![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Ken sudah berada di depan kamar Nathan yang sengaja tidak di tutup itu. Ia melangkah masuk.
Menghampiri Nathan yang sepertinya sudah siap.
"Tuan! Apa kau tegang?"
"Ah Ken. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya." tak bisa menyembunyikan rasa tegangnya meskipun sudah berusaha keras.
"Hmm, Jangan sampai salah mengucapkan ijab kabulnya. Jangan membuat malu!" Ken terkikik, melirik ujung telinga Nathan yang memerah.
"Kau ini, jangan membuatku semakin gugup, Bodoh." Menarik kerah Ken dengan kuat.
"Eh, Tuan. Kau mau apa?"
Tiba tiba Nathan menaruh kepalanya di bahu Ken, tangannya memeluk pinggang Ken dengan cukup erat.
"Sebentar saja Ken. Sebentar. Aku sedang gugup. Biarkan aku mengurangi rasa gugup ku ini." merengek seperti anak kecil pada Ayahnya.
"Sudah sudah, jangan begitu. Kau harus bisa mengendalikan dirimu Tuan. Bukan kah ini adalah hari yang sangat kau nantikan?"
Nathan mendongak.
"Tak perlu menangis Ken?"
Ken tersipu, mengusap ujung matanya yang berair.
"Ah iya. Aku hanya sedih. Sebentar lagi, kau akan melupakannya aku. Tak lagi bersandar pada bahu ini."
"Itu sudah pasti, Mira bisa cemburu jika aku terus bersandar padamu." Nathan kembali merebahkan kepalanya di bahu Ken.
"Hem..." menepuk nepuk kepala Nathan dengan lembut, seperti menjadi Ayah sementara untuk Nathan.
"Bisa jadi, ini yang terakhir kau menepuk kepalaku Ken. Setelah ini aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuhnya lagi." ucap Nathan.
"Haha.. aku jadi ingat, bagaimana pertama kalinya aku berani menyentuh kepalamu Tuan Nath."
"Ya. Pada saat itu, pertama kalinya dalam hidupku, aku mengenal rasa sedih." jawab Nathan.
Terbesit ingatan di masa lalu.
Ken berlari sekencangnya dari sekolah menuju Rumah sakit. Tanpa berpikir untuk menyetop angkot ataupun Taksi. Karena dipikirannya pada saat itu hanyalah Nathan.
Masih mengenakan seragam SMA.
Menubruk Nathan yang menangis dipojok ruangan. Terpukul karena kepergian kedua orang tuanya akibat kecelakaan maut yang menewaskan keduanya.
__ADS_1
Nathan mendekap erat pinggang Ken, sementara Ken hanya bisa menepuk lembut kepala Nathan untuk menguatkan Tuan kecilnya itu.
"Aku tidak pernah menyangka, jika bocah tengil yang suka membuatku kesal itu akhirnya menjadi sahabat terbaikku."
"Aku juga tidak pernah menyangka, jika Tuan Muda yang sangat ku benci dulu ini, harus menjadi orang yang harus ku temani dan ku jaga sepanjang sisa hidupku. Dulu aku sangat membencimu, Tuan. Karena kau sangat nakal."
Keduanya terbahak. Meskipun sempat sedih mengenang masa lalu, ketika mereka harus kehilangan orang tua masing masing dalam yang waktu tidak jauh berbeda. Namun dengan kejadian itu, mereka yang dulu pernah saling tidak suka, mau tidak mau harus hidup bersama. Saling berdampingan. Saling mendukung, bahu membahu, berjuang tanpa orang tua untuk mempertahankan Perusahaan milik keluarga Nathan.
Hingga mereka beranjak dewasa dan Sukses membuat Perusahaan itu jaya hingga sekarang.
Kebencian saat mereka remaja, karena sikap mereka yang sama sama keras itu berubah drastis. Menjadi saling menjaga dan saling mengasihi. Kemudian menjadi kerja sama yang kompak dan tidak bisa lagi saling berjauhan sedikitpun.
"Berbahagia lah Tuan. Jangan menoleh kebelakang. Jangan melihat masa lalu orang tuamu ataupun masa sulit kita. Kau berhak bahagia dengan Nona Mira."
"Kau juga Ken. Cepatlah menyusul. Kemudian kita akan mencetak generasi Penerus untuk kita."
"Tentu saja. Tentu saja aku akan segera menyusul setelah kau bahagia sepenuhnya."
Mereka berpelukan. Cukup lama. Saling mengusap air mata dan kemudian Ken meraih pundak Nathan untuk melangkah keluar.
Sementara di ruang lain, di ruangan tunggu mempelai wanita tepatnya.
Rimbun melongo, menatap sosok Mira yang luar biasa. Gaun pengantin berwarna perak berkilauan itu. Dengan riasan yang begitu mewah.
"Kau luar biasa cantik Nona!" pekik Rimbun, hampir tak percaya jika Mira yang sudah pada dasarnya cantik semakin terlihat cantik mempesona bak Putri Raja.
Apa yang dikatakan Rimbun, benar adanya.
"Benarkah?" Mira yang dari tadi gugup sedikit terhibur akan kehadiran Rimbun.
Gadis itu melangkah, memeluk Mira.
"Apa Nona gugup?" melepas pelukannya setelah beberapa lama.
"Tentu saja. Kau akan merasakan demikian jika kau menikah nanti."
"Ah iya. Kau beruntung sekali Nona. Menikah dengan Tuan Nath yang berhati lembut dan sangat mencintaimu. Aku jadi iri."
Mira tersenyum, kegugupannya berangsur menghilang.
"Kau juga beruntung Rimbun. Dicintai oleh Ken. Kau tau? Ken mempunyai hati yang dipenuhi kasih sayang dan kepedulian. Dia itu juga lembut."
"Lembut apanya. Dia itu menyebalkan. Aku tidak suka padanya. Hanya terpaksa saja. Dari pada dia mati bunuh diri. Kan aku juga yang repot nanti." bisik Rimbun.
"Kau jangan seperti itu Rimbun? Ken tidak pernah jatuh cinta selain padamu. Jika kau menolaknya , sungguh kau akan menjadi wanita yang merugi di dunia ini. Apa kau tau? Baik Nathan maupun Ken, mereka pria langka yang patut dipertahankan. Aku yakin, para reader's bahkan sang Author saja iri pada kita. Sebagian dari mereka bahkan halu tingkat dewa memikirkan kita."
__ADS_1
"Haha.. kau benar Nona. Kau benar. Kalau begitu, aku akan belajar untuk menerima Tuan Ken. Sayangkan, jika di embat orang? Pria langka, patut di budidayakan."
Kedua wanita itu tertawa bahagia.
Seorang staf WO masuk, menghentikan gelak tawa mereka. Menyampaikan jika acara akan segera dimulai.
Dada Mira kembali bergemuruh hebat. Kembali dikuasai gugup tatkala Ayah masuk. Menghampirinya, mengulurkan tangan untuk membimbingnya ke Ruangan acara.
"Ayah." Mata itu sempat berkaca kaca meraih tangan Ayahnya. Ayah cepat menyeka ujung mata Mira.
"Hei, tak boleh menitikkan air mata Anakku. Meskipun itu air mata bahagia sekalipun. Kau harus tetap tersenyum dan terus tersenyum. Sudah cukup air matamu terbuang selama ini."
Mira memeluk Ayah.
"Terimakasih Ayah. Sudah mau datang untuk menemani Mira disaat momen terpenting ini."
"Tentu Mira. Tentu. Kau harus bahagia ya? Agar Ibumu disana bisa melihatmu bahagia. Nathan Pria baik yang sangat bertanggung jawab. Kali ini kau harus bahagia. Lupakan yang lalu. Jangan pernah menoleh kebelakang, jangan Mira. Tatap lah ke depan." Ayah memperingatkan, namun dia yang menangis tersedu.
"Tak perlu menangis Ayah. Meskipun itu tangis bahagia sekalipun. Air matamu sudah terlalu banyak tumpah selama ini."
Ayah mendongak, tersipu oleh ucapannya sendiri yang sengaja dibalikkan Mira padanya itu.
"Ah, iya. Maafkan Ayah. Pernah salah memilihkan masa depan untukmu. Maafkan Ayah." menepuk punggung tangan anaknya.
"Tidak ada yang salah Ayah. Semua sudah jalan hidup Mira." menyeka air mata Ayah.
"Kau benar Nak. Ini adalah jawaban setiap doa Ayah. Ini adalah hasil dari penantian panjangmu. Ini adalah buah dari kesabaran luar biasa mu."
Ayah kembali berucap, memberi ucapan dan semangat untuk Putri semata wayangnya. Hatinya sebenarnya menjerit, mengingat kesalahan terbesarnya. Pernah menyeret Mira ke lembah penuh derita. Dengan mempercayakan hidup Mira pada pria yang salah.
Mira jadi menderita dan hidup penuh dengan kesengsaraan. Namun saat ini, Ayah yakin seratus persen untuk melepas Mira untuk yang kedua kalinya. Nathan adalah pria hebat yang tepat untuk Putrinya.
'Istriku. Lihatlah. Putri kita akan menikah. Mungkin ini pernikahannya yang kedua. Namun kau tak perlu khawatir lagi. Ini adalah pernikahan sesungguhnya yang sebenarnya. Kau harus tenang disana. Kali ini aku tidak salah lagi. Putrimu akan bahagia bersama Nathan Menantu kita.'
Keduanya saling menggenggam erat. Berdiri pada kaki masing masing. Saling menatap hangat kemudian tersenyum. Sama sama tegang dan dada berdegup kencang, menanti panggilan dari sang MC pembawa acara.
Disisi mereka, tidak disadari adanya gadis yang merana melihat itu.
"Ah,.. Jika aku nanti menikah dengan Tuan Ken, siapa yang akan mengantarku seperti itu? Ayah dan Ibu sama sama sudah tidak mungkin. Orang tua Tuan Ken juga sama sama sudah berpulang." Menunduk, menyeka air matanya yang tak terasa sudah terjatuh saja.
"Hah! Apa?" terperangah.
'Kenapa jadi memikirkan menikah dengan Tuan Ken. Astaga!'
'Aku tidak suka padanya, tidak mau menikah dengannya!' celingukan, malu dengan ucapannya sendiri. Beruntung tidak ada yang mendengar.
__ADS_1
_________________