Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Sumpah Rimbun ternyata manjur!


__ADS_3

'Cinta memang rumit! Huh!' Ken hanya bisa menggelengkan kepalanya memikirkan masalah Nathan yang tidak bisa dianggap sepele ini.


"Bayangkan saja Anak perawan orang hamil. Ah, bukan. Jika Anak perawan masih mending, lha ini istri orang! Astaga!" Ken menggumam masih sambil melaju.


"Tapi, Tuan Nath tidaklah bersalah. Mereka tidak ada yang bersalah. Semua ini ulah Ricard brengsek itu. Aku harus mendapatkanmu hari ini juga." Ken masih berbicara sendiri sambil terus menyetir.


Ken melirik jam, tepat sudah setengah hari.


"Pantas saja perut ku sudah menuntut. Rupanya sudah siang." Menggerutu.


Ken memutuskan untuk mencari makan dahulu sebelum menemui Ricard.


"Jika perut lapar, urusan apapun tidak akan berjalan lancar. Otak saja tidak akan bisa encer untuk berpikir." Ucap Ken sendiri, sambil tersenyum memikirkan kekonyolannya sendiri. Bisa bisanya disaat darurat masih memikirkan perut.


Mobil Ken berhenti di sebuah rumah makan. Kemudian Ken memutuskan untuk segera turun. Namun baru saja ia turun dan menutup pintu mobil.


"Ikut kami atau kepalamu akan pecah Bung!" Sebuah moncong Pistol sudah menempel saja di pelipisnya.


Ken melirik wajah orang itu. Satu pria menggenggam pistol dan satu lagi memegangi tangannya.


Ken tidak bisa berkutik ketika Satu pria lain sudah menariknya secara paksa ke mobil mereka yang terparkir jauh dari depan rumah makan, sementara moncong pistol masih setia menempel di kening Ken.


Bug ….!!


Pria yang menodong Ken tiba tiba ambruk ke tanah sebelum mereka sempat mencapai mobil. Pistol yang ia genggam terlepas karena sebuah injakan keras berkali-kali sebuah kaki yang mengenakan sepatu. Seseorang itu kemudian menendang pistol itu hingga menjauh dari pemiliknya.


Ken yang tersentak, cepat menyadari situasi dan langsung menendang satu pria yang memegangnya.


Ken bergerak cepat menyambar pistol itu. Namun belum sempat mengarahkan pada dua pria itu, mereka sudah kabur dengan menggunakan mobil mereka. Ken sempat memecahkan kaca belakang mobil Mereka dengan pistol yang sudah ia genggam.


"Tuan Ken, kau tidak apa apa?"


Ken menoleh, gadis yang sedang memegang sebuah besi itu tersenyum ke arahnya.


"Rimbun! Kau?" Ken ternganga.


"Aku tidak sengaja melihat mobilmu. Pas aku ingin mengintipmu, aku sangat terkejut melihat dua pria tadi sudah menyeretmu. Kebetulan aku sedang memegang ini. Jadi, ku pukul saja dia . Dan ku injak injak saja tangannya." Jelas Rimbun.


"Hebat kan aku! Bisa merobohkan seorang mafia!" Rimbun membusungkan dadanya.


"Hebat kepalamu itu! Lain kali jangan bertindak ceroboh!" Ken malah membentak.


"Kau tidak berterima kasih padaku karena sudah menolongmu? Kau malah memarahiku? Dasar payah! Kau manusia bukan sih?" Umpat Rimbun.


"Masalahnya, kalau pria tadi tidak jatuh. Kepala mu yang akan pecah, bodoh! Ini pistol asli. Kau pikir mainan??" Ken menodongkan pistol milik pria tadi ke dada Rimbun.


"Aa.. singkirkan itu dari ku!" Teriak Rimbun langsung menepis tangan Ken dengan wajah pucat.


Ken hanya tersenyum tipis kemudian menyelipkan pistol itu di balik kemejanya.


"Ayo pergi dari sini!" Ken menarik tangan Rimbun ke arah rumah makan kembali.


"Mau apa Tuan?"


"Ikut saja. Siapa tau mereka kembali kesini." Ken terus menarik tangan Gadis itu sampai ke depan rumah makan itu kembali.


"Kau mau mengajakku makan ya?" Tanya rimbun ketika menyadari jika Ken hendak membawanya masuk ke dalam.


"Kau mau makan?" Ken berhenti,menoleh pada Rimbun.


"Hehe, jika tidak merepotkanmu. Kebetulan aku memang sedang lapar."


"Baiklah. Tapi buang dulu ini." Ken mengambil besi ganco yang masih ditangan Rimbun.


"Eh, jangan Tuan. Itu milik temanku. Aku meminjamnya untuk mencari nafkah!" Rimbun merebut kembali besi itu.

__ADS_1


Ken langsung menatap Rimbun.


"Kau mencari barang bekas?"


"E'em." Rimbun mengangguk sambil menggaruk tengkuknya.


"Taruh disini dulu."


"Jangan tuan. Nanti kalau diambil orang bagaimana? Aku harus menggantinya."


Ken mendengus. "Biar ku simpan di mobilku saja. Tunggu sebentar." Ken segera merebut kembali besi itu dan membawanya ke mobil.


Membuka bagasi dan menyimpan milik Rimbun itu disana. Kemudian kembali menghampiri Rimbun.


"Ayo masuk!" Melangkah dahulu.


Ken memilih meja dan menyuruh Rimbun untuk duduk.


"Tunggu sebentar. Aku akan memesan makanan. Kau mau makan apa?" Tanya Ken.


"Mie instan Tuan!"


"Kau pikir ini warteg!"


"Hehe, tidak ada ya?"


"Memang tidak lihat, rumah makan seperti apa ini?"


Rimbun mengedarkan pandangannya. Rumah makan yang cukup besar dan elit.


"Apa saja kalau begitu. Ikut Tuan saja."


Mendengar jawaban dari gadis itu, Ken segera memanggil pelayan.


"Terimakasih sudah menolongku."


"Tidak masalah Tuan. Kau juga pernah menolongku. Berkat Tuan, aku sudah punya kos kosan lho."


Ken hanya tersenyum.


"Tapi lain kali hati hati. Besi yang kau pegang tadi itu kecil. Untung bisa membuat pria itu jatuh. Kalau tidak, coba. Kau malah yang akan celaka."


"Aku sengaja memilih di bagian yang tepat. Makanya dia terjatuh. Beruntung tidak melesat."


"Ah, Tuan. Mereka tadi siapa? Apa musuhmu?" Tanya Rimbun.


"Mungkin saja. Aku memang banyak musuh. Makanya jangan dekat dekat denganku. Kau bisa celaka."


"Hah. Aku jadi takut. Apa mereka suruhan Rentenir? Apa Anda punya hutang juga?"


Ken ingin tertawa mendengar ucapan Rimbun.


"Hutangku banyak. Tapi bukan hutang uang seperti mu! Sudah diam. Jangan ingin tau."


"Ah iya. Maaf. Semua orang pasti punya masalah masing masing." Sahut Rimbun, kemudian terdiam.


Tak lama, hidangan sudah siap di meja.


"Silahkan Tuan!" Pelayan mempersilahkan. Ken hanya mengangguk.


"Ayo makan." Ucap Ken.


"Beneran Tuan. Boleh aku makan ini?" Tanya Rimbun ragu, ketika melihat hidangan nikmat di depannya.


"Makanlah, yang cepat! Aku harus segera pergi."

__ADS_1


"Hihi, terimakasih kalau begitu." Rimbun langsung menyantap makanan itu dengan lahap.


Ken menatap gadis itu, sedikit tertegun melihat cara makan gadis itu yang seperti orang sedang kelaparan.


"Kau belum makan ya? Ayo makan yang banyak." Ucap Ken sambil mengunyah juga.


"Ah iya Tuan. Aku memang belum makan dari pagi."


"Kau tidak punya uang?"


"Ah, bukan. Bukan begitu, aku , aku belum sempat."


"Kau bekerja sebagai pemulung?" Tanya Ken kembali.


"Iya Tuan. Hanya itu yang pekerjaan yang bisa aku temukan."


Ken menarik nafas. Semakin merasa bersalah karena sudah memecat gadis itu, dan hari ini nyawanya terselamatkan berkat kenekatan gadis itu. Jika tidak ada gadis itu, kemungkinan besar, kepalanya sudah pecah.


Dua pria tadi sudah pasti suruhan seseorang yang mengincar nyawanya. Tidak mungkin tidak.


Ken kembali melirik Rimbun. Gadis itu terlihat sangat dekil, dengan kulit sawo matang yang mungkin karena tak terawat. wajah kusut. Baju lusuh. Belum rambutnya yang keriting, hanya digelung dan di ikat seadanya ke atas.


"Kenapa tidak mencari pekerjaan lain?"


"Pekerjaan apa. Aku pernah melamar sebagai buruh cuci di rumah rumah orang kaya. Tapi tidak di terima. Mungkin mereka mengira aku anak pinggiran rel."


"Kenapa tidak melamar sebagai Office Girl seperti waktu itu?" tanya Ken kembali.


"Dimana? Di Perusahaan Tuan saja, aku butuh waktu dua bulan untuk menunggunya. Itu saja karena ada teman ku yang sudah bekerja lama disana. Kalau tidak, mana di terima. Aku ini hanya lulusan SMA." sahut Rimbun.


"Baru juga bekerja belum ada satu bulan, bahkan aku belum menerima gajih, sudah di pecat secara tidak terhormat!" ketus Rimbun sambil melirik Ken.


Ken seperti tersinggung dengan ucapan Rimbun.


"Ya.. Aku minta maaf. Itu karena kau kurang ajar padaku!"


"Kau kan yang salah. Menabrak ku. Wajar aku marah. Aku tidak mengenal mu jika kau Tuan Ken. Jika tau, mana aku berani." Rimbun menunduk.


"Ya, sudah. Jangan mengungkitnya lagi. Aku sudah minta maaf padamu!"


"Haha.. ternyata sumpah ku manjur juga." gumam Rimbun.


"Hah! sumpah?" Ken langsung tercengang.


"Tidak ingat? Aku menyumpahi mu, kau akan datang padaku sendiri dan meminta maaf!"


"Siapa yang datang? Ini kebetulan!" elak Ken.


"Sama saja!"


"Sudah jangan mengungkitnya lagi. Lupakan!" ucap Ken, sedikit malu.


"Mana bisa! Satu bulan hanya kurang lima hari. Bayangkan, tenaga ku habis gratis disana!"


"Aku akan membayarnya. Tiga bulan gajih. Sudah cepat makan. Aku buru buru!"


"Benar ya? Tiga bulan gajih. Kalau bohong awas ya? Aku akan menyumpahi mu lagi." Rimbun menuding hidung Ken, yang langsung menepisnya.


"Jangan dipotong hutang dulu!" kembali Rimbun menuding.


'Astaga.! Sudah jelek, kurang ajar pula. Kalau bukan karena sudah menolongku, Entah lah! Jadi apa kau!' hati Ken dongkol.


_________


[ Like dan Komen yang buanyak kakak ya. lebih dari sepuluh satu orang juga gak papa! Biar Author semangat update!]

__ADS_1


__ADS_2