Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Ken mah beda!


__ADS_3

"Kenapa Tuan ikut masuk???" Teriak Rimbun spontan saat melihat Ken masuk dan malah menutup pintu.


Yang diteriaki tak menggubris, matanya beredar. Pandangan yang begitu menyakitkan matanya bagi Ken. Kamar seorang gadis sungguh berantakan. Beberapa gantungan baju tergeletak di lantai dan dibiarkan begitu saja. Bahkan bekas nasi bungkus dan Es Teh masih terlihat menumpuk di pojokan ruangan. Menambah sempit saja.


Ken duduk di kasur tak berseprai yang tergeletak dilantai. Lalu membaringkan tubuhnya dengan kedua tangan tertumpu dibawah kepalanya. Menatap langit langit kamar kost sempit itu. Bau apek, hanya itu yang bisa dicium oleh hidung Ken.


"Apa kau tidak TBC tinggal di kamar ini? Ini seperti kandang Ayam." ucap Ken melirik Rimbun yang berdiri di sudut dengan bibir yang manyun.


"Begini begini aku punya tempat tinggal. Dari pada harus tinggal di pinggir Rel Kereta Api atau di bawah Jembatan, hayoo." sahut Rimbun.


Ken langsung duduk. "Kalau begitu rapih kan! Kau ini anak gadis! Seperti Nenek Nenek jompo saja!" bentak Ken.


"Hihi.. Tidak sempet Tuan!." bantah Rimbun, tapi buru buru memunguti barang barang yang berserakan di lantai.


"Aku rapihkan ya? Sebentar." Rimbun sibuk bebenah.


"Sudah Tuan. Rapihkan?"


"Apanya yang rapih, masih sama!"


Rimbun terdengar mendengus. "Namanya juga kamar kost. Ya beginilah. Kalau mau rapih dan bagus, Apartemen!" ucap Rimbun.


Ken hanya tersenyum. "Duduk lah disini." menepuk kasur disebelahnya.


Rimbun bergerak pelan dan menurut.


"Kau bilang tadi, kau harus membayar hutang Ayahmu. Memang semasa hidupnya, Ayahmu tukang berjudi ya? Sungguh orang tua yang tidak bertanggung jawab!"


"Heh!Jangan mengatai Ayahku. Ayahku itu orang yang sangat bertanggung jawab!" sarkas Rimbun dengan wajah yang begitu kesal.


Ken terbahak. "Bertanggung jawab bagaimana? Meninggalkan anak gadisnya hidup payah begini, dan meninggalkan hutang yang banyak! Payah sekali!"


"Cukup Tuan! Jika tidak tau cerita kami. Jangan berkomentar! Ayahku adalah pria paling baik di dunia ini. Jangan pernah sedikitpun menghinanya!" tuding Rimbun, kali ini matanya sudah berkaca kaca. Dan setitik air bening kini mengalir.


Ken tersentak, melihat air mata Gadis itu hatinya mendadak perih dan merasa sangat bersalah karena telah menistakan Ayah Rimbun tanpa bertanya dulu apa sebabnya Ayah Rimbun bisa meninggalkan banyak hutang.


Ken mendekat, meraih wajah Rimbun dan mengusap air mata gadis itu dengan ujung bajunya.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggung Ayahmu. Maafkan Aku." kemudian meraih tangan Rimbun.


"Apa aku boleh mendengar cerita masa lalu kalian?"


"Untuk apa? Untuk menghina Ayahku?"


"Tidak tidak. Aku perlu tau, karena aku ingin membantumu. Bukan kah kau sudah bekerja padaku? Sudah seharusnya aku membantumu." sahut Ken.


Rimbun terdiam sejenak. Kemudian menarik nafas.


"Kehidupan kami dulu bahagia dan serba kecukupan. Ayahku punya toko barang yang dikelola bersama Ibu." tatapannya menerawang masa itu.


"Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama , saat Ibu dinyatakan mengidap kanker Darah. Ayah sudah berusaha mengobati Ibu. Semua harta Ayah ludes. Bahkan tokonya terjual, begitu juga dengan rumah kami untuk biaya cuci darah Ibu. Lalu kami tinggal di kontrakan. Ayah masih terus berusaha untuk membuat Ibu sembuh. Dengan meminjam banyak uang pada rentenir mana pun yang ia temui. Tapi semua itu sia sia."


"Ibu akhirnya tidak selamat dan meninggal. Sejak saat itu, Ayah terus melamun dan jatuh sakit. Akhirnya hanya beberapa bulan kemudian Ayah menyusul Ibu."


"Ayah hanya berpesan padaku, agar aku bisa melunasi hutang hutangnya. Dia juga sempat meminta maaf padaku.." Rimbun terisak.


Hati Ken pilu mendengar cerita Gadis itu.


"Eh, eh. Tidak usah menangis. Kau kan sudah bekerja. Kehidupanmu akan jauh lebih baik. Aku akan membantumu membuat Ayahmu segera tenang disana." Ken kembali mengusap air mata Rimbun dengan ujung bajunya.


"Kenapa memakai itu Tuan? Baju mu jadi basah kan? Kalau rusak bagaimana? Ini pasti mahal harganya."


"'Astoge.., ni anak!'

__ADS_1


Ken jadi ingin tertawa. 'Benar benar ya? Masih melow begini, sempat sempatnya memikirkan bajuku?'


"Baiklah. Mulai besok, bekerjalah dengan baik. Bantu aku mengurus Perusahaan demi Tuan Nath. Kau paham?"


Rimbun mengangguk.


"Jangan lagi memulung!"


"Iya Tuan. Tidak."


"Em, kalau begitu aku pulang."


Rimbun mendongak. "Hah. Masuk kemari hanya untuk mengatakan jika Kost-an ku berantakan? Hanya untuk mendengar cerita dari ku? Setelah itu pulang?"


"Lalu? Kau berharap aku menginap disini begitu?"


"He, tidak tidak. Siapa yang berharap begitu. Tapi setidaknya, menemaniku makan malam begitu. Hihi, kan mumpung ada disini. Tadi makanannya kan sudah beli." sahut Rimbun.


Ken tersenyum dan mendekat. Mengangkat dagu Rimbun dengan telunjuknya. "Jika mau begitu, ganti dulu kamar kost mu. Aku bisa bengek satu jam saja berada disini."


"Sombong sekali anda. Besok aku akan menyewa Apartemen saja kalau begitu. Tapi kalau sudah sukses!" Rimbun tertawa geli dengan ucapan konyolnya.


Ken pun ikut tertawa,


"Asal kau mau bekerja dengan baik dan benar. Kau bisa mempunyai Apartemen sendiri. Tapi jangan memulung!"


"Ah, Iya. Baiklah Tuan Ken. Saya akan bekerja dengan baik pada Anda." kini Rimbun tersenyum manis.


Otak Ken hampir berhenti melihat itu.


'Ah,.. kenapa dia jadi manis begini sih? Seperti ingin membawanya pulang saja.' Ken menggaruk tengkuknya.


"Tuan! Jadi pulangnya?"


Ken merogoh dompetnya dahulu. Mengambil sebuah kartu ATM.


"PINnya 00xxx. Gunakan untuk membayar seluruh hutangmu. Kalau sudah selesai, kembalikan lagi." mengulurkannya pada Rimbun.


Rimbun terbelalak, tangannya sama sekali tidak bergerak.


"Jangan bandel. Mau Ayahmu cepat tenang bukan?"


"Tapi Tuan. Ini masalahku. Kenapa jadi kau yang susah?" Rimbun menunduk, kembali melow.


"Bun. Anggap saja ini timbal balik, karena kau sudah membantuku lepas dari Sella. Bonus untukmu. Tidak akan ku potong gaji bulanan mu." Ken meraih tangan Rimbun yang cukup gemetaran itu lalu menggenggamkannya.


"Aku pulang jelek!"


"Jelek!" bentak Ken.


"Eh, iya Tuan. Iya. Terimakasih." Rupanya Rimbun sedang bengong parah.


Ken memutar tubuhnya.


"Tuan Ken." Rimbun memanggil.


Ken menoleh dan hanya tersenyum. Meraih gagang pintu kemudian menutupnya dari luar.


"I Love You Tuan Ken yang tampan dan baik hati!" teriak Rimbun saat Ken menutup pintu.


Brak!


Ken seketika membuka pintu itu kembali.

__ADS_1


"Apa tadi kau bilang?" seperti tidak percaya ketika mendengar ucapan dari Rimbun. Ken ingin sekali lagi mendengarnya.


"I Love You Tuan Ken. Maafkan aku. Aku biasa mengatakan itu hanya pada Ayah dan Ibuku yang juga sering mengatakan itu padaku. Sekarang kau gantinya mereka. Karena kau satu satunya orang yang baik dan tulus padaku setelah Ayah dan Ibuku."


'Sial! Ku pikir, Rimbun beneran I Love You padaku. haha.. Pengganti orang tua, rupanya.'


"Ya Sudah. Cepat makan sana. Mandi dan tidur. Jangan keluar!"


Ken segera menutup pintu kembali dan melangkah. Tapi baru beberapa langkah,


"Ah, lupa minta nomor hp si jelek." Ken kembali lagi.


"Bun!" kembali membuka pintu.


"Tuan, kenapa balik lagi?" tanya Rimbun.


"Kau punya nomor hp yang bisa dihubungi?"


"Tentu saja. Meskipun jadul." jawab Rimbun, langsung mencari HPnya yang entah dimana ia simpan.


Setelah beberapa saat mengacak acak seluruh tempat, akhirnya menemukan benda itu.


Hp cumplung sudah di tangannya.


"Ini." menunjukan pada Ken yang langsung mendengus.


"Hp apa itu? Ganjel mobil?"


"Jangan meledak. Ini peninggalan Ayahku yang tersisa." Rimbun kembali manyun.


"Astaga... Maafkan aku Ayah!" ucap Ken.


"Baiklah, Ganjel mobil pun jadi. Yang penting bisa menghubungi mu jika ada perlu." ucap Ken kembali.


"Berapa nomornya?" tanya Ken.


Rimbun segera menyebutkan.


"Si Jelek, keriting. Sudah. Aku Save." Ken menekan tombol simpan.


"Aku pulang!" Ken memutar kembali tubuhnya.


"Tidak balik lagi?" tanya Rimbun.


"Tidak!"


"Benar?"


Ken akhirnya menoleh. "Kau sungguh mau aku menginap disini? Akan aku penuhi?" Ken sudah hendak memutar tubuhnya.


"Eh, tidak!" Rimbun langsung menutup Pintunya.


Ken terkekeh, kini mantap melangkah ke mobil.


Ken kembali terdiam sejenak saat sudah berada di depan kemudi. Menoleh cukup lama ke arah kost itu.


"Hanya mendengar dia berkata I Love You, jantung ku seperti mau copot! Padahal itu hanya ungkapan rasa senangnya karena menganggap ku sebagai pengganti orang tuanya. Sudah Gila aku."


Ken menarik nafas dan melaju.


"Ken, Ken. Dimana harga dirimu sebagai seorang Playboy yang biasa dirayu wanita? Bisa bisanya ambruk, didepan gadis jelek itu."


Playboy dimana mana merayu wanita, Ken mah beda. Playboy yang dirayu wanita!

__ADS_1


___________


__ADS_2