Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Tidak mau bersaing.


__ADS_3

Terdengar Mira tertawa cekikikan saat Nathan selesai bercerita tentang apa yang baru saja ia temukan di pipi Ken.


"Aku tidak menyangka, jika Ken akhirnya akan takluk juga. Lebih tidak menyangka, Ken takluk pada gadis seperti Rimbun."


Nathan pun tertawa keras saat Mira bercerita tentang apa yang terjadi antara Ken dan Rimbun sebelum dia pergi menyusul Nathan ke markas Roy.


"Kurasa, Ken akan segera mengakhiri masa lajangnya."


"Segera menyusul mu? Atau malah kalian akan bareng?"


"Ah, tidak. Aku tidak mau. Ken tidak boleh menikah sekarang. Bareng dengan kita atau mendahului kita. Itu tidak boleh!" protes Nathan


"Kenapa?" tanya Mira sedikit heran.


"Jika kami menikah bersamaan, siapa yang mau mengurus Perusahaan. Kami akan sibuk bulan madu masing masing. Jadi, kita duluan dan Ken menyusul setelah kita selesai bulan madu."


"Astaga Nath, kau egois sekali!"


"Ah, biarkan saja. Pokoknya aku tidak mau. Aku tidak mau bersaing dengan Ken saat memproduksi bayi."


"Nathan!" Mira mendelik.


"Eh, bukankah kau ingin aku segera mencetak Bayi banyak banyak untukmu? Aku akan melakukannya setelah kita menikah. Jadi aku tidak mau terganggu dengan urusan apapun."


"Kau pikir kita ini pabrik?" Mira memukul lengan Nathan.


Pria itu tergelak, menahan tangan Mira.


"Aku bercanda sayang."


"Lalu sekarang Ken kemana?" tanya Mira.


"Mengantar Bun Bun nya yang lagi ngambek. Sepertinya Percintaan Ken kali ini akan rumit. Gadis itu tidak punya watak semanis dirimu. Terlalu bar bar. Dan Ken akan cukup menderita karena itu."


Keduanya kembali terbawa, membayangkan bagaimana seorang Ken yang biasa dirayu wanita dan digilai banyak wanita harus tunduk dan bertekuk lutut pada Gadis itu. Apa Ken bisa merayu Rimbun?


Keduanya menoleh ketika pintu mereka di buka seseorang. Seseorang itu hanya mengintip sebentar, tanpa masuk atau bicara sedikit pun lalu menutup pintu itu kembali.


"Ken rupanya sudah pulang." ucap Mira ketika melihat siapa yang sudah mengintip.


"Kau lihat? Wajahnya tertekuk. Sudah pasti dia mengalami kegagalan dalam merayu gadis itu." ucap Nathan.


"Sebaiknya kau temui dia dulu Nath. Siapa tau, dia sedang butuh sandaran bahumu." Sahut Mira, cekikikan.


"Ah, iya. Kau benar." Nathan berdiri.


"Tunggu sebentar, aku akan memastikan dahulu." Nathan melangkah keluar kamar.


Dilihatnya sekretaris laknatnya itu tengah duduk memojok di sofa dengan kedua tangan tertumpu di belakang kepalanya yang disandarkan di sofa. Ken hanya melirik Nathan yang menghampirinya dan duduk disebelahnya.


Ken terdengar mendengus setelah tepukan Nathan mendarat di bahunya.


"Apa Nona sudah jauh lebih baik?" tanya Ken, kini menoleh.


"Ya."


"Kalau begitu, besok kita bisa lanjutkan persiapan pernikahanmu."


"Ya, dalam seminggu lagi, kurasa Mira sudah pulih ." jawab Nathan. Dia melirik Ken yang masih dengan wajah galaunya. Pria itu berkali kali terdengar mendengus dan berkali kali mengusap wajahnya.


"Kau kenapa Ken?"


"Ah, tidak apa apa. Aku ke kamar dulu." Ken bangun.


"Kau di tolak?"

__ADS_1


Ken tersenyum, kemudian menoleh kembali pada Nathan.


"Apa kau pernah merayu wanita?" tanya Ken.


"Pernah. Mira, satu satunya wanita yang kurayu. Tapi aku berhasil. Apa kau gagal?"


"Itu yang ingin aku tanyakan." Ken tiba tiba kembali duduk.


"Beritahu aku caranya." tatapan Ken berubah serius, membuat Nathan tak tahan menahan tawa.


"Aku sedang serius Tuan." rengek Ken.


"Kau ini, dimana harga dirimu sebagian Ken sang Playboy jika hanya dengan seorang Rimbun saja bisa kewalahan."


"Ah... Rimbun, dia mengira aku tidak serius padanya." keluh Ken.


"Kau sungguh menyukainya Ken? Kau sedang tidak kasihan saja padanya?" kini Nathan yang bertanya serius.


Ken mengangguk. "Aku serius menyukainya Tuan. Apa Kau tidak bisa melihatnya?"


"Ah iya. Tentu saja bisa. Kau tidak pernah peduli pada wanita sebelum bertemu Rimbun." jawab Nathan.


"Tapi dia membatu."


"Lakukan dengan penuh kelembutan Ken. Bukankah dulu kau mengajariku begitu?"


"Aku hanya bisa bicara tanpa bisa mempraktekkannya sendiri,." sahut Ken.


"Mulai sekarang kau harus bisa. Rimbun dan Mira sama saja. Berasal dari wanita biasa yang hidupnya pernah penuh tekanan. Mereka akan sulit percaya pada seseorang. Jadi, hanya dengan hati mereka bisa luluh. Dekati dengan hati, perlakuan lembut dan juga dengan kasih sayang. Dengan begitu, Rimbun akan bisa meraba perasaanmu. Kau tidak akan sulit menempati hatinya setelah itu." ucap Nathan.


"Baiklah, kau harus istirahat Ken. Besok kau harus pergi ke kantor." Nathan berdiri dan melangkah meninggalkan Ken.


Ken hanya tersenyum menatap langkah Nathan. Kemudian kembali pada lamunannya tentang Rimbun.


"Huh! Aku perlu banyak belajar rupanya."


Ken pun akhirnya memasuki kamarnya juga. Berbaring untuk memejamkan matanya. Tak sabar menunggu pagi. Apalagi?


Hanya karena ingin segera bertemu dengan Si Rimbun yang kini dengan pelan namun pasti telah menempati seluruh ruang dihatinya.


Pagi,


Ken sudah rapi dan siap berangkat. Setelah berpesan pada Nathan agar tinggal dirumah saja tanpa harus memikirkan kantor dahulu, Ken kemudian melaju.


Begitu sampai di Perusahaan, pikirannya hanya satu. Ubun ubun.


Cepat memasuki ruangannya.


"Selamat pagi jelek!" ucapnya saat baru saja membuka pintu ruangannya.


Ken cengar cengir sendiri saat mendapati Ruangannya yang kosong.


"Si jelek kemana ya? Tumben belum datang." tanya sendiri, di jawab sendiri. Sambil melirik jam yang sudah menunjukan pukul delapan.


Harusnya Rimbun sudah ada di ruangan ini. Bahkan satu jam sebelum Ken datang. Tapi kali ini tidak.


Ken mendengus, sempat malu dengan ucapan selamat paginya tadi. Kemudian ia mencoba menghubungi Rimbun.


"Nomornya tidak aktif."


"Hp cumplung. Pasti ngedrop. Dasar!"


"Diberi uang banyak, tidak mau untuk membeli Hp. Malah di tabung. Untuk apa coba?" Ken kesal sendiri.


"Kalau aku sudah kesal nanti, Aku akan membelikan mu Sepuluh HP, lihat saja. Akan ku gantung di tiap pojok kamarmu. Biar mudah menghubungimu jelek!" gerutu Ken.

__ADS_1


Pria itu memilih duduk untuk mengerjakan beberapa lembar berkas, masih sesekali dengan melirik jam.


"Kenapa sih, tu anak? Sudah siang juga!" kembali menggerutu.


Kemudian bangun, berjalan mondar mandir.


"Apa dia masih marah padaku?" Ken akhirnya memutuskan untuk bertanya pada teman Rimbun yang biasa berangkat bersama Rimbun.


Ken melangkah dan mencari cari keberadaan teman Rimbun itu.


Ken melihat Gadis seusia Rimbun itu sedang mengepel lantai, kemudian dia menghampirinya.


"Heh!" panggil Ken tanpa tau siapa namanya.


"Tuan Ken." Tentu saja gadis itu sangat terkejut dan segera menunduk.


"Siapa namamu?" Tanya Ken.


"Saya.. Saya, Siska Tuan." jawab Siska gugup.


"Oh, ya. Siska. Kau teman Rimbun bukan?"


"I, iya Tuan."


"Kenapa sudah siang begini dia belum datang? Apa kau tau dia kemana?" tanya Ken lagi.


"Rimbun, tadi pagi saat saya samperin ke Kostnya, dia masih tidur Tuan. Saya sudah membangunkannya. Tapi Rimbun tidak mau bangun." jawab Siska masih menunduk.


"Dasar pemalas!" umpat Ken, sembari pergi begitu saja.


Entah kenapa Ken sangat kesal saat tau jika si ubun ubun itu masih tidur di kostnya.


Pikirannya cuma satu, melabraknya untuk memarahinya habis habisan.


Ken cepat ke mobilnya dan segera melaju.


"Bun Bun kenapa jadi pemalas ya? Atau dia masih marah padaku?" berbicara sendiri lagi.


"Harusnya dia itu bersyukur diberi pekerjaan enak seperti saat ini. Eh, malah seenak jidatnya saja. Awas saja ya, aku akan menyentil mu."


"Apanya yang enak disentil kira kira ya? Haha.. Aku akan menyentil bibirnya kembali. Itu pasti menyenangkan." Ken terkekeh, menertawakan kegenitannya sendiri.


"Kenapa bibirmu jadi candu sih Jelek?"


Tak perlu waktu lama, Ken sudah berhenti saja di depan kost milik Rimbun. Cepat turun dan berjalan ke arah kamar Rimbun.


Ken mengetuk pintu, beberapa kali. Namun pintu tidak juga terbuka.


"Rimbun.. Rimbun...!" Ken memanggil manggil.


"Apa Rimbun tidak ada?"


"Bun...!" Ken memanggil cukup keras.


Ken mencoba membuka pintu itu, dan ternyata tidak di kunci. Ken mengintip ke dalam. Di lihatnya Rimbun tengah meringkuk di kasur dengan masih berselimut.


"Astaga! Dia masih molor?" Ken masuk dan mendekat.


"Rimbun??" menarik kasar selimut gadis itu.


Rimbun kaget bukan kepalang, segera duduk mendekap tubuhnya sendiri. Sambil menatap Ken yang sudah membuang selimutnya sembarangan.


"Tuan, tuan Ken. Selimutnya. Kemari kan selimutnya. Aku.. aku dingin." ucap Rimbun dengan menggigil.


_____________

__ADS_1


__ADS_2