![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Dua pria itu terlihat mondar mandir tak tenang di depan ruangan dimana Mira di periksa seorang Dokter.
Nathan dan Ken sama sama tidak bisa duduk.
Perasaan gelisah, takut terjadi apa apa dengan Mira.
"Ken, apa Mira punya penyakit berbahaya?"
"Tuan bersabar lah. Sebentar lagi kita akan tau." sahut Ken.
"Selama kita belum bertemu Mira, hidupnya menderita Ken! Mira kurang makan, kurang tidur. Kelelahan bekerja, keliling kota menjual asongan Ken. Mira pasti punya penyakit serius karena penderitaan itu. Ken, bagaimana ini? Aku takut Ken! Kalau Mira tidak selamat bagaimana? Aku bisa gila Ken!" Nathan terus menerocos penuh khawatir.
"Tuan! Kau ini bicara apa sih? Sudah diam!" bentak Ken.
"Ken!!"
"Diam! Diam tidak! Kalau tidak bisa diam, lebih baik keluar. Aku yang akan menunggu disini. Bikin tambah panik saja." Ken kembali membentak.
Nathan tidak peduli dengan bentakan Sekretarisnya itu, yang menguasainya saat ini adalah ketakutannya. Nathan malah memeluk Ken dengan tiba tiba.
"Aku takut Ken. Kau ini bodoh sekali. Aku takut brengsek!" umpat Nathan menaruh kepalanya di bahu Ken.
"Astaga!! Tuan! Malu sedikit kenapa?" cepat cepat mendorong tubuh Nathan.
"Ken! Kenapa kasar padaku? Aku ini sedang takut. Aku sedang galau. Aku butuh dekapanmu Ken!" rengek Nathan, mengusap air matanya.
"Ya Tuhan, Tuan Nath. Kenapa tiba tiba cengeng begini sih?" Ken buru buru meraih pundak Nathan dan membawanya ke bangku.
"Aku juga tidak mengerti Ken. Aku terlalu takut."
"Tidak apa apa. Tenang lah Tuan. Duduk lah dulu disini."
Baru saja mereka hendak duduk, Dokter sudah membuka pintu.
Keduanya langsung menoleh dan menyerbu.
"Siapa suami Nona Mira?"
Keduanya menoleh.
"Dia dokter!" Ken menunjuk Nathan.
"Bagaimana keadaannya Dok!" tanya Nathan cepat.
"Silahkan masuk dulu Tuan!"
Tanpa menjawab Nathan segera melangkah di ikuti Ken.
"Mira!" Nathan melihat Mira sudah sadar tapi masih terbaring di ranjang pasien.
"Tuan." Dokter itu memanggil Nathan yang hendak menghampiri Mira.
"Apa yang terjadi dengannya?"
Dokter itu tersenyum.
"Nona baik baik saja. Ini umum terjadi di kehamilan trimester pertama."
"Maksudnya apa Dokter?" Nathan belum mengerti ucapan Sang Dokter.
"Istri Anda hamil Tuan, kandungannya sudah berjalan lima mingguan."
"Hah! Yang benar Dokter?" Nathan sungguh tercengang.
"Benar Tuan. Semua hasil pemeriksaan menyatakan jika Nona Mira positif hamil."
Senyum sumringah langsung berkembang di bibir Nathan. Rasa khawatir dan takutnya mendadak terganti rasa bahagia yang meluap luap.
__ADS_1
"Mira hamil. Anak ku. Milik ku!"
"Kalau begitu saya permisi Tuan. Jaga saja dengan baik istri Tuan. Jangan sampai kelelahan agar janin anda dan istri anda selalu sehat." ucap dokter itu segera keluar dari ruangan.
Nathan hanya mengangguk, kemudian menghampiri Mira.
"Mira. Kau hamil. Kau hamil sayang? Dia milikku. Dia bayiku Mira. Aku senang. Aku bahagia sekali." Nathan langsung memeluk Mira.
"Hiks.. hiks..!" terdengar isakan Mira di dada Nathan.
Nathan langsung mengangkat wajah Mira.
"Mira. Kenapa kau menangis?" menatap wajah Mira yang penuh kesedihan.
"Kenapa kau sedih Mira? Kau mengandung anak kita. Kau tidak boleh bersedih." mengusap wajah Mira yang malah semakin menangis itu.
"Ken!" Nathan menoleh pada Ken yang berdiri di sana. Ken hanya menunduk, terlihat wajah Ken pun penuh kesedihan.
"Ken!"
"Mira!" Nathan menoleh segera bergantian menatap wajah wajah sedih itu.
"Kalian ini kenapa?" Nathan langsung berdiri menghampiri Ken.
"Ken, Mira hamil. Itu milik ku. Kau kenapa tidak senang?"
Ken hanya menggeleng saja. Masih menunduk.
"Kalian ini kenapa sih?" Nathan berganti menghampiri Mira kembali.
"Kenapa kalian tidak senang dengan kehadiran bayiku? Apa salahnya? Kalian tidak menyukai kehadirannya? Dia tidak bersalah. Dia tidak bersalah Mira!" Nathan mengguncang bahu Mira. Duduk dengan lemas disisi Mira. Kali ini Nathan ikut menangis.
"Aku tau. Aku tau ini salah. Seharusnya ini belum boleh terjadi!" Nathan kembali merengkuh Mira.
"Maafkan aku. Maafkan aku. Kau tenang saja Mira. Kau tidak perlu khawatir." Nathan mengangkat wajah Mira. Mengusap air mata Mira.
"Ken!" Nathan menoleh pada Ken.
"Temui Ricard. Apapun yang terjadi, pastikan dia harus menandatangani surat CERAI itu sekarang juga!"
"Baik Tuan! Masalah itu, serahkan padaku. Aku akan membereskannya hari ini juga. Sebaiknya kita bawa Nona pulang sekarang." sahut Ken.
"Kau benar."
"Kita pulang sayang..!" Nathan merengkuh tubuh Mira. Menggendongnya dan segera melangkah.
"Tuan tunggu di mobil. Aku akan membayar biaya administrasinya dulu." ucap Ken.
Nathan mengangguk setuju. Ken melangkah kearah resepsionis. Lalu Nathan melangkah keluar dengan menggendong Mira.
Tanpa mereka sadari, seseorang tengah merekam langkah mereka dengan kedua mata yang sinis.
Rupanya Ricard, tanpa sengaja melihat mobil Ken yang melaju cepat. Dan Ricard membuntuti mereka sampai di rumah sakit itu.
Setelah memastikan dua pria itu sudah pergi, Ricard menghampiri sang Resepsionis.
"Sus. Apa yang terjadi pada mereka tadi?"
"Mereka yang mana Tuan?"
"Dua pria tadi bersama wanitanya. Mereka temanku. Tapi aku belum sempat bertemu, mereka sudah pulang." ucap Ricard.
"Oh, Tuan Nathan dan Nona Mira?"
"Ah , ya benar. Apa yang terjadi?"
"Tidak ada yang serius Tuan. Nona Mira hanya pingsan. Rupanya Nona Mira sedang hamil. Itu biasa terjadi pada kehamilan pertama." ucap sang Suster membuat Ricard terbelalak lebar.
__ADS_1
"Ha, hamil? Maksudmu, wanita itu hamil?" Ricard seperti belum percaya.
"Iya Tuan. Istri Tuan Nathan tadi hamil. Jika mau jelas, Anda bisa bertanya langsung. Teman Anda bukan?"
"Ah, iya Sus. Terimakasih atas infonya." Ricard segera melangkah pergi, berjalan pelan sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Brengsek kau Nath. Bisa bisanya kau membuat istriku hamil. Aku saja yang menikahinya selama ini belum pernah menyentuhnya sedikitpun. Brengsek kalian!" umpat Ricard.
"Kalian pikir, dengan kehadiran bayi itu akan membuat aku kalah? Tidak mungkin aku membiarkan itu terjadi!"
"Akan ku buat kau merangkak di kaki ku Nathan. Mengemis meminta tanda tangan dariku! hahaha... Keberuntungan ku kali ini tidak akan ku sia siakan. Aku akan menjadikan kehamilan Mira untuk menghancurkan mu Nathan!!!"
Ricard berjalan, menuju mobilnya. Kemudian melaju sambil menyusun rencana liciknya.
Sementara Nathan dan Ken sudah sampai di rumah mereka.
Nathan sudah membawa Mira ke kamarnya. Membaringkan Mira di ranjang. Kembali mengusap wajah kekasihnya itu. Menggenggam erat tangan Mira dan mencium berkali kali.
"Nath."
"Iya sayang.. Apa ada yang kau rasakan?"
"Tidak, tidak ada. Aku, aku hanya ingin kau dan Ken jangan bertindak gegabah. Biarlah, tidak perlu menemui Ricard. Bukankah dua bulan lagi Hakim bisa memutuskan perceraian kami?"
"Mana mungkin Mira? Sekarang keadaannya berbeda. Kau hamil. Ada anakku disini!" menunjuk perut Mira.
"Aku tidak mungkin membiarkan bayi ini lebih dari tiga bulan disini tanpa pernikahan kita! Aku tidak mau nasab bayi ini terputus dari ku!"
"Apapun yang terjadi, aku harus sesegera mungkin menikahi mu!"
"Nath."
"Ken! Kau bisa mengurusnya? Atau aku perlu turun tangan?" Nathan menoleh pada Ken.
"Tidak perlu Tuan. Aku akan pergi sekarang juga. Sendirian, Anda hanya perlu menjaga Nona." sahut Ken melangkah.
"Ken! Jangan! Aku hanya mencemaskan kau dan juga Nath. Biarlah Ken!" seru Mira, membuat Ken kembali menoleh.
"Kau tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu. Hari ini pikiran ku sangat kacau. Jangan pergi sekarang. Temani kami dulu Ken. Sungguh firasat ku tidak enak." ucap Mira, kemudian menoleh pada Nathan.
"Nath, cegah Ken! Jangan pergi sekarang!"
"Tenang lah Mira. Ken itu cerdas. Kau harus percaya padanya."
"Benar Nona! Kau harus percaya. Jika tidak hari ini, esok atau lusa. Urusan ku masih banyak. Lagian, lebih cepat itu lebih baik." sahut Ken.
Mira tidak bisa lagi mencegah. "Baiklah, terserah kau saja kalau begitu. Tapi, berhati hati lah."
"Tentu saja." Ken kembali melangkah keluar.
"Ken!" Nathan menyusul langkah Ken keluar.
"Ada apa lagi?" Ken berhenti lagi.
"Apa sebaiknya, kau jangan pergi hari ini? Kau tidak melihat Mira tadi? Tidak biasanya Mira mengkhawatirkan mu sampai seperti itu?" ucap Nathan.
"Tidak apa apa Tuan. Aku lebih mengkhawatirkan hubungan kalian jika harus seperti ini jadinya. Kau benar, kau tidak boleh membiarkan bayimu terlalu lama tanpa pernikahan. Apa jadinya, jika seorang Nathan harus terputus nasabnya kepada anak kandungnya sendiri? Tidak ada pilihan lain untuk ini."
" Kau benar. Tapi Ken, wanita hamil biasanya berfirasat tajam."
"Anda salah. Nona bukan sedang berfirasat. Nona sedang sensitif. Itu sebabnya Nona akan selalu berpikir negatif. Dan menganggap semua hal berbahaya."
"Kau tenang saja. Anda hanya perlu meyakinkan Nona dan menenangkannya. Kali ini biarkan aku yang akan menemui Ricard dan menekannya. Jika aku tidak berhasil. Anda boleh turun tangan sendiri!"
___________
__ADS_1