![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Yang pucat bukan hanya Mira dan Rimbun lagi, tapi saat ini Nathan juga sudah mulai memucat.
Bagaimana tidak!
Menoleh kesini, Mira terus mengurut pelipisnya dengan sesekali muntah ke dalam Tong sampah.
Melirik ke sana, di kamar mandi Rimbun pun sama. Sudah tersandar lemas disisi pintu kamar mandi.
Nathan kali ini yang memijat pelipisnya.
'Ken kemana? Kau kemana bodoh! Lama sekali!' mengumpat dalam hati.
Sekarang menghampiri Rimbun, membawanya ke sisi tempat tidur. Lalu duduk di tengah tengah dua wanita itu.
Mira merebahkan kepalanya di pahanya. Terdengar suara Rintihan Mira.
Rimbun, tergeletak di kasur dengan kepala yang hampir tak berjarak dengan bokong Nathan. Merintih juga.
Nathan menarik nafas panjang penuh kekhawatiran. Menatap dua wanita itu secara bergantian. Terbersit perasaan takut luar biasa.
Bagaimana jika mereka benar keracunan? Bagaimana jika tidak selamat?
Pikirannya sudah kemana mana.
"Nath. Kepala ku rasanya mau pecah." rintihan dari Mira.
"Iya sayang, sabar ya. Sebentar lagi Dokter tiba."
"Tuan. Kepala ku sakit. Tuan Ken kenapa belum datang juga?" Rintihan dari Rimbun.
"Sabar ya, sabar. Sebentar lagi Ken datang."
Tangan kanan memijat pelipis Mira, tangan kiri memijat kepala Rimbun.
Di tengah kegelisahan Nathan sempat terkikik dalam hati.
Andai dua wanita ini istrinya, bisa bisa mati saat ini juga dibuatnya.
astaga! apa yang kupikirkan?
'Mengurus satu istri saja aku panik begini. Cukup Mira. Tidak akan ada yang lain. Maafkan aku, maafkan aku sayang!' mencium pucuk kepala Mira.
kenapa Ken begitu lama? Apa pelakunya sudah tertangkap?
Menyeka keringat dingin yang mengalir ke rahangnya.
Rimbun mendongak. "Tuan Nath. Kenapa Ken belum kembali?"
"Tenanglah, sebentar lagi Ken kembali. Mungkin pelaku kejahatannya sudah tertangkap."
"Memang ada penjahat?" kini Mira yang bertanya, sambil sesekali masih menahan perutnya.
"Ya. Yang sudah meracuni kalian ini."
"Meracuni kami?" dua wanita itu setengah berteriak, sambil mendongak sedikit.
"Lalu apa? Ini patut dicurigai, kalian sama sama pingsan, merasakan pusing dan mual. Ini semua pasti akibat keracunan. Seseorang sengaja ingin menghancurkan kami melalui kalian." sahut Nathan.
"Pantas saja, perut ku seperti ini rasanya." Mira kembali memuntahkan isi perutnya.
Baru selang beberapa detik saja, Rimbun sudah berlari ke kamar mandi kembali. Kembali memuntahkan isi perutnya juga.
"Ya Tuhan!" Nathan kembali panik.
"Mira. Bertahan lah. Sebentar lagi dokter datang. Bertahan lah sayang." tangannya memijit tengkuk Mira, matanya melirik pintu kamar mandi.
Bodoh Ken! Kenapa lama sekali sih?
Kembali mengumpat, kembali panik.
Terdengar derap langkah tergesa dari luar. Nathan segera menoleh.
"Cepat bodoh!" pekik Nathan.
Begitu Ken melangkah masuk, Nathan langsung menunjuk kamar mandi.
"Tolong istrimu!"
Tanpa menjawab Ken pun berlari ke kamar mandi.
"Sayang.. Kau muntah?"
"Tidak, aku sedang mandi!" sudah melotot ke arah Ken.
"Kemana saja kau ini Hah! Bisa bisanya meninggalkan istri sendiri dan malah Tuan Nathan yang kebingungan membantuku!" sekarang menunjuk kening Ken.
"Maafkan aku sayang.. Aku sedang melihat Cctv. Ayo, biar ku bantu." Ken memapah Rimbun.
"Apa kau menemukan sesuatu yang mencurigakan Ken?" belum sempat duduk, Nathan sudah bertanya.
"Tidak ada Tuan. Tidak ada yang bisa ku temukan di Cctv. Tidak ada jejak sedikitpun yang di tinggalkan pelaku." jawab Ken, duduk bersama Rimbun di sisi Ranjang sebelah sana.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Ken? Kita tidak bisa membiarkan ini semua. Orang ini terlalu hebat, atau ada orang dalam yang terlibat?"
Seketika Ken menoleh.
__ADS_1
"Apa anda sudah menghubungi dokter?" tanya Ken.
"Sudah. Tapi entah lah, kenapa Dokter juga lama sekali."
"Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter dulu. Baru kita bisa mengambil kesimpulan. Apakah mereka benar benar keracunan atau..."
"Atau apa?" Nathan cepat memotong.
Ken tidak menjawab pertanyaan Nathan, malah menoleh pada Istrinya.
"Sayang. Semenjak kita menikah, aku tidak pernah melihat mu datang bulan. Benarkah itu? Atau aku yang tidak tau?"
Mendengar Pertanyaan Ken pada istrinya Nathan seketika juga menoleh pada Mira.
"Mira. Bulan ini aku juga belum melihat kau datang bulan?"
Yang di tanya segera mendongak dan mengingat ingat.
"Iya Nath. Aku terlambat, sudah hampir satu minggu ini."
"Astaga! Benarkah?"
"Seingat ku begitu."
"Jadi maksudnya?" Nathan kini menoleh pada Ken.
Ken masih menunggu jawaban dari Rimbun.
"Sayang.. Kau tidak haid haid?"
"Terakhir aku datang bulan, adalah Dua Minggu sebelum kita menikah. Seharusnya aku sudah kedatangan tamu dua Minggu yang lalu. Aku juga sudah terlambat sekitar dua Mingguan. Dan aku lupa!"
Jawaban kedua wanita itu membuat dua pria itu menepuk kepalanya.
"Artinya, mereka bukan keracunan!" ucap Nathan.
"Artinya, istriku hamil!" Ken setengah berteriak.
"Tuan, Dokter sudah datang." Fic berdiri di depan pintu.
Semua menoleh, sang dokter wanita sudah melangkah masuk setelah memberi salam hormat pada mereka.
"Selamat Siang Tuan Nath. Apa yang terjadi?" Dokter sudah menghampiri.
"Mereka, mereka. Istriku dan istri Ken.."
"Dok, cepat periksa mereka!" Ken memotong langsung.
"Baiklah Tuan. Semua harap tenang dulu." Dokter kemudian meminta para pria untuk keluar kamar, meninggalkan para istri di dalam.
Tidak mungkin bisa tenang begitu saja, Nathan dan Ken sama sama masih diliputi rasa gelisah.
Beruntung kecemasan itu tak berlangsung lama ketika Dokter sudah membuka pintu dan mempersilahkan Nathan dan Ken untuk masuk.
Senyum berkembang di bibir Dokter sudah bisa diartikan sebagai pertanda baik bagi Fic.
Tapi untuk para Suami, itu belum membuat mereka berhenti cemas.
Melirik dua wanita yang duduk di tepi ranjang itu, juga tersenyum ke arah mereka.
Apa ini? Mereka tersenyum?
Semakin tak sabar menunggu Dokter menjelaskan. Jantung mereka sudah jedag jedug duluan.
Jangan jangan!
"Tidak perlu terlalu cemas Tuan. Istri istri anda, bukan sedang keracunan seperti yang anda khawatirkan." Dokter melangkah mendekat.
"Lalu apa? Kenapa dengan mereka? Apa benar mereka sedang hamil?" Nathan tak sabar, segera menebak.
Dokter kembali tersenyum.
Membuat Nathan geram. Ken hampir pingsan dibuat penasaran.
"Benar tebakan anda Tuan. Mereka hamil."
Aa....!!!
Teriak dua pria itu tidak bisa di hindari lagi. Nathan menubruk Mira.
"Mira, kamu hamil. Kamu hamil sayang! Dedek bayi kita jadi! Akhirnya. Perjuanganku tidak sia sia."
"Stt... jangan keras keras Nath. Malu!" bisik Mira.
"Aku senang Mira. Aku senang!" tak peduli, berteriak teriak sambil memeluk lagi.
Ken juga memeluk Rimbun. Beberapa kali menciumi wajah Rimbun.
"Kamu hamil Jelek! Aku sebentar lagi akan jadi seorang Ayah!"
Dokter tersenyum lagi, menggelengkan kepala tanda luar biasa!
'Bisa kompak sekali. Atau jangan jangan, sudah berencana dari awal?'
"Selamat Ya Tuan, Nona!"
__ADS_1
"Ah, iya Dokter. Terimakasih, terimakasih. Ku pikir mereka keracunan." jawab Nathan. Tertawa bahagia.
Fic yang mendengar pun ikut bahagia dan sekaligus Lega.
kompaknya!
"Istriku hamil Tuan!" Ken menoleh pada Nathan.
"Istri ku juga bodoh!"
"Ah iya. Kita sama sama. Artinya, tidak ada yang kalah atau menang diantara kita."
"Kau benar Ken, tapi.." Nathan menoleh pada Dokter.
"Dokter! Berapa usia kandungan istriku dan berapa usia kandungan Istri Ken?" tanya Nathan.
Dokter itu tersenyum dahulu sebelum menjawab.
"Usia kandungan Nona Mira, berjalan Empat Minggu. Sementara Nona Rimbun, sudah berjalan Enam Mingguan."
"Apa?" dua pria itu menyahut bersamaan.
"Mana Mungkin?" Nathan langsung melotot pada Ken. Menarik kuat lengan Ken.
"Kalian menikah baru satu bulan! Aku tidak akan lupa tanggal pernikahan kalian!"
"Hah, lalu maksud anda apa ini?" Ken balik melotot.
"Istrimu hamil Enam mingguan Ken! Kau mencicil duluan ya?" menunjuk dada Ken.
"Sembarangan bicara Anda Tuan. Aku tidak seperti itu!" balik menunjuk.
"Lalu, kenapa istrimu bisa hamil enam Mingguan?"
"Mana ku tau!" kini Ken menoleh pada Rimbun.
"Ken, aku juga tidak tau!" Rimbun sudah pucat saat melihat mata Ken menatapnya tajam.
"Kenapa kau takut sayang?" tiba tiba memeluk Rimbun.
"Saat pertama, aku sadar betul jika kau masih suci. Jangan takut begini. Ini milikku, ini milikku." Ken berbisik, mengelus halus perut Rimbun. Kemudian menoleh pada Dokter.
"Mohon jelaskan Dokter, agar tidak ada kesalah-pahaman."
Rupanya sang Dokter paham maksud Ken, kemudian tergelak kecil.
"Menikah tentunya harus saling percaya bukan?" ucap Dokter itu.
"Jadi begini. Sekedar ingin meluruskan hal yang sering membuat orang salah paham!" Dokter menarik nafas panjang.
"Sering kita mendengar, Menikah baru satu Minggu kok hamilnya sudah satu bulan? Kalian hamil duluan ya sebelum menikah? Ini sama yang terjadi pada Tuan Ken dan istri. Menikah baru satu bulan, hamilnya sudah berjalan Enam mingguan?"
"Dokter pun menentukan usia kehamilan bukan dari hari pertama anda dinyatakan hamil, atau hari pertama kalian berhubungan badan, melainkan dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT). Kapan seorang wanita mengalami haid terakhir, itu yang Dokter hitung. Seperti Nona Rimbun contoh mudahnya, terakhir datang bulan adalah dua Minggu sebelum menikah. Seharusnya dua Minggu kemarin dia sudah mengalami menstruasi. Dan ini sudah terlambat dua Minggu. Artinya, kehamilan Nona Rimbun, benar sudah berjalan Enam mingguan, karena dihitung dari, dua Minggu sebelum menikah itu adalah haid terakhir Nona Rimbun." jelas sang Dokter.
"Oh. Begitu ya." Nathan melirik Ken.
"Nah kan? Anda sudah sembarangan menuduh, Tuan!" Ken meninju lengan Nathan.
Nathan tergelak, mengusap lengannya yang ngilu.
"Maafkan Ken! Maaf! Begitu saja sewot. Ku pikir kau sudah mencicil, makanya kau menikahi Rimbun dengan terburu buru."
"Aku tidak mungkin seperti itu. Memangnya kau!" Ken mendelik.
"Apa kau bilang?" Merasa tersindir, Nathan pun mendelik.
"Eh, kalian ini apa apaan sih? Bukannya senang istri hamil! Malah meributkan yang tidak penting!" Mira menarik tangan Nathan. Rimbun pun melakukan hal yang sama.
"Hehe, kami bercanda sayang. Aku senang sekali." Nathan memeluk Mira.
"Seperti tidak tau kami saja kau Jelek." Ken juga memeluk Rimbun.
Dokter hanya bisa menggeleng kepala. Memberi sedikit penjelasan kembali dan memberi resep vitamin serta obat anti mual untuk meringankan mual pada dua istri itu.
Sambil berpamitan untuk undur diri. Sambil berpikir,
*Bos dan Sekretaris sama saja. Bucin! Kompak selangit, sampai hamil saja bisa barengan begitu.
Ini kebetulan atau di sengaja*?
Fic bersuara di tengah tengah gelak bahagia mereka.
"Tuan, bagaimana dengan penyelidikannya? Apakah perlu dilanjutkan?"
"Bodoh atau bagaimana kau ini Fic! Mereka hamil bukan keracunan. Lalu untuk apa diteruskan hah!"
Fic malah tergelak, mengumpat dalam hati.
'Nona nona ini keracunan Tuan. Keracunan cat cair beracun dari kalian!'
Puas!
Bikin panik saja!
Fic, memilih pergi.
__ADS_1
_____
[Follow Ig Author, any_anthika dan kalian bisa melihat video video ilustrasi Visual karakter dari setiap karya yang menarik tentunya]