Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Spesial Episode [ Remuk!]


__ADS_3

Tidak tau jam berapa sekarang. Tidak ingat semalam terjaga sampai jam berapa. Mulai tidur juga jam berapa. Tidak ada jam yang bisa di lihat. Hp juga tidak ada yang di dekat mereka.


Hanya remangnya lampu tidur saja yang terlihat, menandakan jika pagi belum datang.


Rimbun menggeliat, merasakan sesuatu merayap di bagian tubuhnya. Rimbun menggeliat dan mengerjapkan matanya berkali kali. Antara sadar dan tidak. Tapi seperti nyata. Ingin membuka mata, namun kantuk begitu menguasai matanya.


Seperti sedang bermimpi tapi terasa nyata. Sentuhan demi sentuhan langsung di kulitnya membuatnya merinding. Namun seperti ingin merasakannya lagi dan lagi. Geli, tapi kok enak.


Rimbun memaksa untuk membuka matanya.


"Eh, tuan Ken. Kita sudah menikah ya. Aku lupa." kembali memejamkan matanya.


Walau matanya di kuasai kantuk yang sangat, tapi otaknya masih bisa bekerja dibawah alam sadarnya. Rasa geli di dadanya perlahan berubah, menjadi rasa yang gimana gitu. Rimbun Menggeliat, lalu terdengar mengeluh. Lagi, kemudian lagi dan lagi. Rasa itu semakin terasa saja. Nafas Rimbun mulai tersengal untuk menahan aliran rasa aneh itu.


Kini sekuatnya membuka mata untuk memastikan.


"Tuan Ken." sekarang Rimbun bisa melihat dengan benar. Kepala Ken berasa di atas dadanya.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Kau terbangun?" Ken mendongak.


"Maaf ya. Tadi kau menyenggol ku. Aku kaget dan terbangun. Saat melihat kau tertidur pulas, aku mengamatimu. Kau sangat manis. Aku jadi tidak bisa menahan diri untuk mencium mu. Eh, aku malah kelabasan. Maaf ya. Kau jadi terbangun." bukannya berhenti, Ken malah melanjutkan lagi, kini kepalanya sudah berada di perut Rimbun.


Pikiran Rimbun kembali Bleng. Pandangannya langsung tertuju pada baju tidurnya yang sudah merosot sampai ke bawah.


Dan bibir yang baru saja di perutnya itu, kini sudah merambat tanpa batasan ke arah bagian sensitifnya.


"Ah Tuan. Tunggu dulu."


Ken mendongak kembali. Tersenyum manis. Tangannya masih merambat.


Rimbun cepat menarik selimut menutupi tubuh polosnya saat Ken menarik habis bajunya yang sudah sampai lutut itu. Ken tergelak kecil, dengan tangan yang terus menari nari di bawah selimut.


"Apa yang kau pegang??" memukul tangan Ken yang sudah membelai bagian sensitifnya.


"Milikku. Memang ini milik siapa?" menarik Tangannya.


"Eh, iya. Milikmu ya." wajah Rimbun sungguh sangat memerah.


"Maafkan aku sudah membuatmu bangun." Menusuk pipi Rimbun dengan jarinya. Lalu menaikan sedikit tubuhnya. Menciumi pipi, bibir dan telinga Rimbun. Kemudian menyusuri leher.


Rimbun masih membeku. Semuanya berlangsung begitu cepat tanpa bisa di cegah lagi. Ken menarik selimut dan membuangnya jauh ke lantai. Kemudiannya mendekap erat tubuh Rimbun.


"Tadi sebenarnya aku sudah tertidur. Tapi aku terbangun karena kaget sudah menyenggol mu. Aku jadi tidak ngantuk lagi. Lalu aku menciumi mu. Maaf ya."


Ciumannya sudah merambat ke bahu dan menjalar ke dada kembali. Tidak memberi kesempatan untuk Rimbun bergeser sedikit pun.


"Kau malah terbangun. Aku jadi mau lagi kan?" tertawa bahagia. Tanpa malu, tanpa canggung sedikit pun.


"Harusnya kau itu malu. Bukan mau lagi." Rimbun yang tadi belum bisa berkata apa apa kini mendorong wajah Ken.


"Kenapa mesti malu. Kan ini sudah milikku. Kalau kau tidak mau, tidak apa apa. Cukup diam dan nikmati saja. Aku yang akan bergerak, aku yang akan berusaha sendiri. Dan tidak akan menyusahkan mu."


"Mana ada. Kau pikir aku patung?"

__ADS_1


Ken kembali mendongak. "Kalau begitu, balas." Ken menyumpal bibir Rimbun dengan kasar sekarang.


Nafasnya sudah tak beraturan. Dadanya sampai terlihat naik turun. Lidahnya menyeruak tanpa dapat dicegah lagi. Membelit dan terus membelit. Rimbun hanya bisa pasrah, kemudian dengan pelan mulai membalasnya. Semakin membuat gelora di tubuh Ken meledak ledak. Tangannya semakin liar meremas apa saja yang ia sentuh di tubuh Rimbun. Sampai lama Ken bermain di wajah, leher dan dada Rimbun.


Ken kembali mendekap mulut Rimbun dengan bibirnya, dengan tubuh yang tertumpu dengan kedua lutut. Gerakan bibir keduanya kembali menyatu seakan ingin mendominasi satu sama lain. Ken menjatuhkan tubuhnya dengan mengambil jeda. Sungguh seperti sudah pro saja.


Sementara Rimbun sudah mulai bisa untuk membalas.


"Kau mulai pintar rupanya." suara Ken, sempat berbisik.


'Astaga.' Sumpah, Rimbun sangat malu mendengarnya. Ingat saat pertama dia menghadiahi tamparan bertubi tubi pada wajah Ken hingga meninggalkan bekas merah di pipi Ken karena sudah menciumnya.


Kini mulut Ken mulai turun kembali, hingga sampai ke tujuan akhir.


"Ah..." desahann dari mulut Rimbun tidak bisa ditahan lagi. Ketika kepala Ken sudah timbul tenggelam diantara pahanya.


Rimbun meremas rambut Ken. Pikirannya sudah melayang, terbang ke awang awang.


Rasa nikmat tiada tara, kini mengalir ke seluruh nadinya.


"Tuan." Rimbun mengangkat pinggulnya.


Ken tersenyum, mengusap cairan Rimbun dengan mulutnya. Kini sudah memposisikan diri diantara paha Rimbun.


"Aku tidak bisa menahannya lagi sayang. Maaf ya." suaranya sangat berat. Dengan nafas ngos ngos dan,


Eluhan keduanya kembali mengisi ruangan itu.


"Ken.. Ah... Ken..!" hanya bisa meremas rambut Ken, kemudian lengannya dan terakhir mengigit bahu Ken.


Mereka melakukan lagi dan lagi.


Ken menandai semua inci tubuh Rimbun tanpa celah sekarang.


Nafas mereka tak beraturan di malam yang hampir habis itu. Tetesan peluh sudah menyatu. Entah milik siapa itu. Ken sempat menyekanya , dari tubuh Rimbun dan dari tubuhnya sendiri memakai bajunya yang tergeletak dengan sembarangan.


"Aku mencintaimu sayang...!" suara pria itu begitu lembut.


"Aku juga Ken." balas sang wanita.


"Aku sangat mencintaimu Jelek." suara itu masih saja terdengar.


Kini mereka sudah saling memeluk di bawah selimut yang di raih oleh Ken dengan kakinya. Tanpa jarak lagi.


Ken berkali kali menciumi kepala Rimbun. Yang dicium sudah terlelap entah sampai mana. Tapi Ken tetap membisikkan kata cinta.


Betapa bahagianya hati Ken. Menikahi Rimbun, gadis yang sudah membawa banyak sekali perubahan dalam hidupnya. Warna begitu indah di setiap tarikan nafasnya.


***


Setelah pertempuran malam panjang yang panas dan membara itu, akhinya pagi datang juga.


Sinar Mentari menerobos melewati celah kaca jendela. Angin semilir menyibak sedikit tirai. Terlihat awan putih berarak menandakan jika malam sudah terlewati.


Ken masuk ke dalam kamar itu. Membawa nampan sarapan, ada Jus, buah segar, telor dan sayuran. Semua makanan yang sudah disiapkan khusus oleh pelayan spesial.

__ADS_1


Matanya langsung tertuju pada Rimbun yang menggeliat di atas ranjang. Sudah memakai baju, Rambutnya terlihat masih basah. Rupanya Rimbun sudah bangun dan sudah mandi.


'Senangnya, melihat wanita ada di ranjang ku sekarang. Tidur bersama ku semalaman. Bukan tidur, tapi bergerak bersama.' Ken tersenyum.


Padahal hanya datang satu wanita saja dalam hidupnya, tapi rasanya dunianya langsung berubah seketika. Bahkan udara di sekelilingnya pun terasa begitu segar dan sejuk. Bahkan langit diluar pun tampak indah untuk dilihat.


Dulu, kamar ini tidak pernah ia singgahi. Tapi adanya Rimbun, kamar ini telah menjadi saksi, dia dan wanitanya menyatu.


Ken sedang menikmati perubahan besar dalam hidupnya.


"Kau sudah bangun?" menunduk untuk mencium kepala dan pipi Rimbun. Masih terasa begitu basah.


"Kenapa tidak mengeringkannya? Nanti kau bisa masuk angin." Ken meraih handuk. Menyeka wajah dan rambut Rimbun yang masih basah.


Rimbun hanya menggeleng, bahkan belum juga beranjak.


'Aku tidak punya tenaga lagi. Aku tidak kuat bergerak. Badanku remuk semua rasanya.'


Semua bagian tubuh Rimbun sepertinya kehilangan tenaga. Lemas.


Matanya sangat berat. Dia tidak tau, semalam tidur jam berapa. Yang dia ingat hanya tidur yang mungkin belum ada satu jam saja. Semua saraf ditubuhnya mengingatkan jika Rimbun sudah bekerja terlalu berat semalaman suntuk.


'Gila! Apa yang kami lakukan. Semalaman Suntuk!' Pekik Rimbun dalam hatinya.


"Aku membawa sarapan untukmu sayang." Ken menaruh nampan, mengusap kepala Rimbun.


"Sarapan dulu ya?"


Rimbun menepis tangan Ken.


"Aku belum mau bangun. Aku masih mengantuk berat. Tubuhku lemas sekali. Aku ingin tidur lagi. Aku ingin tidur lagi Ken?"


"Kenapa? Apa ada yang sakit?"


Bulu kudu Rimbun meremang seketika, saat tangan Ken menyusup ke punggungnya dan mengusap usap lembut disana. Terasa hangat dan nyaman.


"Maaf." Ken mulai memahami kondisi istrinya. Kenapa Rimbun masih di atas ranjang. Mandi saja tidak sempat mengeringkan rambutnya malah ambruk lagi di atas kasur.


"Sakit? Kamu pasti lemas. Capek ya?" Ken memijat betis Rimbun.


"Maafkan aku. Kau seperti ini karena ulahku. Aku tidak bisa menahan diri semalaman. Aku tidak bisa mengontrol tenagaku. Aku, aku terlalu bersemangat hingga lupa jika kau akan kelelahan seperti ini." memijat lengan Rimbun. Kemudian merebahkan kepalanya di bahu. Tangannya bergerak turun.


"Yang ini sakit ya?" tangannya sudah pindah ke area sensitif.


"Berhenti! Jangan menyentuhnya!" Rimbun langsung mencegah tangan Ken.


"Sakit?" kembali bertanya.


"Sudah diam! Jangan bertanya!"


"Sayang..." wajah memelas.


"Sakit ya?" kembali bertanya, kali ini penuh dengan kekhawatiran.


"Bukan hanya sakit! Tapi Remuk! Aku sampai kehabisan tenaga seperti ini. Aku sampai tergolek lemah begini. Remuk semua badanku!" menunjuk kening Ken.

__ADS_1


________________


__ADS_2