![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Saat ini juga, Nathan dan Ken sudah melaju kembali.
Kali ini mereka menggunakan sopir untuk membawa mereka menuju rumah Ricard.
Mereka hanya pergi bertiga dengan sang sopir saja tanpa pengawalan dari anak buah Nathan.
Ken dan Nathan duduk di kursi belakang.
Ken melirik Nathan yang terlihat resah.
"Anda khawatir?"
"Ya. Memikirkan Mira!"
"Oh, kupikir khawatir memikirkan Ricard."
"Haha.. mana mungkin. Aku sedang memikirkan Mira. Pasti hatinya saat ini tak tenang. Jedag jedug memikirkan kita." sahut Nathan.
"Anda salah lagi. Lihatlah, tunggu sebentar." Ken merogoh Hpnya dan mengulik sebentar. Menekan panggilan video atas kontak Fic.
Sesaat panggilan terhubung dan Fic terlihat mengarahkan kameranya pada Sosok Mira yang tengah sibuk di dapur.
"Lihatlah, Nona sepertinya sangat bahagia tanpa adanya anda di rumah." Ken menunjukkannya pada Nathan.
Nathan memperhatikan itu, merebut Hp Ken. Dilihatnya Mira sedang asyik memasak tanpa sadar jika sedang direkam oleh Fic.
"Astaga...! Ini pasti kelakuan Fic yang sudah memprovokasi Mira untuk memasak. Kurang ajar Fic!"
"Haha.. Fic sudah kehabisan cara untuk menenangkan hati Nona. Lalu berinisiatif untuk mengajak Nona memasak. Nona hobi memasak, dan kau sering melarangnya. Nona pasti sedang senang saat ini." sahut Ken.
"Kau benar, lihat wajahnya. Begitu sumringah." ucap Nathan sembari tersenyum menatap layar hp milik Ken.
"Mira sangat manis ya Ken?" menoleh pada Ken yang mengangguk.
"Tentu saja. Bukan hanya manis, cantik dan baik. Anda pasti akan bahagia bersamanya."
"Ricard sungguh bodoh! Sudah membuang mutiara seindah dia." umpat Nathan.
"Lalu kau yang menemukannya. Mutiara itu akan semakin bersinar ditangan mu." sahut Ken.
Keduanya terbahak.
Di tempat lain,
Ricard terdengar sedang berbicara serius dengan seseorang di hpnya.
"Ya Tuhan. Ayah tidak pernah menyangka jika Mira sampai serendah itu nak Ricard. Sungguh, Ayah kecewa padanya." suara kecewa dari seorang pria tua di sebrang sana.
"Aku juga tidak menyangka Ayah. Maafkan aku yang sudah tidak bisa mendidik Mira dengan baik." ucap Ricard dengan senyum penuh kelicikan.
"Kau tidak bersalah Nak, ini salah Mira yang sudah sesat. Biarlah, itu urusan Ayah. Aku akan menyuruhnya pulang bagaimana pun caranya untuk memberinya hukuman. Beraninya Mira mengkhianatimu yang sudah sangat baik. Bahkan sudah membuat kaki Ayahnya sudah sembuh seperti sedia kala." Sahut yang disana.
"Maksud Ayah?" Ricard rupanya terkejut mendengar ucapan Ayah Mira.
"Apa kau tidak tau Nak? Berkat dokter yang khusus kau sewa untuk Ayah dan uang darimu, Ayah sudah sembuh sekarang. Terimakasih ya Nak?"
Ricard langsung bisa menebak jika itu adalah dari Nathan. 'Sudah pasti dari Nathan brengsekk itu. Ah, tapi baiklah. Itu bagus untukku!'
__ADS_1
"Kau tenang saja Nak. Urusan Mira serahkan pada Ayah. Biar Ayah yang memberi hukuman pada istri Durhaka mu itu."
Dan panggilan pun berakhir dengan senyuman kemenangan dari Ricard.
"Bukan hanya akan kehilangan harta mu saja kau Nathan. Tapi kau akan kehilangan Mira dan calon bayimu. Haha... Nathan. Kau salah berhadapan dengan ku!" gelak tawa dari Ricard tak berlangsung lama, ketika pintunya di gedor seseorang dengan sangat kasar dari luar.
Ricard membuka pintu. Dilihatnya Ken sudah berdiri bersama sosok yang selama ini sangat dibencinya itu.
Ricard memiringkan senyumnya, dengan berusaha setenang mungkin, ia mempersilakan kedua tamunya itu untuk masuk.
"Aku tau kau pasti datang Nathan. Kau sungguh pria yang bertanggung jawab. Pantas saja Mira bisa langsung jatuh cinta padamu!"
"Tak usah banyak bicara. Kami membawa apa yang kau inginkan!" Ken yang menyahut. Langsung melempar beberapa berkas aset berharga milik Nathan.
"Periksalah. Siapa tau kau meragukan keasliannya!" ucap Nathan.
Ricard yang girang, segera memeriksa berkas itu satu persatu.
"Wah! Kau sungguh Gila Nathan! Kau menyerahkan semua milik mu padaku hanya demi Mira?" Ricard sungguh tercengang dengan apa yang ia lihat. Diluar akal sehatnya.
"Kau benar, aku memang sudah gila. Asal kau tau, aku akan melakukan apapun untuk istrimu, ah bukan, sebentar lagi tepatnya mantan istrimu itu." jawab Nathan.
"Semua perusahaan, mobil bahkan Rumahku sudah menjadi milikmu. Sekarang, tanda tangani ini!" Nathan menyodorkan surat cerai Mira pada Ricard.
Ricard menoleh. "Luar biasa. Cinta memang membuat orang gila." Ricard menyambar kertas itu, tanpa ragu menandatanganinya.
Ken tersenyum melihat itu, segera meraih kertas itu dan menyimpannya dibalik jaketnya.
"Kita pulang Tuan."
"Kau puas?"
Ricard tertawa. "Tentu saja Tuan Nath! Aku sangat puas. Hari ini juga, semua hartamu ini menjadi milikku. Dan hari ini juga aku mentalak Mira. Mira bukan lagi istriku. Jika kau mau, ambil saja dia." ucapan Ricard, sudah terekam jelas di hp milik Ken.
Baru saja kedua pria itu memutar tubuhnya.
"Jangan bergerak! Tempat ini sudah kami kepung! Angkat tangan dan diam ditempat!" suara teriakan dibarengi beberapa Polisi yang menyeruak masuk dengan pistol di tangan mereka terarah tepat ke arah mereka.
Ketiga pria itu tersentak, dan mengangkat tangan mereka ke atas kepala.
Nathan dan Ken serempak memutar tubuhnya, melihat beberapa Polisi itu sudah membekuk Ricard.
"Apa apaan ini Pak! Apa salah saya??" teriak penuh kepanikan Ricard ketika salah satu dari mereka sudah memborgol tangannya.
"Anda kami tangkap atas banyak tuduhan. Salah satunya adalah anda mencoba mencelakai saudara Nathan. Anda juga sudah mencoba melakukan pembunuhan terhadap Saudara Ken dengan membayar orang lain. Kdrt yang anda lakukan pada Nona Mira dan anda juga pernah menjual Nona Mira pada seseorang!" ucap sang Komandan Polisi.
"Itu tidak benar Pak. Itu tidak benar!!!" Teriak Ricard, berusaha meronta.
"Anda bisa jelaskan di kantor! Karena semua bukti dan saksi sudah jelas ada!"
"Cepat bawa dia!" Perintah komandan itu pada anak buahnya.
"Tunggu dulu Pak. Sepertinya Tuan Ricard ingin berbicara denganku dahulu." cegah Nathan dengan senyum tersinisnya melirik Ricard.
Ricard pun langsung menatap Nathan.
"Nath. Kau menjebak ku?" wajah Ricard sudah sangat pucat bak mayat. Keringat dingin sudah bercucuran membasahi rahangnya.
__ADS_1
"Siapa? Aku tidak menjebakmu. Bukankah kau sendiri yang mengatakan pada Ken, jika kau tidak masalah kalau aku mau melaporkanmu ke Polisi? Aku hanya memenuhi keinginanmu saja. Dan membantu kerja Polisi agar lebih mudah untuk menangkapmu. Bukan begitu Ken? " jawab Nathan dengan sangat santainya, sambil menoleh pada Ken yang tak kalah tersenyum sinis pada Ricard.
"Benar Tuan. Aku sudah menyerahkan seluruh bukti kejahatannya pada Pihak kepolisian. Dan mereka bertanya tentang keberadaan tersangka. Ya.. aku beri tahu saja!" sahut Ken.
"Nath, Ku mohon bantu aku Nathan. Tolong jangan penjarakan aku. Ku mohon, maafkan aku!" Ricard kini mengiba. Kemudian ia berlutut, merangkak degan lututnya menghampiri Nathan.
"Cabut semua laporanmu Nathan! Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Kau boleh menikahi Mira. Aku juga tidak akan mengambil hartamu secuil pun. Aku akan mengembalikan semuanya Nathan. Tolong lepaskan aku!" Ricard meraung di kaki Nathan.
"Kau bilang apa? Hartaku? Itu Memang belum menjadi milikmu. Aku masih sekedar memperlihatkannya padamu. Kau lupa? Aku belum menandatangani surat penyerahan Harta ku kepadamu bukan?" ucapan Nathan membuat Ricard terbelalak hebat. Mana mungkin ia bisa melupakan hal sepenting itu? Sungguh, ia tidak sadar jika Nathan belum memberinya surat tanda bukti penyerahan atas Hartanya.
Sekarang, giliran Ken yang menghampiri Ricard.
"Tuan Ricard yang malang!" Ken mengangkat wajahnya dengan mencengkeram kuat dagunya.
"Masalah Nona Mira. Kau, sudah menalaknya, bahkan sudah menandatangani surat cerai kalian. Jadi mulai detik ini juga, kau.., tidak punya hak apapun lagi atas diri Nona Mira!"
"Kau paham??" Ken mendorong wajah Ricard sampai tubuhnya tersungkur ke lantai. Tepat di kaki Nathan.
Tak sampai disitu, Ken kembali menghampirinya. "Kau merangkak di kaki Tuan Nath? Berharap belas kasihannya? Mimpi saja kau!" membangunkannya, kembali mencengkeram dagunya.
"Kau pikir, aku tidak tau apa saja yang kau perbuat di belakang Tuan Nath? Selama ini, aku sudah sangat bersabar padamu, karena Tuan Nath selalu mencegahku untuk membuat perhitungan padamu. Tapi hari ini, kau sendiri yang sudah melampaui batas kesabaran kami. Jadi, nikmati saja masa indahmu di dalam Penjara!" Ken melepaskan tangannya, tapi tidak dengan tatapan sadisnya, yang dibalas Ricard sama sadisnya.
"Ken.. Kau bangsatt!!"
"Kau yang bangsatt..!! Akhirnya, aku bisa melihatmu merangkak di kaki Tuan Nathan, Ricard!"
"Oh, ya. Ini belum seberapa. Jika kau berani berulah lagi, maka bukan Yang Berwajib lagi yang akan menghakimi mu. Tapi tanganku sendiri! Ingat itu!" menepuk bahu Ricard dengan kasar kemudian berdiri.
"Seret dia ke Penjara Pak! Biarkan Pengadilan yang akan memutuskan hukuman apa yang pantas untuk semua kesalahan pecundang ini!" Seru Ken pada komandan Polisi itu.
"Siap!"
Beberapa Polisi menyeret Ricard yang terus meraung memanggil nama Nathan.
Nathan hanya tersenyum menoleh pada Ken yang juga tersenyum puas.
"Kau sudah selesai? Apa kau sudah puas memakinya?"
"Sebenarnya belum puas. Aku belum sempat meludahi wajahnya. Tapi ya sudahlah." jawab Ken.
"Kalau begitu kita pulang. Kau bawa itu!" Nathan menunjuk berkas berkas berharga miliknya yang masih tergeletak di atas meja.
"Dan anda membawa ini." Ken menyodorkan surat yang ia simpan di balik jaketnya tadi.
"Haha... Tentu saja. Ini yang sangat berharga bagiku. Much.. much...!" Nathan mencium berkali kali kertas yang kini di genggamannya itu.
"Ayo kita pulang Ken! Haha.. Mira akan senang dengan kabar yang kita bawa ini!" seru Nathan.
"Tentu Tuan. Ayo!"
Nathan melangkah dengan merengkuh pundak Ken.
Sepanjang melangkah ke mobil dia terus berteriak bahagia.
"Akhirnya aku akan menikah juga Ken! Haha.. Aku akan menikah!"
______________
__ADS_1