Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Otong terusik.


__ADS_3

Masih di tempat yang sama dalam waktu yang sama juga.


Rimbun sudah menyelesaikan lap lap tubuh bagian bawahnya. Kemudian berganti dengan pakaian yang dibeli Ken tadi. Begitu juga dengan pakaian dalamnya yang juga dibeli oleh Ken. Sambil melirik Ken yang hanya terlihat ujung kepalanya saja.


"Hihi.." Rimbun tertawa kecil melihat bayangan dirinya sendiri di cermin. Nampak lucu dan imut bak Barbie, dengan pakaian tidur ala ala anak konglomerat.


"Lucu sekali aku. Jadi gemes. Gemes sama yang beliin bajunya." Rimbun greget sendiri.


Kemudian ia melangkah memasuki kamar mandi untuk menggosok gigi, mencuci mukanya karena ternyata tidak puas hanya menyekanya saja. Dan melakukan ritual ritual rutin perempuan pada umumnya.


Terlihat Rimbun sedikit menggigil sebab menyentuh air dingin.


"Heh, ternyata aku belum sembuh." gumam Rimbun, segera keluar dari kamar mandi dengan mendekap tubuhnya sendiri. Berjalan mendekati Ken.


"Tuan!"


Ken mendongak, wajah didepannya itu kini tersenyum manis padanya.


"Jelek?? Kau, manis sekali dengan baju itu." Ken terbelalak.


"Eh, iya. Bajunya pas ya?" Rimbun duduk di sebelah Ken. Pria itu masih terbelalak.


"Tuan Ken. Apa ada Jaket lain lagi? Yang tadi pagi sudah ku campur baju kotorku."


"Kau kedinginan?"


"Iya. Aku , menyentuh air dingin di kamar mandi karena menggosok gigi. Ternyata dingin sekali." jawab Rimbun, memang masih terlihat sedikit menggigil.


"Sebentar, aku carikan yang baru." Ken segera beranjak.


"Ah Tuan. Selimut saja tidak apa."


Ken mengangguk, cepat berjalan ke arah ranjang untuk mengambil selimut. Segera membawanya pada Rimbun. Gadis itu pun segera memakai selimut itu.


"Kau makan ya? Aku akan mengambil makanan. Setelah itu, minum obat lagi biar cepat sembuh." ucap Ken. Hampir melangkah lagi.


"Tuan."


Ken menoleh, "Kenapa?"


"Nanti saja. Aku masih dingin. Sebentar lagi."


"Ah iya. Baiklah." Ken akhirnya duduk kembali disebelah Rimbun. Terus menatap gadis yang masih menggigil itu.


"Kau ke ranjang saja ya? Sepertinya kau sangat kedinginan."


"Tidak mau. Aku ingin disini." bantah Rimbun.


"Baiklah." Ken hanya mendengus, melirik Rimbun yang kini menggesekkan kedua telapak tangannya, sesekali menempelkan ke wajahnya sekedar untuk mengusir rasa dinginnya.


Ken sebenarnya ingin sekali membantu mengurangi rasa dingin Rimbun, dengan memeluknya. Mungkin itu akan sangat hangat. Tapi, tapi, ah.. 'Badannya banyak setrum. Aku pasti kewalahan.'


"Tuan." Ken seketika terkejut dari lamunannya.


"Ya."


"Bisa minta tolong?"


"Iya. Apa?"


"Tanganku dingin sekali." Rimbun mengulurkan kedua tangannya.


Ken terperangah, menggeser pantatnya sedikit menjauh. Cukup terlihat wajahnya gugup.


"Kau tidak mau membantuku? Bukankah aku sudah menjadi pacarmu? Atau ucapanmu itu hanya bercanda ya?"


'Astaga..! Apa yang harus ku perbuat?' Ken menelan ludah.


"Eh, i,iya." Sangat ragu, meraih kedua tangan Rimbun dan kemudian terpaksa menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


Rimbun tersenyum, membuat Ken hampir pingsan. Apalagi ketika Rimbun menggeser duduknya untuk lebih mendekat pada Ken.


"Ba-bagaimana? Apa ini terasa hangat?" Tanya Ken gugup.


"Ya. Sedikit." jawab Rimbun.


"Kurang hangat?"


Rimbun mengangguk. "Boleh lebih?"


"Hah. Maksudnya?"


"Begini." Rimbun melepaskan tangannya, mengangkat satu kaki Ken dan melonjorkan nya di sofa, kemudian Rimbun memutar tubuhnya dan duduk merapat tepat di depan dada Ken.


"Pinjam sebentar tubuh mu Tuan." Meraih kedua tangan Ken dan melingkarkan ke pinggangnya.


"Eh, Rim. Kau mau apa?" seketika Ken menahan tangannya.


"Mau peluk. Kata orang pelukan bisa mengurangi dingin."


'Astaga!' Tubuh Ken mendadak panas dingin.


"Kau tidak mau memelukku? Hanya sebentar saja. Jika dinginnya sudah hilang, aku tidak akan memintanya lagi. Aku pacarmu kan?" Rimbun menoleh. Ken linglung.


"Kalau kau tidak mau, juga tidak apa Tuan. Aku akan ke dapur mencari kompor saja. Api kompor juga bisa membuatku hangat."


Grep!


Ken langsung mendekap tubuh Rimbun.


"Siapa bilang tidak mau. Mau, mau banget." Bisik Ken.


Rimbun yang kedinginan tentu senang, menyandarkan punggungnya di dada pria itu dengan tangan yang mendekap erat lengan Ken.


"Aku sudah lama tidak dipeluk siapa siapa." Ucap Rimbun lirih.


"Ayah sama Ibuku lah. Memang siapa?"


"Oh, iya. Sekarang aku yang akan memelukmu selamanya. Jangan khawatir lagi." sahut Ken.


"Tidak! Aku hanya karena sangat dingin. Jika tidak, aku tidak akan memintamu untuk memelukku. Dan kau jangan macam macam ya? Aku akan marah!" sahut keras Rimbun.


"Apanya yang macam macam. Tidak akan. Lagian kau kan pacarku, dan kita akan menikah setelah Tuan Nath, jadi aku akan sering memelukmu seperti ini nantinya."


"Hanya pacar Tuan. Hanya pacar. Perjanjiannya hanya pacar saja. Itu saja karena paksaan. Jangan sampai menikah. Aku tidak mau menikah!" Ucap Rimbun memukul lengan Ken.


"Gadis aneh. Wanita lain melakukan apapun untuk menikah denganku. Kau malah menolak." ketus Ken.


"Aku kan lain. Mereka tergila gila padamu. Aku tidak!"


"Tapi aku yang tergila gila padamu! Aku mencintaimu Rimbun!" Ken menciumi kepala Rimbun.


"Diam! Aku ini tidak mencintaimu."


"Kau mencintaiku Rimbun. Hanya belum tau saja. Buktinya kau minta ku peluk."


"Eh, eh. Ini karena aku dingin. Apa hubungannya?"


"Haha.. Gadis bodoh. Yang namanya minta peluk sama pacar artinya mencintai. Jika tidak, kau berarti wanita murahan." Ken menampol pelan kepala Rimbun.


"Enak saja. Aku tidak seperti itu!" balas menampol.


"Kau nyaman tidak dengan pelukan ku?" bisik Ken.


"Hihi, iya juga sih." Jawab Rimbun tersipu sendiri.


"Artinya kau mencintaiku, jelek. Sama seperti aku."


"Belum Tentu. Pokoknya belum tentu!" Teriak Rimbun pas di dekat telinga Ken hingga terasa pekak.

__ADS_1


"Sudah diam!" Ken kembali mendekap erat.


"Kau ini, kecil kecil suaranya keras sekali. Ngidam apa sih Emak kamu dulu waktu hamil kamu?"


"Mercon Tuan."


"Hah! Pantas saja, suaramu mirip petasan!"


Keduanya tergelak sebentar. Dan akhirnya Rimbun terdiam. Dia sungguh menikmati dekapan Ken, begitu terasa nyaman dan hangat. Sementara Ken sendiri malah kelimpungan. Kepalanya mulai terasa pusing. Panas, tubuhnya makin panas, kemudian panas dingin.


Ken hampir tidak bisa mendengar dengan jelas, saat Rimbun kembali berceloteh. Dia sibuk menahan setrum dari tubuh Rimbun yang terus mengalir ke seluruh tubuhnya. Pria itu menenggelamkan wajahnya di leher Rimbun.


'Ya Tuhan.. Kenapa setrumnya semakin kuat?' tangannya kembali gemetaran. Ditambah gemuruh hebat didalam dadanya.


'Ah ... Bagaimana ini?' semakin gemetaran.


'Sial! Si Otong berontak!' jerit Ken dalam hati.


"Tuan, kau kenapa?" Rimbun menoleh, merasa Ken seperti tidak nyaman dan terus bergerak.


"Tidak apa. Jangan menoleh." Ken mendorong wajah Rimbun agar tetap lurus ke depan.


"Tuan, kau terus bergerak. Apa kau tidak nyaman.?" kembali menoleh.


"Jangan menatapku Rimbun. Kau ini." Kembali mendorong wajah Rimbun.


"Aku bisa menerkam mu, bodoh!"Ken mengumpat.


"Menerkam? Maksudnya?"


"Ah, sudah diam! Jangan banyak bergerak!" Ken Merapatkan tubuhnya, agar Rimbun tidak bisa bergerak lagi. Sesaat, semua hening tanpa suara. Tangan Ken terlihat bergerak meremas lengan Rimbun.


"Arg...!" Tiba tiba Ken berteriak membuat Rimbun terkejut.


"Tuan, kau kenapa?"


"Tidak. Tidak apa apa." Ken pun terkejut dengan teriakannya sendiri.


"Ah, Rimbun. Sebaiknya kau ke ranjang saja." Ken cepat berdiri, membopong tubuh Rimbun dan membawanya ke ranjang.


"Aku tidak mau di ranjang Tuan. Aku bosan!"


teriak Rimbun.


"Jangan bandel, jelek!" Ken merebahkan tubuh Rimbun. Menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis itu.


Kemudian menambahkan beberapa bantal untuk menimpa tubuhnya.


"Hangat kan?" tanya Ken di balas anggukan Rimbun.


"Aku.. Aku harus ke dapur. Mengambil makanan untuk mu!"


Ken cepat berlalu, dengan sesekali membuang nafas panjang.


"Gila! Bisa bisa aku tidak tahan jika terus berdekatan dengan Rimbun. Huh!"


"Rimbun memang harus cepat pulang. Jika tidak, aku bisa menerkamnya. Tapi, Arg..!" Ken jadi serba salah.


Untuk menyuruh Rimbun pulang ke kost nya tentu tidak mungkin tega. Kosan itu terlalu tidak baik untuk kesehatan Rimbun. Untuk mencarikan kost baru yang layak, sudah pasti Ken akan sering singgah. Apalagi sekarang, Ken benar benar sudah menggilai gadis itu. Dimana pun Rimbun berada sudah pasti Ken akan bolak balik mendatanginya.


Tidak mungkin tidak!


"Satu satunya jalan, aku harus memaksa Rimbun untuk menikah denganku! Harus! Bagaimana pun caranya." gumam Ken.


"Si Otong mulai tidak nyaman. Rupanya dia tau barang istimewa. Jika dengan yang murahan, mana mau dia merespon. Dasar payah!" Ken menggaruk tengkuknya sendiri.


"Dasar Gila! Otong terusik sudah!"


_________________

__ADS_1


__ADS_2