![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
"Mira, Ken sudah menuju pulang. Kau tidak perlu cemas lagi." ucap Nathan menghampiri Mira yang sedang termangu di pinggir ranjang.
Seketika Mira mendongak, menatap wajah Nathan.
"Apa dia berhasil bertemu dengan Ricard?"
"Katanya begitu. Sebentar lagi dia datang. Kita akan segera tau. Kau makan dulu ya? Sejak tadi kau belum makan." sahut Nathan.
Mira kali ini tersenyum, "Aku mau mandi dulu ya? Setelah itu baru makan." sahut Mira.
"Ah iya. Baiklah, aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Nathan langsung sumringah.
"Tidak usah Nath. Aku mau mandi dengan air dingin. Kau kira aku sedang sakit apa? Aku sehat sehat saja." bantah Mira.
Mendengar itu Nathan mendekat. Meraih tangan Mira.
"Aku hanya khawatir kau sedang tidak enak badan, dan tidak mau berterus terang padaku Mira. Kau sedang ngidam. Kau pasti merasakan tubuhmu tidak enak kan? Perutmu mual, dan kepalamu pusing?"
Mira tersenyum mendengar kekhawatiran Nathan. "Tapi aku memang tidak merasakan apapun Nath. Selain nafsu makan yang kadang kadang hilang, tapi akan kembali lagi setelah beberapa saat. Hanya, aku sering ingin makan yang asam asam saja." sahut Mira.
"Benarkah? Kau tidak berbohong? Tapi tadi pagi kau sampai pingsan Mira?"
"Sungguh Nath." Mira meyakinkan Nathan.
Nathan merengkuh tubuh Mira dari belakang, meraba perut datar Mira.
"Dia tau diri rupanya, dia tidak ingin menyusahkan mu seperti Ayahnya." ucap Nathan.
Mira menoleh, menatap Nathan.
"Jangan bilang seperti itu. Meskipun kehadirannya tidak tepat, tapi dia anakku juga. Aku menyayanginya Nath, kau juga kan?"
"Tentu saja Mira. Tentu saja aku menyayanginya. Aku akan menunggu kelahirannya, dan kita akan merawatnya bersama. Maka dari itu, kau harus menjaganya dengan baik." kecupan panjang Nathan mendarat di kening Mira.
Mira mengangguk,
"Aku akan menjaganya. Aku berjanji. Maafkan aku, jika aku sempat sedih karena kehadirannya, bukan itu. Bukan itu yang membuatku sedih. Tapi, keadaan kita." mata Mira berkaca kaca.
"Ya, aku mengerti Mira. Aku tidak akan membiarkan keadaan kita terlalu lama seperti ini. Kau harus percaya padaku." Nathan mengusap air mata Mira yang sudah terjatuh.
Mira hanya mengangguk.
"Mandilah. Aku akan mengambilkan makananmu." ucap Nathan.
Mira akhirnya beranjak ke kamar mandi, sementara Nathan beranjak ke dapur. Mengambil beberapa makanan yang sudah di masak oleh Lucki dan membawanya kembali ke kamar.
Mira juga terlihat sudah keluar dari kamar mandi, tersenyum ke arah Nathan yang menaruh nampan di atas meja. Mira cepat memilih ganti. Mengambil bra miliknya dan Cd.
Melihat itu, pikiran iseng Nathan keluar hanya untuk sekedar menjahili Mira. Pria itu meraih bra milik Mira yang masih tergeletak di atas kasur. Si pemiliknya, masih sibuk memilih baju.
"Apa ini Mira?" Nathan menjinjing benda itu tinggi tinggi. Otomatis yang punya langsung berteriak.
"Nathan! Kenapa iseng sekali sih? Kembali kan?" Mira menarik tangan Nathan yang terangkat tinggi.
"Beri aku ciuman dulu."
"Nath, berikan padaku!"
"Cium dulu, atau ku tarik ini." satu tangan Nathan sudah berada di dada Mira , menggenggam belitan handuk Mira.
"Nathan! Kau iseng sekali!"
"Satu kali saja. Kau tidak pernah mencium ku selama ini." Nathan memaksa dengan menyodorkan bibirnya.
"Ck, kau ini.!"
__ADS_1
Dengan cemberut Mira terpaksa mencium bibir Nathan, bahkan seluruh wajahnya.
"Puas!"
"Hihi, terimakasih." Nathan tersenyum bahagia, memegangi pipinya dan menyerahkan bra milik Mira.
Mira langsung menyambar itu dan memutar tubuhnya untuk mengaitkan benda itu di dadanya. Nathan masih memperhatikan itu, seperti ada yang berubah? Nathan memeriksa.
"Mira? Ukuran Bh mu berubah?" tanya Nathan.
"Hah! Memang kau hafal?" Mira menoleh setelah selesai memakainya.
"Kau tidak tau ya. Jika selama ini aku menghafalnya karena takut salah lagi saat nanti membelikan untukmu seperti waktu itu." jelas Nathan.
Antara kagum, tidak percaya dan tercengang Mira mendengar itu. "Segitunya Kau Nath. Sampai mau menghafal ukuran Bh ku?"
"Memangnya kenapa? Harusnya begitu kan? Seluruh yang ada di dirimu harus ku hafal sebelum aku menjadi suamimu. Itu tidak akan menyusahkan ku lagi."
Mira tersenyum bahagia, "Kau sungguh suami idaman Nathan. Aku sangat beruntung sekali."
"Terimakasih , terimakasih atas pujiannya." senyum Nathan.
"Lalu, kenapa ukurannya kau ubah Mira? Itu akan terasa tidak nyaman bukan? Apa sudah habis yang seperti biasanya?" Nathan rupanya masih penasaran.
"Tidak Nath, ini.. Karena dadaku memang berubah. Justru yang biasanya sudah tidak nyaman." sahut Mira.
"Berubah? Maksudmu, dadamu membesar?"
"Em, aku juga tidak tau, mengapa berubah akhir akhir ini." sahut Mira kembali, sambil menyelesaikan gantinya.
"Oh, aku tau. Karena kau sedang hamil Mira. Jangan khawatir."
"Mungkin saja. Sudahlah. Kenapa malah membahas ukuran Bh sih? Memalukan."
"Apanya yang memalukan?" Nathan kembali memeluk Mira dari belakang.
"Kau genit Nath! Kenapa kau jadi genit sih!" mencubit pinggang Nathan.
"Haha.. Biarkan saja. Asal genit denganmu saja. Tidak mau dengan yang lain." menenggelamkan wajahnya di leher Mira.
Tok.. Tok.. Tok..!"
Suara ketukan pintu disusul suara panggilan Ken, membuat Mira langsung melepaskan diri dari pelukan Nathan. Cepat terburu membuka pintu.
"Nona. Tuan Nath." Ken sudah berdiri di depan pintu.
"Ken. Kau sudah datang? Masuklah." ucap Nathan.
Ken mengangguk, lalu melangkah masuk dan duduk di ikuti Nathan dan Mira.
"Bagaimana Ken?" tanya Nathan dengan raut yang tidak sabar.
Ken menatap Nathan dan Mira secara bergantian. Terdengar menarik nafas berat.
"Ricard sudah tau tentang kehamilan Nona."
Seketika Nathan dan Mira sama sama terbelalak.
"Dari mana dia tau?" tanya Nathan.
"Entahlah. Tapi tebakanku, dia mengikuti kita tadi pagi."
Nathan mendengus. "Lalu?"
Ken tersenyum sinis. "Seperti prediksi ku, dia ingin mempersulitmu dengan memperalat kehamilan Nona!"
__ADS_1
"Maksudmu!"
"Mengajak anda bertukar. Tanda tangannya dengan seluruh harta milikmu. Bahkan dia, lebih memilih di penjara dari pada harus menandatangani surat itu."
Mira yang mendengar itu langsung tercengang.
"Mana mungkin itu? Nathan, sebaiknya jangan peduli kan dia. Aku tidak mau. Sudahlah, penjara kan saja dia kalau begitu."
"Mira! Memenjarakan dia sama saja harus menunggu waktu, aku ingin mendapatkan tanda tangan itu sekarang juga, sebelum menyeretnya ke penjara! Kau tidak mengerti Mira. Bagaimana nasib bayi kita? Aku sudah berjanji untuk tidak membiarkan dia terlalu lama dengan status kita yang tidak jelas ini!"
Nathan kemudian menoleh pada Ken.
"Kau tentu sudah hafal dengan semua hartaku bukan?"
"Tentu Tuan!"
"Kalau begitu, kau tau apa yang harus kau lakukan sekarang?"
"Ya, baiklah. Jika ini sudah menjadi keputusan anda . Aku akan menyiapkannya malam ini juga. Besok, kita bisa kembali menemui Ricard untuk menyerahkan semua yang ia mau." jawab Ken.
"Bagus Ken. Lakukan, jangan ada kesalahan sedikitpun. Besok, aku sendiri yang akan menemui Ricard."
"Nathan, kau gila. Kau sudah gila! Mana mungkin kau akan menukar seluruh harta dari orang tuamu ini hanya untuk tanda tangan Ricard???" teriak Mira, mengguncang kedua lengan Nathan.
"Aku tidak menukarnya dengan tanda tangannya Mira.. Aku menukarnya dengan harga dirimu dan untuk kebaikan calon bayi kita!" sahut Nathan.
"Sudahlah, Harta itu tidak penting. Kau dan bayi ini lebih penting dari apapun. Percayalah, semua akan baik baik saja." Nathan langsung merengkuh Mira yang sudah menangis itu.
"Tidak Nath. Kau tidak harus melakukan itu!"
"Tidak ada pilihan lain lagi Mira." ucap Nathan kemudian menoleh kembali pada Ken.
"Pergilah Ken, cepat siapkan apa yang harus kau siapkan!"
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi." Ken beranjak.
"Ken!" Mira langsung histeris.
"Jangan lakukan itu Ken. Kau jangan ikut gila Ken! Kau jangan menurut dengan ucapan Nathan. Kau tidak boleh membiarkan Nathan kehilangan semua hartanya!"
Ken, hanya menoleh sebentar kemudian melangkah keluar.
"Ken! Kau tidak dengar aku! Kembali Ken! Kembali!"
"Mira.. Mira, sudahlah. Dengarkan aku, dengarkan aku dulu?" Nathan meraup wajah Mira.
"Semua akan baik baik saja. Dan kita akan segera menikah."
"Dan kau kehilangan semua hartamu? Membiarkan Pria itu menang? Nath, kau tidak waras!"
"Lihat aku Mira! Apa kau takut aku jatuh miskin? Apa kau tidak mau lagi denganku jika aku tidak kaya lagi?" tanya Nathan memandang kedua mata Mira.
"Bukan begitu, bukan begitu. Aku, aku tidak mungkin tidak mau denganmu. Bagaimanapun keadaanmu Nathan. Aku tidak peduli kau kaya atau miskin? Tapi masalahnya, ini harta peninggalan Ayahmu! Kau harus bisa mempertahankannya. Bukan malah menyerahkannya pada Pria gila itu!"
"Setelah mendapatkan tanda tangannya, kita akan mengambilnya kembali. Kau tidak usah khawatir. Ken, pasti sudah punya rencana khusus! Aku tau itu. Jika tidak, mana mungkin Ken terlihat sangat tenang seperti itu."
"Benarkah?" Mira memandangi wajah Nathan.
"Em. Jika pun nantinya kita gagal mengambilnya. Aku masih punya uang untuk pernikahan kita. Lalu aku, bisa ikut pulang ke kampungmu. Kita bisa tinggal di sana bukan? Membuka lembaran baru kita disana. Membuka usaha kecil, atau bertani." Nathan merengkuh kembali tubuh Mira. Mendekap dengan sangat erat.
"Aku bersedia hidup seperti apapun, asal tetap bersamamu Mira. Ku mohon jangan bersedih."
Meskipun dengan rasa yang cukup khawatir, Mira akhirnya mengangguk dalam sesenggukan. Merapatkan kepalanya di dada Nathan.
'Ya Tuhan! Terimakasih, sudah mengirimkan pria sehebat dia dalam hidupku.'
__ADS_1
______________
[ Dukungannya kakak! Ku mohon! Like , komen , vote dan Bunga untuk Author nya!]