![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
"Jam berapa Ken?" Nathan bertanya pada Ken yang langsung melirik hpnya.
"02.30." jawab Ken cepat, singkat.
"Sebaiknya kau ke kamar Ken. Kau pasti lelah." ucap Nathan.
Ken mengangguk, lalu melangkah. Masih sempat menoleh kembali seperti masih sangat ragu untuk meninggalkan Nathan. Ken rasanya masih ingin menemani Nathan mengingat kejadian yang cukup menguras emosinya itu. Tapi ini sudah hampir pagi, Mira juga mungkin butuh istirahat.
Ken menutup pintu kamar Nathan setelah berada diluar.
Nathan kini kembali pada Mira yang masih bersandar.
Pria itu merapihkan tempat tidur itu dengan ala kadarnya saja. Memungut bantal dan guling yang masih berceceran dilantai. Kemudian meraih pakaiannya dan pakaian Mira.
Nathan menatap pakaian Mira yang ada ditangannya itu, pakaian itu sudah rusak terkoyak karena ulahnya. Hatinya kembali teriris.
'Kenapa aku bisa menjadi seperti binatang?'
Nathan menguatkan diri. Tak ingin membuang pakaian rusak milik Mira itu, Nathan justru berniat menyimpannya.
'Aku akan menyimpan ini 'sebagai penyemangatku' untuk membunuhmu!'
'Ricard! Kau sudah membuat Mira cukup menderita.' Nathan meremas pakaian itu sesaat sebelum akhirnya menyimpannya dengan baik di lemari. Kemudian meraih sebuah selimut tipis dan membawanya mendekati Mira.
Nathan menggunakan selimut itu untuk menutup bagian seprei yang terkena darah. Dia tidak ingin mengganggu Mira jika harus mengganti Seprei itu sekarang.
"Tidurlah, kau harus istirahat." ucap Nathan pada Mira menepuk bantal.
Mira menatap ragu kearah Nathan.
"Tuan, saya ingin tidur dikamar saya saja."
Nathan tertegun dengan ucapan Mira. Dia paham jika Mira masih sangat trauma. Tapi mana mungkin Nathan membiarkan Mira tidur sendirian disana? Nathan tidak mungkin bisa tenang melewati malam ini jika harus tanpa melihat Mira.
Nathan meraih tangan Mira, duduk lebih mendekat.
"Mira. Saat ini aku tidak sedang terpengaruh apapun. Aku dalam keadaan sadar sesadar sadarnya. Apa kau curiga?"
"Bukan begitu,"
"Begini saja. Kau boleh mengikatku. Tangan dan kakiku atau seluruh tubuhku bila perlu agar aku tidak bisa bergerak. Aku hanya perlu untuk terus melihatmu Mira. Mana aku bisa bernafas jika harus tidak melihatmu dalam keadaan kita yang masih belum tenang?"
Mira menunduk, sebersit rasa bersalah tiba tiba menggelantung di hatinya. Ucapannya sudah pasti menyinggung pria itu. Seolah tidak mempercayai Nathan. Padahal sudah jelas, jika kejadian menjijikkan tadi murni bukan Nathan yang sebenarnya. Semua hanya pengaruh, pengaruh obat sialan dari Ricard yang sudah menyusahkan mereka berdua.
"Maaf!" ucap Mira lirih.
Nathan hanya tersenyum, kemudian membantu Mira untuk berbaring.
"Apa kamu mau ku pijat? Aku bisa mengurut mu. Seluruh tubuhmu menggunakan minyak." tawar Nathan, matanya kali ini berkaca kaca.
Seketika memeluk Mira yang sudah terbaring. Tentu saja Mira terkejut dan bangun kembali. Nathan makin mengeratkan pelukannya.
"Tubuhmu pasti sakit semua karena ulahku. Maafkan aku." Nathan terisak.
"Tuan." Mira mendorong pelan.
"Mana yang sakit. Pasti sakit semua kan?" Nathan meraba lengan Mira.
__ADS_1
Mira mengangguk.
"Tapi tidak apa apa. Besok pasti sudah mendingan. Tuan juga harus istirahat."
"Kenapa bisa seperti ini Mira? Aku menyakitimu!"
"Bukankah kita akan melupakannya, kenapa mengungkitnya lagi?"
"Ah iya. Kita akan melupakannya." jawab Nathan menghapus air matanya.
Lalu merengkuh kepala Mira dan mencium keningnya. Mungkin karena penasaran dengan bekas perbuatannya,pria itu menyibakkan rambut Mira, memeriksa bagian leher Mira.
Nampak jelas warna merah kebiruan tersebar disana. Bahkan ada yang bekas gigitan.
"Berapa banyak luka gigitannya?" Nathan kembali bertanya.
"Hampir di sekujur tubuh." jawab Mira.
"Ya Tuhan."
"Apa sempat aku memukulmu? Siapa tau aku tidak ingat, katakan."
Mira menggeleng.
"Benarkan aku tidak memukulmu?"
"Tidak. Tapi pinggangku sakit. Tuan terus menarik ku. Dengan mencengkeram kuat pinggangku."
"Sudah! Jangan mengingatnya lagi." dada Nathan terasa amat sesak.
"Aku akan membunuh Ricard. Membunuhnya dengan tanganku sendiri! Aku bersumpah Mira!" gumam Nathan dekat ditelinga Mira.
Mira langsung menoleh ke wajah Nathan.
"Jangan Tuan."
"Kau masih saja membelanya, setelah apa yang dia lakukan?"
"Bukan seperti itu!" Mira mengguncang lengan Nathan.
"Aku tidak ingin memperkeruh keadaan. Karena walau bagaimana pun kita ini diposisi salah juga. Jika orang lain tau status kita. Apa mereka tidak akan menertawakan mu?"
"Mereka tidak bisa menertawakan aku, karena Ricard menyembunyikan pernikahan kalian dari Publik. Jika itu terbongkar, merupakan aib dia juga. Kenapa? Karena semua orang tau, jika Ricard sudah bertunangan dengan Kayla."
"Kau tetap tidak boleh membunuhnya Tuan. Berjanjilah. Bukan karena aku membelanya. Aku hanya takut kau akan kenapa napa. Kau bisa mendekam di penjara."
"Baiklah baiklah, aku tidak akan membunuhnya. Tidak jadi. Aku hanya akan mengebiri nya saja." sahut Nathan.
"Tidurlah Mira , tidurlah." cepat merengkuh tubuh Mira.
Nathan mendekap lagi Mira dengan hangat, terus membelai rambut Mira dengan lembut. Mencoba memberi kenyamanan terbaik untuk Mira. Hingga Mira benar benar terlelap.
Nathan mengintip wajah Mira.
"Dia sudah tidur." Nathan menarik nafas panjang. Tangannya bergerak pelan, ingin sekali membuka jubah mandi yang di kenakan Mira saat ini. Nathan sungguh penasaran dengan sisa perbuatannya.
"Pasti banyak sekali luka." namun Nathan langsung menarik tangannya.
__ADS_1
"Jika dia sampai terbangun. Bisa mati aku. Ah....!" untung Nathan cepat tersadar.
"Baiklah, tunggu Mira tenang dan mau menunjukkannya sendiri."
Kemudian Nathan memiliki untuk duduk di lantai menyandarkan kepalanya di ranjang sambil tangannya terus menggenggam tangan Mira tanpa lepas. Sampai Nathan ikut terlelap dengan posisi seperti itu.
Pagi sudah mulai menyingsing, dua orang di dalam kamar itu belum ada yang terbangun. Mungkin karena penat sangat menguasai keduanya.
Sementara di halaman rumah itu.
Plak... Plak... Plak....!!!
Entah sudah berapa kali pukulan Ken mendarat di tubuh para penjaga.
"Bodoh! Bodoh! Tidak berguna!" umpat Ken.
"Maafkan kami Tuan." mereka menunduk meremas jari jemari masing masing.
"Kami memang sempat mendengar Teriakan Tuan Nath dan Nona Mira. Tapi mana mungkin kami berani mendobrak pintu itu. Kami berpikir, mereka sedang bertengkar karena Tuan Nath pulang dalam keadaan mabuk." ucap seseorang.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kami sungguh tidak mengerti." ucap yang lain.
Ken hanya menggertakkan giginya dengan geram, kemudian menoleh pada Fic yang berdiri dibelakangnya.
"Pecat mereka semua Fic, penjaga tidak berguna!"
"Tapi Tuan."
"Tuan!" seseorang berlutut di kaki Ken.
"Kami mengabdi sudah lebih dari sepuluh tahun dirumah ini. Adakah kesalahan kami selain semalam? Tolong beri kami toleransi." iba pria yang berlutut itu.
Ken tak menghiraukannya kemudian melangkah masuk. Fic segera menyusul.
"Tuan, anda tidak bisa memecat mereka."
Ken menoleh,
"Tuan, jika terjadi penjaga mendobrak pintu kamar Tuan Nath, apa anda tidak membayangkan bagaimana malunya Tuan Nath dan Nona?"
Ken nampak berpikir.
"Lebih bersyukur mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi." sambung Fic.
Ken mengangguk, "Kau benar. Baiklah, jangan memecat mereka."
Ken melanjutkan langkahnya ke kamar.
Hari ini Ken tidak akan pergi kemana pun. Pikirannya hanya satu, mengumpulkan bukti bukti dan berkas untuk Mira menggugat cerai Ricard di pengadilan agama. Karena pernikahan mereka sah dan tercatat resmi di catatan negara. Itu tentu memerlukan waktu dan proses yang panjang.
Dengan begitu, satu urusan akan kelar. Setelah Mereka resmi bercerai maka urusan ini akan dilanjut, menjadi penuntasan dendam Ken untuk Nathan kepada Ricard.
Ken sudah menyimpan ini sejak dulu, karena Ken sudah mencurigai Ricard sejak pertama mengenalnya. Namun Nathan selalu mencegah Ken berbuat nekat.
Tapi kali ini tidak, Ricard sudah keterlaluan dan mengenai Mira, sebenarnya baik Ken maupun Nathan sendiri sudah tidak bisa memberi toleransi!
_____________
__ADS_1