![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
"Diam Jelek! Nanti kamu jatuh baru tau rasa!" bentak Ken pada Rimbun yang masih di bahunya.
Ken membuka pintu dan melangkah masuk. Menaruh pelan Tubuh Rimbun diatas ranjang besar yang mewah.
Menatap wajah Rimbun yang tak berhenti bersungut-sungut itu.
'Ah, manisnya!'
"Hm, kau ini. Sakit tidak sakit sama saja. Brangasan!" umpat Ken.
"Kau membuatku kesal Tuan! Sudah tau aku sedang sakit, main paksa saja." ketus Rimbun membuang mukanya.
"Em , jika tidak dipaksa mana kau mau menurut. Kau suka sekali dengan kekerasan rupanya."
Rimbun menoleh. "Anda terlalu keras!"
"Hah, keras? Apanya? Kau sudah menyentuh milik ku Rimbun? Ya Ampun!"
Seketika Rimbun melotot.
"Kau gila! Apa memangnya yang ku sentuh? Kau pikir, apa yang kubilang keras hah!" Pikiran Rimbun langsung traveling.
"Haha... Aku tau maksudmu! Tapi tidak apa, kau boleh menyentuhnya. Aku ikhlas. Seratus persen."
"Kau Gila. Kau Gila! Pergi.. Pergi!" Rimbun menendang nendang Ken yang tertawa terbahak.
"Kau yang otak mesum tuan Ken. Aku bilang kau orangnya terlalu keras. Kenapa jadi sampai pada milikmu segala?" Rimbun menuding. Namun Ken segera menangkap tangan itu.
"Kan aku bilang, milikku keras. Milik ku yang mana dulu? Kepala ku keras nih! Tulang ku juga keras! Dimananya yang mesum? Otakmu yang mesum Jelek! Langsung kebayang milik ku yang lain. Huh!" Ken melempar tangan Rimbun.
"Menyebalkan, menyebalkan!!" pekik Rimbun.
"Irit tenaga mu Jelek! Tidak ingat kata Dokter? Istirahat Total jika mau cepat sembuh. Artinya, total. Berteriak, menjerit dan marah marah juga di pending dulu." Ucap Ken kali ini dengan nada yang cukup lembut.
Rimbun hanya mendelik saja.
Lalu terdiam untuk beberapa saat. Tapi matanya terus berputar meneliti setiap inci ruangan itu.
"Ini kamar Tuan?" tanya Rimbun tanpa menoleh pada Ken, masih fokus dengan decak kagumnya pada ruangan besar dan mewah ini.
"Bukan." Jawab Ken, membuat Rimbun seketika menoleh padanya.
"Hah! Lalu kamar siapa? Katanya Villa ini milik Tuan Ken?"
"Memang milikku. Kamar ini adalah kamar utama. Tapi belum bisa dikatakan kamar ku, karena aku belum pernah menginap disini." jawab Ken.
"Kenapa begitu?"
"Untuk apa menginap disini jika sendirian." jawab Ken.
"Lalu, mempunyai Villa ini untuk apa? Rimbun kembali bertanya.
"Untuk istriku kelak!" jawab Ken.
"Aku sengaja menyiapkan Villa ini untuk bulan maduku dengan Istriku. Sayangnya aku malah membawamu kemari. Tercemar sudah calon kamar pengantin baruku ini." ucap Ken.
"Siapa suruh membawaku kemari!"
"Hatiku. Hatiku yang memintaku untuk membawamu kemari."
Rimbun makin melotot saja.
"Ah, sudah ,sudah! Beristirahat lah Rimbun. Aku hanya ingin membantumu dan itu ikhlas. Percayalah." Kini Ken menatap lembut pada Rimbun, tangannya pun menyentuh lembut rambut gadis itu.
Baru beberapa detik, baru saja kehangatan hampir tercipta,
Terdengar suara pintu di ketuk, seorang pria masuk setelah Ken mempersilahkannya.
Pria itu membawa semangkok bubur, dan menaruhnya di atas meja. Segera pergi lagi setelah memohon diri pada Ken.
"Kau makan dulu ya?" ucap Ken, dengan mangkok bubur sudah di tangannya.
Rimbun menggeleng. "Mulutnya itu pait Tuan."
"Tipes memang begitu, tapi kau harus makan. Sedikit saja untuk meminum obat." Rayu Ken, menyodorkan sendok ke depan mulut Rimbun.
__ADS_1
"Pait Tuan, sungguh. Aku tidak bisa menelan apapun dari semalam. Seperti mau muntah rasanya."
"Makannya sambil melihat wajahku yang tampan ini. Pasti terasa manis." Ucap Ken.
"Yang benar?"
"Coba saja buktikan sendiri." sahut Ken.
Rimbun tersenyum tipis, kemudian menurut untuk membuka mulutnya. Suapan pertama Ken berhasil masuk.
Rimbun menguyah sambil memandang Ken.
"Enak kan?"
"Mana ada. Tetap pait Tuan. Tidak manis." jawab Rimbun, menelan dengan paksa.
"Ck, kau ini. Memandangnya pakai perasaan donk. Pasti buburnya jadi enak."
"Coba sekali lagi." Ken kembali menyuap.
"Masih pait Tuan., tidak manis, tidak enak.Ah.."
Ken mendengus. "Telan telan saja lah. Tak perlu dikunyah. Ayo!" kembali menyuap.
Akhirnya Rimbun menelan beberapa bubur itu. Kemudian meminum obat.
"Istirahat lah, agar demam mu cepat turun." Ken menarik selimut.
Rimbun kini tersenyum hangat, sebersit rasa syukur dihari Rimbun, sudah ditemukan pria sebaik Ken.
Kemudian Ken menyisih untuk menghubungi Nathan.
Saat panggilan terangkat, Ken menceritakan apa yang terjadi kepada Nathan. Tentu saja Nathan bisa mengerti.
[Tak masalah Ken. Kau tak perlu memikirkan banyak hal dulu. Perusahaan, kita bisa sama sama memikirkannya. Jika masalah persiapan pernikahan ku, bukankah sudah siap sejak awal. Hanya menunggu Mira pulih, setelah itu tinggal menentukan harinya saja.]
[Ah iya Tuan. Terimakasih atas pengertian mu.]
[Baiklah, urus dulu percintaan mu, Semoga Sukses.]
"Tuan Nath marah ya?" tanya Rimbun.
Ken mendekat, duduk di sampingnya kembali. Kali ini tangan Ken meraba jemari Rimbun dan memegangnya erat.
"Mana mungkin. Tuan Nathan itu adalah Bos paling pengertian. Kau tidak perlu cemas. Cepat sembuh dan cepat bisa kembali membantuku di kantor."
Kini keduanya menatap hangat dan saling tersenyum.
"Terimakasih Tuan Ken ya? Kau sudah baik sekali padaku."
"Sudah ku bilang. Aku ini baik. Kau saja yang belum mengenalku dengan benar." sahut Ken.
"Iya Tuan. Maafkan aku."
"Sekarang tidurlah. Kau perlu banyak istirahat. Maafkan aku, kau mungkin kelelahan karena terlalu sibuk membantuku." ucap Ken.
"Tidak juga. Penyakit ini memang sering kambuh kok."
"Kalau bisa, mulai sekarang jangan kambuh lagi. Asal kau mau menjaga pola hidup yang sehat dan bersih. Penyakit ini akan menjauh darimu. Jadi setelah kau sembuh, kau harus pindah dari kost kumuh itu. Aku akan mengajakmu mencari tempat yang lebih layak. Atau kalau kau mau, aku bisa tinggal disini sesuka hatimu. Bagaimana?"
Rimbun tersenyum. "Kalau aku tinggal disini bagaimana rencana mu selanjutnya? Bukankah Villa ini sengaja kau siapkan untuk istrimu kelak? Bisa bisa kau tidak jadi menikah karena aku sudah tinggal disini duluan."jawab Rimbun.
"Kalau begitu, tinggal kau yang menikah denganku. Dengan begitu, Villa ini akan menjadi hadiah untukmu. Mudahkan? Aku tidak payah payah mencari Calon istri lagi."
Rimbun tergelak. "Sudah ku bilang, aku tidak mau menikah denganmu!"
"Kenapa? Aku sudah jadi Pria baik lho. Apa kau sudah punya pacar?"
"Pacar! Haha.. Mana ada. Tidak ada yang mau dengan gadis jelek sepertiku ini Tuan."
Ken tersenyum, tangannya meraba pipi Rimbun.
"Kau benar. Kau jelek. Tidak akan ada yang mau denganmu." ucap Ken.
"Tapi aneh ya. Kok aku bisa suka padamu. Sudah Jelek, cerewet dan kurang ajar. Apa sih yang menarik?" Ken mendekatnya wajahnya, memperhatikan seluruh wajah Rimbun.
__ADS_1
Tentu Rimbun kesal, menuding kening Ken.
"Kau senang sekali menghinaku!"
Ken terkekeh, menangkap tangan Rimbun. Kemudian menciumi tangannya itu.
Seketika Rimbun terbelalak. Menarik tangan itu,namun Ken menahannya dan terus menciuminya. Kemudian meletakkan di dadanya. Dengan satu tangannya menahan lengan Rimbun yang sebelah.
Tubuhnya kembali condong untuk mendekatkan wajahnya.
"Karena kau Jelek, karena mulutmu ini cerewet. Dan kau satu satunya orang yang berani terus terusan menudingku, dan membentak bentak aku. Itu membuat ku jatuh cinta padamu, Rea."
Cup.!
Ken menyambar sekilas bibir Rimbun.
"Aku mencintaimu Rimbun Al'Rea Fiandi. Aku mencintaimu."
Rimbun ternganga, ingin mengusap bibirnya, namun kedua tangannya sudah di tahan oleh Ken.
Ken yang mengusap bibir itu.
"Kau harus percaya padaku. Kau harus percaya jika aku serius mencintaimu dan menyayangimu. Kau sudah memiliki seluruh hatiku. Jadi kau, tidak bisa menolak ku lagi. Setelah Tuan Nath dan Nona Mira menikah. Aku akan segera menikahi mu."
Kini Rimbun Bungkam, mulutnya seperti terkunci, hanya mampu menatap kedua bola mata Ken yang terus berputar menjelajahi wajahnya.
Rimbun hanya bisa menggeleng.
"Kau tidak boleh menolak ku Rimbun! Kau tidak punya pilihan kecuali menerimaku. Kau sudah tau apa alasanku mempunyai banyak pacar. Tidak ada satu pun yang ku perlakukan istimewa selain kau saja. Tidak ada satu pun yang pernah ku bawa dan ku sentuh. Kau yang pertama, kau cinta pertamaku." ucap Pria itu.
"Tapi aku ini.."
"Kau Jelek, Kau Miskin?"
"Haha.. Kau akan cantik jika bersamaku. Kau akan kaya jika menikah denganku. Jadi apa masalahnya? Kita sama sama tidak punya orang tua bukan? Jadi tak akan ada yang perlu kita mintai restu di dunia ini. Hanya perlu kita berdua saja."
"Tuan Ken!"
"Jika kau masih menolak ku, maka aku akan mengurung mu disini. Pilih mana. Menjadi kekasihku secara baik baik atau menjadi simpanan ku di Villa ini?"
"Kau Gila!" Rimbun menghentakkan tangannya.
Ken tergelak. "Aku tidak peduli. Aku mencintaimu!"
"Tapi aku tidak!"
"Terserah kau saja. Aku tidak perlu kau mencintaiku atau tidak!"
Plup!
Ken menerkam bibir Rimbun untuk beberapa saat lamanya. Gadis itu tak bisa berkutik kecuali hanya menghentakkan kakinya saja. Sampai Ken berhenti sendiri dan menempelkan kedua kening mereka, dengan kedua tangan memegang pipi Rimbun. Cukup lama dengan posisi itu.
Ken menarik wajahnya. Untuk menatap Rimbun yang menyeka bibirnya yang basah.
Wajah itu sangat tertekuk dengan bibir yang manyun. Namun tak ada suara sedikitpun terkecuali suara nafasnya yang terdengar keras sampai di telinga Ken.
Ken masih menatap wajah itu. Tersenyum, kemudian mencium panjang kening Rimbun.
"Tidurlah."
Rimbun tidak juga bersuara, cepat membalikan badannya, membelakangi Ken.
"I Love You Jelek!" bisik Ken.
"Diam!" Rimbun mendorong wajah Ken.
Ken terkikik, ikut naik keranjang.
"Geser Jelek. Aku juga ingin tidur siang." Cepat cepat Rimbun menggeser tubuhnya.
Ken menenggelamkan wajahnya di bantal, dengan posisi tengkurap di belakang punggung Rimbun.
Pria itu tersenyum di balik bantal. Hatinya diliputi kebahagian dan berbunga bunga. Tanpa peduli, apakah Rimbun merasakan Hal yang sama sepertinya.
______________
__ADS_1
[ Jangan lupa untuk like dan tinggalin komentar ya Kak! Dan Vote sebanyaknya untuk Ken! ]