![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
"Maafkan saya Pak. Saya yang salah. Jika anda ingin menghukum, hukumlah saya. Tolong jangan hukum Mira. Dia sama sekali tidak bersalah." ucap Nathan , berlutut sambil menunduk dihadapan Ayah Mira yang masih tercengang.
"Jadi kau laki laki itu?"
Nathan hanya mengangguk.
"Laki laki yang sudah merusak pagar ayu anak ku? Laki laki yang sudah merusak rumah tangga Mira?" Ayah Mira kembali membentak.
Nathan tidak bergeming dari berlututnya kecuali hanya mengangguk.
"Maafkan saya Pak. Saya mencintai anak bapak."
"Kau sudah gila. Kau mencintai wanita yang sudah bersuami? Dimana otakmu Tuan?"
"Dasar pria brengsek! Aku akan membunuhmu!" Ayah Mira menyambar tongkat miliknya yang kebetulan tersandar di dinding. Tongkatnya ketika ia masih belum bisa berjalan kemarin.
Ayah Mira sudah mengangkat tongkat itu tinggi tinggi.
"Nathan!" melihat itu Mira berlari hendak melindungi Nathan. Tapi Nathan tidak mungkin membiarkan itu terjadi. Segera merengkuh tubuh Mira.
Bug ..!
Satu pukulan mendarat di punggung Nathan yang mendekap Mira.
"Arg ..!" Nathan meringis.
"Ayah berhenti!" Mira berontak dari dekapan Nathan tapi Nathan sekuat tenaga menahan tubuh Mira dalam pelukannya.
"Lepaskan aku Nathan. Aku harus menghentikan Ayahku."
"Tidak Mira! Biarkan saja. Biarkan Ayahmu puas memukulku dahulu! Aku memang yang salah." bisik Nathan.
"Nathan, kau bisa terluka."
"Tidak apa apa, tidak apa apa. Jangan melindungiku dengan tubuhmu Mira. Aku akan marah. Aku akan tidak bisa mengendalikan diriku, jika kau sampai terluka!"
Bug...!!
Kembali pukulan itu mendarat di punggung Nathan. Nathan kembali meringis menahan sakit akibat pukulan dari tongkat Ayah Mira.
"Nathan!" Mira menangis keras.
Tapi Nathan tetap tidak melawan dan membiarkan Ayah Mira memukulinya. Dia terus melindungi tubuh Mira agar tak terkena pukulan.
"Ayah berhenti!" Mira tak tahan melihat itu, berontak keras dari dekapan Nathan dan akhirnya terlepas. Cepat menghadang pukulan selanjutnya dari Ayahnya dengan tubuhnya.
Grep!!
Tangan Nathan menangkap tongkat yang beruntung terbuat dari kayu itu sebelum sempat mengenai tubuh Mira.
Krek...!
Hanya dengan sekali gerakan, tongkat itu sudah patah menjadi dua.
Membuat pria tua itu meringsut mundur.
Matanya terbelalak ngeri, menatap potongan tongkatnya yang masih digenggamnya.
Kemudian melirik Nathan yang melempar potongan kayu yang berhasil ia patahkan itu.
Nathan berdiri, mendekat. Ayah Mira menarik langkahnya mundur. Nathan terus mendekat sambil menggenggam erat tangan Mira.
"Aku yang salah. Aku memang yang salah. Tapi aku mencintai anakmu ini. Dan aku ingin bertanggung jawab. Kau boleh membenciku seumur hidupmu Pak! Karena telah merusak hidup anakmu. Tapi tolong, jangan salahkan Mira."
"Kalian berdua sudah tidak waras!" Ayah Mira berteriak dan kembali mengangkat potongan tongkatnya.
"Ayah Cukup! Dia orang yang sudah membuatmu bisa berjalan!" teriak Mira.
Cukup membuat Ayah Mira terkejut, menghentikan tangannya dan menoleh.
__ADS_1
"Apa Mira? Kau berbohong lagi?"
"Ayah! Dia! Pria ini yang sudah menyewa dokter khusus untukmu. Dia yang terus menerus mengirim uang padamu! Dia juga yang selalu melindungi Mira! Bukan Ricard!" ucap Mira, cukup membuat Ayahnya bungkam.
Kini Mira melangkah kedepan Ayahnya. Mengusap air matanya.
"Ricard jahat padaku Ayah. Dia tidak pernah menganggap ku istrinya. Dia hanya menelantarkan aku. Memukuliku, menyiksa lahir dan batinku, mengusirku! Bahkan menjualku pada seseorang untuk menebus hutangnya.!"
Ayah Mira semakin terkejut, tangannya terlihat gemetar.
"Pria ini, laki laki ini yang menolong Mira Ayah! Nathan yang selama ini melindungi hidup Mira di kota. Jika tidak ada dia, entah nasibku akan jadi apa! Ayah juga belum tentu bisa berjalan lagi seperti ini."
"Kau bohong Mira! Ricard yang sudah mengirimi Ayah uang bukan? Dia yang menyewa Dokter spesialis itu?"
"Kapan Mira berbohong pada Ayah. Seumur hidup Mira, tidak pernah menjadi anak pembohong. Mira merahasiakan ini dari Ayah karena takut Ayah akan khawatir."
Kini wajah Ayah Mira pucat, potongan tongkatnya terlepas dari tangannya begitu saja. Tubuhnya oleng. Untung Nathan langsung menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh itu.
Mira dan Nathan segera memapah Pria tua itu ke sofa dan mendudukkannya.
"Mira, kau berbohong!" Ayah Mira masih tak percaya, memegangi dadanya yang langsung terasa sakit. Kemudian menoleh pada Mira dan Nathan yang sama sama berlutut dihadapannya.
"Kau harus percaya kepada kami Ayah." Mira meraih kedua tangan Ayahnya dan menciuminya. Membawanya ke dadanya.
"Ayah bisa melihat buktinya. Ayah bisa melihat notif dari transferan itu. Bukan atas nama Ricard, melainkan atas nama Nathan!"
Ayah Mira langsung terbelalak, menoleh pada Nathan. Kemudian menepuk kepalanya sendiri dan menyandarkan punggungnya di sofa.
"Kenapa Ayah bisa tidak ingat?" menoleh pada Mira.
"Kau benar Mira. Ayah bahkan berkali kali melihat itu. Ayah lupa ingin bertanya padamu tentang siapa Nathan. Kenapa tiap kali atas nama itu yang ada di Notifikasi pesan masuk dari Bank. Ayah lupa Mira."
"Ayah!" Mira langsung memeluk Ayahnya.
"Mira, apa yang terjadi sebenarnya? Katanya pada Ayah!" Ayah Mira pun kini memeluk anaknya dan ikut menangis.
"Ricard jahat Ayah! Ricard Pria kejam!"
Mira mengangguk.
"Mira hamil. Mira Mengandung anak Nathan. Tapi ini bukan salah kami Ayah. Bukan salah Nathan. Tapi salah Ricard. Perbuatannya yang sudah membuat kami seperti ini."
Ayah Mira semakin bingung dan tercengang, melirik Nathan yang kini duduk bersimpuh dilantai dengan menundukkan wajahnya.
Kemudian melirik seorang pria yang sudah berdiri di depan pintu.
"Dia siapa lagi?" tanya Ayah Mira.
Mira menoleh.
"Dia, dia sekretaris Nathan. Namanya Ken. Dia orang pertama yang berbicara pada Ayah dan mengatakan jika uang itu dari Suami Mira." jelas Mira.
Ken mendekat, kini ikut duduk bersimpuh di sebelah Nathan.
"Maafkan aku Ayah mertua. Aku lah penyebab Ayah mertua salah paham. Tadinya aku bingung mau mengatakan uang itu dari mana. Saat Ayah mertua bertanya, apakah ini suami Mira. Aku hanya bisa menjawab, aku sekretarisnya. Saat Ayah mertua bertanya apakah uang itu dari Ricard, Aku hanya bisa bilang iya. Saat itu, aku tidak mungkin akan bilang jika uang itu dari Tuan Nath, atau dari selingkuhan Nona Mira atau pacar Nona Mira. Mana mungkin Aku mengatakan begitu. Jika aku bilang begitu, keadaan pasti akan semakin keruh. Aku hanya berpikir, jika suatu hari nanti kami bisa menjelaskannya pada Ayah mertua. Maafkan aku, aku yang salah." ucap Ken sembari menunduk.
"Ken sebenarnya tidak bersalah juga Ayah, dia hanya ingin melindungi Mira."
Kemudian Mira menceritakan semuanya dengan jelas pada Ayahnya. Semuanya tanpa ada sedikitpun yang ditambah atau dikurangi. Bahkan mengenai sebab kenapa dia bisa sampai hamil.
Ayah Mira menarik nafas panjang. "Maafkan Ayah kalau begitu. Ayah sudah salah paham. Maafkan Ayah Mira. Ayah sungguh tidak menyangka jika Ricard sejahat itu."
"Apa Ayah tau pengorbanan Nathan untuk Mira? Hari ini, bahkan Nathan harus rela menyerahkan seluruh harta peninggalan Ayahnya untuk Ricard demi tanda tangan surat cerai Mira."
"Astaga! Benar begitu?" menoleh pada Nathan.
"Iya benar Pak. Kami baru saja pulang dari bertemu Ricard, kami sedang diperjalanan dan mendengar kabar jika Mira kemari. Kami langsung menyusul kemari." jelas Nathan.
"Ayah, kau harus memaafkan Nathan. Dia tidak bersalah sedikitpun." ucap Mira.
__ADS_1
"Ah, iya. Maafkan Ayah ya Nak? Ayah sudah termakan ucapan Ricard." kini Ayah Mira menatap Nathan yang mendongak.
"Tidak apa apa Ayah. Tidak apa apa. Wajar jika Ayah marah. Walau bagaimanapun juga Aku sudah menghamili Putrimu. Aku pantas dihukum." jawab Nathan.
"Tidak, tidak. Kalau begini ceritanya, kau tidak bersalah. Benar kata Mira. Kau tidak bersalah Nak Nathan."
Nathan akhirnya tersenyum.
"Nath, apa kau sudah mendapatkan tanda tangan itu?" kini Mira bertanya.
"Iya sayang.. Tentu saja." Nathan langsung mengeluarkan kertas itu dari balik jaketnya.
"Lihatlah Mira. Kau sudah resmi bercerai. Kita akan menikah secepatnya. Lihatlah!" Nathan dengan semangat menyodorkan kertas itu yang langsung diterima oleh Mira.
Mira meneliti, begitu juga dengan Ayahnya.
Terlihat mata Mira berkaca kaca, air matanya kembali mengalir.
"Kau tidak senang? Kau menangis Mira?"
"Aku senang Nath. Tapi kau kehilangan seluruh harta peninggalan Ayahmu." ucap Mira sambil terisak.
"Kau salah Mira. Harta itu masih milik kita." sahut Nathan.
"Hah! Apa Nath? Bagaimana bisa?" Mira tercengang, menatap kedua pria yang masih duduk bersimpuh dilantai itu.
"Ken, tunjukkan pada Mira!" Nathan menyodok perut Ken dengan sikunya.
"Ah, iya." Ken gelagapan karena pertunjukan didepannya yang sungguh mengharukan itu dan sempat menguras hatinya.
Ken cepat cepat mengeluarkan semua berkas yang ia simpan di balik jaketnya.
"Lihatlah Nona. Harta itu masih milik Tuan Nath." ucap Ken.
"Kalian serius? Bagaimana cerita bisa seperti ini? Kalian mendapatkan tanda tangan Ricard, tapi harta ini tidak jadi milik Ricard?" Mira berganti menatap Ken.
"Sebenarnya, Tuan Nath sudah menyerahkan semua itu pada Ricard, dan Ricard kemudian menandatangani surat cerai itu. Tapi belum sempat Tuan Nath menandatangani surat pernyataan Penyerahan atas Hartanya, Polisi keburu datang membekuk Ricard. Jadi penyerahan Harta itu gagal." jelas Ken.
"Jadi maksudmu, Ricard di tangkap Polisi?" Mira terbelalak.
"Iya benar Nona. Ricard di tangkap karena banyak tuduhan. KDRT yang pernah ia lakukan padamu, penjualan atas dirimu. Kemudian percobaan pembunuhan pada Tuan Nathan dan percobaan pembunuhan atas diriku sendiri."
Mira dan Ayahnya saling melempar pandangan.
"Jadi Ricard sekarang dipenjara?" tanya Ayah Mira.
"Benar Ayah. Ricard harus bertanggung jawab atas segala kejahatan yang sudah ia lakukan pada Mira dan kami. Hakim akan segera memutuskan hukuman yang pantas untuknya." kaki ini Nathan yang menyahut.
Tangis Ayah Mira tiba tiba pecah, sembari memeluk Mira.
"Maafkan Ayah Mira. Ayah tidak tau jika selama ini kau menderita disana."
"Ayah, tidak apa apa. Sekarang semua sudah berlalu."
Ayah Mira kembali menoleh pada Nathan.
"Terimakasih Nak Nathan. Meskipun kau sudah membuat anakku hamil diluar nikah. Tapi aku patut berterima kasih kepadamu. Kau sudah melindungi satu satunya Putriku. Aku sudah memukuli mu tadi. Maafkan Ayah ya Nak! Maafkan. Badanmu pasti sakit semua." ucap Ayah Mira sungguh menyesal akan perbuatan cerobohnya.
Nathan hanya tersenyum dan mengangguk.
"Tidak apa apa Ayah mertua. Tuan Nath kebal. Jika tidak percaya, kau boleh memukulnya lagi. Aku akan membantumu untuk menghukum orang yang telah menghamili Putrimu ini." sela Ken, sambil terbahak.
"Mulut mu Ken! Badanku sakit semua Bodoh! Kau mau menambah lagi. Kau yang akan ku pukul! Biar kau merasakannya juga!" Nathan sudah mengepalkan tinjunya.
"Sudah, sudah. Lupakan yang tadi. Ayo , ayo. Duduk lah kalian di sofa. Jangan bersimpuh dilantai lagi." Ayah Mira merengkuh pundak Nathan. Dan menyuruhnya duduk disampingnya.
Ken pun duduk dihadapan mereka.
Suasana diantara mereka berangsur menghangat.
__ADS_1
______________