Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Yang Salah Harus Tetap Di Hukum!


__ADS_3

"Aku tidak paham Mira, kenapa hatimu bisa begitu luas memaafkan Ricard?" ucap Nathan, siang itu.


"Aku tidak mempunyai hati luas seperti yang kau pikirkan. Tapi, aku punya pikiran luas yang ku usahakan untuk memikirkan hal Positif."


"Hem.. padahal kau tau, bagaimana Ricard begitu jahat pada kita."


"Aku tau, tapi kita juga perlu tau. Setiap kejahatan mempunyai alasan yang mendasarinya. Setelah ku pikir pikir. Kejahatan Ricard padamu yang lalu, yang sebelum kita bertemu adalah karena dia iri padamu."


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika dunia bisnis itu kejam? Persaingan dan penjilat ada dimana-mana? Kalau masalah itu, okelah Ricard salah dan patut dihukum."


"Tapi kesalahan yang lainnya. Seperti membenciku? Semakin membencimu? Semua kembali pada diri kita masing masing."


Nathan terdiam, mencoba mencerna semua ucapan Mira. Terlihat menggaruk tengkuk tanpa tak paham.


"Nath. Kita, Aku dan kamu, ikut andil dalam kesalahan Ricard yang dia buat."


"Maksudmu?"


"Aku berselingkuh denganmu. Apapun alasannya, dulu aku berstatus istrinya tapi aku mencintai dan dicintai pria lain."


"Dia tidak pernah menganggap kau istrinya Mira! Bisa bisanya kau berbicara seperti itu?"


"Itu karena Ricard sudah mencintai wanita lain jauh sebelum adanya aku. Seperti halnya kamu. Dia hanya ingin mempertahankan cintanya. Begitu juga Kayla."


"Seharusnya dia menceraikan mu saja, jangan malah menahan mu untuk sengaja membuatmu sengsara!"


"Itulah kesalahan Ricard terbesar. Dia lebih mementingkan dendamnya padaku yang sudah menghancurkan impiannya untuk menikah dengan Kayla, daripada keamanan hidupnya."


"Lalu apa salahku?


Mira tergelak, kini memegang kedua pipi Nathan.


"Kau sudah merebut istri orang."


"Tapi yang direbut mau!"


"Karena aku mencintaimu."


Nathan tersipu.


"Kau mencintaiku bukan?"


"Tentu saja Mira."


"Aku juga mencintaimu. Kita saling mencintai. Mereka juga Nath."


Nathan kini terdiam, sudah bisa memahaminya semua ucapan Mira.


Benar saja, ada alasan kuat di balik kejahatan Ricard.


"Setidaknya, dengan kita mencabut gugatan kita pada Ricard, Dia akan terlepas dari Ancaman hukuman mati. Lalu vonis selanjutnya, itu adalah keputusan Hakim sendiri."


****

__ADS_1


"Yang salah tetap harus di hukum, Tuan. Itulah hukum yang sebenarnya. Tegak meruncing ke atas. Bukan meruncing ke bawah!"


Ken menghela nafas ketika Kuasa Hukum Nathan berbicara. Menoleh pada Kayla yang saat ini ikut serta menemui Kuasa Hukum milik Nathan itu.


"Meskipun kami sudah mencabut semua gugatan kami pada Ricard?" Ken kembali bertanya.


"Meskipun Tuan. Anda bisa mencabut semua gugatan. Bagaimana dengan perkara yang sudah jelas ada? Bukti, saksi dan pengakuan dari saudara Ricard sendiri? Meskipun belum ada korban jiwa selain daripada keguguran kandungan Nona Mira yang bisa dikatakan kecelakaan akibat dorongan Saudara Ricard yang disengaja atau tadinya belum sengaja ingin membunuh bayi itu. Tapi perencanaan pembunuhannya , itu sudah bisa membuat hukumannya berat. Belum lagi Saudara Ricard adalah Napi yang pernah kabur dari Tahanan dengan melukai beberapa aparat."


"Hukum tidak mungkin bertindak ceroboh. Yang salah tetap akan di beri sangsi."


"Tapi, bisakah Vonis Hukuman mati itu berubah?"


"Di Indonesia, hukuman mati masih diancamkan untuk sejumlah kejahatan, termasuk pembunuhan berencana, narkoba, dan terorisme. Artinya, masih ancaman. Jika ada perkara yang bisa mengurangi tindak kejahatannya, bisa jadi Hukuman mati di ubah menjadi penjara seumur hidup."


"Apa? Seumur hidup?" Kayla tercengang.


Ken hanya melirik sekilas wajah Kayla yang resah.


"Seumur hidup, itu sama saja Ken. Ricard tidak bisa bebas lagi!"


"Itu lebih baik Nona. Setidaknya, Ricard tidak harus mati." sahut Ken.


"Jadi begini Tuan. Saya ingin sedikit menjelaskan dulu, agar tidak ada kesalahan pahaman."


Keduanya mengangguk.


"RUU KUHP: Terpidana Mati yang bisa Berkelakuan Baik Vonisnya Bisa Diubah. RUU KUHP memberikan kesempatan kedua kepada terpidana mati untuk berkelakuan baik di penjara. Bila si terpidana berubah kelakuannya ke arah positif, maka hukuman matinya bisa dianulir dan diganti dengan hukuman pidana penjara seumur hidup."


Untuk memudahkan pemahaman tentang pidana penjara seumur hidup, saya mencontohkan, jika seseorang dipidana penjara seumur hidup ketika dia berusia 21 tahun, maka berdasarkan pendapat yang beranggapan bahwa yang dimaksud ‘seumur hidup’ adalah sama dengan jumlah umur terpidana ketika vonis dijatuhkan, yang bersangkutan akan menjalani hukuman penjara selama 21 tahun. Hal itu tentu melanggar ketentuan Pasal 12 ayat (4) KUHP sebagaimana disebut sebelumnya, di mana lamanya hukuman yang dijalani oleh terpidana melebihi batasan maksimal 20 tahun.


Contoh lainnya, berdasarkan pendapat yang sama, jika terpidana divonis penjara seumur hidup pada saat ia berumur 18 tahun, berarti terpidana tersebut akan menjalani hukuman pidana penjara seumur hidup selama 18 tahun. Hal ini tentu menimbulkan kerancuan yaitu mengapa hakim tidak langsung saja menghukum terpidana selama 18 tahun penjara, padahal hal itu masih diperbolehkan dalam KUHP?


Malah mengatakan hukuman seumur hidup.


Dari uraian di atas dapat disimpulkan dasar hukum serta logika kita berfikir bahwa maksud penjara seumur hidup adalah penjara sepanjang si terpidana masih hidup, dan hukumannya baru akan berakhir ketika ia meninggal dunia."


"Padahal pemikiran itu salah!"


"Jadi maksudnya, Ricard tidak akan di penjara selama lamanya begitu?" Kayla cepat menyela.


"Benar. Saudara Ricard, akan di penjara sesuai dengan umurnya sekarang saja. Sementara pasal mengatakan pidana tidak dianjurkan melebihi 20 tahun. Artinya saudara Ricard, tetap akan dipenjarakan tidak lebih dari 20 tahun."


"Satu hal lagi. Pakar hukum pidana Universitas Islam Bandung (Unisba) Nandang Sambas menilai putusan hakim yang memberikan hukuman kepada terdakwa penjara seumur hidup bisa menimbulkan efek jera. Namun, putusan seumur hidup itu nantinya bisa berubah, bahkan lebih ringan seiring berjalannya waktu."


****


"Lalu bagaimana sekarang?" Nathan bertanya pada Ken. Setelah Ken dan Kayla sama sama sudah duduk di hadapan Nathan.


Ken sudah selesai menjelaskan kepada Ricard tentang penjelasan sang Kuasa Hukum tadi.


"Sidang ditunda Tuan." setelah menjawab Nathan, Ken menoleh pada Kayla. Seolah memberi kesempatan untuk Kayla yang berbicara.


"Nath. Apapun keputusan sidang nanti, Aku patut berterima kasih kepada kalian. Terutama kepadamu. Berkat Pencabutan Gugatan kalian, Ricard tidak jadi di vonis pidana hukuman Mati. Aku sudah sangat bersyukur itu. Setidaknya bayiku masih ada kesempatan untuk melihat Ayahnya."

__ADS_1


Nathan mengangguk.


"Semua orang pasti punya kesalahan Kayla. Bedanya, ada yang kecil dan ada yang besar. Ada yang segera menyadarinya, ada yang tidak. Contohnya aku, kamu, Ricard dan juga Mira. Kita semua punya kesalahan. Dan setiap kesalahan itu sudah pasti punya alasan masing masing."


"Kau benar Nath."


"Ah, baiklah. Lupakan semuanya. Aku sudah berusaha ikhlas. Untuk hukuman Ricard nantinya. Anggap itu adalah untuk menebus kebenciannya padaku selama ini. Bukankah Ricard membenciku jauh sebelum adanya Mira? Kau pasti tau itu."


Kali ini Kayla mengangguk.


"Ricard, menitip salam padamu Nath. Dan menitip salam untuk Mira. Dia meminta maaf dengan sesungguhnya. Semoga kalian bahagia selamanya."


"Ah iya. Semoga kalian juga."


Kayla hanya mengangguk.


"Lalu bagaimana rencana mu selanjutnya mengenai kehamilan mu itu?"


"Mau tidak mau, kami akan menikah di sel tahanan Ricard. Kami sudah berencana walau pun belum berunding secara matang. Orang tuaku, meskipun sangat membenci Ricard, tapi sekarang mereka sudah setuju. Karena walau bagaimana juga, mereka akan melakukan itu demi calon Cucu mereka."


"Sekali lagi, terimakasih Nath. Aku pulang ya? Sampaikan terimakasih ku pada Mira."


"Baiklah Kayla. Semoga kau tabah menghadapi semua ini."


Kayla tersenyum. "Ada hikmah dibalik semua ini Nath. Akhirnya aku bisa menikah dengan Ricard. Aku sangat mencintainya. Aku juga bisa memastikan jika Ricard kali ini akan jera dan bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Lalu kedua orang tuaku? Kalau bukan karena aku hamil, mana mungkin mereka mau merestui hubungan kami."


"Kau benar Kay. Semua pasti ada hikmahnya." jawab Nathan.


"Pulang lah Kay. Kau perlu cepat istirahat. Maafkan Mira tidak dapat duduk disini. Dia sedang tertidur pulas."


"Tidak apa apa Nath. Aku mengerti."


_________________


Note:


Setiap karakter seseorang, di fiksi atau pun fakta, punya kelebihan dan kekurangan masing masing walaupun tidak bisa dijabarkan dengan detail.


Nah intinya, ambil sisi baik dalam cerita ini. Yang secara tidak langsung mengajarkan kita pada keluasan hati seseorang. Allah saja yang berhak atas segalanya Maha Pengampun, bagaimana dengan hambanya?


Cerita ini mengajarkan bagaimana kita tau, perjuangan cinta seseorang. Mengajarkan kita jika dendam tidak akan menuntaskan permasalahan. Dendam yang berlanjut, hanya akan menjadi permusuhan semakin meruncing. Memaafkan kesalahan orang lain adalah hal paling payah. Dan belum tentu semua bisa melakukannya.


"Yang salah harus tetap dihukum." Tapi sekejam kejamnya hukum manusia tidak boleh melebihi hukum Allah SWT yang paling berhak menghukum hambanya. Itu yang benar.


Satu lagi, harap ikuti bab berikutnya dulu sebelum menilai sebuah keputusan yang jelas. Agar kita terhindar dari penilaian yang salah, dan terhindar dari ucapan yang bisa menyakiti hati orang lain.


Semoga tulisan ini bukan hanya sekedar menjadi penghibur semata namun, bisa menjadi pembelajaran buat kita semua.


Salam,


Orang Lampung berdomisili Bangka.


[ Mohon maaf atas segala kekurangan!]

__ADS_1


__ADS_2