![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Di jalanan yang masih sepi. Hanya masih terlihat beberapa pengguna jalan saja. Mobil yang dikendarai Ken terus melaju dengan kecepatan yang sedang.
Setelah beberapa jam di perjalanan, akhirnya mobil itu pun tiba juga di rumah besar milik Nathan.
Para penjaga tentu saja langsung menyambut kedatangan mereka.
Ken turun dan membukakan pintu untuk Nathan.
Tak ingin membangunkan Mira yang masih pulas, Nathan akhirnya menggendongnya. Memasuki pintu dan menaiki tangga menuju kamarnya.
Dibaringkan kekasihnya itu di ranjang.
Nathan menarik selimut untuk Mira. Menatap wajah itu untuk beberapa saat, kemudian melangkah meninggalkannya untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Nathan kembali. Masih melihat Mira terlelap. "Kau pasti sangat lelah." bisiknya.
Nathan melangkah keluar kamar.
Di ujung sana, ia melihat Ken yang sudah mengenakan baju kantor, melangkah menghampirinya.
"Kau mau ke kantor Ken? Yang benar saja. Kau tidak lelah?" tanya Nathan.
Ken mendengus, "Sebenarnya Lelah. Tapi, aku ada urusan. Tidak apa apa, aku harus pergi." jawab Ken.
"Urusan pekerjaan? Kau bisa meninggalkannya untuk hari ini saja. Kita akan beristirahat Full hari ini, dan besok kita harus segera menyiapkan hari pernikahanku." ucap Nathan.
"Anda tidak perlu khawatir. Kita akan menyiapkannya setelah aku pulang. Aku berangkat ya?" Sahut Ken tetap melangkah.
"Ah, aku tau!" seru Nathan. Membuat Ken menoleh sejenak.
"Gadis itu. Urusan penting mu gadis itu kan?"
Ken hanya tersenyum. Kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Nathan yang terkekeh.
"Ken, Ken. Kau akan merasakan apa yang sudah aku rasakan. Lihat lah. Bersiaplah sang Fackboy! Kau akan jatuh cinta!" Nathan masih bersuara.
Ken, masih saja tersenyum menanggapi ocehan Nathan.
"Mana bisa. Aku hanya tidak ingin Rimbun bersedih. Hari ini, dia pasti sedang kebingungan menungguku." gumam Ken sembari masuk ke mobilnya.
Sebenarnya Ken lelah, belum lagi mengantuk. Karena tidurnya semalam sangatlah tidak nyaman. Bagaimana tidak, ia harus tidur di sofa dan bangun subuh subuh.
Benar yang dikatakan Nathan, jika gadis itu yang membuat Ken harus pergi ke kantor.
Tadi Ken sempat hampir tertidur, tapi saat mengingat jika pagi ini ia sudah menyuruh Rimbun datang kembali, Ken jadi sedikit khawatir. Tanpa dia, Rimbun pasti bingung di kantornya. Terpaksa Ken bangun dan memutuskan untuk pergi.
Tak butuh waktu lama, Ken sudah menuruni mobilnya yang ia parkir rapih di depan Perusahaan milik mereka.
Dengan langkah penuh wibawa, Ken melewati beberapa penjaga dan karyawan yang menunduk hormat memberi salam padanya.
Ken sudah berada di depan pintu ruangannya. Berhenti sejenak disana untuk merogoh Hpnya.
"Apa Rimbun sudah datang? Ah.." sempat menyesal karena tidak meminta nomor WA nya.
Ken memutar kenop pintu dan melangkah masuk.
Seketika terkejut melihat sosok wanita yang sedang sibuk bebenah di ruangannya. Wanita dengan rambut panjang lurus dan nampak cantik itu menoleh dan tersenyum kearah Ken.
"He, siapa kamu! Kenapa bisa di sini?" seru Ken menghampiri wanita itu dan tanpa peduli langsung menyeretnya.
"Keluar! Siapa yang mengijinkanmu masuk ke ruangan ini? Berani beraninya kau!" umpat Ken.
Wanita itu berontak, menarik tangannya.
"Tuan Ken. Bagaimana sih? Kau yang menyuruhku kemari dan menunggumu di ruangan mu! Kenapa sekarang marah marah?" seru wanita itu, cukup membuat Ken tersentak karena mengenali suaranya yang cukup akrab di telinganya.
Seketika Ken menatap wajah wanita itu.
__ADS_1
"Rimbun! Astaga...!" Ken mundur beberapa langkah.
"Astaga, Astaga.. Memang kau kira aku hantu??" pekik Rimbun kesal.
"Bukan begitu, tapi tapi. Ah, kau berubah. Aku sampai tidak mengenalimu." Ken masih terpaku di kedua kakinya, menatap Rimbun dari atas sampai bawah.
'Kenapa jadi semanis ini sih, si jelek?'
"Berubah jadi robot? Ini semua gara gara kau Tuan Ken! Kau yang menyuruhku untuk meluruskan rambutku dan merubah penampilanku. Aku jadi orang asing kan? Kau sendiri sampai tidak mengenaliku." sahut Rimbun melangkah dan membanting dirinya di sofa.
Ken yang sudah tersadar pun mengikutinya.
"Huh! Rambutku jadi tidak sekeren kemarin. Aku sudah bisa menebaknya!" gumam Rimbun sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Eh, eh. Apa yang kau lakukan bodoh!" Ken yang melihat itu segera menarik tangan Rimbun.
"Rambutku jadi jelek. Aku tidak suka!"
"Eh, enak saja! Ini bagus. Jangan mengacaknya! Biarkan seperti itu." seru Ken, masih menahan tangan Rimbun.
"Mana ada bagus. Kau tidak suka dengan rambut baruku ini kan?"
"Siapa bilang? Aku lebih suka kau seperti ini. Kau terlihat lebih seperti wanita pada umumnya." sahut Ken kemudian duduk di sebelah Rimbun.
"Tapi aku merasa Asing dengan diriku sendiri Tuan?" protes Rimbun.
"Sudah diam! Jangan macam macam dengan rambutmu." Ken menuding membuat Rimbun menganga.
"Kenapa? Ini kan rambutku?"
"Rambutku, rambutku. Memang iya! Tapi Aku yang mengeluarkan uang untuk rambutmu. Jadi aku punya hak! Awas kalau kau mengacaknya lagi. Aku akan meminta kau mengembalikan uangku yang sudah kau pakai untuk ke salon!" ancam Ken, sukses membuat Rimbun pucat.
"Ah, iya iya Tuan. Jangan begitu donk? Baiklah. Akan ku rapihkan lagi." Buru buru Rimbun mencari sisir di dalam tas kecilnya dan segera menyisir rambutnya.
"Aku akan menjaganya. Jangan meminta uang Tuan kembali ya?" ucap Rimbun sambil cengar-cengir.
"Ah, iya Tuan. Mengerti." Rimbun pun mengangguk semangat.
"Tapi, apa pekerjaanku Tuan?"
"Pekerjaan? Ah, iya. Apa ya?" Ken sendiri merasa bingung memikirkan pekerjaan untuk Rimbun, karena biasanya ia akan melakukan pekerjaannya sendiri tanpa bantuan siapapun.
"Tidak ada ya? Bagaimana kalau aku menjadi Office Girl lagi saja Tuan. Itu pasti menyenangkan." usul Rimbun.
"Hah! Menyenangkan kepalamu itu! Sudah habis uang banyak untuk ke salon, kau hanya akan bekerja sebagai Office Girl? Mana bisa. Aku akan merugi." ketus Ken.
"Ck, lalu apa? Memelototi anda begini saja?" ucap Rimbun.
"Kau bisa membantuku disini. Mengerjakan semua tugas kantor. Menemaniku makan, menemaniku menemui tamu. Dan, masih banyak lagi!"
"Hm, mana bisa. Aku tidak mengerti urusan kantor, apalagi berkas berkas yang di atas mejamu itu." sahut Rimbun.
"Ya harus bisa. Namanya juga Asisten ku, artinya pembantuku. Harus membantuku meringankan pekerjaan ku."
"Tapi aku tidak bisa! Aku ini hanya lulusan SMA, itu pun jurusan Bahasa sastra dan budaya. Aku tidak akan mengerti, yang ada akan salah semua!" Rimbun terus membantah.
"Belajar!" seru Ken sembari berdiri dan melangkah. Meraih berkas berkas di atas mejanya. Melempar kehadapan Rimbun.
"Cepat, kau ke ruangan Tuan Nath dan ambil berkas yang sama dengan itu. Bawa kemari." suruh Ken.
Sejenak, Rimbun meneliti.
"Siap Tuan. Aku akan kesana."
"Tidak pakai lama!"
Rimbun mengangguk dan berlalu.
__ADS_1
Ken hanya tersenyum menatap langkah Rimbun yang sedikit pecicilan itu.
"Gadis itu menyenangkan ya? Ah, aku jadi suka mempekerjakannya disini." gumam Ken.
Baru saja dia hendak duduk, pintunya terbuka kembali.
"Kenapa cepat sekali.._" Ken terbelalak ketika menatap sosok wanita yang dikiranya Rimbun itu.
"Sella!" Ken langsung berdiri.
"Ken. Maafkan aku." wanita itu melangkah.
"Kenapa kau kemari? Aku paling tidak suka ada wanita manapun yang ke ruanganku. Kau tau itu dari dulu kan?" wajah Ken seketika kesal.
"Sudah lama kau tidak bisa dihubungi, kau juga tidak memperdulikan aku. Terpaksa aku kemari Ken. Aku memikirkan mu siang malam." ucap Sella mendekat.
"Stop! Jangan mendekat, tetap disitu." Ken menuding, membuat Sella langsung berhenti.
"Ken.. Aku merindukan mu."
"Tapi aku tidak!"
"Aku ini pacarmu Ken. Tapi kau memperlakukan aku seperti orang lain. Sampai kapan kau seperti ini padaku?" Mata wanita itu sudah berkaca kaca.
"Sampai kau tidak betah jadi pacarku!" sahut Ken.
"Sudah ku bilang berkali kali. Jadi pacarku itu sulit. Aku punya banyak pacar. Aku sibuk membagi cinta dan waktuku untuk mereka. Tapi kau nekad saja mau menjadi pacarku." ucap enteng Ken.
"Kau bohong Ken. Kau menjadikan mereka pacar bohongan mu bukan? Sama seperti yang kau lakukan padaku!" jerit Sella.
"Sudah diam. Kalau kau tidak terima, kau boleh memutuskan hubungan kita. Tidak perlu dipersulit. Cepat keluar. Aku banyak pekerjaan!" bentak Ken.
"Tidak bisa Ken, aku tidak bisa putus darimu!" rengek Sella.
"Kenapa tidak bisa? Putus tinggal putus saja."
"Aku mencintaimu Ken!" Seru Sella.
"Halah, kau pikir aku bodoh. Bicara cinta. Lalu bagaimana dengan para laki laki mu diluar sana hah!"
"Ken, kau tau jika mereka itu hanya.."
"Hanya apa? Hanya untuk Heppy Heppy? Sama lah! Aku juga begitu. Punya banyak wanita hanya untuk Heppy Heppy saja. Jadi kita sama. Ayo keluar!"
"Tapi Ken, aku mencintaimu?"
"Sella! Kau ini tidak mengerti juga. Aku tidak mencintaimu, dan aku tidak bisa mencintai siapapun. Aku hanya menjadikan wanita pacar ku semata demi menjaga nama baik Tuan Nath saja. Cepat keluar!"
Sella yang diusir tidak peduli, malah memeluk Ken.
"Jangan lakukan ini padaku Ken. Aku berjanji akan memutuskan pacar pacarku yang lain. Tapi tolong jangan putuskan Aku. Aku mencintaimu Ken." ratap Sella.
Pas, Rimbun membuka pintu.
"Aku kembali.. Aku sudah menemukannya. Hebatkan aku..." dan melihat adegan di depannya itu, seketika melotot.
"Tuan Ken. Ma, maaf. Aku , aku tidak melihat kalian jika sendang..." terpaku di dua kakinya.
"Eh, Rim.. Lepas Sella, bodoh kau ini!" Ken seketika mendorong tubuh Sella dan berlari ke arah Rimbun.
"Rim, ini.. ini tidak seperti yang kau pikirkan." mendadak Ken sangat khawatir, seperti seseorang yang tertangkap basah sedang berselingkuh di depan Rimbun.
"Ah, itu pacar Tuan Ken ya. Cantik sekali.." bisik Rimbun.
"Diam! Bantu aku. Kau harus membantuku untuk mengusir wanita itu." Ken berbisik juga, kemudian meraih tangan Rimbun dan membawanya ke hadapan Sella.
______________
__ADS_1