![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Pagi,
Mira cepat menarik tubuhnya ketika sadar tangan dan betisnya menumpang bebas di tubuh Nathan yang masih lelap dengan posisi membelakanginya. Seperti guling saja Mira memperlakukan tubuh Nathan tadi.
Wajahnya memerah. Mirip kepiting rebus. Jantungnya saja bertalu talu seperti genderang mau berperang.
Malu! Hahaha.. sudah pasti itu. Dirinya saja semalam sempat berteriak marah kepada Nathan yang juga melakukan hal sama sepertinya. Mungkin tak sengaja. Itu tidak rencanakan.
Benar! Mira saat ini sepemikiran dengan Nathan semalam. Tidak sengaja! Tidak direncanakan!
"Ah.. siapa suruh tidur disini? Siapa suruh menyuruhku tidur di kamarnya. Begini kan jadinya. Awas saja kalau menyalahkan ku. Mengira aku ingin menodai pikiran perjakanya!" umpat Mira sembari cepat cepat menyingkir dari ranjang.
Lalu Mira segera keluar dan menuju kamarnya sendiri. Mandi dan berganti.
Pagi ini Mira sudah semangat, kejadian semalam tidak ingin lagi di ingatnya. Rasa syukur, beruntung sudah pasti menumpuk di hati. 'Untung Tuan Ken tetap menungguku. Untung Tuan Nath langsung datang menolongku. Jika tidak.. jika tidak!'
Air mata Mira kembali jatuh. "Mas Ricard bukan manusia. Benar katamu Tuan Nath. Dia tidak pantas di sebut suami." setengah berteriak.
"Aaaa!" jerit Mira.
Wajah tampan menawan dengan senyum manis dan penuh kehangatan itu sudah tepat di depannya hampir tak berjarak.
"Siapa nama suamimu tadi?"
"Tuan. Anda mengagetkan saya!"
"Ricard?"
Mira mengangguk.
"Bagus sekali namanya. Seperti nama temanku. Tapi kelakuannya seperti hewan!"
"Kenapa Tuan tiba tiba kemari?"
"Sepertinya tadi kau bangun dengan sangat bahagia. Aku ingin mengintip wajah bahagia itu. Tapi.. malah air matamu saja yang ku lihat. Aku jadi tidak suka melihatnya."
"Tuan sudah bangun sejak tadi?"
Nathan terkekeh. "Bahkan aku duluan. Tapi karena aku tidak ingin mengganggumu yang sedang asyik. Aku akhirnya menikmatinya saja."
"Itu, tidak seperti itu! Tidak. Itu .. itu tidak sengaja. Sungguh!" tiba tiba Mira berteriak tidak jelas.
Nathan kembali terkekeh.
"Yang benar?" menatap Mira dengan mata lebih seperti sedang meledek.
"Sungguh! Aku tidak sadar. Ku pikir.."
"Guling..? Haha.. Guling hidup tepatnya." Nathan mencubit dagu Mira. Wajah itu semakin memerah saja menahan malu.
Cepat beranjak karena ingin cari aman.
Grep!
Nathan menangkap pinggang Mira. "Kenapa marah? Seharusnya aku yang marah bukan? Gantian, semalam kau sudah memarahiku, karena ketidak sengajaanku." namun keningnya di rapatkan pada kepala Mira sambil menikmati aroma rambut wanita itu yang menyeruak Indera penciumannya.
Hati Nathan semakin tenang menghirupnya. Padahal hanya bau sampo, tapi mampu membuat jantung Nathan mendetak sangat cepat. Dia terus menciumi rambut itu. Sampai tidak peduli jika rambut itu masih basah.
"Ah, Tuan. Lepaskan!" rintih Mira setelah sejenak sempat terlena oleh dekapan Nathan yang begitu menenangkan dirinya, meskipun jantungnya pun tak lepas dari degupan kencang.
Nathan langsung sadar dan melepaskan pelukannya. Kemudian mengangkat kedua tangannya.
"Maaf!" menyadari telah salah.
Mira menoleh, wajahnya semakin memerah saja.
__ADS_1
"Baiklah Tuan. Begini saja. Karena itu termasuk kecelakaan dan tidak tersengajakan, kita saling memaafkan saja ya?"
Nathan kemudian tersenyum. "Baiklah."
"Aku menunggumu di meja makan." Nathan segera keluar menuju dapur. Menarik kursi dan duduk. Menenangkan jantungnya yang masih tak karuan.
"Anda ingin sarapan di sini Tuan?" Mira sudah berdiri di sampingnya. Tapi kali ini menunduk.
"Ya! Duduklah." menarik kursi disebelahnya.
"Saya akan siapkan dulu."
"Tidak perlu! Biar pelayan saja."
Mira menurut, ketika melihat dua pelayan pria sudah datang menyiapkan sarapan Mira memilih duduk.
Keduanya kemudian sarapan tanpa percakapan sedikitpun.
Acara sarapan selesai sudah, Nathan meraih tissue. Mengusap mulut Mira. Mira segera menoleh dan hendak mengambil tissue itu tapi Nathan malah mencegah tangannya dengan tangan kirinya.
"Tuan. Saya bisa sendiri." melirik dua pelayan di sana yang tersenyum melirik mereka berdua.
"Kau malu dengan mereka? Mereka saja tidak malu sedari tadi memperhatikan kita. Seperti tidak pernah muda saja!" mengumpat para pelayan yang sedari tadi memang mengintip mereka sambil tersenyum senyum.
Mira semakin menunduk.
Cepat membereskan meja, tapi lagi lagi Nathan menangkap tangannya.
"Kembali lah ke kamarmu. Ini urusan mereka."
"Lalu saya kerja apa hari ini?" tanya Mira.
"Hari ini cukup menemani ku.. Ah, tidak. Aku yang menemanimu. Kau kan sedang bersedih. Bersedih memikirkan suami laknat mu itu."ucap Nathan.
Mira tidak menjawab atau bertanya lagi, segera bergegas ke kamarnya.
"Dia terlalu baik atau bagaimana ya?"
"Tapi aku banyak berhutang Budi padanya. Tidak mungkin dia bukan pria baik. Hati ku yakin kalau Tuan Nathan memang benar benar baik." berkecamuk perasaan yang aneh aneh di hati Mira.
Di meja makan, Nathan masih duduk. Tak lama Ken menghampirinya dan menarik kursi di depannya.
"Tuan. Anda perlu tau sesuatu."
Nathan mendongak, "Kau sudah berbicara dengan Ayah Mira?"
"Sudah."
"Apa yang kau katakan?"
"Memberi tahunya untuk segera berobat ke Dokter spesialis."
"Apa tidak sebaiknya kau menyewa Dokter spesialis khusus untuk Ayah Mira, Ken?"
"Kita sepemikiran Tuan. Aku bahkan sedang berencana."
"Baguslah. Lakukan yang terbaik. Siapa tau,. bisa menjadi pengganti Ayahku."
"Berdoa sekaligus berusaha Tuan?"
" Apa dia ada bertanya sesuatu?" tanya Nathan kembali.
"Ah iya. Dia bertanya.. Tumben sekali suami Mira mengirim uang begitu banyak. Dia bahkan mengucapkan terimakasih puluhan kali."
"Kau bilang kalau uang itu dari suami Mira?" mata Nathan melotot.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin harus mengatakan jika itu dari selingkuhan Nona Mira."
"Mulut mu Ken! Aku tersinggung bodoh!" Nathan semakin melotot. Sayangnya Ken tidak takut malah terbahak.
"Tersinggung artinya merasa. Haha.. Halalkan saja dengan cepat. Agar tidak terjadi perselingkuhan."
"Tunggu saja. Kau pasti terkejut nantinya."
"Aku sedang menunggu waktu itu." sahut Ken.
Keduanya tertawa.
"Tuan!" nada Ken tiba tiba berubah serius dengan tatapan yang juga serius.
"Anda perlu tau siapa nama suaminya."
"Ricard,"
Ken kini yang gantian melotot.
"Anda sudah tau?"
"Tak sengaja, tadi aku mendengar Mira mengumpat."
"Aku curiga jika dia.."
"Ricard Alexandre?"
Ken menghela nafas. "Aku pernah mendengar gosip."
"Ricard Alexandre, adalah salah satu Tuan muda dari keluarga Alexander yang kaya. Mana mungkin mempunyai hutang yang begitu besar bahkan tidak sanggup membayarnya pada seorang bos rentenir? Sedangkan Kayla kekasihnya saja anak Sultan."
Ken segera bangun dari duduknya.
"Hanya ada satu kunci untuk pencerahan. Kita hampir melupakannya. Aku akan segera membereskan sampah itu."
"Kau mau menemui pria itu?"
"Lebih cepat itu lebih baik Tuan. Agar kita bisa cepat meminang Nona Mira."
"Kau seperti nya sangat yakin Ken?" Nathan melirik Ken.
Ken tergelak lagi.
"Apalagi? Apa yang tidak harus di yakini, saat seorang Tuan Muda Nathan Edoardo berani mengambil resiko memeluk , menggendong bahkan mencium istri orang. Lalu, bagaimana kronologis semalam sehingga Tuan bisa satu ranjang dengannya? Jika bukan karena cinta."
"Kau mengintip Ken?" Nathan kini berdiri,mengepalkan tangannya.
"Pintu anda sangat rapat. Mana mungkin?"
"Kau menguping kalau begitu!" Nathan sudah mendekat.
"Haha.. Suara nona Mira subuh tadi menggelegar menembus tembok." sahut Ken.
"Aku tidak percaya! Kau pasti patroli! Mondar mandir di depan kamarku!" Nathan sudah menarik kerah baju Ken.
"Tuan. Marahnya nanti saja. Aku harus pergi segera. Mau semakin tersiksa hah?"
"Sekretaris Brengsek!" Nathan melepaskan baju Ken yang masih terkekeh. Ken merapihkan jasnya kemudian melangkah.
"Ken! Kau akan sendirian? Aku bisa menemanimu pergi." ucap Nathan sebelum Ken menjauh.
Ken menoleh. "Karena aku sekretaris yang pengertian. Tidak perlu merepotkan Anda. Aku pergi dengan anak buah kita." Ken melanjutkan langkahnya.
"Brengsek.. tapi kau pintar Ken!" Nathan tersenyum. Lalu ikut melangkah ke arah lain.
__ADS_1
Kemana lagi. Ke kamar Mira pastinya.
__________