![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Ini tengah malam,
Ken terbangun dari atas sofa yang direbahinya. Ken sengaja tidur di situ, karena tidak mungkin dia ikut tidur di atas ranjang. Sudah pasti si Rimbun bakal mencak mencak. Mencari aman Ken memutuskan untuk tidur di sofa.
Pria itu terlihat mengucek matanya, kemudian bangun dan melangkah ke kamar mandi. Sempat melirik Rimbun yang terlelap.
Ken cepat melangkah memasuki kamar mandi untuk membuang air kecil. Mencuci mukanya berkali kali dahulu, berkumur dan tak lupa menggosok gigi. Karena rupanya itu terlupakan karena ketiduran.
Sudah merasa cukup, Ken kembali keluar. Lagi lagi ia melirik Rimbun. Tenyata posisi tidur Rimbun sudah berubah, yang tadinya menghadap kesana, jadi menghadap kesini. Selimut pun sudah merongsot kemana mana.
Melihat itu Ken merasa tidak tenang. Menghampirinya dan membetulkan selimut itu.
"Jelekku, kalau tidur sangat manis ya?" Ken mengusap dahi Rimbun.
"Rupanya demamnya sudah hilang." gumam Ken, seperti ada sedikit kecewa saat mengetahui jika Rimbun sudah sehat.
"Jahat sekali aku ini. Seharusnya aku senang Rimbun sudah sembuh. Tapi, ah.. Aku takut dia meminta pulang. Aku belum puas merawatnya."
Ken mendaratkan kecupan panjang di kening Rimbun.
"Mimpi yang indah ya Jelek!" bisik Ken. Ketika hendak beranjak, Ken cukup terkejut ketika Rimbun menggeliat. Tubuh mungil itu kini terlentang. Dua kancing baju tidurnya terbuka.
Mata Ken seketika terbelalak melihat itu. Bagaimana tidak, hampir dari separuh gundukan itu menyeruak keluar. Seperti sedang melambai ke arah Ken.
Ken menelan ludah dengan sangat kasar. Darahnya langsung saja berdesir hebat. Matanya pun tak lepas dari gundukan itu.
'Kenapa harus melihatnya sih? Sial!' umpat Ken. Tangan Ken bergerak ragu, ingin memasang kancing itu kembali.
Tangannya cukup gemetar dengan otak yang sudah mulai traveling.
'Jangan Ken, jangan tergoda. Ini ujian.' hati Ken terus berbicara. Tangannya mulai menyentuh baju itu.
'Kesempatan emas. Ini jarang terjadi. Rimbun dari meminum obat. Sudah pasti obat dari Dokter itu cukup membuatnya terlelap. Jika pun kau menciumnya, tidak mungkin dia terbangun." otak Ken berpikir demikian.
Hati dan pikiran Ken bertarung hebat, antara jangan dan harus menyentuhnya. Keringat dingin sudah mengalir ke rahang Ken, dan tangan Ken mulai bergerak. Sayang, otak Ken memenangkan tangannya, menuntut tangan itu untuk berbuat sesuai pemikirannya. Bukannya mengancingkan, tapi justru membuka satu persatu kancing itu.
"Astaga!" Ken tertegun untuk beberapa saat, ketika pemandangan yang belum pernah ia lihat itu, kini tepat di depan matanya. Ken memejamkan matanya, tapi tangannya tetap bergerak, menyibak penutup terakhir. Satu tangan Ken berhasil menyentuh itu, dengan satu tangan menahan tubuhnya agar tidak menindih Tubuh Rimbun.
Ken masih menutup matanya, kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Rimbun. Dia membuka pelan matanya, menatap dalam bibir yang nampak merekah itu, dengan tangan yang mulai meraba lembut. Dada Ken terlihat naik turun. Dan yang dibawah sungguh sudah sangat meronta.
Otak Ken sudah membeku, seketika ia menyeruput bibir itu dan sesuka hati memainkannya. Meskipun terdengar eluhan kecil dari Rimbun, namun si pemilik tubuh itu tak terbangun juga. Mungkin Gadis itu sedang terbuai dengan mimpi yang begitu indah.
Terkadang tubuhnya menggelinjang seolah merespon sentuhan tangan Ken. Ken menjadi semakin tak bisa mengendalikan diri.
Kini bibirnya beralih ke leher Rimbun. Cukup lama berada disitu, kemudian bergerak semakin turun. Kini bibir itu sudah berada di antara dada gadis itu. Bermain disana dengan lembut, meskipun tubuhnya sudah cukup panas dan yang dibawah sudah semakin meronta ronta.
Deru nafas Ken sudah tak terkontrol lagi, terus kerakus kedua gumpalan itu. Ken tak pernah melakukan itu sebelumnya, namun gairah pria dewasanya dapat menuntunnya dengan sangat sempurna. Tangannya Ken tak bisa dicegah, kini meraba paha Rimbun. Semakin keatas dan berhenti di pangkal pahanya. Sempat menekan sebentar disana, kemudian berusaha menerobos.
Tangan itu berhenti disana, bisa merasakan setruman begitu dahsyat dari sana, padahal masih terbatas selembar kain lagi.
Ken terperanjat, seketika menarik tangannya.
"Ya Tuhan!! Apa yang ku lakukan??" tercengang dengan perbuatan kejinya. Memukul kepalanya sendiri.
'Tenang Ken, tenang. Si jelek tidak tau ini.' Ken cepat membetulkan baju Rimbun.
"Hah! Sial, sial. Kenapa meninggalkan bekas?? Mati aku!" Ken ingin menjerit sekuatnya ketika menyadari bahkan kelakuannya tadi meninggalkan beberapa jejak di dada dan leher Rimbun.
Ken segera membetulkan Bra Rimbun yang sempat ia sibak tadi. Kemudian mengancingkan satu persatu baju Rimbun.
Tangannya masih sangat gemetar, menyentuh satu persatu kancing baju itu. Ketika hampir selesai, malang sekali nasib Ken. Mata Rimbun terbuka. Tentu saja gadis itu terkejut bukan kepalang.
"Tuan Ken! Apa yang kau perbuat??" seketika menendang Ken hingga jatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan, Apa yang kau lakukan padaku?" cepat memeriksa bajunya. Tidak ada, tidak ada yang terbuka. Hanya satu kancing saja yang terbuka, cepat ia betulkan.
"Rim.. Aku, aku... Tadi aku dari kamar mandi. Aku tidak sengaja melihat bajumu terbuka. Niatku hanya ingin membetulkannya saja." ucap Ken, sembari bangun memegangi pinggangnya yang cukup ngilu karena benturan lantai.
"Maafkan aku, sungguh maafkan aku. Aku.. aku.." Ken sudah kalang kabut.
Rimbun tidak bersuara cepat beranjak.
"Kau mau kemana?" Ken segera mencegah.
"Kamar mandi."
"Jangan! Ah, maksudku.. Kau akan dingin lagi. Sebaiknya , sebaiknya tidurlah kembali." cegah Ken, cukup gugup.
__ADS_1
Rimbun tidak peduli, cepat melangkah ke kamar mandi.
'Arg... Hancur sudah aku kali ini. Bodoh, Bodoh! Kenapa aku bisa murahan seperti ini sih?' Ken sungguh gelisah. Berjalan mondar mandir di depan pintu kamar mandi.
"Apa aku kabur saja ya. Ah, pengecut sekali aku. Atau pura pura pingsan saja."
"ASTAGA! Seumur hidup baru kali ini aku ketakutan!!" Ken sungguh risau, dan penuh penyesalan.
Sementara di dalam, Rimbun menatap wajahnya di cermin. Berkali kali menyiramnya dengan air dingin.
"Gila! Bisa bisanya aku bermimpi liar. Bercumbu dengan Tuan Ken. Parahnya aku sangat menikmatinya." Rimbun mengusap wajahnya.
"Hah! Mimpi?"
"Jangan jangan bukan mimpi!" Rimbun langsung membuka bajunya untuk memeriksa.
Matanya seketika membulat sempurna ketika menemukan beberapa tanda merah muda di bagian dadanya.
"Apa ini??"
" Itu bukan mimpi, ternyata bukan mimpi!"
"Astaga!!" Rimbun meraba lehernya, sekali lagi memeriksa di cermin.
"Ini! Disini juga ada!" Rimbun kemudian memeriksa bagian paha.
"Tidak ada , tidak ada." Rimbun merasa rasa bagian sensitifnya. Saking penasarannya ia memeriksa.
"Tidak ada yang kurasakan disini."
kembali pada dada dan lehernya.
"Kenapa melakukan ini padaku?" Rimbun menutup mulutnya.
"Astaga! Apa aku juga sempat mendesahh. Sungguh memalukan!"
"Ken!!!" Rimbun berteriak.
Mampu membuat Ken diluar sana langsung pucat seketika mendengar teriakkan Rimbun dari dalam.
Belum sempat Ken bergerak.
Rimbun sudah berdiri didepannya dengan mata memerah dan wajah yang sangat menyeramkan. Ken sampai begidik, mundur beberapa langkah.
"Rim, Rim.. Dengarkan aku dulu!" Ken mengangkat kedua tangannya ke depan. Sangat gugup seperti maling yang sedang tertangkap basah.
"Bedebahh!!"
Bug...Bug...Bug ..!!!
Rimbun melayangkan tangannya berkali kali pada Ken. Ken hanya bisa melindungi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan? Dasar bajingan! Bajingan!!!" tak berhenti memukul.
"Maafkan aku! Maafkan aku!" Ken terus mengiba.
"Aku benci padamu Ken! Aku benci padamu!"
"Cukup Jelek!" tak punya pilihan lain, Ken menahan kedua tangan Rimbun.
"Aku ini pria dewasa! Pria normal! Dan aku menggilaimu. Wajar saja aku tergoda Rimbun!" Ken menekan tangan Rimbun ke dinding.
"Kau jahat!"
"TIDAK! Kau yang menggodaku!"
"Mana ada. Aku tertidur dari sore! Bagaimana mungkin aku menggodamu Hah. Kau yang kelewatan Tuan Ken!"
"Posisi tidurmu yang tidak benar! Kancing bajumu terlepas hampir semua. Tadinya aku hanya ingin membetulkannya. Tapi aku, aku. Maafkan aku Rimbun. Maafkan aku!" Ken memegang kedua pipi Rimbun.
"Harusnya kau membangunkan aku! Bukan malah.._"
"Cukup Rimbun. Aku salah, aku salah. Aku tidak bisa menahan diri. Maafkan aku Ya? Aku, tapi aku tau batasan. Hanya itu saja , sumpah Rimbun. Hanya itu saja. Tidak Lebih!" ucap Ken cukup keras.
"Tidak lebih katamu! Kau sampai meninggalkan bekas begitu banyak?"
"Ah, Rim. Aku tidak sadar saat melakukannya. Aku sungguh terbuai. Maafkan aku ya. Hanya sebatas itu saja. Sungguh Rim. Maafkan aku!"
__ADS_1
Ken memeluk Rimbun dengan paksaan.
"Kita kan akan segera menikah,. Anggap saja itu sebagai stempel Kepemilikan. Anggap saja nyicil. Ah, iya nyicil."
"Kau pikir aku barang kriditan begitu?" Rimbun mendorong tubuh Ken. Segera beranjak.
"Rim. Kau mau kemana?"
"Pulang! Bisa habis aku jika tetap disini." ucap Rimbun ketus tanpa melirik.
" Ya Tuhan! Ini masih malam Rimbun. Yang benar saja?" Ken kembali panik melihat Rimbun sudah bersiap siap.
Rimbun tidak peduli, cepat meraih jaket milik Ken dan memakainya.
"Kau benar benar tidak mau memaafkan aku?" Ken kembali ke hadapan Rimbun.
"Itu tidak mungkin Tuan Ken yang terhormat! Kau sudah menganggap ku sampah!" Rimbun memutar Tubuhnya.
"Rim!" Kini Ken berlutut, memegang kedua kaki Rimbun.
"Ku mohon jangan begini. Maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi sampai kita menikah. Kau harus memaafkan aku Rim.." Ken kini terisak.
Seumur hidupnya, Ken belum pernah mengeluarkan air mata selain ini. Dan detik ini dia sungguh membanting harga dirinya serendah rendahnya di kaki Rimbun hanya untuk mengharap maaf dari gadis itu.
Rimbun melirik sedikit. Kemudian menghempaskan tubuh Ken begitu saja dan melangkah.
"Rimbun! Kau tidak boleh pergi!" Ken kini meringsut di lantai.
"Kau yang memaksaku untuk pergi Tuan!" Rimbun sudah menarik gagang pintu.
"Arg...!!" Ken berteriak kencang.
"Sekali kau melangkah keluar! Lihat saja!" Ken berlari menyambar kursi ukiran yang terbuat dari kayu yang ada di depan meja Rias.
Membuat Rimbun terkejut. "Apa yang akan kau lakukan?" Rimbun sungguh takut melihat itu.
"Aku akan memukul kepala ku sampai pecah di depanmu Rimbun!" Ken mengangkat tinggi tinggi kursi itu.
"Kau sudah Gila!"
"Aku memang sudah Gila karena kau. Kau terus menolak ku! Kau terus menolak ku Rimbun! Aku jadi Gila sekarang. Kau Puas!!" Tangan Ken sudah bergerak.
"Tuan. Jangan!"
"Pergilah. Kau akan meninggalkan Mayatku disini!"
Rimbun kini menggeleng. "Jangan Ken! Jangan! Letakkan Kursi itu. Kau akan terluka." Pinta Rimbun, kini dengan suara lembut.
"Bukan hanya terluka. Tapi kepalaku akan pecah, dan Otak jahatku ini akan tabur disini. Biar kau Puas! Pria jahat yang sudah menyakitimu ini akan mati disini."
Rimbun menutup mulutnya. Dia sungguh panik dibuat tingkah Ken.
"Jangan Tuan. Ku mohon. Letakkan kursi itu." Rimbun mendekat pelan.
"Tidak bisa. Kau tidak mau memaafkan aku? Aku akan mati sekarang juga." Sedetik kemudian Ken menghantamkan kursi itu ke kepalanya.
"Jangan!!" Rimbun mendorong kursi yang hampir saja mengenai kepala Ken. Kursi itu terpental mengenai cermin hingga pecah berantakan sebelum sempat mengenai kepala Ken.
"Kau sudah gila Tuan Ken!" Rimbun memeluk Ken dengan tangisan yang pecah.
Tubuh wanita itu melemas seketika karena syok. Ken cepat mengangkat Rimbun kembali ke ranjang.
"Kau tidak mau memaafkan aku. Aku jadi bingung harus melakukan apa." ucap Ken meraih kedua tangan Rimbun dan menciuminya.
"Jangan lakukan itu lagi Tuan. Jika kau mati, siapa yang akan memberiku uang untuk belanja dan ke salon." ucap Rimbun sungguh membuat Ken terbelalak.
"Kau hanya ingin uangku? Kalau begitu aku akan mewariskan semua hartaku padamu, setelah itu aku akan bunuh diri kembali."
"Jangan! Aku hanya bercanda. Jangan mau bunuh diri lagi ya?" sahut Rimbun cepat.
"Jadi kau memaafkan aku?"
Rimbun mengangguk. "Tapi jangan nakal lagi."
Ken tersenyum. "Aku begitu karena kau terus menolak ku. Jika kau menerimanya. Ah, aku tidak bisa janji juga. Apa aku bisa tahan!"
"Kau Ya??" Rimbun menarik telinga Ken, dan kembali memukul bahu Ken.
__ADS_1
"Tidak Rim. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan menunggu sampai kau mau melakukannya denganku!!"
_____________