![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
"Aku percaya. Aku percaya padamu. Mulai detik ini aku akan mempercayakan hidupku sepenuhnya padamu Nathan!" bisik Mira tepat ditelinga Nathan. Pria itu langsung mendongak.
"Kau memanggilku apa?"
Mira seketika menutup mulutnya dengan tangannya.
"Manis sekali. Bisa ulangi?"
"Maaf, Tuan tadi keceplosan." Mira tergagap.
Nathan berdiri, langsung menggendong tubuh Mira yang sekarang hanya terima pasrah. "Kita kembali ke kamarku saja." ucap Nathan melangkah. Sebelum keluar kamar, kakinya sempat menendang kembali koper kecil milik Mira yang tadi padahal sudah ditendangnya.
Sambil melangkah, sambil terus memperhatikan wajah Mira.
"Jangan memanggilku Tuan lagi ya?"
"Aku ini kekasih bukan? Jadi panggil seperti panggilan manis tadi."
Mira hanya mengangguk ringan.
**
Hari ini ,
Nathan sungguh tidak ingin sedikit pun bergeser dari Mira. Kekhawatiran selalu ada dipikiran Nathan. Mungkin dia takut Mira akan kembali nekat untuk pergi.
"Tuan. Mandilah dahulu. Anda perlu mandi. Aku akan menyiapkan makan untuk kita." ucap Mira melihat pria itu belum juga mandi sedari bangun tidur tadi.
"Berjalan saja kau susah, masih memikirkan menyiapkan makan. Biar pelayan mengantarnya kemari." sahut Nathan yang masih setia duduk di samping Mira yang menyandar di sisi ranjang.
Tangannya terus memijat betis Mira.
"Em, tapi anda mandi dulu." bujuk Mira.
"Baiklah. Tunggu sebentar ya?" Nathan bangun.
"Jangan kemana mana. Duduk disini saja sampai aku selesai." pinta Nathan. Mira mengangguk saja.
Dengan malas Nathan menyeret langkahnya, memasuk kamar mandi dengan membiarkan pintu kamar mandi itu tetap terbuka. Mira bisa melihat dengan jelas Nathan yang sedang membuka baju.
Melihat itu Mira melangkah turun dari ranjang dan menghampiri pintu.
"Kenapa tidak menutup pintunya?" Tanya Mira, tangannya meraih gagang pintu.
"Jangan! Biarkan saja terbuka, Mira. Duduk lah disitu, biar aku tetap bisa melihatmu." ucap Nathan.
Mira tercengang dengan keinginan Nathan dan langsung mengerti maksudnya.
"Kau mencurigai ku?"
"Itu kau tau. Tetaplah disana atau aku tidak akan mandi sampai sebulan!" sahut Nathan, dengan cepat melepas seluruh pakaiannya.
Mira langsung memalingkan wajahnya.
"Jika kau malu, jangan melihat kemari. Aku hanya butuh melihatmu saja selama aku mandi." ucap Nathan.
'Astaga orang ini, kenapa sampai seperti itu?' Batin Mira segera beralih kembali ke ranjang dengan wajah tetap dipalingkan dari kamar mandi.
Nathan tidak peduli itu, cepat menyelesaikan mandinya dengan mata yang tak berhenti melirik keberadaan Mira.
"Sudah mandinya?" tanya Mira saat melihat Nathan sudah keluar dengan berbalut handuk saja untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Nathan hanya mengangguk, menghampiri lemari.
"Kenapa buru buru sekali?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin kau menunggu." langsung melepas handuk dan melemparnya sembarangan.
"Astaga! Nathan!" pekik Mira seraya memalingkan kembali wajahnya dan memutar tubuhnya.
Nathan sendiri malah tersenyum melihat itu. Lalu berganti tanpa rasa canggung.
Setelah itu kembali menghampiri Mira yang masih memalingkan wajahnya.
"Tidak tau malu." umpat Mira menoleh.
"Malu? Malu padamu? Haha..." Nathan tertawa.
"Terlambat Mira. Kau sudah melihat semuanya dengan jelas. Untuk apa ku tutup tutupi lagi." jawab pria itu.
"Ya setidaknya malu sedikit kenapa?"
"Urat Maluku sudah putus untuk mu." jawab Nathan kembali duduk di samping Mira.
"Mira? Boleh aku memeriksa tubuhmu?" Nathan menatap Mira.
Mira menggeleng.
"Aku tidak akan menyentuhnya sedikitpun. Hanya ingin melihatnya saja. Aku takut ada luka di tubuhmu." pinta Nathan lagi.
"Tidak ada luka Tuan. Sudah lah. Ini sudah lebih baik."
"Em, baiklah. Aku hanya khawatir."
Nathan mengusap wajahnya.
"Maafkan aku, kau harus menderita karena aku. Seharusnya aku menjagamu tapi malah aku menyakitimu." ucap Nathan,masih saja menyesali kejadian itu.
Mira hanya mengangguk kecil. "Jangan membahas lagi Tuan. Kita sudah sepakat bukan?"
"Ah iya, tapi kau juga jangan memanggilku Tuan lagi! Panggil seperti yang tadi."
"Mulai sekarang biasakan saja." Kini menarik pelan tubuh Mira dan beralih bersandar untuk memeluk Mira dari belakang.
"Ken menyewa Pengacara untukmu. Pengacara itu sedang mengurus berkas perceraian mu dengan Ricard. Setelah perceraian mu selesai, apa kamu mau menikah denganku?" ucap Nathan menaruh wajahnya di bahu Mira.
Mira tidak menjawab.
"Mira, Kau tidak mau menikah denganku?"
Mira memutar wajahnya, menatap pria dibelakangnya itu.
"Anda takut aku hamil?"
"Kenapa bertanya seperti itu Mira? Hamil atau tidak, aku memang harus menikahi mu. Aku harus bertanggung jawab. Aku ingin menebus kesalahanku padamu dengan hidupku!" kini menatap serius Mira.
"Hanya karena itu?"
"Hanya karena itu kau bilang? " cepat meraih tangan Mira.
"Tanpa kejadian ini aku memang ingin menikahi mu. Aku mencintaimu? Kenapa kau masih meragukan hal itu?"
"Nanti setatusku janda. Tidak malu menikahi janda?"
Nathan tergelak mendengar ucapan Mira.
"Janda tapi perawan?"
Wajah Mira langsung memerah.
"Aku yang merenggut keperawanan mu, aku juga memberikan keperjakaan ku padamu, itu adil bukan? Jika kita tidak menikah? Lalu apa kata dunia?"
__ADS_1
"Dunia tidak tau yang sebenarnya Nathan!"
"Tidak harus peduli karena yang akan menjalani kita!"
Tok tok tok..!
"Tuan!" Suara Fic.
Nathan langsung menoleh.
"Masuk!"
Fic membuka pintu, Ken juga sudah ada dibelakang Fic. Ikut melangkah masuk bersama Fic.
"Makanannya Tuan!" ucap Fic, meletakkannya di atas meja kemudian langsung pergi.
"Ken." Nathan kini beranjak disisi ranjang, menatap Ken.
"Pengacaraku sedang mengurus semuanya untuk Nona. Apa kita juga perlu menyeret Bajingan itu ke Penjara? Aku akan mengumpulkan bukti bukti kejahatannya yang lain." ucap Ken masih berdiri.
"Tunggu dulu. Biarkan kami makan dulu Ken, sebelum membahas Bajingan itu. Apa kau tidak melihat kami sudah pucat karena kehabisan Energi?"
Ken tergelak, kemudian mengangguk dan memilih untuk menunggu di sofa. Sementara Nathan segera beranjak mengambil makanan yang sudah fic siapkan. Nathan melahap makanan itu dengan cukup brutal. Mungkin dia kelaparan karena dari semalam perutnya tidak sempat terisi apapun.
Sambil menyuap Mira, satu suapan untuk Mira empat suapan untuk dirinya.
Melihat itu Mira hanya tersenyum kecil. Kemudian mengambil makanannya sendiri.
"Aku makan sendiri saja. Aku juga sangat lapar."
Nathan sempat tersipu karena menyadari jika dirinya sangat rakus.
Ken yang sempat melirik mereka itu tergelak.
"Bagaimana tidak kelaparan, kalian habis bertarung. Itu pasti sudah menyita seluruh tenaga kalian."
"Mulut mu Ken!" ucap Nathan melirik Mira yang langsung menunduk mendengar ucapan Ken.
"Mira malu, bodoh! Kau ini bicara tak pakai otak!" Nathan memaki sambil meneguk air minum.
"Haha.., Maafkan mulut ini yang tak ada otak. Maafkan Nona!" sahut Ken.
"Sudah jangan dengarkan Ken." Nathan kembali pada Mira yang hanya tersenyum kecil.
"Ken itu memang bringsik, tapi dia pintar. Semua ucapannya benar. Kita memang habis bertarung kan? Sayangnya sama sama kalah!" ucap Nathan pada Mira.
Mira hanya menggelengkan kepalanya menghadapi dua pria sinting yang malah melawak tanpa melihat dulu keadaan.
"Kau sudah selesai?"
Mira hanya mengangguk, meneguk air putih.
"Kalau begitu mari." Nathan segera mengajak Mira untuk menghampiri Ken yang terus tersenyum memandang mereka berdua.
"Kau sepertinya sangat bahagia dengan kecelakaan yang menimpa kami Ken!" ucap Nathan sambil duduk beserta Mira dihadapan Ken.
"Ya.. Ada sedih, ada bahagianya juga. Sedih karena kecelakaan yang seharusnya itu hal paling menyenangkan di dunia, malah menyedihkan bagi kalian. Dan bahagia karena kecelakaan itu membawa berkah!"
"Berkah kepalamu itu! Yang namanya kecelakaan dimana mana tidak ada yang membawa berkah!" sarkas Nathan.
"Kau salah Tuan Nath! Ini adalah keuntungan buat kita semua. Karena ini , Nona Mira sudah pasti tidak ragu lagi untuk berpisah dengan pria bangsatt itu. Sementara kau, punya banyak bukti untuk menghancurkannya. Dan aku, tentu saja akan sangat senang jika melihat Pria angkuh itu merangkak di kakimu. Itu akan segera terjadi!"
Nathan dan Mira sama sama melempar pandangan.
"Sudahlah, jangan bersedih lagi memikirkan yang sudah terjadi. Kecelakaan yang menimpa kalian, anggap saja kecelakaan yang membawa berkah!"
__ADS_1
____________