Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Sah!


__ADS_3

Waktunya datang juga,


Nathan sudah berdiri ditempatnya.


Nampak begitu tenang, namun sebenarnya sangatlah tegang. Terlihat dari cara Nathan menarik nafas panjang berkali kali dan sesekali menyentuh ujung Jasnya.


Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Orang orang yang ia kenali itu selalu mengulas senyum saat bertatap mata dengannya. Wajah wajah mereka begitu puas, namun menyimpan pertanyaan yang tak mungkin berani di sampaikan.


Melihat Pria dingin seperti Nathan, saat ini sedang dipermainkan oleh waktu. Gelisah! Sesering mungkin menyentuh jam tangannya dan memutar pergelangan tangannya juga.


Alunan musik tiba tiba terhenti, manakala MC pembawa acara naik ke atas Podium.


"Terimakasih buat seluruh tamu undangan yang sudah hadir untuk menjadi saksi hari bahagia bagi Tuan Nath dan Wanita yang sudah beruntung dicintai olehnya." melirik Nathan yang sudah mulai tegang dan sepertinya sudah tidak sabar lagi.


Hati MC itu ingin terkikik rasanya.


Kapan lagi. Kapan lagi! Haha.. Bisa melihat manusia satu itu begitu resah menunggu.


"Hari ini, kita semua berada disini untuk menjadi saksi Pernikahan Tuan Nathan Edoardo atau yang biasa akrab kita panggil sebagai Tuan Nath, dengan wanita cantik yang berasal dari.. Ah.. Ah, itu tidak penting dari mana. Yang jelas, Wanita yang sangat cantik dan tentunya sangat dicintai oleh Tuan Nath. Kalau tidak, kalau tidak mana mungkin Tuan Nath akan menikahinya. Benar kan?"


Gemuruh tepuk tangan tanda setuju dari Para Undangan.


MC kali ini melirik Ken, wajah bengis itu melotot ke arahnya seperti sedang memberi ancaman.


"Ah, iya. Mengenai calon pengantin wanitanya, bernama Nona Mira. Wanita luar biasanya yang cocok bersanding dengan Tuan Nath!" sekali lagi tepuk tangan dari para Tamu Undangan terdengar membahana.


Nathan semakin terlihat tidak sabar. Menoleh pada Ken, memberi isyarat agar Ken menegur keras si MC yang sepertinya sengaja sedang menguji tingkat kesabarannya.


Ken berdehem ke arah MC.


Sementara Mira yang tengah menunggu di ruangan lain semakin tegang saja. Panas dingin.


Ayah menepuk nepuk halus punggungnya, berusaha memberi ketenangan. Padahal Ayah sama tegangnya.


Meskipun pernah berada diposisi ini sebelumnya, untuk menjadi wali Mira. Tapi keadaan kali ini sangat berbeda. Pesta megah, ditengah tengah orang kota kelas atas yang terkemuka.


Untung Ayah didandani selayaknya Ayah Konglomerat. Tidak terlihat jika Ayah berasal dari desa sedikitpun.


"Baiklah, baiklah. Sepertinya, Tuan Nath sudah tidak sabar lagi." Akhirnya sang MC menyerah juga, melirik Si bengis Ken yang melotot ke arahnya. Matanya seolah berbicara keras padanya.


'Bisa lebih cepat tidak bodoh! Lama lama Tuan Nath bisa pingsan itu!'


"Kalau begitu, sudah waktunya kita panggil Sang Mempelai wanitanya. Nona Mira! Silahkan memasuki ruangan acara!"


Gemuruh tepuk tangan kembali terdengar. Untuk kali ini terdengar begitu heboh. Para Tamu undangan tidak ada yang tidak berdiri, menoleh ke arah serombongan orang yang mulai memasuki ruangan.


Begitu terpana!


Cantik, anggun dan bersinarnya calon Mempelai wanita milik Nathan itu.


Mira berjalan dituntun Ayah. Sambil tersenyum tanpa menoleh kepada siapapun. Ayah sendiri berjalan sambil memikirkan Mira. Takut anaknya tersandung sepatu kacanya sendiri.


"Hati hati Nak? Sepatumu sepertinya ketinggian tadi."


"Tidak Ayah. Mira bisa. Sepertinya Ayah yang harus hati hati. Sepatu Ayah berat kan?"


"Ah, iya. Kau tau saja kalau Ayah takut jatuh." malu sendiri.


Rimbun yang berjalan disini kiri Mira melirik Ken yang terus tak berhenti menatapnya.


'Dasar tidak tau diri. Sempat sempatnya melototi aku. Tidak ada puas puasnya!'


Seorang Staf WO menghampiri mereka, membimbing ke tempat yang seharusnya.


Sesaat, Nathan dan Mira yang kini sudah berhadapan itu saling berpandangan sejenak, gemuruh di dada keduanya terdengar semakin kuat. Untuk selanjutnya mereka duduk di tempat yang telah disiapkan sebelumnya. Berhadapan dengan Penghulu dan Ayah.


Suasana yang tadinya gemuruh, kini menjadi hening dan sepi. Semua Orang kembali duduk masing masing dan ikut tegang.


Rimbun duduk di samping Mira, dan Ken duduk di samping Nathan. Ken kini fokus pada Nathan. Otaknya merekam setiap kejadian demi kejadian, berniat untuk memetik pembelajaran dari Pernikahan Nathan ini, karena Ken sudah berpikir, jika tidak lama lagi dia yang akan mengalami seperti Nathan. Setelah itu benar terjadi, Ken sudah akan siap.


Kemudian acara ijab kabul pun berjalan lancar sesuai dengan hukum agama dan negara. Dengan khusuk. Tanpa ada hambatan ataupun harus diulang dua kali.


SAH!


Ketika ucapan itu terdengar keras,dari beberapa saksi dan terakhir dari mulut sang Penghulu sendiri, "Alhamdulillah, Sah!"

__ADS_1


Nathan bernafas lega. Semua orang juga begitu.


Bahkan Nathan berkali kali mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah. Menoleh pada Mira yang tersenyum manis menatapnya.


Setelah doa doa terucap sempurna untuk Pasangan suami istri baru itu,


Nathan mengeluarkan sepasang Cincin. Menyematkan cincin ke jari manis Mira. Begitu juga sebaliknya.


Mira menyambut tangan Nathan dan menciumnya.


Rasa bahagia yang meledak ledak dari diri Nathan ketika ciuman bibir Mira mendarat di pipi kanan dan kirinya kemudian di keningnya setelah Nathan melakukan hal yang sama pada Mira tadi.


Nathan meraih kedua tangan Mira, menciumnya berkali kali.


"Kau istriku sekarang." menatap mesra.


"Iya. Kau Suamiku sekarang."


"Seperti mimpi Mira. Aku mencintaimu."


"Aku juga Nath."


"Juga apa?"


"Mencintaimu."


"Ulangi sekali lagi."


"Aku mencintaimu."


"Yang keras. Agar semua orang mendengar."


"Aku mencintai mu Nathan!"


"Mira. Aku bahagia sekali. Aku bahagia!" menciumi tangan Mira.


Dunia seperti milik berdua saja. Yang lain sudah tidak terlihat oleh Nathan.


"Tuan. Anda perlu sungkeman." bisik Ken.


"Astaga. Aku lupa!" semua hampir terkikik karena ulah Nathan yang melupakan sungkem pada Ayah satu satunya mereka. Yaitu Ayah Mira. Karena Nathan dan Ken sama sama tak punya Ayah lagi.


"Ayah!" Nathan segera menyambut tangan Ayah. Menaruh wajahnya di pangkuan Ayah.


"Aku sudah menyerahkan anakku padamu. Sekarang dan untuk selamanya, kau penuhi janjimu padaku, Nak. Atau aku akan mengambil Mira darimu kembali." tangan Ayah berada di kepala Nathan.


"Jangan bicara seperti itu Ayah. Hidupku, jiwa ragaku hanya untuk Mira. Aku tidak berjanji, tapi akan aku buktikan. Jika aku melanggar, bukan hanya boleh Ayah mengambil Mira, tapi Ayah boleh memukulku dengan tongkatmu lagi sampai aku mati."


"Ayah kan sudah tidak punya Tongkat?" berbisik.


"Ah iya. Aku lupa. Nanti beli yang baru, buat jaga jaga." berbisik juga.


"Buat jaga jaga apa? Kalau Ayah lumpuh lagi maksudmu?" sedikit keras.


"Hah!" Nathan mendongak.


"Bukan itu Ayah, berjaga jaga untuk memukulku."


"Oh.. iya. Kalau begitu yang besi saja ya? Biar tidak patah lagi."


"Haha.. ide bagus."


"Kalian sedang membicarakan apa?" Mira menegur kedua orang yang tak selesai selesai itu.


"Oh, iya. Gantian Nathan. Bagaimana sih kamu ini?" ucap Ayah.


Nathan tersipu sendiri, sambil berpikir ada yang mendengar pembicaraan mereka tidak ya?


Beruntung tidak ada yang mendengar.


"Ayah." Mira kini yang menyambut tangan Ayah setelah Nathan bergeser.


"Mira anakku. Jadilah istri yang baik. Jaga suamimu sebaik baiknya." Ayah tersedu saat Mira memeluknya dan menangis.


"Jagan menangis, ini hari bahagiamu. Kau masih ingat pesan Ayah yang tadi kan?" mengangkat wajah Mira. Mengusap air matanya.

__ADS_1


"Iya Ayah. Iya."


"Ken." Nathan kini beralih pada Ken.


"Selamat ya Tuan. Akhirnya, keinginanmu terwujud." Pria itu tak ingin menangis, padahal matanya sudah berkaca kaca.


"Kalau mau menangis, jangan di tahan. Apa kau malu pada Pacarmu ini?" melirik sedikit pada Rimbun yang langsung manyun.


"Tidak Tuan, aku tidak sedang ingin menangis. Aku hanya sedang terharu. Sekaligus iri padamu."


"Astaga Ken? Sekretaris Laknat! Ku pikir kau sedih karena sebentar lagi akan kehilangan kasih sayangku. Ternyata kau ingin menikah juga? Tinggal menikah saja. Ayo sana! Mumpung pak Penghulu masih disini." Nathan melotot.


"Ah, Kau benar Tuan." segera mendekat pada Rimbun.


"Ayo!"


"Eh, apa sih?" cepat menepis. Memeluk Mira untuk mencari alasan.


"Dia tidak mau Tuan!"


Nathan terkikik, "Sabar Ken."


"Nona. Selamat ya atas pernikahannya. Semoga langgeng sampai Kakek Nenek."


"Terimakasih Rimbun. Kalian juga cepat menyusul ya?" Mira membalas pelukan Rimbun.


"Ah, iya Nona. Tapi entahlah. Entah kapan." jawab Rimbun.


"Jangan menolaknya Rim, kau akan menyesal."


"Hehe," Rimbun hanya tertawa kecil saja.


Sungkeman sudah selesai. MC maju untuk menyampaikan sesuatu.


"Untuk Tuan Nath dan Nona Mira. Boleh kami mendengar janji kalian berdua selain janji di hadapan penghulu tadi? Siapa tau ada yang lain yang ingin di ungkapkan untuk di dengar oleh dunia?"


"Setuju!"


"Setuju!"


Semua orang kompak!


Hem, kini Nathan berdiri, tak lupa mengajak Mira untuk berdiri juga. Maju beberapa langkah sambil menggenggam tangan Mira.


Memutar tubuh Mira hingga kini berhadap hadapan.


"Mira." meraih kedua tangannya.


"Dengarkan aku.!"


Mira menatap Kedua mata Nathan, begitu juga Nathan.


"Aku tau, jika aku bukan yang pertama ada dalam hidupmu. Tapi aku yakin, jika aku adalah orang pertama yang menempati hatimu. Orang pertama yang mendapatkan cintamu. Orang pertama yang mendapatkan jiwa ragamu. Jadi, ku mohon padamu. Jadikan aku yang terakhir dalam hidupmu. Dan aku, akan menjadikan kamu yang pertama dan yang terakhir untuk hidupku. Percayakan padaku, jika aku akan menjagamu dengan Tubuhku, membahagiakan mu dengan hidupku. Aku bersumpah itu, demi apapun!"


Mira mengulas senyum termanisnya. Mengangguk samar.


"Kau sudah berjanji padaku Nath. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Kecuali, cinta dan kesetiaan yang akan aku berikan padamu sepanjang sisa umurku. Aku akan berada di sisimu, seperti apapun keadaan kita nantinya."


"Aku mencintaimu Mira."


"Aku mencintaimu Nathan."


Mereka berpelukan.


"A.... Romantis sekali!" tiba tiba seorang Tamu wanita berteriak histeris.


Semua menoleh padanya.


"Aku jadi ingin menikah! Aku jadi ingin cepat menikah!" tepuk tepuk tangan ,melonjak lonjak girang sendirian.


Hingga celingukan, malu sendiri ketika satu temannya menepuk bahunya.


"Heh! Apa yang kau lakukan?"


"Astaga. Maafkan saya. Maafkan Saya Tuan. Sungguh. Saya terbawa perasaan." cepat cepat menyisih, jauh jauh.

__ADS_1


Pesta pun berjalan meriah!


_________________


__ADS_2