![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Nathan,
Pria itu duduk bersandar di sisi ranjang. Menarik selimut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya saja.
Mira, dia pun sama. Menarik selimut itu untuk seluruh tubuhnya, hanya menyisakan wajahnya saja. Juga duduk bersandar di sisi Nathan. Dengan wajah yang merah menahan malu. Malu karena kejadian barusan yang jelas sekali ia ingat. Kejadian yang murni terjadi karena keinginan berdua. Bukan kecelakaan atau paksaan.
Mira menunduk, membenarkan selimut. Lalu memberanikan diri untuk menoleh.
"Nath. Kita.. Apa yang sudah kita lakukan?" kembali menunduk.
Nathan langsung menarik tubuh Mira, memeluk dengan sangat erat.
"Maafkan aku. Maaf! Aku.. Aku, ah.." Nathan tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Apa kau khilaf?"
"Ti, tidak Mira. Aku, aku tidak khilaf. Aku, aku sadar seratus persen. Tapi aku tidak bisa menahan diri. Maafkan aku." Nathan terus mengiba.
"Jangan marah, jangan marah ya? Aku, entah lah. Tiba tiba saja, aku tidak terkendali. Mungkin.. mungkin karena.._"
"Karena aku membalasnya?" Mira menatap Nathan.
"Tidak juga. Mungkin karena aku brengsek! Aku memang brengsekk Mira!"
"Kau boleh memukulku. Kau boleh menghukum ku. Tapi jangan pergi Mira. Ku mohon!" mata itu sudah penuh kekhawatiran.
"Mana bisa aku pergi, jika aku pergi artinya aku akan merugi. Kita sudah melakukan lagi. Kau harus bertanggung jawab!" sahut Mira.
"Iya, kau benar. Kau memang tidak bisa pergi karena aku harus bertanggung jawab. Kita memang harus menikah." ucap Nathan.
Keduanya terdiam.
"Mira." Nathan memutar wajah Mira untuk menatapnya.
"Kau menyukainya kan?" tanya Nathan.
"Yang tadi?" kembali bertanya.
Mira tidak menjawab, wajahnya malah semakin memerah.
"Wajahmu memerah. Artinya kau menyukainya bukan?"
"Kau suka?"
"Diam!"
"Ahh.. Mira suka! Tenyata Mira menyukainya. Kalau begitu aku ingin mengulanginya untuk memastikannya."
"Nathan! Kau ya?" pekik Mira.
"Kenapa? Kita akan reka ulang yang tadi." Nathan menarik tubuh Mira hingga merongsot ke bawah tubuhnya.
"Astaga.. Nath! Kau tidak malu! Lihat dirimu!" mendorong tubuh Nathan ke sisi.
Nathan melirik, melihat tubuh polosnya. Kemudian terkekeh.
__ADS_1
"Percuma malu. Kau sudah berkali kali melihatnya. Ini semua milikmu. Jadi tidak perlu malu lagi." Kembali menyergap Mira.
"Cukup Nath! Cepat ke kamar mandi!" pekik Mira kembali.
Nathan hanya tersenyum tipis sambil menggaruk tengkuknya. Kemudian menurut, berjalan malas ke kamar mandi.
"Ya Tuhan! Kenapa aku jadi seperti ini?" Mira meraup wajahnya dengan kedua tangannya.
Menyesal?
Ya, Mira memang menyesal. Tapi bukan karena ini.
Tidak. Mira tidak merasa menyesal sedikit pun dengan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Nathan.
Yang ia sesalkan adalah kondisi keadaannya saat pertemuannya dengan Nathan saat ini.
"Kenapa aku harus istri Ricard? Kenapa status ku dengan Nathan harus berselingkuh? Kenapa bukan Nathan saja dulu yang dipertemukan denganku?" Mira menangis sesenggukan.
"Mira. Kau menangis?" Nathan yang baru keluar dari kamar mandi buru buru menghampiri.
"Ya Tuhan. Kau menangis? Mira, Aku kan sudah meminta maaf. Kau tidak memaafkan aku?" kini pria itu berlutut di lantai, menaruh kepalanya di pangkuan Mira.
"Aku sudah meminta maaf. Maafkan aku. Ah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Jika aku mengulanginya, kau boleh membunuhku. Aku, ah baiklah. Aku tidak akan tinggal di kamar ini lagi. Maafkan aku, berhentilah menangis." Nathan panik, terus merengek.
Mira cepat merengkuh pundak Nathan dan membangunkannya.
"Nath, aku tidak marah padamu. Aku hanya sedih memikirkan keadaan kita ini. Maaf, jika aku terlalu cengeng."
"Kau memikirkan apa lagi Mira? Memikirkan jika kau istri orang? Jika status kita hanya berselingkuh?" Nathan sudah beralih disisi Mira kembali.
Mira hanya mengangguk menjawab pertanyaan Nathan.
"Kau benar Nath. Maafkan aku."
"Baiklah, ini masih larut. Tidurlah kembali." Nathan menata bantal.
Mira kemudian berbaring dan memilih tidur dengan dengan membelakangi Nathan.
Nathan melirik wajah wanita itu, wajah yang saat ini sudah tertidur. Tersirat rasa sedih yang banyak di hati Nathan. Mengingat nasib malang Mira dan perlakuannya pada wanita itu.
"Maafkan aku. Yang tadi, Aku sebenarnya tidaklah khilaf. Yang tadi, karena aku memang menginginkannya. Maafkan aku Mira. Semua itu karena aku mencintaimu. Aku mencintaimu." bisik Nathan mencium kepala Mira dengan cukup lama, kemudian ikut terlelap.
**
Pagi,
Nathan sudah berada di ruang tengah bersama Ken.
"Aku sungguh tidak tega melihat Mira. Dia terlihat sangat tertekan dengan status kami sekarang. Dia selalu mengatakan jika kami ini berselingkuh. Terlebih kejadian semalam Ken. Aku benar benar bodoh dan tidak berguna." ucap Nathan mengutarakan kegelisahannya.
"Jika anda mau, aku bisa menekan Ricard untuk menandatangani surat cerai mereka. Dengan begitu, proses sidang tidak diperlukan lagi. Kalian bisa cepat menikah, dan Nona tidak akan merasa tertekan lagi." ucap Ken setelah Nathan menceritakan apa yang terjadi semalam.
Nathan hanya bisa meremas rambutnya,melirik Ken yang bicara dengan nada cukup serius.
"Apa menurutmu, Ricard akan bersedia? Dia terlalu menaruh dendam padaku dan Mira."
__ADS_1
"Kita bisa mengancamnya dengan semua bukti kejahatannya yang ada. Ku rasa, Ricard lebih memilih tandatangan dari pada harus mendekam di penjara." sahut Ken.
"Kau benar Ken."
Pembicaraan serius mereka terhenti ketika Mira keluar dari kamar dan mendekati mereka.
"Mira!" Nathan langsung menatap Mira.
"Nath, apa kalian akan pergi ke kantor?"
"Jika Nona tidak mau ditinggal, kami tidak akan pergi. Bagaimana?" Ken yang menjawab pertanyaan Mira.
"Bukan begitu Ken. Jika kalian akan pergi, aku ingin menyiapkan sarapan untuk kalian."
Nathan mengangguk saja. "Siapkan saja jika kau ingin Mira. Kami akan sarapan bersamamu di rumah."
"Ah iya. Tunggu sebentar ya?" Mira memutar tubuhnya dan melangkah.
Tapi baru beberapa langkah, Mira berhenti. Memegangi pelipisnya dan tubuhnya hampir saja rubuh. Beruntung Nathan yang melihat itu langsung berdiri dan berlari untuk menahan tubuh Mira.
"Mira, hati hati. Kau kenapa?" Nathan sudah merengkuh tubuh Mira.
"Kepala ku mendadak pusing sekali." ucapan terakhir Mira yang akhirnya melemas pingsan di pelukan Nathan.
"Mira..! Mira.. Kau kenapa?" jerit Nathan ketika menyadari Mira sudah pingsan.
"Ken. Mira kenapa ini?"
Seketika Ken pun bangkit dan menghampiri.
"Tuan, kenapa Nona?"
"Tidak tau. Mira.. Mira.. bangun lah. Apa yang terjadi padamu? Ken, bagaimana ini?" Nathan sudah panik.
"Kita bawa ke rumah sakit Tuan." Ken cepat menjawab.
Tanpa menjawab, Nathan langsung menggendong tubuh Mira.
Berdua cepat berlari ke mobil.
Setelah sampai di mobil, Ken terburu membuka pintu belakang untuk Nathan dan Mira. Ken sendiri segera mengemudi mobilnya.
"Cepat Ken!" ucap Nathan dengan nada panik.
"Iya Tuan." Ken menginjak pedal gas dengan kencang.
Nathan yang memangku kepala Mira itu terus mengusap wajah Mira.
"Mira. Bangun sayang. Kau kenapa tiba tiba seperti ini? Bangun Mira. Jangan membuatku takut." Nathan terus mengusap wajah Mira.
"Ken, apa Mira seperti ini karena kelakuanku semalam? Ya Tuhan. Kenapa aku bodoh sekali??" ratap Nathan.
"Mana mungkin Tuan. Kalau hanya seperti itu tidak mungkin akan membuat Nona pingsan. Mungkin ada sesuatu lain yang menyebabkan Nona pingsan." sahut Ken, terus mengemudi dengan cepat.
"Apa Ken? Kau jangan membuatku khawatir!"
__ADS_1
Bayangan Nathan sudah buruk saja.
_____________