Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Ini Mira!


__ADS_3

"Mira...!" Nathan berteriak kencang, lalu segera menarik tubuhnya.


"Arg ....!!!"


"Mira.. Mira!" Nathan memegangi kepalanya.


"Kau kenapa?" Cesilia pun bangun.


"Lakukan Nath, lakukan saja. Aku tau apa yang terjadi. Jika tidak kau akan mati. Lakukan Nath. Lakukan!" Cesilia merengkuh tubuh Nathan.


"Bangsattt!! Keluar!" Nathan langsung mendobrak pintu.


"Keluar!" mendorong paksa Cesilia keluar dan segera menutup pintu mobil serta menguncinya.


"Nathan! Kau butuh bantuan ku. Buka pintunya. Buka Nath!" Cesilia menggedor pintu itu. Nathan dengan sekuat tenaga berusaha untuk tetap sadar. Segera menghidupkan mobilnya dan menginjak gas secepat mungkin.


Meninggalkan Cesilia yang masih berteriak memanggilnya.


"Ces!" Ricard yang sudah sampai ditempat parkiran segera menghampiri.


"Nathan pergi!"


"Bodoh! Kau bodoh sekali. Ini adalah kesempatan besar untukmu dan kau menyia nyiakannya!" umpat Ricard.


"Kau Yang bodoh! Apa yang kau lakukan padanya?"


"Kau ini, kau tau apa yang kau lakukan membuatku rugi besar. Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk memesan obat perangsang terhebat itu untuk membantumu menaklukan Nathan. Tapi kau malah tolol!" Ricard sangat marah. Menunjuk kasar wajah Cesilia.


"Mana ku tau rencana gila mu itu! Kau keterlaluan!" Cesilia pergi meninggalkan Ricard yang dongkol.


"Ah, sial. Cesilia bodoh! Jika kau berhasil menahan Nathan lima menit saja. Rencana akan berhasil. Aku bisa membuat Nathan malu dan hancur secara bersamaan! Arg...!" mau tidak mau, Ricard hanya bisa mengumpat kesal.


Kemudian tersenyum sinis. "Tidak masalah. Kau pasti pulang ke rumah mu.Tanpa penyaluran, kau akan mati Nathan. Tapi..!"


"Jika disana ada kekasihnya itu! Ah.. kacau semua."


Kecerdikan Ricard kali ini benar benar melesat sempurna.


Nathan yang tiba di rumah hanya dengan butuh waktu beberapa menit saja itu segera turun dari mobil. Masih dengan tubuh yang gemetar dan mata yang memerah padam itu, ia melangkah turun.


"Tuan, Anda sudah pulang?" sapa penjaga yang langsung menyambutnya di halaman.


Nathan hanya mengangguk tanpa suara. Berjalan sempoyongan dengan tangan mendekap tubuhnya sendiri.


"Apa yang terjadi?" tanya seseorang.


"Sepertinya Tuan hanya mabuk!" jawab seseorang yang lain.


"Tidak biasanya Tuan mabuk!"

__ADS_1


"Mungkin karena ini pesta temannya."


"Tapi kenapa hanya sebentar?"


"Ada Nona Mira kan di dalam? Mana Tuan bisa meninggalkan nona Mira terlalu lama."


Mereka malah terkekeh, membicarakan Nathan.


"Sebentar lagi, akan ada Nona muda di rumah ini!"


"Akhirnya Tuan Muda bisa jatuh cinta!" mereka kembali ke tempat masing masing.


Nathan menaiki tangga, menuju kamarnya. Sempat terpaku beberapa detik di depan pintu. Saat hendak mendorong pintu, Nathan berhenti.


"Dimana Mira? Aku tidak boleh kemari. Tidak boleh. Tidak boleh!" Nathan mundur perlahan dan memutar langkahnya.


"Tuan!" Mira sudah berdiri di depan pintu.


"Anda sudah pulang?" langsung mendekat.


Nathan menoleh, menatap wajah Mira. Mira melihat perubahan di wajah dan mata Nathan yang memerah itu.


Sesaat Nathan berusaha menahan gejolak yang terus memuncak dan hampir meledak di dalam tubuhnya. Tanpa menjawab pertanyaan Mira, Nathan langsung masuk ke dalam kamarnya. Dan hendak menutup pintu itu, namun Mira menahan dengan tubuhnya.


"Tuan! Apa yang terjadi?" Mira langsung memeluk Nathan.


"Keluar! Keluar!" melepaskan pelukan Mira.


"Tuan!" Mira semakin bingung.


"Keluar Mira! Cepat! Kunci pintu itu dari luar. Pergilah. Tinggalkan aku sendiri!" Nathan berteriak.


"Tidak. Kau sedang sakit. Pasti terjadi apa apa padamu!" teriak Mira. Tidak peduli pengusiran Nathan.


"Apa yang dilakukan Ricard? Tuan? Anda kenapa?" menarik tubuh Nathan dan membaringkannya di ranjang.


"Mira! Pergilah! Kumohon. Pergi Mira!" Nathan sempat memohon pada Mira.


"Tidak! Kau kenapa? Aku akan membantumu." tanpa tau apa apa, Mira memeluk Nathan dan menangisi Nathan. Dipikirannya hanyalah takut, takut terjadi apa apa pada Nathan.


"Apa yang terjadi? Ricard pasti meracunimu. Ken, Tuan Ken!" Mira langsung melepas pelukannya. Berdiri berniat menghubungi Ken untuk meminta bantuannya. Namun Nathan langsung menangkap tangannya dan menarik tubuh Mira dengan kasar. Mira jatuh terlentang di atas kasur. Nathan segera berada diatasnya.


"Kau memang harus membantuku Mira. Bantu aku kali ini. Jika tidak, aku akan mati Mira!" Nafas Nathan sudah sangat memburu. Nafsunya meledak ledak tak terkendali lagi. Langsung menarik paksa seluruh pakaian Mira dengan cara merobeknya.


Mira yang kebingungan pun meronta keras. "Tuan! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku?" Mira menjerit takut. Meringsut mundur. Tapi Nathan langsung menangkap tubuhnya dan menarik Mira, membawanya kembali dibawah kukungannya.


Nathan tak mendengar lagi raungan Mira, menahan tubuh polos Mira dengan sangat kuat. Melepas seluruh pakaiannya dan melempar sembarangan.


"Tuan! Berhenti! Ini salah. Kau tidak boleh melakukannya.!" jerit Mira berusaha keras untuk meronta.

__ADS_1


"Dengar aku Mira! Dengar!" Nathan berteriak, memegang kuat wajah Mira.


"Kau kekasihku. Kau wanita yang ku cintai. Kau yang berhak mendapatkan ini dariku. Bukan wanita lain. Tidak Mira! Kau yang pantas mendapatkannya!" suara Nathan cukup gemetaran dengan tubuhnya yang juga tak kalah gemetar.


"Jangan. Jangan lakukan itu. Ku mohon Jangan! Berhenti Tuan. Sadarlah!" Mira berusaha menyadarkan Nathan.


"Arg....!" Nathan berteriak kembali.


"Tidak bisa Mira. Tidak bisa, aku tidak bisa berhenti! Aku akan mati! Aku akan mati! Aku tidak mau! Aku masih ingin bersamamu! Kau harus membantuku membuang obat sialan ini!"


"Emm...!!"


Nathan merakus bibir Mira. Kasar, dengan sangat kasar! Tidak peduli lagi jeritan Mira. Nathan benar benar kalah, birahinya sungguh memorak porandakan akal sehatnya. Mencabik cabik tubuh Mira tanpa ampun. Mulutnya kemana mana merakus seluruh tubuh Mira. Menghisap dan mengigit dengan liar, meninggalkan bekas merah dimana mana.


Mira masih meronta dan terus meronta, suaranya semakin pelan hingga hanya rintihan dan isakan yang terdengar. Tenaga Mira habis terkuras untuk melawan kebrutalan Nathan.


"Kau menyakitiku Tuan.. Ah.. Sakit...! Berhenti Tuan. Ku mohon!" Mira mengeluh setiap kali Nathan menggigit bagian tubuhnya.


"Mira! Maafkan aku! Aku harus melakukan nya! Arg...!!" Nathan masih sempat meminta maaf, cepat merenggangkan kedua paha Mira dengan kakinya.


"Tidak Tuan! Jangan!"


"Aaa.....!" Mata Mira terbelalak, menjerit kesakitan ketika sesuatu menekan pangkal pahanya dengan begitu kuat.


"Arg!" Sekali hentakan yang kuat, milik Nathan langsung terbenam.


Mira sudah tidak bisa meronta lagi, hanya bisa menangis menahan setiap hentakan yang begitu kasar dari Nathan. Pandangan mulai berputar, mencoba meraih apa saja yang bisa ia raih. Tidak ada, tidak ada apa apa di sisinya yang bisa ia raih. Kecuali hanya sprei. Mira mencengkeram kuat sprei itu. Begitu juga dengan Nathan. Melakukan hal sama. Mencengkeram kuat seprei sambil terus menghentak.


Keringat sudah bercucuran, mengalir ke rahang Nathan. Dia belum berhenti, terus bergerak.


Lebih dari setengah jam Nathan menggempur tanpa ampun.


Dan tiba pada saatnya,


Nathan mempercepat gerakannya. Cepat sangat cepat.


"Mira.. Arg... Mira. Ah...!!" Erangan panjang keluar dari mulut Nathan, Tubuhnya bergetar hebat merengkuh tubuh Mira yang melemas, sesaat setelah cairann laknat yang sangat menyiksanya itu tumpah ruah ke dalam rahim Mira!


"Maafkan Aku!" Nathan tersedu. Masih diatas tubuh Mira.


"Maafkan Aku!!" Nathan melepaskan diri, terbaring lemas disisi Mira. Mendekap erat wanita yang sudah ia sakiti itu. Nathan menangis. Begitu juga dengan Mira.


Hanya isakan dari keduanya yang terdengar, kemudian sepi. Hening!


Mira terlalu lelah, sakit, ngilu, sedih bercampur menjadi satu hingga tertidur dalam kelelahan. Nathan pun terlelap dengan memeluk Mira, jelas karena kehabisan tenaganya yang terkuras karena menahan efek perangsang nomor satu di dunia itu dengan seluruh tenaganya yang ada. Ditambah lagi, ini adalah pengalaman pertama Nathan di atas ranjang! Meskipun keliru. Tapi Nathan masih sempat bersyukur.


'Ini Mira! Ini Mira.'


_____________

__ADS_1


__ADS_2