![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Dua pria kekar itu terus menarik paksa Mira. Menyeret tanpa ampun sampai ke mobil. Tidak peduli dengan jeritan Mira yang gelegar.
Mira terus meronta ronta. Berusaha sekuatnya berontak, namun tubuh kecilnya tak mampu melawan Dua pria kekar itu.
"Mas Ricard... Tolong aku! Tolong...! Aku tidak mau ikut mereka!"
"Diam!" bentak mereka.
"Lepaskan saya Tuan! Saya tidak tau apa apa tentang utang piutang suami saya!"
"Apa?? Suami?"
"Iya Tuan. Saya istri mas Ricard. Tolong lepaskan saya. Saya akan membayar utangnya mas Ricard Tuan. Saya akan membayarnya!" pinta Mira merengek.
Pria itu tertawa mendengar ucapan Mira. Bukannya berpikir untuk melepaskan Mira, pria itu malah mendorong paksa Mira ke dalam mobil.
"Kau pikir mau membayar utang Ricard pake apa hah! Dia saja tidak punya uang."
"Tuan. Tolong Tuan. Tolong lepaskan saya!" Mira terus berteriak.
Pria pria itu tidak peduli. Segera melaju ,membawa Mira yang terus berteriak.
Ken yang masih menepikan mobilnya di ujung persimpangan, bisa melihat mobil itu. Ia menatap curiga pada mobil yang melaju cepat melintas disampingnya. Benar saja, Ken mendengar suara teriakan dari dalam mobil. Suara Mira , dia mampu mengenali suara itu. Bahkan Ken sempat menangkap bayangan Mira dibalik kaca meskipun tidak jelas.
"Nona Mira!"
"Tuan.. Tuan Ken! Tolong aku!!!"
"Nona!" Ken mendengar suara itu memanggil namanya.
"Brengsek! Siapa yang membawa nona Mira??" Tanpa bicara Ken langsung melaju cepat, mengikuti mobil yang membawa Mira dari belakang.
Segera berpikir untuk menghubungi Nathan.
"Tuan! Nona Mira di bawa seseorang!" ucap Ken saat panggilan tersambung tanpa basa basi sedikit pun.
"Apa?" nada yang begitu terkejut dari Nathan.
"Aku sedang mengikuti mobil yang membawa Nona Mira. Bisakah anda cepat kemari?"
"Iya. Iya. Tunggu, kau share lokasimu. Aku segera menyusul. Jangan lengah Ken. Jangan sampai kehilangan jejak!" seru Nathan dengan penuh kepanikan.
Ken cepat menginjak pedal gasnya. Tak ingin kehilangan jejak, Ken terus mengikuti mobil itu tanpa lengah.
Sementara Nathan yang panik, segera menghubungi anak buahnya.
Setelah beberapa lama Nathan menunggu dengan rasa tak sabar, dua mobil tiba didepan rumahnya dengan penuh para pria berpakaian hitam.
"Tuan Nath. Apa yang terjadi?" tanya seseorang yang menjadi ketua mereka.
"Bodoh! Kenapa lama sekali?" bukannya menjawab, Nathan malah memukul pria yang bertanya padanya itu.
"Maafkan saya tuan!" mengusap kepalanya yang kena tinju Nathan.
__ADS_1
"Cepat! Cepat! Kita tidak boleh terlambat!" Nathan segera masuk ke mobil mereka.
Sang ketua rombongan itu menyusul, dan langsung tancap gas sesuai dengan arah yang ditunjuk Nathan yang juga sesuai dengan share lokasi dari Ken.
Sementara mobil yang membawa Mira kini berhenti di sebuah rumah besar yang lebih mirip seperti Mansion.
Kedua pria itu kembali menarik Mira paksa untuk memasuki rumah itu sesaat setelah mobil mereka berhenti.
"Bawa dia ke kamarku!" perintah sang tuan mereka.
Kedua anak buahnya langsung membawa Mira ke kamar pria itu, melempar Mira begitu saja ke dalam kamar tersebut.
Keduanya kemudian pergi setelah tuan mereka masuk ke kamar.
Pria itu menutup pintu dan menguncinya lalu menghampiri Mira yang masih terisak di sudut ruangan.
"Tuan. Tolong lepaskan saya. Saya mohon Tuan!" Mira masih mengiba.
"Aku akan melepaskanmu, tapi setelah kau membayar lunas semua hutang hutang suamimu!" Pria itu tiba tiba menarik paksa baju Mira. Mira kelabakan. Segera berlari ke ujung kamar sambil membenahi bajunya yang hampir lepas.
Pria itu tertawa. "Ternyata kau liar juga. Aku suka wanita liar!" kembali mendekati Mira.
"Anda mau apa Tuan? Tolong lepaskan saya. Saya mohon Tuan. Kasihanilah saya!"
"Bersenang senang dulu denganku, setelah itu aku akan melepaskanmu!"
"Tidak Tuan. Saya tidak mau!"
"Tolong...!! Tolong!" Mira berteriak sekuatnya ketika pria itu terus memaksa membuka bajunya. Pria itu menarik kembali baju Mira. Dan kali ini berhasil. Baju Mira sobek terlepas hanya meninggalkan bra warna putihnya saja.
"Tuan Ken.. Tuan Nath.. Tolong saya..!!"
Pria itu semakin tak tahan melihat gundukan milik Mira yang menyembul, dia menubruk Mira dan menyerang Mira dengan membabi buta. Mira terus melakukan perlawanan dengan terus berontak dan melindungi wajahnya dari bibir pria itu.
"Lepaskan aku! Lepas,, aku tidak mau!"
"Tolong...!! Siapapun tolong aku!"
Plak...!!!
Plak..!!!
Pria itu berkali kali memukul wajah dan kepala Mira, membuat Mira jatuh tersungkur kembali keranjang dengan darah yang mengalir dari mulutnya.
"Dasar ******..! Menurut lah jika ingin selamat. Berteriak sekencang apapun, tidak akan ada yang menolong mu!"
Seketika tubuh Mira terasa melemah. Namun Mira tidak menyerah begitu saja. Ia terus berteriak dan berontak dari dekapan pria yang terus mencoba membuka sisa pakaian. Berkali kali pria itu kembali mendaratkan pukulan pada tubuh Mira.
Mira tidak peduli dengan rasa sakit. Dia tetap berusaha untuk melawan semampunya.
Pertahanan Mira semakin melemah. Teriakannya semakin pelan. Saat seluruh pakaian Mira hampir terlepas.
Brak...!"
__ADS_1
Pintu itu tiba tiba jebol ditendang seseorang dari luar.
"Bajingan!" pria yang hampir menggagahi Mira itu terpental ke sudut tembok di tendang seseorang itu.
Beberapa pria pun menyusul masuk dan langsung menghajar pria yang sudah terpental itu tanpa ampun.
"Mira! Mira!" pria yang menendang pria tadi itu langsung memeluk Mira yang masih menangis.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" jerit Mira masih meronta.
"Mira, Mira. Lihat aku. Aku Nathan! Lihat aku!" Mira langsung mendongak. Menatap pria yang sudah menolongnya itu.
"Tuan Nath. Tolong aku! Dia .. dia.. Dia mau memperkosaku! Tolong aku, hiks .. hiks..?" Mira menjerit histeris ketika sadar jika yang dihadapannya adalah Nathan.
Nathan langsung menarik selimut. Membungkus tubuh Mira dan segera memeluknya dengan sangat erat.
"Semua akan baik baik saja. Ada aku. Ada aku, tenanglah. Kita pulang sekarang!" Nathan mengangkat tubuh trauma Mira, menoleh dulu pada pria pria anak buahnya itu.
"Urus dia! Jangan biarkan dia mati dulu. Aku belum selesai dengannya!" ucap Nathan segera melangkah keluar di ikuti oleh Ken. Sementara anak buahnya menyeret pria tadi yang sudah babak-belur oleh mereka.
Nathan terus melangkah keluar dengan menggendong Mira. Melewati dua pria yang sudah berlumuran darah di ruang depan rumah itu. Dua pria yang tadi menyeret Mira, rupanya sudah dilumpuhkan oleh Nathan dan anak buahnya sebelum Nathan menendang pintu kamar tadi.
Ken terburu membuka pintu mobil. Setelah Nathan memasukkan Mira di jok belakang dan diapun menyusul duduk, Ken segera kembali melajukan mobilnya.
Mata Nathan berkaca kaca, bahkan setitik air matanya sempat jatuh ke rambut Mira yang kepalanya terus menempel di dadanya.
Nampak masih sangat jelas ketakutan di wajah Mira. Tubuhnya saja masih terlihat gemetaran. Nathan mengelus rambut Mira.
"Tuan Nath. Aku takut!" suara lirih Mira.
"Tidak apa apa. Tidak apa apa. Kau aman bersamaku. Maafkan aku. Aku hampir terlambat. Maafkan aku. Kau baik baik saja Mira. Kau baik baik saja. Tidak ada yang terjadi. Tenang kan dirimu!" ucap Nathan. Hatinya sungguh hancur melihat nasib wanita itu.
Tangan Nathan terkepal keras.
"Siapapun dia! Harus bertanggung jawab atas perbuatannya!"
"Bagiamana kau bisa menemukan keadaan Mira Ken?" Nathan bertanya pada Ken yang masih mengemudi.
"Awalnya, nona Mira menyuruhku kembali. Tapi entah kenapa, perasaan ku tidak enak. Aku tetap menunggunya di simpang itu. Lama Nona di dalam. Aku hampir menyusulnya. Tapi tiba tiba aku melihat mobil yang tadi masuk kesana kembali lagi dengan sangat cepat. Belum sempat kecurigaan ku menghilang,benar saja. Aku mendengar suara Nona Mira berteriak. Mungkin Nona Mira sempat melihat ku. Dia memanggil namaku. Aku tidak bisa berpikir lagi selain mengikuti mobil itu dan menghubungi anda." jelas Ken dengan yang sebenarnya terjadi.
"Ya Tuhan. Jika kau tidak melihatnya. Apa yang akan terjadi padanya Ken? Aku tidak bisa membayangkan!"
Nathan kembali mendekap erat Mira. Mencium berkali kali kepala Mira.
"Maafkan aku! Seharusnya aku mencegahmu pulang. Firasat ku juga sudah tidak enak."
"Tuan. Sebaiknya mulai sekarang, jangan perbolehkan Nona Mira pulang pada suaminya. Aku yakin, ini perbuatan suaminya." ucap Ken.
"Kau benar Ken. Kau benar. Aku akan menahan Mira! Apapun resikonya. Sampai aku tau, siapa suami Mira itu. Aku seperti nya sangat ingin membunuhnya." jawab Nathan.
Mira masih sesenggukan di dada Nathan. Meringkuk tanpa lagi peduli siapa laki laki yang memeluknya itu. Mira hanya merasa terlindungi dengan dekapan pria itu. Meskipun ketakutan masih menguasai nafasnya.
____________
__ADS_1