Seperti Kakek, seperti Kakakmu Al'." menunjuk Al' yang memang berambut keriting. Hanya saja karena potongannya membuat rambut Al' tidak terlalu terlihat jika berambut keriting.
Rimbun tergelak, begitu juga dengan Al'.
"Rambutnya palsu Kek!" ucap Al'.
"Hah! Palsu?"
Rimbun tersenyum malu. "Aku meluruskannya di Salon, Kek."
"Oh, pantas saja. Saat bayi dulu saja, rambutmu sudah terlihat keriting."
'Astaga.' Rimbun baru menyadari jika Rambut keritingnya adalah warisan dari keluarganya. Pantas saja, selama ini Rimbun sempat bertanya tanya, kenapa Rambutnya keriting, sedangkan Ayah dan ibunya tidak. Mungkin karena dia bukan anak kandung mereka. Dan Rimbun sama sekali tidak pernah memikirkan itu.
"Bagaimana bisa kau menemukannya , Al'?" Kakek bertanya pada Al'.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja bertemu Rimbun di Perusahaan milik Tuan Nath. Saat itu aku sedang melakukan pertemuan dengan Sekretaris Utama Perusahaan itu. Dan ternyata Rimbun bekerja disana. Saat mendengar nama Rimbun, aku langsung terkejut. Lalu aku bertanya nama panjangnya. Kemudian, nama ibunya tenyata Santi. Aku ingat jika Kakek pernah mengatakan tentang seorang wanita yang bernama Santi itu dulu pernah datang ke Rumah kita dengan membawa seorang bayi. Lalu untuk meyakinkannya, aku mengajak Rimbun melakukannya Tes DNA. Dan hasilnya , dia benar Adikku yang kita cari selama ini." Al' menjelaskan.
"Maafkan kami Rimbun. Kami tidak bisa menemukanmu. Selama ini Kakek sudah melakukannya berbagai cara untuk menemukanmu. Tapi kami kehilangan jejak. Kakek sudah putus asa. Akhirnya, Tuhan menjawab semua doa Kakek dan mempertemukan kita." ucap Kakek, menyeka air matanya yang masih menetes.
"Ah, iya Kek. Rimbun senang bisa bertemu kalian. Walau Rimbun sama sekali tidak mengenal kalian." jawab Rimbun membuat Kakek semakin bersedih.
"Jangan bicara seperti itu Cucuku. Aku ini Kakek mu. Kakek yang mencintaimu melebihi apapun. Dan dia, adalah Kakakmu, kakak yang menyayangimu bahkan dari dulu ketika kau masih didalam perut Ibumu." menunjuk Al'.
"Benar Rimbun. Jika kau tau, bagaimana dulu aku sangat senang ketika Ibu dinyatakan Hamil. Saat itu aku sudah berusia tujuh tahun. Ketika ibu melahirkan bayi perempuan, kami sangat bahagia. Tapi, kebahagiaan itu seketika lenyap ketika Kecelakaan yang menimpa kalian merenggut Nyawa Ayah dan Ibu serta membuat kami kehilangan kamu." ucap Al'.
"Bagaimana semua itu bisa terjadi?" tanya Rimbun.
"Entahlah. Tapi Polisi menyatakan jika kejadian itu murni kecelakaan. Rem Mobil Ayahmu Blong dan masuk ke Jurang. Saat itu, Kalian dari Rumah sakit, dari melakukan imunisasi untukmu. Ayah mu bukannya pulang ke Rumah dulu malah berniat membawa kalian liburan ke Villa. Kami juga bermaksud menyusul kalian kesana. Tapi hari yang seharusnya menjadi hari bahagia itu, malah menjadi hari paling menyedihkan." Kakek kembali terisak.
"Sudahlah Kek. Yang penting saat ini, Rimbun sudah kembali pada kita. Ayah dan Ibu pasti senang disana." sahut Al'.
"Kau benar. Lalu dimana Orang tua angkat mu yang sudah merawat mu selama ini Rimbun?" tanya Kakek.
"Mereka sudah tidak ada Kek."
"Ya Tuhan. Benarkah? Kakek baru saja ingin berterima kasih Alda Mereka."
Rimbun mengangguk.
"Kau pasti sangat menderita Cucuku." kembali terisak.
"Tidak juga Kek. Berkat Tuan Ken. Dia orang yang selama ini sudah membantu Rimbun, sehingga Rimbun mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak."
"Tuan Ken? Bukankah dia Sekretaris Utama Perusahaan Edoardo?"
"Iya Kek. Dia, dia pacar Rimbun." jawab Rimbun. Sedikit malu malu.
"Ya Tuhan. Cucu Kakek sudah punya pacar? Seorang Tuan Ken? Kakek senang mendengarnya. Dia bukan hanya tampan. Terkenal sebagai Seorang Sekretaris yang keren!" sahut Kakek bangga.
"Apanya keren? Kalian tidak tau saja!" Al' sewot.
"Kenapa Al'? Seharusnya kau ikut senang. Adikku menjadi pacar Tuan Ken!"
"Kak Al', kau belum tau saja. Dia itu baik kok. Tidak seperti yang kau pikirkan." sahut Rimbun membela kekasihnya.
"Heh, yang namanya Playboy dimana mana tidak baik. Baru aku tiba di tanah air saja, nama Ken sudah ku dengar sebagai Playboy. Dan teman ku ada yang sudah menjadi korbannya." ketus Al'.
"Aku tidak suka padanya!" sambung Al'.
"Kak Al', kau sudah janji tidak akan menghalangi hubungan kami. Kau akan ingkar janji?" Rimbun mengingatkan.
"Kita lihat saja nanti. Jika dia tidak berubah, mana bisa aku membiarkan adik ku berhubungan dengannya. Apa lagi sampai menikah!" jawab Al'.
"Heh, sudah! Seperti kau tidak saja. Pacarmu saja lebih dari seratus. Mana tidak ada yang jelas!" tuding Kakek.
"Tapi aku beda Kakek!"
"Sama saja. Semua itu tergantung seseorang itu sendiri. Mau berubah atau tidak!" sahut Kakek.
"Bagaimana pun juga, Kakek harus berterima kasih pada Tuan Ken." sambung Kakek.
"Kakek mau bertemu dengannya? Dia ada disini." ucap Rimbun.
"Benarkah? Kalau begitu Kakek ingin bertemu. Ayo!"
Rimbun mengangguk, segera membimbing Kakek untuk melangkah keluar menemui Ken.
Al', pria itu terlihat bersungut-sungut. Hatinya masih belum bisa menyukai Pria yang pernah didengarnya sebagai Playboy itu.
"Tuan Ken!" sapa Kakek setelah berada dihadapan Ken.
Ken cepat berdiri, mengangguk kepada Kakek.
"Duduk lah Nak!" Kakek mengajak Ken untuk duduk kembali.
"Taun Ken. Rimbun kekasih mu ini, benar cucu ku yang selama ini kami cari. Kakek sungguh tidak menyangka bisa dipertemukan seperti ini." ucap Kakek.
"Oh, iya Kek. Aku ikut senang. Melihat Rimbun masih memiliki keluarga." sahut Ken, melirik Rimbun yang terlihat bahagia.
__ADS_1
"Terimakasih ya? Sudah menjaganya selama ini. Hidupnya pasti sangat sulit sebelum bertemu denganmu." ucap Kakek.
"Iya Kek. Tidak masalah. Itu sudah menjadi tanggung jawab ku."
"Ah baiklah. Kalau begitu, berhubung kami ini adalah Keluarga Rimbun. Jadi mulai saat ini, Rimbun harus tinggal disini bersama kami." ucap Kakek.
"Hah! Kek, tapi." Rimbun menoleh pada Ken.
"Rimbun. Kau harus tinggal disini. Menemani Kakek. Kakek sangat ingin bersama mu tentunya." Al' menyela.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Ken? Dia juga sendirian. Selama ini kami selalu bersama." bantah Rimbun.
"Rim, Tuan Ken itu laki laki Mandiri. Dia tidak akan masalah jika akan sendirian. Lagian, kalian itu bukan Mahram, mana bisa tinggal serumah!"
Rimbun hanya terdiam, kembali menoleh pada Ken.
"Kakak mu benar. Kau harus tinggal disini. Mereka keluargamu." ucap Ken.
"Tapi Tuan,"
"Aku akan sering kemari untuk mengunjungimu. Kau juga bisa menemui ku jika kau mau."
"Benar?"
Ken mengangguk.
Akhirnya Ken beranjak setelah berpamitan untuk pulang.
Rimbun terlihat terus memeluk Ken, saat Ken hendak masuk ke mobilnya.
"Kau takut merindukan aku?" bisik Ken. Sembari mengelus rambut Rimbun.
"Tentu saja. Aku akan rindu bertengkar dengan mu." memukul kecil dada Ken.
"Bukan Rindu pelukanku?"
"Itu tidak akan!" bantah Rimbun, tapi pelukannya semakin erat.
Deheman keras dari Al' membuat keduanya menoleh.
"Jangan lama lama berpelukannya. Kalian belum resmi!" celetuk Al'.
Kakek hanya tersenyum melihat itu.
Ken mencium kening Rimbun.
"Aku pulang dulu. Baik baik disini ya?" melepaskan pelukan Rimbun.
Tangan Rimbun masih menggenggam erat jemari Ken. Seperti berat melepas kepergian Ken kali ini. Dan Rimbun baru kali ini mengalami perasaan seperti itu.
"Aku harus pulang. Masih banyak pekerjaan." ucap Ken lagi, melirik tangan Rimbun yang belum juga melepaskan genggamannya.
"Ah, iya. Hati hati. Kalau sudah sampai, langsung hubungi aku ya?" akhirnya melepaskan tangannya.
Ken hanya mengangguk, cepat memasuki mobilnya.
Rimbun hanya bisa menatap mobil yang mulai bergerak itu, hingga menghilang dari pandangannya.
Sementara Ken, hanya bisa menghela nafas panjang berkali kali.
Rasa sesak kini begitu terasa di dadanya.
'Tanpa Rimbun. Hidupku pasti sangat sepi.'
Ken sudah membayangkan hari harinya yang harus berjauhan dari Rimbun. Gadis yang sudah mengisi hari harinya menjadi berwarna.
Teriakan Rimbun, kerlingan mata bulatnya. Lalu pukulan serta cubitannya. Argh... Lalu Ken, sedikit sedikit bisa mencuri kesempatan untuk mencium gadis itu.
Ken tersenyum membayangkan itu.
"Aku tidak akan membiarkan kita terlalu lama berjauhan. Aku akan segera melamar mu Rimbun. Tunggu aku."
______________
__ADS_1