![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
"Ricard menyandera seorang penjaga untuk bisa keluar dari tahanan. Bahkan ia sempat melukai beberapa Polisi dengan pistol yang ia rebut dari penjaga itu." ucap Ken menjelaskan bagaimana kronologinya Ricard bisa melarikan diri dari Tahanan.
"Sayang sekali. Padahal beberapa hari lagi hukuman untuknya baru akan diputuskan oleh hakim." timbal Nathan.
"Saat ini Pihak dari kepolisian sedang mengerahkan banyak Polisi untuk mencari keberadaan Ricard. Tapi biarkan saja. Aku ingin, kali ini kau yang harus memutuskan hukuman untuk Ricard. Bukan lagi Hakim." ucap Ken, dengan api amarah yang terlihat sangat berkobar dimatanya.
Nathan pun mengangguk mantap. Kemudian menolah pada Ken.
"Jangan sampai Mira tau soal ini."
"Kenapa? Bukankah Nona pun menginginkan kematiannya?" tanya Ken sempat heran tentang larangan Nathan.
"Rupanya Kau belum mengenal Mira dengan penuh, Ken. Itu hanya karena dia sedang emosi saja. Saat emosinya sudah mereda, maka hatinya akan dipenuhi rasa kasihan dan tidak tega. Aku yakin itu. Dan kali ini, aku tidak mau mengambil resiko apapun. Ricard harus mati ditanganku." jelas Nathan.
"Lalu bagaimana cara kita pergi kesana, apa kita perlu membohongi Nona?"
"Ya. Lakukan saja. Kau pulang, ajak Rimbun. Katakan pada Mira jika aku ada rapat penting, dan kau harus segera menyusul."
"Lalu anda?"
"Aku menunggumu di Markas Roy."
Ken pun mengangguk, setuju dengan usul Nathan.
"Baiklah. Aku akan pulang. Kau harus menungguku sebelum masuk. Karena aku juga sangat ingin merobek kulit Ricard."
Nathan mengangguk, "Jangan sampai Mira curiga!"
"Tentu!"
Ken kemudian melangkah keluar ruangan Nathan untuk ke ruangannya.
Pria itu menghampiri Rimbun yang masih sibuk dengan berkas berkas miliknya.
"Rim."
"Tuan Ken? Anda sudah selesai rapatnya?" Rimbun menoleh pada Ken yang masih berdiri di pintu.
"Sudah. Kau ikut aku sekarang."
"Kemana lagi Tuan?"
"Jangan banyak bertanya dulu. Cepatlah!"
Rimbun hanya mengangguk, segera menyambar tas kecil miliknya dan mengekor di belakang Ken.
Sepanjang perjalanan, Ken hanya diam. Seperti tidak ada selera untuk berbicara. Padahal pria itu terus mencuri pandang pada gadis manis di sampingnya itu. Mungkin Emosinya saat ini pada Ricard sangat memuncak hingga menyita seluruh otak Ken.
Mobil Ken berhenti tepat di depan Rumah Nathan. Ken segera turun, sebelum Ken sempat membukakan pintu mobil untuk Gadis itu, rupanya Rimbun sudah ikut keluar dari mobil.
Fic terlihat berlari menyambut dengan beberapa penjaga.
'Wah! Rumah ini besar sekali. Ini rumah siapa? Rumah Tuan Ken apa Tuan Nath. Tapi, mereka kan tinggal bersama. Artinya ini rumah mereka berdua.' Hati Rimbun berdecak kagum, matanya terus berputar mengangumi Rumah besar itu. Belum lagi saat melihat beberapa penjaga dengan sigap menyambut kedatangan mereka.
"Anda sudah pulang Tuan?" sapa Fic.
"Ah iya. Dimana Nona?"
"Nona.. Nona..." Fic sedikit gugup.
"Kenapa Fic? Apa ada yang terjadi pada Nona?" Mata Ken sudah membulat saja.
"Oh, tidak Tuan. Nona Mira baik baik saja. Hanya saja. Nona keluar dari kamar."
"Astaga! Di mana sekarang?"
"Di Ruang tengah Tuan."
Mendengar itu Ken langsung melangkah masuk, namun segera berhenti dan menoleh pada Rimbun yang masih terpaku di belakang.
"Rimbun. Ayo!"
__ADS_1
"Tapi.." Ken kembali mundur untuk menarik tangan Rimbun.
"Ayo cepat lah." Ken membawa Rimbun melangkah masuk.
"Tapi Tuan. Untuk apa mengajakku kemari?"
Ken kini menghentikan langkahnya, menoleh pada Rimbun.
"Kali ini kau harus menolongku." ucap Ken.
"Iya. Tapi apa dulu. Katakan dulu?" tanya Rimbun sungguh penasaran dengan keinginan Ken kali ini.
"Temani Nona Mira. Jaga dia untukku. Ku mohon. Tolong temani dia sampai kami kembali." jelas Ken.
"Nona Mira?"
"Ya, Nona Mira."
"Dia sebenarnya siapa?"
"Cepat lah. Kau akan tau sendiri nanti." Ken kembali menarik tangan Rimbun untuk menaiki tangga.
'Nona Mira, itu sudah pasti salah satu dari Pacar Tuan Ken juga. Menyebalkan! Masa aku disuruh menemani pacarnya sih? Males banget?' hati Rimbun, tak sadar dongkol setengah mati.
Mereka kini sudah sampai di ruang tengah.
Ken sudah bisa melihat Mira yang duduk disana. Ken langsung melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Rimbun begitu saja dan segera berlari menghampiri Mira.
"Nona. Kenapa disini?" melirik beberapa pelayan wanita yang berdiri tidak jauh dari Mira. Mereka segera menunduk.
"Maafkan kami Tuan. Nona memaksa keluar."
Ken hanya mendengus, kembali menoleh pada Mira.
"Jangan salahkan mereka. Aku yang meminta." ucap Mira, melirik gadis yang masih berdiri di ujung sana.
"Itu yang namanya Rimbun?" Mira menunjuk Rimbun, sambil tersenyum kearahnya, Rimbun hanya membalas senyuman itu dengan tipis dan anggukan ringan tanpa mendekat.
"Nathan?"
"Tuan Nath, Tuan Nath sedang ada rapat penting. Belum bisa pulang. Dia menyuruhku pulang untuk melihatmu, dan membawa Rimbun kemari. Setelah itu, Aku akan segera menyusulnya." jawab Ken.
"Bukankah rapat pentingnya sudah tadi pagi?" tanya Mira sedikit curiga. Tidak biasanya Ken pulang sendiri sementara Nathan tertinggal. Jika harus, biasanya Ken yang tinggal dan Nathan yang pulang duluan.
"Tadi pagi, tamunya tidak jadi datang. Dan baru siang ini." jawab Ken sempat terlihat sedikit gugup.
"Ah, kau harus kembali ke kamarmu." ucap Ken.
"Tidak mau Ken. Aku bosan."
"Kau tidak akan bosan lagi jika ada gadis itu." Ken menoleh pada Rimbun.
"Rimbun. Kemari lah." panggil Ken.
Sebenarnya Rimbun malas, tapi terpaksa mendekat juga.
"Temani Nona Mira di kamarnya ya?"
'His dah... dah.' Umpat Rimbun dalam hatinya.
"Rimbun!"
"Eh, iya Tuan. Iya."
" Nona Mira ini sedang sakit. Dia tidak boleh capek dan harus beristirahat di kamarnya. Pastikan dia tidak keluar kamar dahulu. Temani dia jangan sampai dia bosan! Kau kan pintar menghibur." ucap Ken.
'Astaga...Pintar menghibur? Kau pikir aku badut hah!' hati Rimbun kembali mengumpat. Tapi kepalanya mengangguk dan bibirnya tersenyum walaupun terpaksa.
"Ayo kembali ke kamar Nona. Biar ku bantu."
Tanpa segan, Ken merengkuh tubuh ramping Mira dan membopongnya.
__ADS_1
Seketika mata Rimbun membulat sempurna menatap itu.
'Ternyata Tuan Ken bisa romantis juga ya sama pacarnya. Atau jangan jangan , wanita ini adalah pacar kesayangannya?'
"Rimbun. Ayo ikut!" seru Ken pada Rimbun sambil melangkah membawa tubuh Mira.
Masih dengan sambil terpaksa, Rimbun mengikuti langkah Ken.
Setelah berada dikamar Nathan, Ken menyandarkan tubuh Mira ke ranjang setelah pelayan membetulkan bantal.
"Kau harus banyak istirahat Nona. Jangan banyak berjalan dulu agar cepat pulih." ucap Ken.
"Ah iya Ken. Maafkan aku. Aku terlalu bosan tadi."
"Tidak apa apa. Tapi lain kali jangan seperti itu lagi. Apa kau tidak kasian pada Tuan Nath? Dia tidak berhenti memikirkan mu. Dan sangat takut jika terjadi apa apa lagi padamu."
"Sudahlah Ken. Aku kan sudah meminta maaf. Jangan adukan ini padanya ya?"
Ken tersenyum saja.
"Kalau begitu, aku harus pergi menyusul Tuan Nath. Kau bisa mengajak dia mengobrol. Dia sangat asyik orangnya." bisik Ken, sambil melirik Rimbun.
"Ah.. Itu mungkin karena kau sedang menyukainya. Semua akan terasa asyik untuk orang yang sedang jatuh cinta." bisik Mira kembali.
"Hus.. Jangan begitu Nona. Jangan membuatku malu didepan wanita. Itu belum pernah terjadi dalam hidupku."
"Dan sebentar lagi, akan segera terjadi." bisik Mira, sambil tersenyum senyum.
Ken hanya tertunduk, tak sadar ikut tersenyum juga.
Rimbun yang masih berdiri di ujung sana menggerutu dengan bibir yang manyun.
'Dasar Sial. Kesini hanya untuk melihat mereka mesra mesra begitu. Apa sih maunya Tuan Ken? Menjadikan aku obat nyamuk! Atau jangan jangan Nona Mira ini belum tau siapa Ken yang sebenarnya. Lihat saja. Aku akan memberi tahunya. Jika Tuan Ken yang sedang merayunya ini adalah seorang Playboy yang banyak pacar!'
'Dasar! Pembohong! Katanya jadi Playboy hanya demi Tuan Nath. Katanya semua pacarnya sudah diputusin. Eh, masih ada saja. Malah sok sok romantis begitu!'
"Bun. Aku pergi Ya?" Pamit Ken, membuat Rimbun tersentak dari lamunannya.
"Bun!"
"Eh, iya."
"Titip Nona Mira. Jaga baik baik! Setelah selesai aku akan cepat kembali." ucap Ken, tidak dijawab oleh Rimbun.
"Kau bisa tidak, jelek?" Ken menuding kening Rimbun.
"Ck, iya iya. Pergi tinggal pergi juga!" ketus Rimbun menepis tangan Ken.
"Kok kamu jadi sewot?" Ken sudah melotot.
"Ken.. Bukan begitu cara berpamitan yang benar pada wanita! Kau ini, tidak Romantis sekali." Protes Mira yang melihat adegan mereka.
"Ah, kau benar Nona. Aku salah." sahut Ken. Tiba tiba meraih tengkuk Rimbun dan mencium pipi kanan dan pipi kiri Rimbun serta keningnya.
"Aku pergi dulu ya manis?" mencubit hidung Rimbun.
Sungguh, Rimbun dibuat kaku oleh sikap tiba tiba Ken yang sangat cepat dan tak terduganya tanpa bisa Rimbun hindari itu.
"Kau sudah gila Tuan!" Teriak Rimbun sambil mengusap berkali kali Pipinya. Wajahnya sungguh berubah memerah, menahan malu, tidak enak hati dan campur aduk pada Mira.
Ken malah terkekeh tanpa dosa sambil melangkah keluar.
"Maafkan aku jelek! Aku khilaf!" seru Ken setelah berasa diluar kamar.
"Dasar Gila. Kau Gila!" Umpat Rimbun. Kini menoleh pada Mira, semakin heran melihat Mira terbahak.
'Kenapa mereka Gila semua??'
Rimbun tak habis pikir, kenapa Mira tidak marah malah tertawa senang melihat Ken sudah menciumnya di depan matanya sendiri.
_____________
__ADS_1