Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Saya Suami Mira.


__ADS_3

Keempat orang di dalam rumah sederhana itu kini sudah di sofa, dengan saling memandang hangat.


Mira duduk diantara Nathan dan Ayahnya. Sementara Ken, duduk di hadapan mereka terhalang meja.


"Mira, Ayah mertua. Ah, maksudnya calon Ayah mertua." terdengar Nathan mulai berbicara dengan sedikit gugup.


"Sekarang kan status Mira sudah resmi bercerai dari Ricard. Jadi, saat ini juga didepan Ayah Mira langsung, aku.. Aku ingin meminta restu untuk menikahi Mira. Apa boleh Ayah mertua?"


Ken ingin tertawa mendengar ucapan Nathan yang cukup menggelikan baginya.


'Apa boleh? Kalau dijawab tidak, mampus lu!' hati Ken terkekeh kekeh.


"Orang melamar mah, harusnya. Bolehkah saya menikahi putri anda Pak?" sela Ken yang membuat Nathan melotot.


"Bringsik kamu itu Ken. Jika orang tua sedang berunding, diam lah dulu!" bentak Nathan.


"Oh, baiklah para orang tua. Silahkan dilanjut." sahut Ken masih terkikik.


Nathan menarik nafas, kembali menoleh pada Ayah Mira.


"Bagaimana Ayah?"


"Ah, iya Nak Nathan. Ayah memang harus merestui kalian. Kau memang harus menikahi Mira secepatnya karena ada bayimu diperut Mira." jawab Pria tua itu.


"Benar Ayah, benar sekali."


"Tapi, kalau bisa kalian menikah di kota saja." ucap Ayah Mira.


"Bukan Ayah tidak mau kalian menikah disini. Tapi orang orang kampung sini sudah terlanjur mendengar jika Mira sudah menikah dengan orang kota. Meskipun mereka belum tau siapa dan seperti apa suami Mira. Karena pada saat itu, Mira dinikahi di rumah sakit. Dan selesai akad, Mira langsung dibawa ke kota oleh Ricard." jelas Ayah Mira.


"Oh, tidak masalah. Justru itu malah bagus. Kami akan pulang dan segera menyiapkan segala sesuatunya. Setelah semua siap, Ayah akan kami jemput untuk menjadi wali Mira. Bagaimana?" tanya Nathan.


"Oh, artinya kalian akan membawa Mira pulang?" tanya Ayah Mira sedikit khawatir.


"Tentu saja Ayah. Aku mana bisa meninggalkan Mira disini dalam keadaan Mira sedang mengandung bayiku. Tapi jika Ayah keberatan tidak masalah. Kami akan pulang, dan Mira tetap disini sampai semuanya siap." sahut Nathan.


Ayah Mira terlihat berpikiran sejenak.


"Memang ada baiknya Mira ikut saja. Disini tidak ada yang bisa menjaganya, tau sendiri kalian. Ayah sudah Tua. Jangankan mau menjaga Mira, menjaga diri sendiri saja kadang kepayahan."


"Iya Ayah. Tapi bagaimana kalau, Ayah ikut kami saja langsung. Kami juga ingin Ayah tinggal bersama kami. Ah, kami ini, aku dan Ken sama sama sudah tidak punya orang tua. Jika ada Ayah, kami pasti makin senang." ujar Nathan.


"Kapan kapan saja Nak Nathan, Ayah masih belum siap untuk tinggal di kota. Tidak apa apa kan?"


Nathan hanya mengangguk, ia paham jika Ayah Mira belum siap tinggal bersama mereka.


Lalu Nathan beralih menoleh pada Ken.


"Ken, ini kita bagaimana? Apa harus pulang sekarang?" Nathan meminta pendapat.


Sementara Ken, malah menoleh pada Ayah Mira.


"Menurut Ayah mertua bagaimana?"


Ayah Mira pun kembali berpikir, jika mengijinkan mereka pulang sekarang, ini sudah hampir malam. Jarak yang mereka tempuh untuk kembali ke kota cukup jauh. Mereka akan kemalaman di jalan. Apalagi memikirkan kondisi Mira yang tengah berbadan dua.


Akhirnya Ayah Mira memutuskan untuk menyuruh mereka menginap saja.

__ADS_1


"Menginap saja disini Nak. Kasian Mira jika harus pulang sekarang. Kalian bisa pulang subuh subuh jika memburu pekerjaan disana yang tidak bisa kalian di tinggalkan." ucap Ayah Mira.


Nathan dan Ken langsung saling melempar pandangan.


"Menginap?" keduanya serempak.


"Apa tidak jadi masalah nantinya Ayah Mertua? Kami ini kan..?" Nathan tidak melanjutkan ucapannya.


"Ah, Ayah tau yang kalian ragukan. Tidak usah khawatir. Ayah akan melapor pada pak RT tentang kedatangan kalian. Tidak perlu bicara apa apa. Bilang saja kalau, Mira dan suaminya datang mengunjungi Ayah. Bereskan?"


Seketika dua pria itu mengerti maksud dari Ayah Mira. Jika kehadiran mereka tidak akan menjadi masalah warga kampung setempat. Karena mereka sudah tau dari dulu jika Mira memang dinikahi orang dari kota dan belum pernah datang menjenguk Ayahnya semenjak menikah. Ada baiknya juga para warga tidak ada yang pernah melihat atau mengenali siapa Suami Mira yang sebenarnya.


Maksud Ayah Mira akan mengatakan jika Nathan adalah suami Mira. Dengan begitu, tidak akan banyak pertanyaan dari siapapun.


"Ayah mertua rupanya sangat bijak ya? Tenang saja, setelah ini , selagi Ayah mertua masih tinggal disini kami pasti akan sering berkunjung kemari. Bukan begitu Nona?" kini Ken menyela. Mira hanya tersenyum, tapi senyumnya begitu terlihat bahagia begitu juga dengan Ayah Mira yang ikut tersenyum bahagia.


"Kalau begitu Ken, kau katakan pada Fic, agar mereka pulang saja. Kau tinggal disini menemani kami." ucap Nathan.


"Ah, baiklah." sahut Ken merogoh Hpnya.


Sementara Ayah Mira yang mendengar itu sedikit bingung lalu bertanya.


"Siapa lagi Fic?"


"Fic itu, kepala pelayan di rumah Nathan Ayah. Dia yang mengantar Mira pulang tadi bersama beberapa pengawal. Mereka Mira suruh menunggu didepan." Mira yang menjawab.


"Astaga.. Jadi kau pulang kemari dengan di kawal?" tanya Ayah Mira merasa seperti tersanjung dengan keadaan anaknya sekarang. Pulang ke kampungnya sendiri saja pakai dikawal segala.


"Ayah, begitu calon menantu mu ini, dia akan selalu melindungi Mira." jawab Mira menyanjung Nathan dihadapan Ayahnya.


"Akan kulakukan apapun demi Putrimu ini Ayah. Percayalah." sahut Nathan.


"Terimakasih ya Tuhan. Engkau sudah mengganti penderitaan Anakku Mira dengan kebahagiaan. Semoga mereka bahagia untuk kedepannya!" ucap puji syukur Ayah Mira yang langsung disambut ucapan Amin oleh mereka bertiga.


"Ah Ken, jangan lupa katakan pada Fic untuk mereka menghabiskan makanan yang sudah ku masak di rumah. Sayang kan..Tidak mungkin kita akan memakannya jika kita menginap disini." ucap Mira.


"Iya Nona. Tidak perlu bersedih, kau bisa memasak lagi dilain waktu." sahut Ken.


"Bagaimana tidak sedih, aku memasak begitu banyak untuk menyambut kedatangan kalian. Tapi malah begini." keluh Mira.


"Sudah Mira. Benar kata Ken. Kau bisa memasak lain waktu." Nathan merengkuh pundak Mira yang hanya tersenyum.


Ayah Mira tentu melihat itu dengan hati yang senang. Hingga hatinya bisa begitu yakin, jika Pria yang duduk di samping Anaknya itu adalah pria yang baik dan penuh tanggung jawab. Tidak seperti Bekas menantu laknatnya itu yang terus ia umpat didalam hati.


Kemudian Ayah Mira pun pergi ke rumah Pak RT sesuai dengan rencananya. Sementara Ken, segera menghubungi Fic untuk menyuruh Fic dan anak buahnya untuk pulang. Tak lupa menyuruh mereka untuk menghabiskan saja makanan yang sudah dimasak oleh Mira tadi pagi.


Mira kali ini menatap Nathan, meraih tangan Nathan.


"Nath! Badanmu pasti sakit semua karena pukulan tongkat Ayah tadi. Aku bisa mengompresnya agar mengurangi rasa nyerinya ya?"


"Tidak perlu Mira, itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang akan aku rasakan jika harus kehilangan dirimu." jawab Nathan, merengkuh wajah Mira dan mencium keningnya dengan cukup lama.


Ken melirik mereka, menghela nafas, namun tidak juga memalingkan pandangannya.


"Kalian ini, lihat kemari. Ada aku!" protes Ken membuat Nathan terbahak.


"Haha, Ken iri rupanya. Aku sudah punya calon istri dan calon mertua. Sedangkan dia.. Boro boro calon istri dan calon mertua. Pacar saja, digantung semua." sahut Nathan.

__ADS_1


"Tidak juga. Namanya belum rejeki. Saat aku mendapatkan Cinta Sejatiku nanti, urusannya tidak akan serumit kalian. Langsung gas pol kepelaminan." sahut Ken tak mau kalah.


"Haha.. Belum juga duduk, pelaminan mu sudah Roboh duluan karena di terpa badai amukan dari mantan mantan mu yang kau terlantarkan." Nathan terus mengejek Ken.


Setelah mengobrol ringan sampai cukup larut, mereka akhirnya memilih untuk istirahat. Mira tidur dikamarnya yang dulu ia tempati sebelum pergi. Sementara Ken dan Nathan hanya tergeletak begitu saja di sofa.


Menjelang Subuh, mereka sudah bersiap untuk pulang.


Ayah Mira tidak ketinggalan untuk mengantar mereka sampai ke depan mobil mereka.


Beberapa tetangga pria mereka yang hendak ke Masjid rupanya melihat mereka dan menghampiri karena penasaran.


"Mira! Ini suamimu?" tanya salah satu dari mereka.


"Ah iya Pak, Saya suami Mira." buru buru Nathan menjawab pertanyaan orang tersebut.


"Masya Allah.. bukan hanya tampan tapi suami Mira ini baik hati dan bertanggung jawab sekali. " seorang yang lain ikut berbicara.


"Iya. Ayah mertua mu sering bercerita tentang menantunya. Siapa namamu ya?"


"Nathan, Nathan Pak Wisnu." Ayah Mira yang menjawab.


"Oh, Nathan. Salam kenal ya? Sering seringlah menjenguk Ayah kalian ini. Dia sungguh bahagia kelihatannya mempunyai menantu seperti mu. Bisa melepas putrinya dengan tenang di kota." ucap pak Wisnu itu.


"Tentu Pak, tentu kami akan sering kemari. Sebenarnya malah ingin membawanya ikut kami. Tapi Ayah sendiri yang belum siap meninggalkan kampungnya." sahut Nathan.


"Oh, ya. Kalian sudah mau pulang ini?"


"Iya Pak. Pekerjaan disana tidak bisa di tinggal." kembali Nathan menjawab.


"O, begitu. Baiklah. Hati hati di jalan ya? Kami pergi ke Masjid dulu." ucap Pak Wisnu itu kemudian bergegas pergi bersama yang lain.


Setelah cukup berpamitan dengan baik dan Mira sudah puas memeluk Ayahnya, mereka pun akhirnya melaju di jalanan yang masih sangat sepi itu.


Ken mengemudi, sementara di jok belakang Nathan duduk dengan merengkuh Mira. Memberi kehangatan dari cuaca yang mungkin saja dingin karena masih sedikit berembun.


Ken terdengar tertawa.


"Apa yang kau tertawakan ,Ken?" tanya Nathan.


"Bagaimana aku tidak tertawa. Pucuk dicinta Ulam pun tiba. Ricard yang menikahi Nona,


kau yang dianggap suami oleh seluruh warga kampung ini." jawab Ken.


Nathan pun ikut tertawa.


"Kau benar, sungguh keberuntungan. Mereka tidak akan pernah ada yang tau,jika Mira sudah bercerai dari Ricard. Dan kedepannya, mereka tetap menyangka jika Aku lah, suami Mira yang pertama dan seterusnya." ucap Nathan sambil terus mendekap tubuh Mira dan menciumi kepalanya.


"Kau harus bersyukur sayang. Pernikahan mu dulu dengan Ricard tidak ada yang mengetahui. Jadi tak satupun para tetanggamu tau ceritamu yang sebenarnya. Ayahmu makin akan tenang disana."


Mira hanya mengangguk mendengar ucapan Nathan. Walau dihatinya tersimpan begitu besar rasa bahagia dan bersyukur dengan seluruh kenyataan yang ada.


"Tidurlah kembali. Aku akan membangunkanmu setelah kita tiba di rumah." ucap Nathan kembali, mengusap mata Mira agar terpejam.


___________


[ Mohon maaf, Author kesiangan!]

__ADS_1


__ADS_2