Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Pebinor Sejati!


__ADS_3

Hari ini,


Nathan sudah kembali ke kantor dengan meninggalkan Mira di rumah. Dia sudah percaya jika Mira tidak akan punya pikiran untuk pergi darinya lagi.


Ini masih setengah hari,


Dua pria tampan yang tak lain adalah Nathan dan Ken itu sudah selesai dengan pertemuan penting mereka.


Memilih meneguk kopi buatan OB di ruangan Nathan.


"Pengacara Gusnando Husnan sudah selesai mengajukan berkas Nona ke Pengadilan. Surat panggilan untuk Ricard pun sudah diantar. Tapi juru sita itu mengatakan jika Ricard tidak mau menandatangani surat itu. Dasar bodoh! Dia pikir tanpa tanda tangannya, mereka tidak bisa bercerai begitu?" ucap Ken sambil mengumpat Ricard.


"Tinggal tunggu proses, setelah itu anda akan bisa menikahi Nona. Lalu aku akan langsung membuat perhitungan dengannya." sambung Ken.


Nathan menghela nafas.


"Kenapa tidak langsung membuat perhitungan saja Ken?" rasa hati Nathan sepertinya sudah tidak sabar.


"Terlalu mudah untuknya Tuan, aku ingin melihat dia merangkak dahulu di kakimu!" sahut Ken terlalu muak.


"Jika Nona Mira bisa bercerai darinya dahulu dan menikah denganmu, maka Nona tidak akan punya urusan lagi dengannya. Selain demi keselamatan Nona, kita juga bisa semau kita memperlakukannya."


"Haha.. sepertinya kau sangat menaruh dendam padanya Ken?" selidik Nathan.


"Tentu saja. Dia sudah banyak menyusahkanku. Urusan ku itu banyak, selain urusan perusahaan, belum lagi wanita wanitaku yang butuh belaian cintaku, aku harus terlibat urusan permusuhan kalian. Bagaimana aku tidak dendam dengan orang yang terus menambah kesibukan ku itu!"


"Oh ya."


"Em, apalagi mengingat kejadian yang menimpa kalian. Bayangkan Tuan, Nona Mira itu masih perawan dan kau berlaku begitu kasar padanya. Itu pasti sangat menyakitkan baginya. Belum rasa takut dan traumanya. Bayangkan Tuan, jika bukan karena ulah Ricard itu tidak mungkin terjadi bukan? Terlebih jika aku membayangkan Tuan terjadi begituan dengan Cesilia. Huh, mana aku mau mempunyai Nona Muda macam dia. Dunia kita sebagai pria terkeren di kota ini akan hancur!"


Kedua pria itu tergelak renyah.


"Oh ya Tuan, tadi subuh aku melihatmu tidur di sofa? Apa anda kena usir?"


Nathan langsung menatap Ken yang tersenyum meledek.


"Ck, Mira tidak Setega itu Ken?"


"Aha.. aku tau. Pasti panas ya?" ledek Ken.


"Brengsek kau!" Nathan menendang kecil kaki Ken.


"Jangan menahannya lagi Tuan. Dia milikmu!" Ken terbahak.


"Milikmu milikmu, Kalau aku dicekiknya mau bilang apa kau!"


"Lakukan dengan lembut Tuan. Wanita akan takluk dengan kelembutan."


"Diam Ken! Kau malah mengajariku sesat!" Nathan melotot.


"Sesat yang nikmat Tuan!" Ken kembali terbahak.


"Brengsek kau! Aku akan mencekikmu Ken!" Nathan langsung mencekik leher Ken yang masih tertawa.


"Diam kau! Mati kau hah!" Nathan mengguncang guncang cekikan tangannya.


"A.. Tolong.. tolong..!" Ken berakting kejang kejang.


"Nikmat nikmat kepalamu itu, memang kau sudah pernah merasakannya Hah!" Nathan melepas tangannya, langsung menyandarkan punggungnya lesu di sofa. Melirik Ken yang mengusap lehernya dengan masih tertawa.


"Anda lebih unggul Tuan! Selusin pacarku belum ada yang berhasil memperawaniku. Lah anda! Nona benar benar keren!"


"Keren jidatmu itu! Itu artinya kau yang memang lemah Ken! Mengaku Play boy. Hah, mana ada Playboy begitu."


"Playboy dengan stempel suci!"


"Taik!" umpat Nathan.


Keduanya kembali terbahak bersama.


"Ken, kenapa lama sekali proses perceraian itu?"


"Mau bagaimana lagi. Kecuali kalau Ricard bersedia menjatuhkan talak atau menandatangani surat resmi perceraian mereka. Maka mereka akan Sah hari itu juga."


"Hah. Aku tidak yakin Ricard mau melakukan itu, dia ingin membuat Mira menderita dan sengaja ingin menyulitkan hidupnya." sahut Nathan.

__ADS_1


"Bersabar Tuan. Hanya Tiga atau Empat bulan saja."


"Itu belum terhitung masa Iddah'nya Mira Ken? Tiga bulan lebih! Artinya butuh setengah tahun!"


Ken kembali terbahak.


"Anda rupanya tidak paham! Haduh, satu langkah lagi tertinggal dibelakang ku. Masa Iddah itu hanya berlaku bagi pasangan suami istri yang pernah bercampur. Sedangkan Nona. Anda tau sendiri!"


"Yang benar Ken?" Nathan terbelalak.


"Tidak percaya? Boleh panggil pak Ustadz kemari!" ucap Ken.


Mendengar penjelasan Ken, Nathan nampak tersenyum bahagia.


Nathan pernah risau memikirkan itu, jika Perceraian Mira selesai, Mira harus menjalani masa Iddah'nya dahulu. Sungguh itu akan menambah lagi masa tunggu Nathan untuk menikahi Mira. Tapi setelah mendengar ucapan barusan Ken, Nathan menjadi semangat.


"Kita pulang Ken! Aku jadi merindukan Mira." ajak Nathan bangun penuh semangat.


"Hah, ini masih siang Tuan!"


"Ck, apa peduli ku. Ayo cepat!" Nathan menarik tangan Ken.


"Orang lagi kasmaran, beginilah. Ck, wes angel angel..!" Ken mengumpat sambil menyusul langkah Nathan.


Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit, Nathan sudah menaiki tangga menuju kamarnya. Namun saat Nathan masuk ke kamar, dia tidak tidak menemukan Mira.


Bahkan di kamar Mira juga.


Nathan terburu menuju tangga lagi. Pikirannya sudah kacau saja.


"Tuan, anda mencari Nona?" Fic muncul dari bawah tangga.


"Kau melihatnya Fic?" tanya Nathan cepat.


"Nona di dapur."


Tanpa bertanya lagi, Nathan melangkah cepat. Seketika menghela nafas ketika melihat Mira sedang sibuk di dapur.


"Tuan!" Lucki menghampiri.


"Biarkan saja sesuka hatinya." jawab Nathan.


Lucki hanya mengangguk dan segera menggeser kakinya.


Mendengar suara Nathan, Mira menoleh.


"Tuan Nath, kau sudah pulang? Aku baru saja menyuruh Fic untuk menghubungimu." Ucap Mira tanpa meninggalkan pekerjaannya.


"Kau memasak?" Nathan yang menghampiri.


"Iya. Tidak apa apa kan?" menata masakan hasil tangannya di meja.


"Kau memasak semua ini?" tanya Nathan sambil menarik kursi, menatap hidangan yang sudah tersaji di atas meja.


"Ya. Lucki yang menyiapkan bahan bahannya."


"Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini. Apa kau butuh seorang koki lagi? Aku akan menyuruh Fic mencarinya."


"Nath, aku ini pintar memasak. Sayang jika tidak berguna. Bukankah, aku akan menjadi istrimu? Aku juga ingin sesekali kau memakan hasil masakan tanganku." jawab Mira sembari ikut duduk.


"Ah, iya. Maafkan aku. Baiklah. Kau boleh memasak sesuka hatimu. Asal jangan sampai kau kelelahan. Aku tidak mau itu."


Mira hanya mengangguk. Meraih piring untuk Nathan.


"Apa kau memasak semua ini hanya untukku saja?" tanya Nathan.


"Tidak juga. Aku memasak banyak, untuk Ken juga. Apa dia ikut pulang?" jawab Mira.


Nathan hanya tersenyum, kemudian memanggil Lucki agar memanggilkan Ken.


Lucki berlari kecil segera.


Tak butuh waktu lama Ken sudah ada di ruangan itu. Segera bergabung di meja.


"Mira memasak untuk kita Ken."

__ADS_1


"Ah, senangnya. Rumah ini sekarang, jadi berwarna ya?" Ken cepat cepat mengambil piring dan mengisinya dengan berbagai makanan.


Mira hanya tersenyum melihat dua pria yang saat ini sudah mengisi hari harinya itu menyantap makanannya dengan lahap.


"Ternyata masakan Lucki kalah Ken." ucap Nathan.


"Benar sekali! Ternyata Nona Mira benar istri idaman. Aku jadi ikut jatuh cinta!" sahut Ken.


"Mulut mu Ken! Kau mau bersaing denganku?" Nathan langsung melotot.


"Haha.. Slow Tuan. Mana berani saya."


"Ku pikir, kau sedang cari mati!"


Ketiganya tertawa sambil menikmati makan siang yang terasa sangat berbeda dari biasanya itu. Biasanya mana pernah siang hari mereka makan di rumah seperti ini.


"Nath." panggil Mira, di tengah kunyahan mulutnya.


"Apa sayang..?" cepat mendongak.


"Em, Aku selalu didalam rumah. Aku.. Aku jenuh." ucap Mira agak pelan.


Mendengar itu, Nathan dan Ken sama sama menoleh melempar pandangan. Mereka baru menyadari jika selama ini Mira mungkin jenuh karena harus terkurung di dalam rumah saja.


"Maafkan aku." Nathan segera meraih tangan Mira.


"Selesai ini aku akan mengajakmu jalan jalan. Bagaimana?"


"Benarkah?"


"Tentu saja. Kau mau kemana? Atau kita pergi belanja. Kau bisa memilih apapun yang ingin kau beli." senyum Nathan, begitu hangat.


Wajah Mira langsung terlihat ceria.


"Aku bersiap sekarang ya. Ah, kalian lanjutkan makannya." Mira segera berdiri dan berlalu setelah Nathan mengangguk.


"Tuan." Ken hendak protes.


"Tidak apa apa Ken. Sekali ini. Kasian kekasih ku. Pasti dia sangat jenuh."


"Tapi Tuan. Jika kalian bertemu dengan .._"


"Ricard?" potong Nathan.


"Haha..Berdoa saja semoga kami bisa bertemu dengannya. Kesempatan ku untuk membuatnya malu di depan Mira. Sekaligus Aku akan mengucapkan terimakasih padanya karena racun sialannya tempo lalu membuat aku dan Mira bersama."


"Kau benar Tuan Nath. Semoga berhasil."


Nathan bangun dari duduknya. Sebelum melangkah meninggalkan meja Nathan mendekatkan wajahnya di telinga Ken.


"Aku akan mengatakan pada Ricard bahwa "Istrimu semangatku" Kawan! Haha...!"


Ken langsung menoleh, tertegun sesaat mendengar ucapan Nathan, kemudian ikut terpingkal.


"Haha.. lalu si tengil itu bakal blingsatan sambil mengeluh. Mana mungkin.. Mana mungkin..?" Ken sambil memperagakan ekspresi wajah Ricard.


"Keren kan Aku!" Nathan membusungkan dadanya.


"Keren Tuan.!" sahut Ken.


Nathan tertawa lagi sambil melangkah.


"Tuan Nath!" seru Ken,membuat Nathan menoleh kembali.


"Keren!" mengacungkan jempolnya.


"Asal hanya berlaku untuk Tuan saja ya?? Jangan sampai yang lain tertular. Pebinor Sejati! Mantap jiwa Pokoknya lah!"


"Brengsek kau Ken! Awas kau ya. Mati kau setelah ini!" Nathan mengacungkan kepalnya kearah Ken, sambil tetap melangkah pergi diiringi gelak tawa keduanya.


"Cari julukan lain yang lebih berkelas Ken!" teriak Nathan, tanpa menoleh lagi.


Ken hanya tersenyum menatap langkah Nathan.


"Semoga sukses Tuan Nath. Jika anda bahagia, aku pun juga." ucap Ken lirih, kemudian meneguk air minum dan ikut meninggalkan meja.

__ADS_1


___________


__ADS_2