Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Anggap saja kita khilaf!


__ADS_3

Masih tengah malam,


Nathan tersentak dari lelapnya. Langsung terlonjak kaget ketika mengingat dengan jelas kejadian beberapa jam yang lalu.


"Mira!" menoleh ke kiri dan ke kanan. Hanya berantakan yang tersisa. Seprei kusut ,bantal dan guling sudah entah kemana. Pakaian Mira dan miliknya bertabur dilantai.


"Mira!" Nathan menatap bercak darah yang cukup banyak di seprei miliknya.


"Dia masih perawan!" lirih Nathan menyentuh itu. Otaknya langsung beku seketika mengingat sikap terlalu kasarnya pada Mira.


"Itu pasti sangat sakit!"


Nathan cepat sadar, segera mencari hpnya yang untung ada satu tergeletak di sisi meja. Langsung meraihnya dan mengirim pesan jelas pada Ken.


"Hiks.. hiks..!"


"Mira!" cepat menoleh kearah suara isakan.


Melempar hpnya keatas meja kembali.


Nathan langsung beranjak, meraih handuk saja untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.


Melangkah pelan mendekati sosok lemah yang terkulai dilantai menyandar di sofa itu.


"Hiks.. Hiks..!" Mira masih sesenggukan dengan hanya memakai jubah mandi milik Nathan yang sempat ia raih tadi sebelum menjauhi ranjang milik Nathan.


Nathan duduk berlutut di kaki Mira.


"Maafkan aku!" berusaha menyentuh wajah Mira yang terus menepis tangannya.


"Pergi! Pergi!"


"Mira dengarkan aku."


"Kenapa melakukan ini padaku?" mata itu begitu sayu menatap Nathan.


Nathan terus menggeleng.


"Kenapa??"


"Apa aku ini tidak pantas untuk hidup dengan baik? Apa aku ini sampah Dimata kalian?"


Nathan terus menggeleng. "Tidak Mira! Tidak!"


"Aku sudah percaya padamu! Kau merusak hidupku! Kau tenyata sama saja seperti Ricard. Seperti pria yang membawaku itu! Kenapa menolongku? Kalau hanya untuk melakukan ini padaku?" Mira berteriak.


Nathan langsung menubruk Mira. Memeluknya dengan sangat erat!


"Tidak! Itu tidak benar Mira! Aku tidak seperti mereka! Aku Nathan. Aku mencintaimu! Aku mencintaimu Mira!"


"Arg ..!" Mira mendorong tubuh Nathan.


"Kau menyakitiku! Hiks.. hiks.. Kau memperkosaku!"


"Dengarkan aku!" Nathan terus memohon.


"Kenapa tidak membunuhku saja Tuan. Bunuh saja aku! Aku ingin mati saja. Aku ingin mati!!"


"Mira!" Nathan kembali memeluk wanita yang terus meraung itu.


"Aku sudah menyuruhmu pergi. Aku sudah menyuruhmu mengunci pintu kamar ini dari luar! Kenapa kau tidak melakukannya? Kenapa malah nekat mendekatiku? Kau tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padaku Mira!"


Nathan terus mendekap Mira yang meronta.


"Malam itu, malam itu. Ricard, ini semua jebakan Ricard. Mira, lihat aku! Ricard yang harus disalahkan!" Nathan meraih wajah Mira. Menatap kedua mata yang menyimpan kebencian padanya itu. Nathan menyadarinya, tapi tidak peduli.


"Kau yang berbuat, kenapa menyalahkan orang lain?"


"Tidak Mira? Apa kau tau yang terjadi? Ricard, dia sudah menabur obat perangsang yang kuat kedalam minumanku! Ini semua kejahatan Suamimu!"


Mira langsung terbelalak mendengar kalimat terakhir dari Nathan.


"Apa kau mengenaliku tadi? Tidak kan Mira! Tadi bukan Nathan mu! Tadi, tadi itu Nathan yang gila karena pengaruh obat itu!"


"Percaya padaku!" Nathan terus berusaha meyakinkan Mira.


"Ken, aku sudah menyuruhnya untuk mengambil rekaman Cctv di tempat itu. Kau akan segera tau kebenarannya."


"Mira! Dengar aku! Kau tidak tau, bagaimana aku berjuang tadi disana. Cesilia , wanita itu hampir saja menjadi korban kegilaanku. Sekuat tenaga aku berusaha mengendalikan diriku. Sekuat tenaga aku berusaha mencapai rumah."

__ADS_1


"Aku tau, aku tau tidak mungkin bisa selamat jika itu tidak tersalurkan. Pikiranku hanya satu. Kamu Mira."


"Arg... aku tidak mau menyentuh wanita lain. Aku hanya ingin kamu. Aku sengaja melakukan itu padamu. Aku hanya ingin kamu, Mira!"


"Maafkan aku, aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku berbuat sangat kasar padamu! Maafkan aku Mira!" Nathan terus mengiba.


"Aku tidak percaya." Mira melemas.


"Kau harus percaya padaku.. Harus!"


"Mira, jika ini terjadi dengan wanita lain. Aku bisa gila!"


"Dan sekarang aku yang akan gila!"


"Tidak. Tidak.. Kita akan menikah. Kita akan menikah Mira. Lihat aku, lihat aku. Bukan kah kau juga mencintaiku? Kita saling mencintai."


"Ini akan jadi masalah bagimu Tuan. Aku masih istri orang. Aku ini istri orang!"


"Cukup!" Nathan membungkam mulut Mira.


"Diam! Jangan menyebut dirimu istri orang lagi."


"Arg..!" Mira menepis dan mendorong tubuh Nathan.


Nathan langsung bangun dan meraih tubuh Mira untuk bangun, kemudian menarik tangan Mira.


"Ikut aku!"


"Lepas! Sakit Tuan, lepas."


Nathan menyeret paksa Mira dan mendorongnya hingga terduduk di ranjang kusut itu kembali.


"Lihat! Lihat! Itu apa Mira! Itu apa???" Nathan menunjuk bercak darah diatas seprei.


Mira pun menoleh, melihat yang ditunjuk Nathan.


"Kau masih mau mengatakan jika kau istri orang, hah?" Nathan setengah berteriak sambil mengguncang bahu Mira.


"Kau pasti tau itu apa, tidak mungkin kamu tidak tau itu darah apa. Itu darahmu! Darah apa Mira? Jawab!"


Mira tak menjawab, malah menangis keras.


Mira tak berani menatap wajah marah Nathan. Menunduk mengusap air matanya.


"Arg..... Aku memang laknat. Aku bajingan! Harusnya aku melindungi mu , tapi ini?" Nathan ikut terduduk di samping Mira.


Mengacak rambutnya.


Keduanya kini sama sama terdiam. Mengontrol emosi masing masing. Kemudian saling menoleh kembali.


Saling menatap cukup lama.


"Mira!" Nathan mengusap air mata Mira. Menarik lembut tubuh itu dan kembali membawanya ke pelukannya. Kali ini Mira diam. Tidak lagi berontak.


Kemudian Nathan menciumi kepala Mira, sambil masih mendekapnya.


"Ini ujian cinta kita. Percayalah. Setelah ini kita akan bersama."


"Aku tidak bodoh, aku tidak bodoh Mira. Aku yang pertama bukan? Aku yang pertama menyentuhmu?" dalam isakannya Nathan tersenyum. Mengangkat wajah Mira. Mengusap berkali kali wajah itu.


"Katakan iya!"


Mira masih terdiam, kemudian mengangguk pelan.


Nathan tergelak kecil sambil mengusap air matanya.


"Ha.. benar benar luar biasa TakdirNya. Aku sungguh tercengang. Tentu saja. Kau pernah mengatakan itu padaku. Saat aku mengungkit kesalahan mu yang sudah merenggut ciuman pertamaku. Kau juga mengatakan itu, merelakan ciuman pertamamu untuk menolongku. Tapi, tapi aku tidak pernah percaya. Dan malam ini. Ya Tuhan!" Nathan kembali tersenyum sekaligus menangis.


"Kau.. Kau terlahir untukku Mira. Dan Aku terlahir untukmu."


"Kecelakaan ini adalah jebakan Ricard. Tapi aku bersyukur, aku tidak pernah menyesal. Aku melakukannya dengan wanita yang tepat."


"Apa kamu bisa membayangkannya, jika ini terjadi dengan wanita lain?"


"Sudah cukup!" Mira menutup telinganya.


"Kulakukan ditempat itu, kemudian Ricard merekamnya. Menjadikan alat untuk menghancurkan aku?"


"Lalu aku harus bertanggung jawab atas perbuatan ku. Harus menikahi wanita jal*Ng itu."

__ADS_1


"Cukup Tuan! Cukup. Berhenti....!" kini Mira yang membungkam mulut Nathan.


Namun Nathan menarik tangan Mira.


"Kau pasti tidak akan rela jika aku harus terpaksa menikahi wanita yang salah!"


"Berhenti Tuan, sudah. Aku sudah paham." ucap Mira pelan.


"Baiklah. Lihat aku!" Nathan kembali mengangkat wajah Mira.


"Kecelakaan ini , lupakan! Anggap saja tidak pernah terjadi. Ah, tidak. Bukan begitu. Begini saja. Anggap ini, malam ini adalah Malam Pertama kita, yang kita lakukan dengan awal. Anggap saja begitu. Anggap saja kita khilaf. Bukankah pasangan lain ada yang melakukannya? 'Anggap saja kita khilaf'. Bukan kecelakaan. Bukan jebakan Ricard!"


"Tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya. Bagaimana? Kau setuju?"


Mira hanya mengangguk.


Brak!


"Tuan!" Ken sudah berdiri di depan pintu dengan wajah cukup Frustasi.


Nathan langsung menoleh begitu juga dengan Mira.


"Kau mendapatkannya Ken?"


Ken mengangguk.


"Tunggu sebentar." Nathan menoleh pada Mira kembali.


"Duduklah bersandar disini." Nathan mengangkat kedua kaki Mira dengan hati hati.


Kemudian memungut selimut yang teronggok dilantai, untuk menutupi kaki Mira.


Ken sempat melirik kekacauan kamar itu, melirik Seprei, bahkan darah yang masih ada di sana.


Ken menghembuskan nafas berat. Berpikir jika kejadian beberapa jam yang lalu dikamar ini pasti sangat menyiksa mereka berdua. Ken menelan ludahnya. 'Harusnya seperti itu, menjadi momen yang menyenangkan. Tapi ini?'


"Huh!"


"Tidak usah dipikirkan. Semua sudah terjadi." ucap Nathan menepuk bahu Ken.


Ken tersentak kemudian mengangguk pelan.


"Aku ingin melihatnya Ken?" ucap Nathan.


"Tentu saja!" Ken kemudian mengambil Laptop milik Nathan dan duduk ditepi ranjang di sisi sini, sementara Mira bersandar di sisi yang sana.


Nathan melangkah dahulu untuk mengenakan pakaian, kemudian ikut duduk bersama Ken yang sibuk mengulik keyboard setelah memasuki sebuah Memori Card .


Nathan dan Mira sama sama tercengang ketika melihat dengan jelas, bagaimana Ricard menyiapkan segalanya dengan sendiri. Bahkan sampai persiapan kamar hotel yang hendak digunakan Ricard untuk membawa Nathan lengkap dengan kamera tersembunyi. Sampai pada saat Ricard, menaburkan serbuk kedalam wine yang sudah ia tuang ke gelas.


"Sebenarnya, rekaman Cctv itu sudah sempat disabotase oleh Ricard. Tapi aku berhasil menekan pemilik hotel itu untuk menunjukan rekaman Aslinya. Beruntung Mereka belum sempat menghancurkannya aku sudah datang kesana terlebih dahulu." jelas Ken.


"Maafkan Aku. Ini salah ku. Aku teledor!" ucap Ken, menoleh pada Mira dan Nathan secara bergantian.


Nathan hanya menepuk nepuk bahu Ken.


"Aku mengira, Ricard akan kembali meracuni anda. Aku hanya membekali Tuan dengan Anti Racun. Aku tidak berpikir kearah sana. Sungguh tidak terpikir olehku." sambung Ken kembali.


Ketiga orang yang berada didalam kamar itu terdiam dengan cukup lama. Tenggelam dengan pikiran masing-masing.


Nathan,


Dia mengambil pemikiran yang positif saja.


Jika kejadian memalukan tadi, adalah sebagian dari jalan berliku yang harus ia tempuh untuk bisa bersama Mira.


Sementara Ken,


Terus menyalahkan dirinya yang kurang pintar! Ia mengira jika Ricard akan kembali mencoba meracuni Nathan. Ken, memesan anti racun ampuh untuk melindungi Nathan. Tapi perkiraan Ken meleset. Rupanya Ricard tidak mengincar nyawa Nathan namun menginginkan kehancuran Nathan dengan hal yang sangat menjijikkan itu.


Lalu Mira?


Wanita itu kini percaya seratus persen pada Nathan. Tapi, hati dan pikirannya dipenuhi kegelisahan yang mendalam.


'Kehadiranku pasti akan menjadi masalah baru untuk Nathan. Secara langsung aku akan menyeretnya dalam kesulitan ku. Aku hanya akan menjadi beban. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!'


'Tidak akan. Aku harus mengakhirinya segera!'


'Ayah Mira ingin pulang!'

__ADS_1


____________


__ADS_2