![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Tidak seperti biasa. Hari ini Mira terlihat sibuk bebenah di kamarnya. Melihat Nathan masih mendengkur disiang bolong pada hari Minggu ini, Mira ingin mengisi waktunya untuk merapihkan Lemari. Sedari kemarin, Mira ingin merapihkan itu. Untuk meminta pelayan mengerjakan Mira enggan.
Mira juga sedang tidak ingin mengusik istirahat sang suami yang terlihat lelah , mungkin aktivitas tambahan yang akhir akhir ini sering Nathan lakukan tanpa henti membuat Nathan terlihat lebih cepat lelah.
Mira paham itu, tersenyum menatap suaminya. Sempat menciumi kening Nathan sambil berbisik.
"Aku bahagia sekali, bisa menikah denganmu Nath. Aku sungguh beruntung." kemudian melangkah menghampiri lemari. Mulai membongkar satu persatu pakaian dan merapihkan nya.
"Apa ini?" Mira menemukan sebuah pakaian di dalam sebuah laci.
Mira mengeluarkan nya.
"Astaga!" hati Mira memekik, saat memeriksa baju yang terkoyak itu.
Sambil meremas baju itu, Mira menoleh pada Nathan yang masih tertidur.
"Nath." air mata Mira tak bisa tertahan. Mengalir begitu saja.
"Untuk apa menyimpannya?" Mira sungguh mengingat sepenuhnya, baju siapa yang kini ia genggam itu.
Kejadian beberapa bulan yang lalu, kembali terlintas di benaknya.
Dimana saat itu ia merasa begitu ketakutan pada Nathan. Merasa menjadi wanita paling kotor dan terhina.
Tapi,
Itu tidak seperti yang pernah ia pikirkan dahulu. Apa yang terjadi, ternyata menjadi jalan untuk Mira menemukan cinta dan kebahagiaannya. Kejadian memalukan itulah, yang membuat Nathan mempertahankan Mira dengan segala resiko apapun.
Mira mengusap air matanya, kembali melipat baju bekas miliknya itu dan menyimpannya lagi ke tempat semula.
"Sebesar ini cintamu Nathan. Bahkan mungkin, aku belum bisa membalas besarnya cintamu padaku. Padaku, yang hanya wanita biasa ini." Mira memejamkan matanya, mengucap rasa syukur berkali kali dan berjanji untuk menemani hidup Nathan sampai ajal menjemputnya.
Mira melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Ah, hampir selesai." meraih timpukan baju paling bawah.
"Aku harus menyelesaikannya sebelum Nathan bangun. Jika melihat ku merapihkan ini, dia pasti marah." gerutu Mira.
"Kenapa harus melakukan itu? Kau kurang pelayan dirumah ini? Biar Ken mencarikan lagi untuk mu!" meniru gaya bicara Nathan, sambil terkikik.
Seperti melihat sesuatu yang terselip diantara tumpukan pakaian. Mata Mira seketika memeriksa. Kemudian mengambil sesuatu itu.
"Ini? Bukan kah, album Foto?"
Mira kini duduk bersimpuh di lantai, memangku Album Foto itu dan membukanya.
"Sepertinya, ini foto keluarga Nathan." Mira bisa mengenali foto seorang Ibu dan Ayah yang sering Mira lihat yang juga ada terpajang di ruangan tengah.
Kemudian membuka lembar berikutnya.
"Lalu ini siapa?" Mira memperhatikan foto seorang gadis kecil berusia tujuh tahunan berada ditengah tengah orang tua Nathan. Hanya bertiga, tanpa Nathan kecil disana.
"Apa dia kakak tiri perempuan Nathan?" Mira teringat, Nathan sempat mengatakan jika Ayahnya menikahi janda beranak satu.
"Jika benar, lalu kemana dia sekarang?" selama ini Nathan tidak pernah bercerita tentang latar belakang keluarganya secara gamblang pada Mira. Mira sendiri merasa menyesal tidak pernah menanyakan hal itu.
"Aku akan bertanya padanya jika begitu." rasa penasaran tentang orang tua Nathan,kini memuncak dipikiran Mira.
Mira cepat menyelesaikan pekerjaannya. Baru saja selesai, terdengar suara Nathan.
Mira cepat berlari mendekat. Menaruh Album Foto itu si atas meja dan menghampiri Nathan yang mulai terbangun.
"Mira." Pertama membuka mata, tentu Mira yang di cari Nathan.
__ADS_1
"Iya Nath. Aku disini." Mira langsung duduk disisi Nathan.
"Ah, ku pikir kau keluar kamar, meninggalkan aku." menarik tubuh Mira dan merengkuhnya.
"Tidak mungkin, suamiku. Paling juga aku ke kamar mandi." sahut Mira di dada Nathan.
"Apa kau tidak tidur siang?" tanya Nathan, menciumi pipi Mira.
"Tidur Nath. Aku juga baru bangun, lalu ke kamar mandi." sahut Mira, berbohong.
"Bagus Mira. Kau memang harus banyak istirahat dan banyak makan. Aku ingin kau sehat, dan kemudian cepat hamil. Lalu melahirkan banyak anak untukku. Rumah ini akan ramai dengan anak anak kita." ucap Nathan, tak juga berhenti menciumi pipi Mira.
"Iya Sayang.. Aku juga ingin seperti itu."
"Terimakasih Mira. Terimakasih."
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu Nath." Mira memutar wajahnya untuk menatap wajah suaminya.
"Berterima kasih? Untuk apa?"
"Untuk, semua hal yang sudah kau lakukan demi Aku. Hanya demi seorang wanita seperti ku. Kau mau menerima aku apa adanya."
"Jangan bicara seperti itu Mira. Aku mencintaimu. Tentu aku akan melakukan apapun untuk wanita yang aku cintai. Aku ingin kau bahagia." sahut Nathan, mengecup bibir Mira.
"Nath." Mira memanggil dengan cukup serius.
"Apa ada? Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?" Nathan seperti sudah bisa membaca dari ekspresi wajah Mira.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?"
"Tidak boleh." jawab Nathan , membuat Mira terperangah seketika.
"Kau tidak boleh bertanya apapun, jika aku bisu. Karena aku tidak mungkin bisa menjawabnya." Sambil tergelak.
"Kau mau tanya apa Sayang ku? Bertanya lah. Apapun itu, aku akan menjawabnya." ucap Nathan.
Mira menarik nafas dahulu, sebelum akhirnya bertanya.
"Kalau boleh aku tau, cerita tentang almarhum Mertuaku."
Nathan terdiam sebentar, kemudian tersenyum. Sambil menggenggam tangan milik istrinya.
"Ayah dan ibu, meninggal dalam kecelakaan saat aku baru duduk di bangku SMA." memulai cerita.
"Hem. Dan aku tidak mempunyai saudara dekat, kecuali Ken. Orang tua Ken dulu bekerja pada orang tuaku. Ayahnya adalah orang kepercayaan Ayahku."
"Ah, iya. Jika itu aku sudah tau."
"Tau? Tau darimana?"
"Bisa di tebak, dari hubungan kalian yang begitu akrab." sahut Mira.
"Kau benar. Kami akrab dan bersahabat sejak aku kehilangan orang tuaku. Setahun kemudian, orang tuan Ken pun berpulang secara bergantian. Bukan karena kecelakaan. Namun karena sakit." ucap Nathan kembali.
"Kami berjuang berdua tanpa bantuan siapapun , Mira. Hingga kami dewasa dan bisa melanjutkan Perusahaan Ayah. Kami berjanji, akan terus bersama dan saling mendukung."
Nathan menjeda bicara, melirik Mira yang menarik nafas.
"Kau masih punya pertanyaan lain?" mengangkat dagu Mira.
"Kau belum pernah menceritakan tentang saudara mu padaku."
"Saudara? Aku tidak punya saudara." jawab Nathan.
__ADS_1
"Aku menemukan Foto Keluarga mu. Melihat seorang Gadis kecil disana. Apa dia saudara kandung mu? Atau mungkin, putri dari ibumu sebelum Ibu menikah dengan Ayahmu. Seingat ku, kau pernah mengatakan demikian. Jika Ayahmu menikahi Janda yang memiliki satu anak."
Nathan terlihat terdiam dengan pertanyaan Mira kali ini.
"Kau benar. Dia, kakak perempuan ku." jawab Nathan.
"Tapi aku belum sempat mengenalnya walau sedetik pun."
"Kenapa?"
"Dia sudah berpulang sebelum aku ada."
"Maksudmu? Dia sudah meninggal sebelum kau lahir?"
Nathan mengangguk.
"Ayahku, jatuh cinta pada istri orang. Seperti ku. Tapi ceritanya begitu pelik melebihi aku." Nathan kembali memulai cerita.
"Ayah bertemu ibu tanpa sengaja. Melihat ibu di seret seorang pria di sebuah kafe. Ibu dipukuli sampai hampir pingsan. Ayah kemudian menolongnya dan membawanya pulang. Sejak saat itu, Ibu tinggal bersama ayah menjadi pembantunya. Kemudian ayah jatuh cinta padanya. Ibu terus menolak, ia mengatakan jika sudah bersuami dan memiliki seorang Putri."
"Tapi ayah tidak peduli, karena merasa jika pernikahan ibu tidaklah dalam keadaan baik baik saja. Apalagi ketika ayah tau jika Ibu menjadi wanita kafe karena paksaan suaminya."
"Lalu kemudian hari, Ibu meminta ijin untuk pulang menemui putrinya yang sedang sakit dan butuh dirinya. Ayah yang khawatir akan keselamatan ibu, melarang ibu. Berjanji akan menjemput putri ibu. Ayah menepati janji, menemukan Putri Ibu yang sedang sakit dan di rawat dirumah sakit. Lalu Ayah membawanya pulang ke rumah ini dan melakukan perawatan putri ibu di rumah ini."
"Apa kau tau Mira? Ibuku memiliki masa lalu yang begitu menyedihkan. Dia harus memiliki suami yang sangat kejam. Gemar berjudi dan main perempuan. Ibu hanya menjadi tumbalnya untuk mencari uang. Sementara ibu juga harus merawat putrinya yang mengidap Kanker Darah."
"Apa kau tau, jika Ayah lah, yang membuat Ibu menjadi Janda. Ayah yang menembak suami Ibu ketika menyelamatkan Putri ibu yang sempat di sandera oleh suaminya sendiri. Pada saat itu, Ayah kecolongan. Kakak ku di culik oleh Ayahnya sendiri agar Ibu mau kembali padanya. Dan Ayah berhasil menemukan Kakakku. Dan Ayah menembak Ayah kandung Kakakku saat dia hampir melukai kakak ku."
"Karena penculikan itulah, kakakku akhirnya meregang nyawa. Seharusnya ia sudah menjalani waktu cuci darah yang harus dilakukan rutin dua Minggu sekali. Kakak ku terlambat beberapa hari karena di sekap Ayahnya sendiri."
Nathan berhenti, menyeka air matanya yang tiba tiba terjatuh saja.
Mira pun sama, hanya mendengar cerita Nathan saja dia bisa merasakan bagaimana menjadi posisi ibu kala itu. Sungguh menderita, bahkan melebihi dirinya.
"Seharusnya, walau pun dia bukan anak dari Ayahku, tapi setidaknya aku masih punya saudara. Sayang sekali, Aku tidak sempat mengenalnya."
"Nath. Jangan bersedih lagi ya? Tuhan lebih menyayangi mereka."
Nathan mengusap air matanya, berusaha untuk tersenyum.
"Jika kakakku itu masih hidup, mungkin aku akan sangat menyayanginya. Ayahku saja, yang baru beberapa bulan mengenalnya begitu menyayanginya. Kata Ayah, dia sangat cantik dan manis. Mirip sekali dengan Ibu. Lembut dan sangat ceria. Hari hari Ayah, begitu menyenangkan dengan kehadiran Putri Ibu itu. Ayah bahkan terus menyesal karena tidak bisa menolong nyawanya. Ayah juga sangat menyesal, kenapa dia tidak ingin menunggu Ayah menjadi Ayah sambungnya dahulu."
Nathan membuang nafas kasar.
"Setahun setelah kematian kakak ku, Ayah menikahi ibu. Dan mereka hidup bahagia sampai maut memisahkan mereka. Ayah pernah berpesan padaku, mencintai tidak harus memandang siapapun dia. Asal Wanita baik, tulus dan terpenting saling mencintai. Karena kebahagiaan itu terletak pada hati yang saling Mencintai bukan harta ataupun setatus." ucap Nathan, mengakhiri cerita kedua orangtuanya.
"Itu sebabnya, kau tidak ragu padaku, meskipun kau tau jika aku dulu berstatus istri orang?" tanya Mira ingin mencari kebenaran lagi.
"Haha.. Kau tau saja." mencubit kecil hidung istrinya.
"Bisa jadi, ini keturunan dari Ayah, atau Takdir yang sengaja mempertemukan aku dengan wanita yang tepat untukku. Itu saja pemikiran ku. Aku tidak ingin berpikir banyak banyak. Yang terpenting, aku bahagia bersamamu dan ingin membahagiakan mu." Nathan meraih tubuh Mira dan mendekapnya dengan erat.
"Nasibmu hampir serupa dengan Ibuku. Sebab itu juga, aku begitu menyayangimu Mira. Aku teringat cerita Ayah tentang penderitaan Ibuku dulu."
"Sekarang ini, jangan memikirkan apapun lagi, selain keluarga kita. Dan Masa depan kita. Kau setuju?"
Mira mengangguk,
Keduanya kembali saling tatap. Kali ini tatapan penuh kebahagiaan dan Romantis.
Kemudian mulai kembali bergerak, dan terus bergerak. Selanjutnya, terjadi lagi di siang yang hampir habis, mereka kembali mereguk masa bulan madu mereka. Melupakan segala cerita lalu yang penuh air mata dan menggantinya dengan senyuman penuh cinta!
____________
__ADS_1