Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Mira pelit!


__ADS_3

Kapolres,


Terlihat Seorang Wanita melangkah memasuki sebuah ruangan khusus para pembesuk tahanan. Setelah berbicara sebentar pada Petugas, Wanita itu di persilahkan untuk menunggu sebentar. Petugas itu kemudian melangkah.


Tak begitu lama menunggu, Petugas itu sudah kembali menuntun Ricard yang masih penuh dengan perban di bagian lengan dan kakinya.


Ricard sangat terkejut saat melihat siapa orang yang menemuinya itu. Dia tidak pernah menyangka jika wanita itu mau kembali menjenguknya setelah apa yang ia perbuat akhir akhir kemarin.


"Kayla."


Wanita itu melangkah pelan mendekatinya.


"Bagaimana kabarmu Ric?" tanya Kayla dengan mata yang sudah berkaca kaca.


Ricard hanya menunduk, sedikit pun tak sanggup menatap wajah wanita yang ia cintai itu.


"Maafkan aku Kay, aku sungguh tidak berguna. Dan tidak pantas mendapatkan maaf dari siapapun."


Tiba tiba Kayla memeluk tubuh Ricard. Tangisannya pun pecah.


"Kenapa kau nekat Ric, kenapa? Kau tau kesalahanmu sudah sangat berat, kau malah menambah lagi." ucap Kayla segera membawa Ricard ke bangku panjang yang tersedia di sana.


Ricard masih menunduk.


"Maafkan aku. Aku berjanji akan menerima hukuman apapun. Sekalipun itu hukuman seumur hidup atau hukuman mati." ucap Ricard.


Kayla masih sesenggukan, kembali menatap wajah menyedihkan milik kekasihnya itu.


"Berhentilah menangis Kayla. Aku tidak pantas kau tangisi. Aku siap kau benci seumur hidupmu Kayla. Karena aku memang salah dan telah melampaui batas."


"Ric. Apa kau tau, semenjak aku mengucapkan kata putus padamu, aku tidak bisa berhenti memikirkan mu. Aku mencintaimu Ricard." Kayla menyeka air mata pria itu yang mulai menetes.


"Tidak perlu Kayla. Kau harus melupakan aku. Kau pasti akan menemukan pria baik yang pantas untukmu dan bisa membahagiakan kamu. Tidak seperti aku." ucap Ricard, tangannya menggapai pipi Kayla dan menyeka air mata Wanita itu.


"Tidak bisa Ric. Tidak bisa. Aku sudah berusaha untuk melupakanmu. Tapi aku tidak bisa. Kita sudah terlalu lama bersama. Melewati semua rintangan sama sama. Aku tidak ingin semua ini harus berakhir buruk." ucap Kayla.


"Bisakah kau berjanji padaku, untuk berubah. Memulai kehidupan baru yang baik dan tidak akan mengulangi semua keburukan lagi?" Kayla mengangkat wajah Ricard.


Ricard mengangguk, "Tanpa kau pinta, aku sudah berjanji pada diriku sendiri Kayla. Keluar atau tidak aku dari sini. Aku sudah menyesali semuanya." sahut Ricard.


Kayla kembali memeluk pria itu.


"Kau harus tau Ricard, saat ini aku mengandung. Dan ini anakmu."


Ucapan Kayla bagaikan petir yang menyambar tubuhnya. Seketika pria itu menangis tersedu di pelukan Kayla.


"Ya Tuhan. Aku sungguh biadab. Aku sungguh tidak berguna."


"Kayla, ku mohon padamu. Lahirkan dia untukku. Tolong jaga dia. Jangan benci dia Kayla. Apapun yang terjadi, jangan pernah kau membencinya." kini Ricard bersujud di kaki Kayla.


Kayla pun kembali tersedu, menggenggam erat tangan Ricard dan menciuminya.


"Aku tidak akan membencinya Ric, dia juga anakku. Aku akan menjaganya. Aku akan melahirkannya. Untuk kita."


"Berjanjilah pada kami untuk berubah."


"Aku akan berubah Kayla. Aku bersumpah demi apapun itu."

__ADS_1


Saat keduanya tengah dalam isakan yang mengharukan itu, Petugas datang memberitahu jika waktu besuk sudah habis.


"Ric. Aku harus pulang. Besok aku akan kembali kesini. Aku akan mengantar pakaian dan Makanan untukmu." ucap Kayla.


Ricard mengangguk. "Maafkan aku."


"Aku sudah memaafkan mu." Kayla mencium kening Ricard.


"Aku mencintaimu." bisik Kayla. Kemudian melangkah berat meninggalkan tempat itu.


Ricard hanya bisa menatap langkah wanita itu dengan penuh kehancuran.


Sekarang ia baru menyadari, betapa saat ini dia berada di kehancuran yang paling dalam.


Mendekam di dalam penjara dengan batas waktu yang belum ditentukan oleh hakim. Bisa jadi seumur hidup atau kemungkinan besar adalah hukuman mati.


Lalu Kayla? Dia hamil. Anaknya. Darah dagingnya, itu sudah pasti. Karena selama ini hanya Ricard lah, yang terus membawa Kayla kemana mana.


'Begini rasanya Nathan pada saat itu. Takut anaknya lahir menjadi anak haram. Itu yang aku rasakan sekarang. Itu yang aku rasakan sekarang. Arg....!' Ricard hanya bisa menjerit dalam hati


'Dan aku, aku sudah membunuh calon anaknya Nathan!'


"Ya Tuhan. Jika aku masih boleh meminta, Tolong jaga Kayla dan calon Bayiku. Tolong jaga mereka Tuhan. Meskipun aku tidak bisa mendampingi mereka. Jaga mereka Tuhan. Mereka tidak bersalah. Biar aku yang akan menebus semua dosa dosaku." Rintih Ricard.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Beralih pada pasangan yang selalu Romantis ini.


Nathan baru selesai menyuapi Mira, sambil menceritakan tentang Ken yang membawa Rimbun yang sedang sakit ke Villa milik Ken.


"Kenapa membawanya kesana? Bukan kesini saja!" protes Mira.


"Aku sudah sembuh. Hanya tinggal menunggu pulih saja. Sementara Rimbun itu sedang sakit. Bagaimana sih kalian ini? Bukankah Rimbun itu sudah menjadi pacar Ken?"


"Pacar? Aku malah tidak tau tentang itu." sahut Nathan.


"Ck, pria jika sudah membawa wanita mana mungkin mau kalau bukan pacarnya?" ucap Mira.


"Tidak juga. Buktinya aku dulu membawamu kemari. Bahkan kau bukan siapa siapaku dulu. Apalagi Ken memang banyak pacar."


"Ken kan beda Nath. Selama ini kau sendiri yang bilang, jika dia tak pernah peduli dengan pacar pacarnya. Sekali peduli sudah pasti itu karena Ken telah jatuh cinta pada gadis itu."


"Kau benar. Ken memang sudah jatuh cinta pada gadis itu."


"Nah kan? Jika mereka tinggal berdua, bagaimana kalau Ken kelabasan?"


"Seperti aku?" Sahut Nathan menunjuk hidungnya sendiri.


"Kalian itu sebelas dua belas. Ken sudah pasti seperti Bosnya. Gak jauh beda!" ketus Mira.


"Biarkan saja Mira. Ken itu sudah dewasa, umurnya denganku tidak jauh berbeda. Dia sudah tau mana yang terbaik untuknya."


"Ah, Nathan. Kelabasan dimana mana tidak baik. Aku tidak ingin cerita kita terulang pada Ken." protes Mira.


"Itu tidak mungkin sama. Percintaan Ken tidak akan serumit kita. Kau tenang saja. Andai pun terjadi, itu sudah pasti disengaja oleh Ken!"


"Hah!" Mira terbelalak.

__ADS_1


"Ken sendiri yang bilang, kalau Rimbun menolaknya, dan Ken sudah terlanjur menginginkan gadis itu. Bisa jadi Ken nekat agar bisa mendapatkan Rimbun. Aku tidak akan menyalahkannya."


"Kau ini. Dasar Pria! Egois. Apapun akan kalian lakukan demi bisa mendapatkan apa yang kalian mau!" Mira menuding Nathan.


"Haha.. Namanya juga berjuang. Apapun pasti akan dilakukan!"


"Tidak harus begitu Nath. Kau memberi contoh sesat pada Ken."


"Sudah lah! Kenapa kamu perhatian sekali pada Ken sih? Aku yang perlu kau perhatikan Mira. Aku bisa cemburu nanti." keluh Nathan.


"Oh, iya. Aku sampai lupa. Sini sayang, Aku peluk." Mira menarik tubuh Nathan.


Pria itu seketika semangat dan langsung mendusel pada dada Mira. Mira membelai rambut Nathan penuh kasih sayang.


"Apa persiapan pernikahanmu sudah selesai semua?" tanya Mira.


Nathan mendongak.


"Pernikahan ku? Kau terus mengatakan itu Mira. Seolah aku saja yang akan menikah. Kau tidak."


"Eh iya. Maksudnya pernikahan kita."


"Sudah semua. Hanya memastikan kau sehat seperti sedia kala setelah itu kita akan menikah." sahut Nathan.


"Tak perlu fhoto fhoto prewedding segala. Satu kau akan lelah, kedua tidak ada waktunya. Aku sudah tidak sabar untuk menikahi mu sayang?" Nathan menarik wajah Mira. Mencium kening wanita itu. Kemudian menatap manik kedua bola mata Mira.


"Kau tidak ingin mengajak Ken menikah bersama kita?"


Nathan tergelak, "Sebenarnya rencanaku begitu, tapi Ken sepertinya sedang kesulitan untuk menaklukan si gadis batu itu. Biarkan saja. Biar dia berjuang dulu untuk cintanya. Selama ini dia sudah lelah berjuang untuk kita."


"Kau benar. Biar dia menikmati prosesnya."


Keduanya tersenyum, saling menatap hangat dan kemudian saling bergerak pelan. Ciuman tak dapat lagi di hindari. Keduanya saling terpaut melepas rindu, beberapa hari ini tak merasakan bibir masing masing karena pasca Mira pulang dari Rumah Sakit.


Nafas Nathan terdengar begitu memburu, tangannya mulai bergerak nakal menelurusi tubuh Mira. Namun Mira masih bisa menahan tangan itu.


"Nath." segera menarik keluar tangan Nathan yang sudah berada di dalam bajunya.


"Kau lupa janjimu?"


"Ah, iya. Maafkan aku. Tapi Aku hanya ingin menyentuhnya, sebentar saja." rengek Nathan.


"Tidak boleh."


"Sebentar saja sayang. Sedikit saja."


"Tidak! Pokoknya tidak! Jika tanganmu sudah nakal, Aku dan kamu sama saja. Sama sama tidak bisa kontrol. Dan Aku tidak mau itu terjadi lagi sebelum sah." ucap tegas Mira. Membuat Nathan cemberut.


"Ayo lah Nath. Kau harus bersabar. Sebentar lagi kan?" bujuk Mira.


"Sayang.. Aku hanya ingin nen*n . Sebentar saja. Sesedot saja."


"Nathan!" Mira langsung mendelik, memukul pipi Nathan.


"Ah, iya iya. Begitu saja memukul. Dasar pelit!" umpat, Nathan mengusap pipinya.


"Awas saja ya. Jika sudah resmi nanti, Habis kau!" tuding Nathan.

__ADS_1


"Itu urusan nanti!" Mira kembali melotot.


________________


__ADS_2