Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Dua Bidadari.


__ADS_3

Fic terus menahan tubuh seorang wanita yang memaksa masuk ke rumah Nathan.


"Nona. Anda tidak diperbolehkan masuk!"


"Fic! Kau kenal aku kan? Ku mohon untuk kali ini saja. Aku hanya ingin bertemu dan bicara serius dengan Nathan dan Mira." wanita itu sungguh memohon kepada Fic.


"Tidak bisa Nona! Justru karena aku mengenal siapa Nona, aku tidak akan membiarkan Nona membuat kekacauan pada Malam Pertama Tuan Nath!" Fic mendorong tubuh wanita itu.


"Pergilah Nona. Jangan mengganggu Tuan Nath dan Nona Mira. Atau aku akan mengusir mu secara kasar!"


"Demi Tuhan. Fic, Aku tidak akan membuat kekacauan. Aku hanya perlu bicara sebentar dengan mereka?"


"Sungguh aku tidak berani Nona!"


"Fic. Kau boleh memeriksa tubuhku, jika kau curiga aku membawa sesuatu yang membahayakan Nathan atau Mira. Bila perlu, aku akan telanjang di depan mu!" wanita itu mengancam. Sudah mulai menyikap bajunya.


"Berhenti Nona. Jangan konyol!"


"Ijinkan aku masuk! Atau aku akan telanjang disini."


Fic panik. 'Astaga.. Bagaimana ini?'


"Stop Nona!" Fic menutup wajahnya dengan tangannya.


Wanita itu menghentikan aksinya, kemudian melangkah masuk ketika Fic lengah.


"Nona! Kau tidak boleh masuk!"


Wanita itu tidak peduli, cepat menaiki tangga ke arah kamar Nathan di ikuti Fic.


Fic cepat menyambar tangan wanita itu dan menariknya.


"Lepas! Lepas!"


"Nath...! Mira!" Wanita itu berhasil lepas dan berlari ke depan kamar Nathan.


Yang di dalam,


Setelah Mereka mengulangi, lagi dan lagi. Hingga Mira merasa lelah. Tertidur dengan lelapnya.


Namun Nathan belum berhenti.


Masih Bergerak!


Tiba tiba pintu kamar Nathan digedor seseorang. Sambil terdengar suara yang cukup kuat memanggil.


"Nathan! Mira! Tolong buka pintunya. Aku ingin bicara. Ku mohon!"


Nathan cukup mengenal suara itu. Dia menoleh, tapi tidak segera beranjak turun.


"Bodoh sekali Fic!"


Sambil dongkol Nathan beranjak. Menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya. Kemudian dia sendiri menyambar piyama miliknya yang teronggok dilantai.


Setelah selesai memakainya, Nathan melangkah santai ke arah Pintu.


Membuka pintu, melangkah selangkah saja.


Wajah Fic pucat seketika.


"Tuan. Maafkan saya. Nona ini menerobos masuk! Maafkan saya. Saya akan menyeretnya keluar." ucap Fic, sudah ketakutan setengah mati, melirik wajah Nathan yang dongkol itu.


"Kenapa kau bisa sebodoh itu Fic?"


"Maafkan saya Tuan. Nona, Nona ini mengancam untuk bertelanjang di depan tadi. Saya , saya jadi kecolongan saat dia berlari kemari."


"Ayo Nona!" Fic menyeret paksa Wanita itu.


"Nathan! Ku mohon. Aku hanya ingin bicara sebentar!"


"Lepaskan dia Fic!" Fic menoleh, seperti belum percaya.


"Lepaskan dia."


Fic melepaskan tangannya.


"Untuk apa kau kemari Kayla. Apa kau tau, ini adalah malam Pengantin Baru ku dengan Mira. Berani sekali kau mengganggu ku!" ucap Nathan.


"Nath. Maafkan aku. Aku tau, kalian baru saja menikah hari ini. Tapi aku ingin bicara penting padamu dan Mira. Ku mohon Nath!" kini Kayla menekuk lututnya di lantai.


"Apa tidak ada waktu lagi, sampai kau datang larut malam begini?"


"Tidak ada lagi Nath. Aku tidak bisa menunggu sampai besok pagi. Aku sudah datang kesini sejak siang. Tapi penjagaan siang tadi diluar begitu ketat. Aku tidak bisa masuk sebelum Pestamu berakhir."


Nathan mendengus sesaat.


"Lalu kau mau apa hah! Setelah bertemu denganku?"


"Mohon ijinkan aku bertemu istrimu Nathan. Aku juga ingin bertemu dengan Mira. Aku ingin berbicara padanya juga."


"Kau ingin bermain main dengan ku?" mata Nathan kini memerah.


"Berani kau bertemu istri ku, Aku tidak akan memandang mu sebagai perempuan lagi Kayla. Aku bisa menghabisi mu. Karena aku tau, kau adalah termasuk orang yang sudah membuat hidup istriku dulu menderita!" Nathan kini menuding.


"Nath!" suara panggilan itu membuat Nathan menoleh.


"Mira!"


"Siapa di luar?" rupanya Mira terbangun mendengar kegaduhan itu.


Nathan cepat menoleh pada Fic.


"Bawa perempuan itu Turun!"


Fic cepat meraih tangan Kayla kembali, namun Kayla masih bertahan.


"Nath, ku mohon sekali ini saja." kini merangkak memegangi kedua kaki Nathan.


"Nath! Siapa itu? Apa yang terjadi?" kini Mira bangun, memegang selimut di dadanya.

__ADS_1


"Mira! Jangan kemari." pekik Nathan panik.


Menoleh kembali pada Kayla.


"Istriku bangun, Bodoh!"


"Nath. Ku mohon!"


"Aduh, kau ini. Merepotkan sekali. Tunggu di sofa!" Nathan melepas tangan Kayla, segera menutup pintu dan cepat menghampiri Mira yang hampir turun.


"Mira. Maafkan aku. Kau jadi terbangun."


"Aku mendengar suara wanita. Siapa di luar?"


"Mira. Dia.. dia."


"Siapa? Siapa Nath. Malam malam begini, ada seorang wanita menemui mu. Siapa?" Wajah Mira sudah memerah.


"Aku harus melihatnya!" Mira sudah beranjak.


"Eh, nanti saja. Pakai bajumu dulu. Di luar ada Fic. Kau mau keluar dengan selimut saja?" cegah Nathan.


"Katakan dulu, siapa wanita yang di luar??"


"Kayla. Ah, Kayla kemari."


"Kayla?"


"I,iya. Aku juga tidak tau dia mau apa. Dia merengek ingin bertemu dengan mu. Aku sudah mengusirnya. Tapi dia terus memohon di kakiku." jelas Nathan. Lebih baik menjelaskan dari pada Mira akan salah paham.


"Jika kau keberatan untuk menemuinya, aku akan menyuruh Fic untuk mengusirnya."


"Tidak perlu Nath. Kita temui saja. Siapa tau dia sedang benar benar serius." jawab Mira, lalu memakai baju.


"Tapi Mira, kau masih lelah."


"Tidak apa. Nanti bisa tidur lagi. Kita temui sebentar saja ya?"


Nathan hanya bisa mengangguk ketika Mira menuntunnya untuk keluar kamar.


Melihat Mira keluar, Kayla berdiri. Menekuk lututnya kembali. Kali ini di bawah kaki Mira.


"Apa yang kau lakukan Kayla. Kau tidak perlu begini?" Mira yang sempat terkejut, membangunkan Kayla.


"Bangunlah!"


"Mira. Aku minta maaf padamu. Atas segala kesalahanku."


"Kau tidak ada salah padaku. Kenapa harus meminta maaf?"


"Aku sudah mengganggu rumah tanggamu dengan Ricard. Maafkan aku."


Mira menoleh pada Nathan yang sudah memerah wajahnya. Kembali pada Kayla yang sudah mulai berdiri.


"Sebenarnya, aku lah yang salah. Aku yang menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu Kayla. Kau hanya wanita yang ingin mempertahankan cintamu pada kekasihmu saja. Jadi kau tidak sepenuhnya bersalah."


"Semua juga sudah berakhir bukan? Aku sudah menemukan kebahagiaan ku bersama Nathan. Pria yang mencintaiku dan menerima ku apa adanya. Jadi kau tidak perlu resah. Kau bisa bahagia dengan Ricard sekarang."


"Itu tidak mungkin. Kau tau, Ricard di penjara. Sedangkan besok pagi., adalah keputusan sidangnya. Vonis hukuman mati akan di terima oleh Richard." Kayla menangis. Kembali berlutut.


"Ku mohon pada kalian. Tolong bebaskan Ricard. Ku mohon Nath. Mira!" Kayla menangis tersedu, memohon kepada Nathan dan juga Mira secara bergantian. Keduanya saling menatap dan kembali menoleh pada Kayla.


"Mana bisa!" suara lantang dari mulut Ken.


"Kesalahan Ricard sudah sangat berat. Bukan hanya pada mereka berdua. Tapi kepadaku juga. Kami tidak bisa membebaskan Ricard. Dia pantas mati untuk bertanggung jawab atas segala dosa dosanya!"


"Nathan.." kini Kayla menatap Nathan.


"Apa yang dikatakan Ken benar. Kami tidak bisa membantumu Kayla. Sebaiknya kau pergi dari rumahku. Sekarang juga!"


"Nath." Mira menggeleng, meraih lengan Nathan.


"Tidak Mira. Jangan pernah kasian pada Bajingan itu. Apa kau tidak ingat , bagaimana perlakuannya pada kita? Bahkan dia hampir membunuhmu. Dan sudah membunuh calon Bayiku!"


"Usir dia Fic!" Nathan menoleh pada Fic yang segera mengangguk.


"Nath. Ku mohon. Setidaknya, lakukan ini demi bayi yang sedang ku kandung!"


"Hah!" semua yang ada tercengang.


"Kau hamil?" tanya Mira, menutup mulutnya dengan tangannya.


"Mira." Kayla kini merangkak ke kaki Mira.


"Kita sama sama wanita. Kau pernah mengalami hal yang sama seperti aku. Ku mohon Mira. Bagaimana nasib bayi ku jika harus lahir tanpa Ayah. Ku mohon Mira. Berikan sedikit hatimu untuk kami." Kayla sesenggukan di kaki Mira.


"Kayla.. Bangun lah. Kau tidak boleh seperti ini. Ayo bangun." Mira kembali meraih tangan Kayla untuk membangunkannya.


Tapi Nathan langsung menarik tangan Mira, dan mendorong tubuh Kayla hingga menjauh dari Mira.


"Kau pikir aku peduli, hah!"


kini mencengkeram dagu Kayla.


"Mira memang pernah mengalami seperti yang kau alami sekarang? Tapi itu berbeda!"


"Dia harus mengandung bayiku karena pembuatan curang Ricard! Kau pasti tau itu Kayla."


"Aku tau, aku tau Nath." Kayla semakin menangis.


"Apa kau juga tau? Jika Ricard pernah menginginkan bayiku lahir sebagai anak haram? Begitu juga sekarang keinginan ku! Anak kalian harus lahir sebagai anak haram!"


"Nath." Mira merengkuh tubuh suaminya.


"Jangan seperti itu."


"Tidak Mira. TIDAK!"


"Ricard bahkan sudah membuatku kehilangan calon Bayiku. Hukuman yang pantas untuk Ricard!"

__ADS_1


"Ken, Fic! Seret wanita itu keluar!"


Keduanya cepat mengangguk. Kemudian meraih sisi lengan Kayla untuk menyeretnya.


"Berhenti!" Teriak Mira.


"Lepaskan Kayla Ken. Fic, lepaskan!"


"Mira."


"Tidak Nath. Bayi itu tidak bersalah. Dia tidak berhak mendapatkan hukuman dari kalian!" Mira berlari menolong Kayla.


"Lepaskan tanganmu!" memukul tangan Ken dan Fic yang mencengkeram kuat lengan Kayla.


"Mira. Tolong aku. Hanya kau yang bisa membujuk Nathan dan Ken." ujar Kayla di sela isakan.


"Nath.." Kini Mira berlari ke arah Nathan.


"Lepaskan Kayla. Dia sedang mengandung. Jika bayinya kenapa kenapa bagaimana? Di mana hatimu Nathan?"


"Mira. Biarkan saja. Mereka itu jahat."


"Yang jahat mereka. Bukan Bayinya. Jika kau tidak mau menolong bayi Kayla. Kau sama saja seperti mereka. Jahat!" memukul dada Nathan.


"Mira.."


"Lepaskan dia Ken. Kau tidak mendengar ku! Fic! Aku akan memecat mu jika berani membantahku. Kalian lupa, aku sudah menjadi istri Bos kalian? Kalian harus patuh juga padaku!" teriak Mira .


Kedua pria itu menoleh pada Nathan.


Nathan hanya mengangguk samar. Kemudian mereka melepaskan Kayla.


"Nath. Bebaskan Ricard. Kita harus mencabut semua gugatan kita. Ku mohon Nath. Semua ini demi bayi yang di kandung Kayla." Mira menangis di pelukan Nathan.


"Mira! Kau menangis untuk mereka?" Nathan mengangkat wajah istrinya.


Mira menggeleng. "Aku sedih memikirkan bayi itu. Aku jadi teringat bayimu Nath. Nasib mereka hampir sama. Dan aku tidak ingin, bayi Kayla akan mengalami nasib seperti bayimu. Bisa jadi, Kayla akan menggugurkannya jika tidak ada Ayah dari bayi itu."


"Itu urusan mereka, Mira!"


"Nath. Besok pagi adalah keputusan vonis untuk Ricard. Dia akan dihukum mati. Bayi itu, tidak akan mempunyai Ayah untuk selamanya. Ku mohon Nath, setidaknya kita bisa menyelamatkan satu bayi, setelah kita tidak berhasil menyelamatkan bayi kita."


"Mira."


"Aku akan merasa bersalah untuk yang kedua kalinya, jika tidak bisa membantu bayi itu. Seperti halnya aku, tidak bisa mempertahankan bayimu."


"Ku mohon Nath." Mira menangis tersedu.


"Cukup Mira. Aku tidak bisa melihatmu menangis. Berhentilah." Nathan mengusap wajah Mira.


"Kau mau membebaskan Ricard?" Mira meraih kedua tangan Nathan.


"Tapi Mira."


"Nath. Ku rasa Ricard sudah bertobat. Beri dia kesempatan. Jika kali ini dia berbuat jahat lagi. Kau boleh membunuhnya dengan tanganmu sendiri. Aku akan mengijinkan mu!" ucap Mira.


Nathan terdiam.


"Nathan."


"Hem.. Kau harus pegang janji mu?"


"Iya, Aku bersumpah."


"Aku akan memberi kesempatan untuk Ricard. Ini untuk terakhir kalinya. Jika dia masih berbuat jahat, entah kepada siapapun itu. Maka aku akan membunuhnya. Dan kau, tidak boleh mencegahku lagi."


"Aku berjanji Nath. Aku berjanji."


"Baiklah." Nathan menoleh pada Ken.


"Ken, cabut semua gugatan kita. Dan bebaskan Ricard!"


"Tidak untukku Tuan. Aku tetap tidak mau mencabut Gugatan ku!" sahut bengis Ken.


"Kau ya?"


"Aaw...!" Ken meringis, tangan Rimbun sudah memelintir pinggangnya.


"Sakit, Jelek!"


"Mau jadi orang tidak berhati? Aku semakin tidak mau padamu, Tuan Ken Yang tidak berhati!"


"ASTAGA! Kenapa semua wanita merepotkan sih!" umpat Ken.


"Nah, kau!" kembali meremas pinggang Ken.


"Ah, sakit Rim. Ampun!"


"Turuti Perintah Tuan Nath!"


"Ah, iya baiklah."


Rimbun melepaskan tangannya.


"Tapi kau harus mau menikah denganku?"


"Hem."


"Janji!"


"Ck, iya."


"Baiklah Tuan Nath!" Ken kini mengangguk.


"Kau Kayla." Ken menunjuk Kayla.


"Berterimakasih lah kepada Dua bidadari ini. Mereka penyelamat kalian!"


_________________

__ADS_1


__ADS_2