Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Malu sendiri.


__ADS_3

Hari sudah berganti hari. Sudah lebih dari sepekan Rimbun tinggal bersama keluarganya.


"Kau senang tinggal bersama kami?" tanya Kakek.


"Ah iya Kek. Tentu aku senang." jawab Rimbun.


"Bahagianya hati Kakek Rimbun. Akhirnya cucu perempuan Kakek bisa kembali pada Kakek." Kakek mengusap usap punggung tangan Rimbun.


"Rimbun, Rimbun. Sesuai dengan kemauanku, saat kau lahir. Memberimu nama Rimbun yang artinya teduh. Kau meneduhkan hati semua orang yang ada di sekitarmu. Sejuk, damai rasanya jika ada kau seperti ini." ucap Kakek, masih mengusap usap punggung telapak tangan Rimbun.


"Ck, kenapa bisa secocok itu pendapat kalian. Ayah dan ibu juga pernah berkata demikian. Bahkan mereka tidak pernah mau memanggilnya nama panjang ku. Rimbun. Rimbun. Selalu itu."


"Haha.. Ternyata, orang tua angkat mu peka juga. Melihat namamu di dalam kalung itu. Dan memiliki pemikiran yang sama dengan kita."


"Tapi kek, aku jadi penasaran dengan kalung itu. Sebesar apa sih kalungnya? Kok muat nama nama keluarga?"


Kakek tertawa. "Pada saat itu, sejak kami tau jika ibumu mengandung anak perempuan, kami menyiapkan nama. Rimbun itu nama pemberian Kakek. Lalu ibumu menyiapkan nama panjangnya. Ibumu menulis nama kalian berempat disebuah kertas kemudian melipatnya kecil dan memasukan ke dalam Liontin kalung miliknya. Dia ingin menyimpan nama kalian dan membawa kemanapun kalung itu, berniat akan membukanya setelah kau lahir. Beruntung sekali, setelah kau lahir ibumu belum sempat mengeluarkan kertas itu. Jika saja itu terjadi, mungkin kita belum bisa bertemu seperti sekarang."


Rimbun terdiam mendengar penuturan Kakek. Ada benarnya semua ucapan Kakek itu. Atau mungkin, Ibu kandungnya dulu memang sudah mempunyai firasat buruk.


"Huh, aku tidak suka sebenarnya. Katanya Rimbun itu artinya lebat. Aku jadi bahan gunjingan teman temanku. Apanya yang lebat? Jangan jangan, itu nya yang lebat. Kan malu." ucap Rimbun.


Al' terkikik mendengar ucapan Rimbun.


"Kenapa tertawa?" Rimbun melempar bantal ke arah kakaknya.


"Rimbun." Kakek menenangkan.


"Sebenarnya, arti yang dimaksud bukan seperti itu. Melainkan, Pohon yang rimbun itu pasti akan teduh dan sejuk. Begitu maksudnya." jelas Kakek.


"Sama saja. Aku tetap tidak suka. Tapi, berhubung Rimbun anak yang baik dan patuh, aku terima saja. Ayah juga pernah bilang, kalau aku harus tetap di panggil Rimbun. Biar unik, dan lain dari pada yang lain."


"Itu tau!" sahut Al' Lagi.


"Sudah. Yang penting, kita saat ini sudah bersama. Dan jangan sampai terpisah lagi." sahut Kakek.


"Iya Kek." Rimbun memeluk Kakek.


"Kau tidak mau memeluk juga?" Al' mendekat. Sudah merentangkan kedua tangannya.


"Tidak mau!" Rimbun mendorong tubuh Al'.


"Kau jahat sekali Rimbun?"


"Kau bau! Kau belum mandi kan?"


"Masa sih?" Al' mencium badannya sendiri.


"Eh, iya. Tapi aku tetap tampan kan? Kakak mu ini, pria tertampan di kota ini." Al' memuji dirinya sendiri.


Rimbun tertawa mendengar itu.


"Kenapa tertawa? Kau mau bilang jika Ken itu lebih tampan dari kakakmu ini?"


Mendengar nama Ken disebut, Rimbun terbelalak, langsung teringat Ken.


"Tentu saja. Dia lebih tampan karena dia pacarku." bela Rimbun.


"Dasar Bucin." Al' menusuk pipi Rimbun dengan jarinya.


"Aku tidak bucin. Tapi itu kenyataan." bantah Rimbun.


"Sudah, sudah." Kakek kembali menengahi.


"Lalu, kapan Tuan Ken akan melamar mu?" Kakek bertanya pada Rimbun.


"Melamar?" Rimbun terkejut dengan pertanyaan Kakek, selama ini bahkan Rimbun belum terpikir kearah sana. Meskipun Ken sudah berkali-kali mengajaknya menikah.


"Kenapa? Bukankah kalian pacaran? Atau jangan jangan, kau jadi pacarnya hanya karena paksaan?" kini Al' yang bertanya pada Rimbun.


"Eh, bukan begitu. Tapi, tapi."


"Jika kau tidak benar benar menyukainya sebaiknya putuskan saja dia. Aku juga tidak suka punya calon adik ipar macam dia!"


"Kak Al'. Kenapa kak Al' sangat membenci Tuan Ken sih?"


"Aku tidak membencinya. Aku hanya tidak menyukai. Dia itu Playboy Rimbun. Siapapun juga tidak akan suka jika adik kesayangannya akan salah dalam memilih pendamping!" jawab Al'.


"Kakak sudah tau alasan Tuan Ken menjadi Playboy. Kenapa masih tidak percaya padanya?" Kini Rimbun marah.


"Apapun alasannya, yang namanya Playboy, tetap Playboy Rim? Tidak ada yang baik." ucap Al'.


"Lalu bagaimana dengan Kak Al' sendiri? Kau juga Playboy kan? Gonta ganti pacar!" Kini Rimbun menunjuk Al'.


"Ayo. Apa alasanmu punya banyak pacar?"


"Aku.. aku, beda donk? Aku karena belum bertemu dengan yang cocok. Itu saja." elak Al'.


"Huh. Sama saja!"


"Sudah! Kenapa bertengkar terus sih?" Kakek lagi lagi menengahi.


"Kau Al'. Cepat lamar satu wanita dan bawa ke hadapan Kakek. Jangan lagi bermain main dengan wanita. Sudah saatnya kau menikah. Dan untuk Rimbun. Biarkan dia memilih sendiri. Kita hanya bisa mendukungnya."


"Benar Kek?" Rimbun beralih lagi pada Kakek.


"Iya sayang."

__ADS_1


"Ah, kalau begitu boleh kan hari ini Rimbun bertemu dengan Tuan Ken?"


"Tentu saja. Kita sudah selesai mengunjungi saudara saudara kita. Pergilah. Kakakmu akan mengantarmu." sahut Kakek, melirik Al' yang langsung melengos.


"Terimakasih Kakek. Rimbun bersiap sekarang." Rimbun terlihat sangat senang. Berlari ke kamarnya.


Cepat cepat bersiap. Sambil terus memegangi dadanya yang tiba tiba berdegup kencang, membayangkan bertemu dengan Ken.


Entah kenapa, semenjak tinggal dirumah ini Rimbun terus memikirkan Ken. Hatinya begitu merindukan Pria itu.


Sementara Ken,


Pria itu terlihat gelisah. Semakin Gelisah lagi ketika Ken kesulitan untuk menemui Rimbun.


Di telepon, jarang diangkat. Sekali diangkat. Hanya jawaban 'Maaf Tuan. Nanti aku telepon balik ya?'


Itu itu saja jawaban yang Ken terima.


Ketika Ken nekat mendatangi Rumah mereka, Ken pun tak bisa bertemu dengan Rimbun. Alasannya, Rimbun tidak ada dirumah. Kakek sedang mengajaknya pergi.


"Kemana?"


"Ke tempat saudara?"


"Kemana lagi?"


"Ke tempat saudara lagi."


"Ke saudara terus?"


"Saudara kami kan banyak!"


Hanya itu jawaban yang Ken dapat dari Al'.


Ken terduduk lesu di ruangan tengah milik Rumah Nathan. Menatap kosong.


Nathan yang sudah tau permasalahan Ken ikut gelisah. Menghampiri pria itu. Duduk disebelahnya.


"Kenapa kau tidak mencoba menerobos ke rumah itu. Siapa tau, Rimbun ada di dalam."


Ken melirik sekilas, kemudian menghela nafas.


"Apa harus begitu. Itu namanya tidak sopan. Konyol sekali."


"Aku tau itu konyol. Tapi demi sebuah perjuangan, sekali kali kita memang harus konyol Ken! Dari pada kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Rimbun?"


"Maksudmu?" Ken cepat menoleh.


"Kita tidak tau, apa Rimbun baik baik saja disana. Kalau tidak bagaimana? Kalau Rimbun tertekan disana bagaimana?"


"Tuan. Apa mungkin seperti itu. Tapi jika iya, kenapa Rimbun tidak mau mengangkat telepon ku atau membalas pesan ku?" sahut Ken menjadi khawatir.


"Hah!" Ken langsung berdiri.


"Ini tidak bisa dibiarkan." Ken sudah menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.


"Kau mau kemana?"


"Mendatangi rumah mereka. Kali ini, apapun yang terjadi aku harus bisa bertemu dengan Rimbun." tekad Ken sudah bulat.


"Bagus Ken! Apa aku perlu ikut? Kita dobrak bersama rumah itu!" Nathan ikut menggulung kemejanya.


"Ah iya Tuan!"


"Baiklah! Kita berangkat sekarang. Jangan lupa, hubungi Roy, Ken!"


"Oh iya." Ken cepat merogoh hpnya. Menghubungi Roy segera.


[Cepat ke Rumah Tuan Nath. Bawa semua Anak buah mu!]


[Siap Tuan!]


"Nath!" Tiba tiba Mira datang menghampiri mereka.


"Kalian mau kemana?"


"Mira. Sebaiknya kau ke kamar saja. Kami harus pergi sekarang juga!" Nathan cepat menghampiri istrinya.


"Pergi? Kemana? Ini kan hari Minggu. Aku ikut ya?"


"Eh, tidak tidak. Ini bahaya." cegah Ken.


"Bahaya? Apa maksudnya?"


"Mira sayang. Benar kata Ken. Ini bahaya. Kami akan pergi menyelamatkan Rimbun." ucap Nathan.


"Hah! Rimbun. Bukankah Rimbun sudah menemukan keluarga kandungnya? Apa Rimbun diculik?" Mira pun terkejut sekali.


"Bisa jadi. Bisa jadi, Rimbun di culik dengan mereka yang mengaku sebagai keluarga Kandungnya itu. Karena sampai saat ini, Rimbun tidak bisa dihubungi dan tidak bisa ditemui."


"Hah! Yang benar?" Mira langsung panik.


"Kalau begitu, cepat selamat Rimbun Nath, Ken. Kalian harus bisa menemukan Rimbun dan membawanya kemari."


"Tentu Mira. Tenang lah. Kami akan mendapatkan Rimbun dan membawanya kemari."


"Iya. Cepat lah." Ucap Mira.

__ADS_1


"Em. Kami pergi ya?" tak lupa Nathan mencium kening Mira terlebih dahulu.


"Hati hati." ucap Mira, menatap langkah kedua pria itu.


Nathan berjalan duluan, Ken mengikuti dari belakang. Hati kedua pria itu sudah berkecamuk. Dengan pikiran marah dan di penuhi emosi.


Sama sama sudah memikirkan untuk menghajar orang orang yang sudah berani menyekap Rimbun.


Brak!


Dengan kencang Nathan membuka pintu.


Matanya seketika terbelalak ketika menatap keluar. Seorang wanita baru saja menuruni mobil.


"Ken!" menyenggol lengan Ken yang masih menutup pintu.


"Ada apa?"


"Itu, itu Rimbun!"


Ken langsung menoleh ke arah telunjuk tangan Nathan.


Mata Ken pun hampir lepas rasanya.


Rimbun melangkah mendekat.


"Tuan Nath." sapanya.


Nathan tidak menjawab, hanya tersenyum getir. Menggeser kakinya beberapa langkah ke samping.


Rimbun tak menghiraukan itu, saat ini yang terlihat sudah Ken sepenuhnya dimata.


"Tuan Ken."


Ken pun tidak menjawab. Hanya terpaku di kedua kakinya yang mendadak kaku.


Bruk...!


Rimbun memeluk Ken, tanpa peduli lagi.


"Jahat. Kenapa tidak mengunjungi ku?" Rimbun terisak.


"Apa? Jahat?" Ken meraih wajah Rimbun.


"Kau bilang aku jahat? Bekali kali aku datang kesana, dan kau tidak pernah ada dirumah."


"Ah, iya. Maafkan aku. Kakek, terus membawaku kemana mana. Untuk memperkenalkan aku pada Saudara saudaranya."


"Lalu kenapa tidak mengangkat Telepon ku, tidak membalas Chat ku?" Ken kembali bertanya.


"Hah! Telepon? Chat?"


"Hp pemberianmu itu hilang Tuan. Jatuh saat hari pertama Kakek mengajakku pergi." jawab Rimbun.


"Mana mungkin? Kau sempat mengangkatnya beberapa kali, tapi hanya menjawab , Sebentar Tuan. Nanti aku telepon balik. Itu itu saja tanpa menelpon balik!"


"Itu mungkin orang yang menemukan hp nya. Aku tidak memegang hp itu semenjak hari pertama di rumah itu. Kak Al' membelikan aku hp baru. Tapi, aku tidak ingat nomormu. Jadi, aku tidak bisa memberitahumu."


"Astaga! Kau sudah membuatku hampir gila karena memikirkan mu Rimbun!" Ken menepuk kepalanya sendiri.


"Maafkan Aku Tuan."


Nathan terkikik sendiri, malu dengan tuduhan mereka tadi.


"Ah, Ken. Sepertinya, Tujuan kita berakhir sampai disini saja. Kita tidak bisa melanjutkannya lagi." sambil terkikik, sambil melangkah, sambil menepuk bahu Ken, yang juga terlihat malu.


"Bawa dulu gadismu masuk. Dan selesai kan segera urusan kalian." melangkah masuk meninggalkan mereka.


Ken hanya mengangguk. Kembali menatap Rimbun.


"Ayo masuk." meraih tangan Rimbun yang menurut.


"Hei," Al' sudah berdiri dibelakang mereka.


"Aku sudah mengantar adikku kemari. Kau harus mengantarnya pulang. Dan jangan terlambat!"


"Hei, hei. Kau sedang berbicara dengan siapa hah? Beraninya kau!" Ken menekan telunjuknya di dada Al'.


"Aku tau. Aku sedang berbicara dengan Tuan Ken yang terhormat!" Al' menepis tangan Ken.


"Kau yang lupa siapa aku hah! Aku ini, calon kakak iparmu. Jadi, siapapun kau.. Kau harus sopan padaku atau aku tidak akan merestui hubungan mu dengan adikku!"


"Ayo Rimbun, kita pulang saja." Al' hendak mengambil tangan Rimbun.


"Eh,!" Ken kalah telak. Cepat menahan tangan Rimbun. Segera melempar senyum palsu ke arah Al'.


"Maaf kakak ipar. Maafkan aku. Ah, iya. Kakak ipar. Jangan begitu ya? Aku akan sopan padamu." sambil menggaruk tengkuknya sendiri.


"Begitu kan bagus." Al' tersenyum puas. Kapan lagi pikirnya bisa mengerjai Seorang Ken yang terkenal bengis itu.


"Cepat bawa dia masuk, dan jangan lupa untuk mengantarnya pulang. Atau, kau ingin aku menunggunya disini?"


"Oh iya. Baiklah. Aku akan mengantarnya pulang nanti malam. Kakak ipar tidak perlu khawatir." ucap Ken, di buat sesopan mungkin.


"Kakak pulang ya? Jangan lupa untuk pulang ke rumah kita lagi." Al' berpamitan pada Rimbun yang hanya mengangguk saja.


Setelah Al' pergi,

__ADS_1


Ken cepat cepat membawa Rimbun masuk kedalam. Tak lupa menutup pintu.


________________


__ADS_2