![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
"Aku ini sekarang suamimu sayang, kenapa masih menunjuk keningku? Itu tidak sopan." Ken menarik tangan Rimbun, merapatkan kening mereka.
"Eh, iya. Maaf." mendorong pelan wajah Ken, dan mengusap keningnya.
"Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Sungguh. Maafkan aku." kembali mendekap Rimbun yang sudah mulai beranjak duduk dari belakang.
"Maaf ya?" kembali memasang wajah memelas.
"Iya. Tidak apa apa." Rimbun tersenyum, mengusap wajah Ken.
"Benar tidak apa apa? Tapi kamu sakit." tangannya mulai meraba kembali.
"Tidak apa apa. Semua orang bilang, kalau pertama memang begini. Nanti kalau sudah terbiasa juga tidak." menahan tangan Ken yang sudah mendekat ke arah bagian sensitifnya lagi.
"Kalau begitu, kita harus sering sering melakukannya agar cepat terbiasa." Ken menaruh mulutnya dileher Rimbun.
Deru nafas Ken membuat Rimbun kembali merinding.
"Sekarang saja ya?" tangan Ken meraba lengan Rimbun sambil menciumi leher Rimbun.
"Ken!" mata Rimbun sudah hampir lepas. Ken begidik melihat itu.
Telunjuk Rimbun sudah menempel kembali di kening Ken.
"Tidak tau aturan! Aku lelah! Aku lapar! Aku mengantuk! Aku.."
Plup.! Ken membungkam mulut Rimbun dengan tangannya.
"Maaf. Aku hanya sedang bersemangat. Jika tidak mau juga tidak apa apa. Jangan marah begitu. Jangan terus menunjuk keningku."
"Karena kau tidak ada aturan. Kau pikir aku ini robot?" Suara Rimbun menggelegar.
"Sayang, bersikap manis lah padaku. Aku ini suamimu sekarang. Jangan kasar lagi padaku. Lihatlah, aku saja sangat lembut padamu bukan?" mencondongkan wajahnya.
"Kau kasar Ken! Kau tidak ada lembutnya." masih dengan suara keras.
"Dimana nya yang kasar? Coba sebutkan."
Rimbun kali ini tidak menjawab.
"Yang semalam ya?"
Rimbun belum menjawab, hanya memutar bola matanya saja.
"Kalau yang semalam,."
"Sudah diam, jangan mengungkitnya lagi!"
"Tidak ada yang mendengarnya sayang. Hanya kita berdua ini."
"Meskipun, aku tetap malu. Sudah. Aku mau sarapan." Rimbun tidak ingin Ken membahas hal semalam. Walaupun hanya didengar berdua, tetap itu sangat memalukan bagi Rimbun.
"Tapi kau suka kan?" Ken masih saja bertanya.
"Stop Tuan Ken!" menutup bibir Ken dengan telunjuknya.
Ken menarik tangan Rimbun, mendekatkan wajahnya. "Semalam kau terus memanggil namaku lho."
"Astaga. Sudah kataku!"
Ken tergelak, kemudian beranjak setelah beberapa kali menyambar bibir Rimbun.
"Makanlah. Aku harus keluar dulu." menyodorkan piring sarapan Rimbun.
"Kau sudah sarapan?" Rimbun menerima piring itu.
"Maaf ya. Aku tadi kelaparan sekali, jadi aku duluan." jawab Ken, membelai kepala Rimbun.
"Kau mau pergi ke kantor? Apa Tuan Nath sudah menyuruhmu berkerja? Kau baru saja menikah. Mana mungkin?"
"Ada rapat penting. Hanya sebentar. Setelah itu aku akan segera kembali dan kita akan makan siang bersama. Tidak apa apa kan?"
"Kau tidak lelah?"
__ADS_1
Ken tersenyum, "Tentu saja. Tapi aku harus pergi. Aku masih kuat berjalan bahkan berlari." kemudian Ken menciumi kepala Rimbun.
"Tunggu sebentar saja." Ken melangkah keluar kamar, meninggalkan Rimbun sendirian.
Makan apa sih orang itu?
'Kuat sekali, wajahnya sama sekali tidak pucat. Badannya tetap saja segar. Tidak seperti ku.'
Rimbun heran melihat Ken begitu segar, padahal Ken bahkan sama sekali tidak tidur semalam. Ken terus bergerak, mengeluarkan seluruh tenaganya.
Rimbun tersenyum, malu sendiri mengingat yang semalam. Rimbun kira Ken bakal akan tidak kuat melangkah. Lututnya pasti akan gemetaran. Ternyata tidak!
Rimbun malah yang KO.
Rimbun meletakkan kembali Piring sarapannya, kembali tepar di atas ranjang.
Tertidur lagi.
Di kantor,
"Wah! Pengantin baru. Wajahnya terlihat sangat berseri." Nathan mendekat, mencium cium aroma tubuh Ken.
"Bau melati."
"Ck, jangan menggodaku. Aku tidak pernah menggoda mu saat masa bulan madu mu." mendorong tubuh Nathan.
Nathan tergelak. "Kau benar benar hebat Ken! Bahkan masih kuat kemari. Tanpa terlihat lemas sedikitpun."
Kali ini Ken yang tergelak, "Jika tidak karena ada rapat penting, mana mungkin aku akan datang." duduk di sofa, Nathan menyusul.
"Aku masih tidak ingin bergeser dari sisi Rimbun."
Sekarang, Nathan tertawa keras.
"Malam pertama, tidak semenakutkan ceritamu. Tau begitu. Sumpah aku menyesal."
"Menyesal, kenapa tidak dari dulu?" Nathan memotong.
"Tapi kau keren." Nathan mengacungkan jempol.
"Aku saja, hampir tidak bisa melangkah dengan baik. Seperti habis di hajar masa." ucap Nathan masih menyisakan gelak tawa.
Ken menyandarkan punggungnya di sofa. " Kau kira aku bagaimana? Rimbun itu gadis bar bar. Aku hanya pura pura kuat saja."
Tawa pun meledak dari Nathan. Meninju bahu Ken berkali kali.
"Sial kau Ken. Ku pikir kau benar benar hebat!"
"Pagi hari, aku langsung meminum Telor mentah dan wedang jahe. Aku tidak ingin Rimbun melihatku lemah. Wanita bar bar itu, mana mungkin harus menang dariku."
"Kau curang Ken, kau curang." keduanya kembali tertawa.
"Aku bahagia Tuan, aku sungguh bahagia dengan pernikahan ku." ucap Ken. Pikirannya kembali menerawang. Bayangan yang semalam menari nari di otaknya membuatnya tersenyum senyum sendiri.
"Kita memang harus bahagia Ken. Bersama istri kita. Kemudian jangan lupakan untuk segera berhasil mencetak generasi penerus kita." menepuk punggung
telapak tangan Ken.
Keduanya kembali tertawa, lalu menoleh, ketika seorang staf mereka menghampiri.
"Rapat akan segera di mulai Tuan."
"Baiklah. Ayo Ken. Lebih cepat lebih baik." keduanya beranjak, menuju ruang rapat.
Hanya sekitar tidak lebih dari satu jam, dua pria itu sudah kembali ke ruangan Nathan. Dengan senyum bergulir di bibir masing masing.
"Jika tidak ada pekerjaan penting lainnya, bolehkan aku pulang sekarang?" pinta Ken.
Nathan terkikik mendengar itu.
"Tentu saja. Pulang lah. Terimakasih sudah mau datang untuk menemaniku di pertemua penting tadi. Padahal, seharusnya kau belum kemari." kini Nathan menepuk bahu Ken.
Ken tersenyum saja, melangkah keluar dari ruangan Nathan.
__ADS_1
Sempat menoleh sebelum membuka pintu.
"Selamat berjumpa besok."
"Haha, iya. Hati hati Ken. Kau masih bau wangi. Tidak boleh sembarang ngebut di jalanan."
Ken kembali tersenyum, kemudian melangkah pasti untuk kembali ke Villa dimana dia meninggalkan Rimbun pagi ini.
Sepanjang perjalanan, bibir itu tidak berhenti menggulirkan senyum.
"Semenyenangkan ini menikah ternyata." Ken kembali teringat adegan dewasa mereka semalam. Dimana saat iya terus bergerak menguasai Rimbun. Rimbun tidak lagi berontak, Rimbun tidak lagi menamparnya. Keduanya saling membalas kemudian saling menikmati.
Ken menghentikan mobilnya, kemudian meloncat turun.
Setelah seorang pelayan membukakan pintu, Ken terburu menaiki tangga menuju kamar.
Ingin cepat melihat si Jelek yang sudah dirindukannya.
"Jelekku.. Apa kau masih tidur?" menghampiri ranjang.
Rimbun yang masih tergeletak menoleh.
"Kau sudah pulang?" duduk ditepi ranjang.
"Tentu saja. Mana bisa aku berlama lama meninggalkan mu sendirian." Ken juga duduk di tepian ranjang. Meraih tengkuk Rimbun, untuk menghadiahi kecupan.
"Kau sudah menghabiskan sarapan mu?"
"Sudah. Aku bahkan sudah lapar lagi."
Ken melirik jam. "Kita akan makan siang bersama." mendekap Rimbun.
"Apa sudah bisa berjalan?"
"Kau kira aku lumpuh!"
"Mungkin sedikit kesusahan."
"Itu tau!"
"Maaf ya. Semua karena ulahku." Ken menciumi pipi Rimbun.
"Tidak apa apa. Jangan di bahas lagi." Rimbun mendorong tubuh Ken yang sudah merapat saja.
"Sebentar. Sebentar saja Sayang. Aku merindukan mu sepagi ini." Ken kembali menghujani wajah Rimbun dengan bibirnya. Kemudian menariknya hingga kedua berbaring di kasur.
Ken mendekap tubuh Rimbun dengan wajah berhadap hadapan.
"Aku sangat mencintaimu istriku." tangannya sudah menerobos ke dalam baju Rimbun, meraba raba punggung dan pinggang.
Rimbun merinding, namun membiarkannya saja. Menaruh kepalanya di dada Ken.
"Kau tidak mengatakan jika mencintaiku?"
"Aku juga mencintaimu Ken."
"Senang nya aku mendengar kau mengatakan itu." Ken menguatkan pelukannya.
"Tapi aku sangat mencintaimu Rimbun. Aku lebih mencintaimu dari pada dirimu mencintaiku." bisik Ken.
"Aku mencintaimu Jelek." Ken terus mengatakan itu, hingga tangannya berhenti bergerak.
Tidak terdengar lagi suara dari mulut Ken. Rimbun mengintip.
"Hehe, kau tidur?" Mengusap wajah Ken yang tampan itu.
"Rupanya kau mengantuk juga ya. Ku pikir kau robot yang tidak lelah dan mengantuk." Rimbun menaikan kakinya. Ikut tenggelam menyusul Ken ke alam mimpi.
Keduanya kini terlelap di siang bolong. Mengganti waktu tidur yang tertunda semalam.
____________
Jika berkenan, beri hadiah vote untuk sepasang pengantin baru ini.
__ADS_1