![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Malam,
Belum terlalu malam, masih sekitar pukul Delapan. Tapi Rumah besar Keluarga Fiandi sudah terlihat sepi dari keramaian sanak saudara tadi.
Rupanya setelah akad nikah Ken dan Rimbun usai, mereka langsung bubar. Pulang ke rumah masing masing karena tidak ada lagi yang harus di tunggu. Menunggu pesta? Masih tahun depan. Itu pun baru rencana.
Saat ini Ken sudah membawa Rimbun ke tempat yang semestinya. Dimana itu?
Haha.. Sudah pasti Villa milik Ken. Ini bukan rencana Ken, eh, rencana sih. Tapi Ken sempat lupa saking senengnya.
"Ken, kau mau pulang kemana?" tanya Nathan, saat mereka sudah siap di depan mobil masing masing.
"Hah! Kemana? Maksudnya?" Ken seperti masih linglung, menoleh pada Nathan dan kemudian kepada Rimbun yang menggenggam erat tangannya.
"Tuan Nath bertanya, kita mau kemana ini?" Rimbun kali ini yang bertanya sambil menarik tangan Ken.
Ken masih belum menjawab, mengangkat kedua bahunya.
"Kau sendiri mau pulang kemana?" Ken balik bertanya pada Rimbun.
"Tidak tau. Aku kan tidak punya Rumah. Ini rumah Keluarga ku, disana Rumah mu, yang di sono Rumah Tuan Nath. Dimana coba rumahku?"
"Ya Ampun Jelek! Kenapa bicara seperti itu? Ini rumahmu juga. Yang disana, kau kan sudah menjadi istriku. Ya, jadi rumahmu juga. Dan yang di sono, baru itu bukan rumah kita." sahut Ken.
"Kau mau kita pulang kemana? Kakek sudah menyuruhku untuk membawamu pulang lho?" Ken kembali bertanya pada Rimbun.
Rimbun hanya menggeleng saja.
"Ah Ken, kau ribet!" sela Nathan, menarik tangan Mira dan membuka pintu mobil.
"Ayo sayang, kita pulang saja. Biarkan mereka kebingungan menentukan tempat bulan madu mereka. Padahal setahu ku, Ken dari dulu punya impian untuk membawa istrinya berbulan madu ketempat yang sudah ia siapkan jauh jauh hari. Saking gugupnya dia lupa." beruntung ucapan Nathan cepat membuat Ken tersadar.
"Astaga!" menepuk kepala.
"Ayo masuk!" Ken membuka pintu mobil untuk Rimbun. Menarik cepat tangannya.
"Sabar donk? Tidak tau apa, aku masih pake kebaya. Aku bisa jatuh." jerit Rimbun.
'Ya Tuhan , kenapa aku bisa linglung begini' Ken baru sadar, jika Rimbun masih mengenakan kebaya pengantin.
"Maafkan aku." cepat meraih tubuh mungil Rimbun dan membawanya masuk ke mobil.
Nathan terkikik melihat itu.
"Kau akan pergi?"
"Tentu Tuan." Ken melambaikan tangannya.
"Baiklah! Hati hati ya!"
"Siap Tuan." Ken menutup pintu mobil.
"Jangan lupa, kita lomba. Siapa yang menang!" teriak Nathan kembali yang hanya di balas gelak tawa dari Ken. Lalu Nathan segera masuk menyusul Mira yang sudah duduk duluan.
"Kau ini Nath. Mengajak lomba apa?" tanyakan Mira setelah Suaminya duduk.
"Bikin dedek bayi." memiringkan kepalanya.
"Nathan! Pikirannya itu terus!" Mira mendorong kepala Nathan yang condong ke arahnya.
"Haha..Bukan begitu, aku hanya ingin cepat berhasil." sahut Nathan terkikik lagi.
"Malam ini, kita harus kebut sayang? Jangan sampai kita kalah dari Ken.Jangan sampai Ken duluan yang berhasil.
Masa mereka yang baru menikah nanti lebih cepat punya dedek bayi. Malu donk? Kita harus kebut, kejar target!"
"Kau kira sedang balapan apa?" Mira memekik , meremas pinggang Nathan.
Nathan terpingkal geli, menangkap tangan Mira dan menciuminya.
"Aku penasaran saja. Dulu sekali saja langsung tokcer. Kok sekarang, setiap malam aku lembur sampai jungkir balik malah tidak berhasil juga."
"Tuhan belum mempercayainya kita Nath. Mungkin karena kita pernah gagal menjadi orang tua. Tuhan masih ingin menguji kita. Apakah kita sudah pantas lagi atau belum di beri kepercayaan itu kembali." ucapan Mira kali ini membuat Nathan terdiam. Dia bisa menangkap kesedihan di wajah itu.
"Kau tidak boleh bersedih sayang. Kita akan terus berusaha. Dan kali ini, jika kau sampai hamil lagi, aku akan menjaganya dengan sepenuh waktuku. Bila perlu, aku akan istirahat dari Perusahaan selama kau hamil sampai melahirkannya."
__ADS_1
"Lalu yang akan mengurus Perusahaan siapa?"
"Ada Ken."
"Kalau Rimbun hamil juga bagaimana? Ken pasti akan menjaga istrinya juga."
"Ah iya. Bagaimana ya?" Nathan terlihat berpikir.
"Haha.." kini Mira yang tertawa.
"Berpikirnya sudah kejauhan. Itu kan belum pasti kapan."
Nathan ikut tertawa. "Kau benar. Tapi jika benar kalian hamil dengan waktu bersamaan, sudah pasti kami yang akan kewalahan."
"Itu sudah resiko kalian Nath."
"Tidak masalah. Apapun resikonya. Demi kebahagian kita. Harus kita jalani dengan sebaik baiknya." jawab Nathan tersenyum bahagia. Kini menghidupkan mobilnya dan melaju ke arah yang berlawanan dengan arah yang diambil oleh Ken tadi.
Epilog.
Mobil yang dikendarai Ken sudah berhenti. Ken keluar dan segera membuka pintu mobil untuk Rimbun.
"Ayo." membantu Rimbun turun.
Belum juga kaki Rimbun sempat menginjak tanah, Ken sudah menangkap tubuhnya.
"Biar ku bantu." Ken melangkah dengan tubuh Rimbun di gendongannya.
Rimbun melingkarkan tangannya ke leher Ken.
"Kau tau saja, kalau aku kesusahan berjalan."
Ken hanya tersenyum, melanjutkan langkahnya.
Baru saja beberapa langkah sebelum mencapai pintu. Pintu Villa itu sudah terbuka.
"Selamat datang Tuan!" dua pelayan pria dan wanita menunduk hormat kepada Ken.
Ken hanya membalas dengan senyuman. Terus melangkah ke dalam.
Ken menoleh, mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih."
"Selamat bersenang senang Tuan!" kembali berseru.
Ken hanya tersenyum, tapi tidak menoleh lagi. Menatap wajah Rimbun. Masih terus melangkah.
'Kenapa dia semakin manis sih?'
Ken membuka pintu dengan kakinya. Kemudian melangkah masuk, menurunkan tubuh Rimbun ke ranjang.
"Bergantian lah dahulu. Atau kau mau mandi? Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." ucap Ken , sangat lembut. Membelai rambut Rimbun.
'Dia manis sekali sih?' Rimbun sampai terheran. Menatap wajah Ken yang baru saja berbicara begitu lembut padanya itu.
"Jelek.. kau mau mandi?"
"Ah Iya." terkejut.
"Aku siapkan air hangat ya? Ini sudah malam."
"Eh, tidak usah. Aku ingin mandi air dingin saja."
"Ah, baiklah. Aku juga ingin mandi.
Biar aku mandi di kamar lain saja. Mandi lah. Apa ingin ku bantu melepas kebayanya.?"
"Eh, tidak usah. Ini mudah kok. Aku bisa sendiri."
Ken hanya mengangguk, kemudian bergegas keluar kamar untuk mandi di kamar mandi lain.
Rimbun mengedarkan pandangannya. Menarik nafas panjang.
"Kamar ini, aku kembali lagi kesini." teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Dimana kejadian memalukan dan membuatnya marah pada Ken yang sudah mencetak banyak bekas merah di bagian tubuhnya tanpa ijin.
Rimbun beranjak untuk megambil handuk. Mulai melepas kebayanya dan melilit handuk ditubuhnya. Sudah saatnya mandi.
__ADS_1
Rimbun mandi dengan cukup lama. Mungkin karena seharian tidak mandi, membuatnya ingin mandi dengan benar benar bersih.
Merasa sudah cukup, Rimbun mengakhiri mandinya. Selesai menyeka air diseluruh tubuhnya Rimbun melangkah menghampiri Lemari.
'Apa baju yang dibelikan Tuan Ken tempo lalu masih ada disini ya?" membukakan lemari.
Matanya terbelalak ketika melihat isi lemari. Satu lemari itu sudah terisi dengan baju wanita. Baju tidur, kaos santai bahkan gaun mewah pun ada.
"Tuan Ken sudah menyiapkan semuanya dengan sangat sempurna." gumamnya.
"Keren sekali sih dia. Padahal baru kemarin melamar ku, dan baru hari ini menikahiku." Rimbun heran saja, kapan Ken menyiapkan semua ini.
"Seleranya bagus banget sih?" mengusap usap baju tidur berkain lembut yang sudah melekat ditubuhnya itu.
Matanya menyapu ke seluruh ruangan. Tidak ada apapun yang menarik untuk dilihat, hanya ruangan yang luas dengan perabot yang berkelas.
Kemarin dia sempat tinggal dikamar ini. Tapi tidak sempat melihat keadaan kamar ini karena sedang dalam keadaan tidak mendukung.
Rimbun duduk di tepi ranjang, sambil mengibaskan rambutnya yang masih basah.
"Tuan Ken kemana?" merasa bosan menunggu.
Kemudian bibirnya terlihat tersenyum. "Aku sudah menjadi istrinya." masih seperti tidak percaya. Pria galak tukang paksa itu kini sungguh menikahinya.
"Nanti, apa yang akan kita bicara kan ya kira kira. Nanti mau melakukan apa dulu."
'Aa... Tuan Ken kan bringasan. Kasar! Jangan jangan, aku akan habis nanti di terkamnya. Bagaimana ini?' mendadak hati Rimbun deg deg tak karuan.
Pintu terdengar di buka. Wajah Rimbun mulai memucat melihat Ken melangkah masuk, dengan kaos putih ketat yang tipis menampakan dadanya yang bidang dengan otot lengan yang kekar.
Ken membawa nampan berisi dua gelas minuman.
"Kau sudah selesai mandi?"
"I, iya." gugup.
Ken tersenyum. "Minum ini."
'Apa itu? Jangan jangan jamu kuat.'
"Minumlah. Aku bingung mau memberi kau minum apa. Susu,kau biasa tidak suka. Jadi, aku membuat jus alpukat saja. Maaf ya? Malam malam menyuruh mu minum jus."
"Eh iya. Tidak apa apa." bernafas lega.
'Huh, jus alpukat ternyata. Ku pikir itu tadi jamu kuat. Tanpa jamu saja, kau pasti sudah sangat kuat.'
Cepat meminumnya.
"Tuan Ken. Kau juga suka Jus?" tanya Rimbun , selama ini selama kenal Ken tidak pernah melihat Ken sekali pun pernah meminum jus.
"Aku suka. Aku sangat suka malah. Setiap hari , aku selalu meminum jus. Hari ini aku tidak sempat, makanya ini membuatnya. Karena sekarang ada kau, aku jadi membuat dua." ucap Ken, sambil mendekap Rimbun.
"Ah Tuan. Jangan begitu." mendorong tubuh Ken.
"Kenapa? Kita sudah menikah. Kau tidak bisa lagi melarang ku."
"Ah, iya aku lupa. Tapi, tapi." Rimbun cepat meraih bantal untuk menutup bagian dadanya yang terbuka karena model baju tidur yang ia pakai.
'Aduh! Kenapa memilih baju ini sih tadi.' menyesal dengan pilihannya sendiri.
"Apa yang kau tutupi sayang?"
'Hah, sayang. Sejak kapan Tuan Ken bisa romantis begini?' pikiran Rimbun langsung bleng.
Ken menjatuhkan dirinya di atas kasur, bersamaan dengan menarik bantal dari dada Rimbun. Tubuh Rimbun ikut terjatuh tepat di atas tubuh Ken.
"Rupanya kau tidak sabar untuk menerkam ku ya?" Ken tersenyum, sambil membuang bantal itu.
"Kau yang menarik ku." dua wajah itu sudah saling dekat.
"Aku menarik bantal."
Rimbun berusaha untuk bangun. Sambil menutup dadanya dengan tangan. Tapi Ken cepat menangkap pinggangnya.
"Aku sudah pernah melihatnya. Tidak perlu malu." bibir Ken sudah menempel saja.
__ADS_1
________________