![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Ken sudah menepikan mobilnya, sedikit jauh dari depan rumah Ricard. Melirik dua mobil yang juga menepikan mobil mereka dengan jarak yang tidak terlalu jauh di belakangnya.
Ken tidak langsung turun melainkan meraih hpnya.
"Roy! Apa kau sudah mengambil berkas berkas itu dari Pengacara Husnan?" tanya Ken, saat panggilannya terangkat.
"Sudah Tuan Ken!" jawab yang di sana.
"Kalau begitu kau turun menemaniku. Suruh anak buahmu tetap berada disini. Jangan ada yang bertindak apapun tanpa perintah dariku."
"Baik Tuan!"
Ken menutup panggilan. Tak begitu lama, seorang pria tegap berpakaian hitam telah membukakan pintu mobil untuk Ken. Kemudian Ken turun, dan melangkah bersama pria itu.
Saat tiba di depan pintu, tanpa ragu Ken mengetuk.
Setelah berulang kali mengetuk, pintu itu akhirnya di buka juga.
Sosok yang dicari Ken, benar sudah berdiri di depannya dengan mengulas senyum dingin.
Ricard sama sekali tidak terkejut akan kedatangan Ken, walau di dalam hati ia sempat mengumpat. 'Bodoh sekali mereka. Bisa bisanya Ken selamat!'
"Maaf Ricard, jika aku menganggu waktumu." ucap Ken.
Ricard kembali tersenyum dingin.
"Aku sudah menduga, kau pasti akan datang menemui ku. Ayo masuk lah, tidak perlu ragu." sahut Ricard melangkah mendahului Ken dan duduk di kursinya.
Ken pun melangkah bersama Roy, namun kedua pria itu tidak duduk.
"Tanda tangani ini sekarang juga dan hidupmu akan selamat!" Tanpa ingin berbasa basi terlebih dahulu, Ken langsung melempar sebuah kertas ke atas meja kaca yang tepat berada di depan Ricard itu.
Ricard hanya melirik sekilas lalu memiringkan senyumnya.
"Kenapa mesti buru buru? Bukankah, dua atau tidak bulan lagi, proses perceraian kami akan selesai juga? Atau, ada hal lain yang membuat kalian tidak sabar untuk merebut yang jelas milikku?" mata Ricard membulat.
"Kau benar! Tapi untuk apa kau harus menunggu waktu selama itu? Bukan kah kau sendiri yang tidak menginginkan Nona Mira?" Ken balik bertanya.
"Menginginkannya atau tidak, seharusnya itu bukan urusan kalian. Mira istri sah ku. Nathan Edoardo, pria tidak punya malu dan tidak punya harga diri itu.._"
"Tutup mulutmu! Tak perlu banyak bicara. Cepat, tanda tangan!" Ken sempat meraih kerah baju Ricard dan mengangkatnya.
Ricard malah tersenyum dengan perlakuan Ken.
__ADS_1
"Katakan pada Nathan, jika ingin tanda-tangan ku, suruh dia datang kemari dan merangkak di kakiku!" seru Ricard menahan cengkeraman tangan Ken.
" Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, Anjingg!! Lakukan saja keinginanku!" Ken melepaskan Ricard dan kembali melempar beberapa berkas dari tangan Roy.
"Bukti seluruh kejahatan mu berada disini. Dan mungkin besok akan bertambah satu lagi. Jadi, tanda tangan! Atau kau akan membusuk di Penjara seumur hidupmu!"
Ricard merapihkan bajunya, masih memiringkan senyumnya.
"Aku takut Tuan Ken. Sungguh! Aku takut sekali..! Haha...!" sahut Ricard sambil terkekeh.
"Ah, Baiklah. Aku lebih memilih di penjara kalau begitu. Katakan pada Nathan! Jika aku, lebih memilih di Penjara! Hahaha..!" Ricard terbahak keras.
"Katakan pada Nathan, pilih memenjarakan aku, atau bayinya akan lahir sebagai anak haram!"
"Brengsek! Apa mau Mu bajingan!" umpat Ken. Pria ini rupanya tidak terkejut sedikit pun dengan ucapan Ricard barusan. Ken sudah bisa menebak jika Ricard sudah mengetahui tentang kehamilan Mira.
"Haha... Baiklah. Aku ingin bernegosiasi. Jika Nathan benar benar mencintai istriku dan calon bayinya, maka harus ada pertukaran denganku. Tanda tangan ku, dengan seluruh hartanya." ucap Ricard.
"Heh, kau ini. Licik!"
"Aku jadi ingin sekali mengeluarkan otakmu!" ucap Ken dengan sorot mata yang penuh kebencian.
"Haha.. lakukan saja Tuan Ken, lakukan!"
Ken sungguh muak melihat itu, tangannya terkepal keras.
Brak!
Tinjuan Ken mendarat sempurna di atas meja kaca yang berada di depan mereka. Seketika meja itu hancur dengan kaca yang berserakan.
"Kau menghancurkan dirimu sendiri, Bodoh!" seru Ken.
Ricard malah terbahak.
"Sebaiknya kau pulang saja Ken. Dan sampaikan pada Nath, seperti yang kukatakan tadi. Tanda tanganku, di tukar dengan seluruh hartanya. Jika dia keberatan. Tidak masalah bagiku. Mau menjebloskan aku ke dalam penjara? Aku tunggu!" ucap sombong Ricard. Membuat hati Ken mendadak ingin tertawa geli.
"Kau menggali kuburan mu sendiri Tuan Ricard!"
"Hah, Sudah lah! Pergi kau dari sini. Aku muak dengan ancaman mu!" seru Ricard yang hanya di balas senyuman yang sadis dari Ken.
"Baiklah, aku permisi. Maaf , sudah mengganggu waktumu. Kita pasti akan segera bertemu kembali. Dan aku, akan membawa kabar gembira untukmu!" Ken memutar tubuhnya.
"Tunggu dulu Tuan Ken!" tiba tiba Ricard memanggil, membuat Ken menghentikan langkahnya, namun pria itu tidak menoleh sedikitpun ke arah Ricard.
__ADS_1
"Jika Nathan menyayangkan hartanya, tidak mengapa. Suruh dia mengembalikan Mira padaku. Aku berjanji akan merawat calon bayinya sampai lahir!"
Kini Ken menoleh, "Kau pasti sangat mengenal bagaimana Temanmu yang satu itu Tuan Ricard. Dia orang yang sangat bertanggung jawab. Baginya, harta tidaklah penting. Karena Nona Mira adalah segalanya baginya. Terlebih saat ini, calon bayi Tuan Nath ada di dalam perut Nona Mira. Jadi kau tidak perlu khawatir. Aku bisa membantumu untuk meluluskan keinginanmu segera." jawab Ken, segera berlalu di ikuti Roy sesaat setelah Roy memunguti kertas kertas yang berserakan di atas puing kaca meja.
"Bagus Ken! Bagus sekali. Aku suka gayamu! Ada gunanya juga kau tidak mati hari ini! Ha.. ha...ha..ha..!" Teriak Ricard, terbahak bahak.
Ken hanya tersenyum mendengar suara terbahak dari Ricard.
"Puaskan tertawamu hari ini Bajingan! Besok, kau tidak akan bisa tertawa seperti itu lagi!" gumam Ken berjalan ke arah mobilnya.
"Tuan Ken, kenapa kita tidak memaksanya saja tadi? Jika kau mau, kita bisa melakukannya sekarang juga. Memaksanya menandatangani surat ini!" ucap Roy, geram dengan kesabaran Ken.
"Kau ini bodoh ya...! Kau tidak teliti rupanya!" Ken menoleh pada Roy.
"Maksud Tuan Ken?"
"Terpasang Cctv di setiap sudut ruangan itu yang langsung tersambung ke pusat kantor miliknya. Jika kita melakukan kekerasan, sudah pasti itu akan langsung tersebar ke suluruh penjuru dunia." sahut Ken, membuat Roy seketika tercengang.
"Benarkah?"
"Membunuhnya sekali pun , kita bisa melakukannya sekarang juga. Tapi resikonya? Apa kau bisa membayangkannya? Bukan hanya namaku, tapi Nama Tuan Nath dan Perusahaannya yang akan hancur!"
"Aku benar benar bodoh." Roy semakin tercengang.
Ken menepuk bahu Pria itu.
"Orang licik, tidak bisa dilawan dengan kekerasan. Kelicikan harus di lawan dengan kelicikan juga!"
"Kau benar Tuan. Tapi apa yang akan kau lakukan? Mana mungkin Tuan Nath harus menukar seluruh hartanya dengan Tanda Tangan si Bangsatt itu?" tanya Roy kembali.
"Itu urusanku. Aku sudah memikirkannya. Bahkan sebelum aku datang kemari. Karena aku sudah bisa menebak, jika Ricard akan mengatakan itu."
"Ah, baik lah. Aku percaya. Tuan Ken akan lebih licik dari dia."
Ken terkekeh.
"Kita pulang. Kawal aku sampai ke rumah."
"Siap!"
Mereka akhirnya meninggalkan rumah Ricard. Ken melajukan kembali mobilnya sambil kembali mengatur siasat yang sangat sempurna.
'Kali ini, kau mati Sampah! Penolakan mu ini, sungguh bagus sekali. Kau jadi meringankan pekerjaanku! Haha.. Ricard.. Ricard. Licik, tapi bodoh! Julukan yang pantas untukmu!"
__ADS_1
__________