![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Saat ini, Kayla berada di Kapolres.
Duduk terisak menghapus air matanya dihadapan Ricard. Sementara Pria itu hanya menunduk, tak berani menatap wajah Kayla sedikitpun.
"Kenapa bisa seperti ini Ric? Kenapa? Kenapa kau memilih berurusan dengan Nathan? Kau tau dia orang seperti apa! Kau nekad!"
"Maafkan aku Kay, maafkan aku."
"Kau sudah keterlaluan, Nathan tidak mungkin mengampuni mu kali ini. Dan kau tau apa ancaman hukum untuk mu?" Kayla mengangkat wajah Ricard yang masih tetap menunduk itu.
"Seumur hidup Ric. Kau akan dipenjara seumur hidup karena percobaan pembunuhan berencana mu pada Nathan dan juga Ken! Belum lagi kasus penjualan atas diri Mira yang kau lakukan! Dan terakhir kau malah mencoba memeras Nathan. Dimana otakmu Ricard??"
"Kay, aku melakukan ini karena aku membenci Nathan. Kau tau itu dari dulu kan?"
"Tapi tidak harus seperti ini! Kau susah sendiri jadinya."
"Kay, bantu aku. Lepaskan aku dari sini. Ku mohon Kay. Hanya kau yang bisa membantuku!" Ricard mengiba.
"Mana bisa Ric! Aku bisa apa memangnya? Uang sebesar apapun tidak bisa mengeluarkan mu dari sini. Apalagi seluruh bukti dan saksi sudah jelas ada. Bagaimana caranya aku bisa membantumu hah!" bentak Kayla.
"Kau harus cari cara Kayla. Keluarkan aku dari sini!"
"Bahkan Keluarga mu sendiri tidak bisa membantumu Ricard. Apa lagi aku!" bantah Kayla.
"Kay, tolong aku sekali ini saja. Aku harus keluar dari sini. Aku harus membunuh Nathan. Aku ingin menghancurkan Nathan!"
"Cukup Ricard! Kau benar benar keterlaluan. Kau kenapa sangat menginginkan kehancuran Nathan? Apa salah Nathan padamu Ricard?"
Ricard mendongak, menatap Kayla. Sorot matanya penuh dengan kebencian yang berkobar.
"Aku membenci Nathan dari dulu, dan sekarang aku makin membencinya karena dia telah mengambil Mira dariku!"
"Hah, kau gila. Kenapa kau tidak membiarkan mereka saja? Membiarkan Mira bersama Nathan? Bukankah kau tidak pernah menyukai Mira? Apa alasanmu Ricard?"
Ricard kembali menunduk, tidak bisa menjawab pertanyaan terakhir dari Kayla.
"Kenapa diam? Oh, atau jangan jangan kau sebenarnya menyukai Mira?"
"Jawab Ricard!"
"Tidak mungkin Kayla, mana mungkin aku menyukai wanita itu?"
Kayla tersenyum dingin.
"Tidak ada yang tidak mungkin Ric. Kau tau Nathan. Pria itu seperti apa pada Wanita. Tapi dia bisa tergila gila pada Wanita itu. Artinya, Mira itu wanita yang Special. Dan kau, sudah pasti menyukainya tanpa kau sadari!" Kayla menuding Ricard.
Ricard menggeleng, "Tidak Kayla. Itu tidak benar. Aku membencinya. Dia penyebab kita tidak bisa bersama. Aku sangat membencinya!"
"Tapi kau tidak harus seperti ini. Kau tau, Orang tua ku akan makin membencimu dan tidak mungkin merestui kita lagi." Kayla bangun dari duduknya.
"Aku kecewa padamu Ricard. Kau bukannya mencari cara agar orang tua ku bisa menerima mu lagi. Tapi kau malah lebih mencari masalah baru. Aku lelah Ricard. Aku menyerah." ucap Kayla kini melangkah.
"Kay, apa yang kau lakukan? Kau mau meninggalkan aku?"
Kayla menoleh. "Kita putus! Dan aku, tidak ingin berurusan dengan mu lagi!" Kayla kembali melangkah.
"Kau tidak bisa melakukan itu padaku Kayla. Aku tidak ingin putus darimu! Kayla, kumohon. Tunggu!" Ricard berteriak dan ikut melangkah. Namun dua Polisi langsung menahannya.
"Kembali keruangan mu Tuan! Waktu bezuk sudah habis!" kemudian menarik paksa Ricard. Pria itu terus berteriak memanggil Kayla.
________
Ken sudah membawa Rimbun kesebuah tempat, dimana disana mereka menemui seorang WO atau wedding organizer ternama di kota itu untuk menyerahkan segala urusan Prosesi Resepsi Pernikahan Nathan dan Mira.
Namun karena Hari H belum ditentukan, jadi undangan pun belum bisa disiapkan.
Apalagi jika sang calon pengantin perlu menggunakan Poto Prewedding segala. Semua harus disiapkan dahulu.
Akhirnya Ken memutuskan untuk pulang dan merundingkannya dahulu mengenai hari Pernikahan dengan yang bersangkutan langsung acara detail, akan dibuat seperti apa.
Ken kembali melaju, tapi bukan untuk pulang melainkan untuk mengantar si Rimbun dahulu ke kostnya, setelah sempat mengajak Rimbun makan siang dan membungkus beberapa makanan untuk makan malam si Rimbun.
__ADS_1
"Aku antar kau pulang dahulu. Besok kau berangkat lagi ke kantor." ucap Ken yang hanya di balas anggukan kecil oleh Rimbun.
Mobil Ken berhenti sedikit jauh dari tempat kost milik Rimbun.
"Turun lah." menoleh pada Rimbun.
"Terimakasih Tuan Ken!" Rimbun membuka pintu.
"Beristirahatlah dan jangan keluar lagi agar kau fit. Besok kita akan sedikit sibuk!"
"Iya tuan." Rimbun pun melangkah keluar mobil dan berjalan ke arah kost nya.
Ken hanya tersenyum memandangi langkah kecil Gadis itu hingga benar benar menghilang dari matanya.
Agak lama Ken terdiam disitu, seperti sedang memikirkan kejadian di kantornya ketika ia mendekap dan menciumi Pipi Rimbun.
"Aku sudah gila rupanya. Wajar kalau si Bun Bun ngamuk. Haha... Anak orang main cium saja."
Ken menghela nafas. "Maafkan Aku jelek. Aku terpaksa kok! Tidak berniat melecehkan mu."
Kemudian Ken memilih untuk melajukan mobilnya ke depan. Karena jalan itu sempit, Ken bermaksud mencari tempat untuk memutar mobilnya. Setelah menemukan tempat untuk berputar Ken segera memutar mobilnya untuk kembali ke jalan semula. Cepat melaju kembali untuk pulang ke rumah Nathan.
Namun saat kembali hendak melintas didepan jalan menuju kost Rimbun, mendadak Ken menghentikan kembali mobilnya.
Dia seperti melihat bayangan Rimbun keluar dari arah Kost itu. Ken meneliti.
"Rimbun? Mau kemana dia?" pikiran Ken langsung kesal ketika melihat Rimbun sudah berganti dengan pakaian ala Pengamennya. Semakin emosi ketika menyadari rambut Rimbun yang digelung dan ikat keatas tertutup oleh topi.
Ken langsung turun dari mobilnya dan berjalan terburu menghampiri. Rimbun sendiri tak menyadari itu.
"Rimbun!" panggil keras Ken sontak membuat Rimbun menoleh dan terkejut.
"Tuan Ken! Kau belum pulang?"
Yang ditanya tidak menjawab, cepat menyambar topi dari kepala Rimbun.
"Apa yang kau lakukan pada Rambutku Rimbun???" Ken melepas paksa ikatan rambut Rimbun dan terburu merapihkan rambut gadis itu.
"Apa? Mengacak? Aku sedang menyelamatkan rambutku! Kau sudah merusaknya gadis bodoh!" bentak Ken.
"Kau yang bodoh! Ini rambutku!!"
"Oh, rambutmu ya? Lupa siapa yang membuatnya bagus seperti itu. Dan seenaknya kau mau merusaknya dengan menggelung Gelung lalu mengikatnya seperti itu? Dan ini apa lagi?" membuang topi milik Rimbun yang sudah ditangannya.
"Hih, dasar tidak waras! Nanti juga bagus lagi. Ribet banget sih! Mentang mentang kau yang memodali." ketus Rimbun.
"Tidak waras tidak waras. Memangnya kau itu mau kemana? Berdandan seperti ini. Ini sudah sore Rimbun. Sebentar lagi malam! Kau mau kemana Hah!"
Rimbun terdiam, meringsut mundur.
"Kau mau kemana jelek? Oh, kau mau memulung ya?" selidik Ken.
"Hihi, kok tau sih." jawab Rimbun tersipu.
"Astaga!!! Kau serius mau memulung sore sore begini?" Ken sudah melotot ke arahnya.
"Dari pada bengong Tuan. Cari tambahan." sahut Rimbun tanpa beban.
"Cari tambahan untuk apa? Memang uang pemberian ku sudah habis?" Ken makin melotot.
"Sudah Tuan."
"Hah! Kenapa kau boros sekali? Itu banyak lho Rimbun. Sedangkan untuk pakaian dan biaya Salonmu aku sudah memberi lain dari yang tempo lalu? Kau makan apa sebenarnya?" Ken seperti tak percaya.
Rimbun terlihat cengar cengir. "Anu Tuan.. Itu, em.. Uangnya untuk aku bayar Hutang!"
"Hah.. Hutang? Hutang apa lagi? Bukan kah aku juga sudah membayar lunas hutangmu?" Ken menuding.
"Itu kan cuma satu orang. Hutangku masih ada di beberapa orang. Dan kemarin salah satunya sudah ku lunasi dengan uang pemberian Tuan Ken tempo lalu."
"Astaga! Kenapa hutang mu bisa banyak sekali sih? Kau ada Masalah apa sebenarnya?" Ken sangat geram.
__ADS_1
"Masalah? Tidak ada."
"Astaga!" Ken mengusap wajahnya sendiri. Kemudian mendekat pada Rimbun.
"Apa kau pemakai? Jujur padaku Rimbun?" Ken bertanya dengan nada yang diusahakan lembut.
"Pemakai? Pemakai apa?" Rimbun malah terlihat bingung.
"Pemakai? Obat obatan terlarang. Sabu atau Narkoba." Ken memperjelas pertanyaannya.
"Gila kau ya? Menuduhku yang bukan bukan!" sontak Rimbun melotot.
"Kau pikir aku wanita apaan? Melihat bentuknya saja aku tidak pernah!" selesai bicara Rimbun langsung melangkah pergi.
"Rim! Tunggu dulu!" Ken menahan tangan Rimbun.
"Apa lagi?"
"Katakan dulu padaku. Kenapa kau bisa banyak hutang?"
"Bukan urusanmu! Minggir! Aku harus bekerja sebelum malam!" Rimbun menarik paksa tangannya. Tapi Ken tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Tidak! Jawab dulu pertanyaan ku. Tidak mungkin jika tidak ada sebab kau bisa banyak hutang seperti itu! Itu hutang untuk apa?"
"Itu hutang Ayahku. Puas!"
"Ayahmu?" Ken tercengang.
"Iya. Hutang Ayahku, dan Ayahku sudah meninggal, jadi aku yang harus membayarnya. Jika tidak, Ayahku tidak akan tenang disana. Cepat lepaskan aku Tuan!"
"Tidak Rim. Kau tidak boleh memulung lagi. Ayo masuk. Ayo masuk!"
Ken menarik paksa Rimbun kembali ke tempat kostnya.
"Mana kamarmu. Yang mana kamarmu?"
"Tuan! Kau ini kenapa sih?"
"Kembali ke kamarmu Rimbun. Kau ini anak gadis. Mana bisa malam malam keluyuran di jalanan untuk mencari barang bekas?" Ken terus menggelandang tubuh Rimbun.
"Tuan. Aku sudah biasa melakukannya?"
Ken berhenti, menoleh pada Rimbun.
"Mulai sekarang, jangan biasakan lagi. Aku tidak mau kau jadi pemulung!"
"Tapi Tuan!"
"Aku akan membayar semua Hutang mu. Katakan saja. Pada siapa saja dan berapa saja. Kau dengar aku Rimbun. Aku akan membayarnya! Tanpa memotong gaji mu. Kau tidak perlu cari kerjaan apa apa lagi, kecuali bekerja ditempat ku!" Ken mendekatkan wajahnya.
"Hah! Benarkah?" Rimbun seketika terpaku mendengar ucapan Ken barusan.
Ken hanya mengangguk, namun nampak sangat serius.
"Mana kamarmu?" tanya Ken.
"Itu!" menunjuk pintu yang pas berada di depan mereka.
"Ayo masuk." Ken membuka pintu dan mendorong tubuh Rimbun untuk masuk.
Ken mengintip kamar kost yang sempit dan berantakan itu.
Pria itu juga ikut melangkah masuk.
Grep..!
Ken menutup pintu.
"Kenapa Tuan ikut masuk????"
______________
__ADS_1