![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Perhatian!
[ Harap di baca sesudah Magrib saja. Ada adegan yang menodai otak.]
***
Nathan dan Ken sama sama menelan ludah melihat Mira yang begitu lahap memakan Mangga Muda dengan cocolan sambel cabe rawit dan gula merah itu.
"Ken, seperti ada yang tidak beres pada Mira. Kau merasakan tidak?" bisik Nathan.
"Em, sepertinya begitu." sahut Ken.
Mendengar bisik bisik dua pria di depannya itu Mira mendongak.
"Kenapa kalian? Mau juga? Nih cicip. Enak lho?" menyuap mulut Nathan dengan sepotong Mangga Muda.
"Em..!" Nathan langsung menutup mulutnya.
"Ayolah Nath, sedikit saja. Temani aku. Bantu habiskan ini. Sayang jika ke buang?" Mira masih memaksa.
"Em,.. Tidak mau Mira. Itu asam. Ken saja. Ken saja ya?"
"Ken, kau saja kalau begitu. Aak...!" Mira beralih menyuap Ken yang juga buru buru menutup mulutnya.
"Tidak, tidak. Aku.. aku."
"Kau kan biasanya suka Ken. Ayo mangap!" Nathan menyodok perut Ken dengan sikunya.
"Ck, mana ada. Itu kecut! Mana pedes pula!" geram Ken, setengah berbisik pada Nathan.
"Kau ini! Iya'in saja kenapa sih. Biar Mira senang! Ayo mangap! Apa susahnya sih berpura pura suka!" bisik Nathan.
"Kenapa jadi aku!! Kau kan yang pacarnya. Harusnya anda yang berpura pura biar Nona senang!" bantah Ken.
"Ken. Kau juga tidak suka ya?" Mira sudah terlihat sedih.
"Oh, Suka . Hehe, suka kok. A..!" Ken terpaksa mangap sambil nyengir.
Mira cepat cepat memasukkan potongan mangga muda itu ke mulut Ken dengan semangat.
"Enak kan?"
"Em..!" wajah Ken seketika memerah. Menutup mulutnya dengan tangannya dan menoleh pada Nathan.
"Astaga...!! Apanya yang enak??" setengah berbisik, Ken meremas lengan Nathan dengan kuat. Air liurnya hampir saja tumpah.
"Bilang iya saja Ken!" bisik Nathan.
"Enak kan?" Mira mengulangi pertanyaannya.
"Em, enak. Enak sekali. Nikmat, mantap! Tuan, anda harus mencobanya! Jika tidak , Nona akan sedih bukan?" ucap Ken memprovokasi.
"Sial kau Ken!"
"Nath, tidak suka Ken. Inikan makanan orang kampung. Mana mungkin Nath menyukainya." keluh Mira.
"Eh, siapa bilang. Suka kok, suka." Nathan cepat menyela.
"Benarkah? Kalau begitu ayo makan." ucap Mira bersemangat.
__ADS_1
"Mampus kau! Haha..!" Ken melirik Nathan dengan Puas.
"Palakmu Ken."
Akhirnya, Nathan terpaksa membuka mulutnya. Sambil matanya mengerjap, Nathan mengunyah.
Mira, haha. Hatinya terpingkal pingkal karena berhasil mengerjai dua pria dihadapannya itu.
"Cukup Mira, cukup. Aku, aku sudah kenyang. Ya sudah kenyang. Ken, Ken lagi. Dia kan baru sepotong tadi." rupanya Nathan sudah tidak tahan, cepat mencegah suapan Mira.
Mencari aman! Ken cepat berdiri.
"Astaga.. Aku lupa!"menepuk keningnya.
"Aku sepertinya harus ke kamar dulu. Ah, iya. Sella pacarku, dia meminta aku menelponnya. Aku sampai lupa. Ah, Nona, maaf tidak bisa menemanimu. Tuan Nath, hehe Tuan Nath saja yang menemanimu ya?" Ken cepat melangkah sambil tersenyum licik ke arah Nathan.
"Ken, kau ini! Beralasan saja. Cepat kembali!" panggil Nathan.
"Maaf Tuan. Selamat bersenang-senang!" seru Ken tertawa.
Mira mendengus. "Baiklah. Kalau begitu, untuk besok lagi."
"Ah ya benar. Kau benar sayang. Untuk besok lagi. Biar aku simpan di kulkas ya?" sahut Nathan, sungguh senang mendengar ucapan Mira, seakan baru saja terbebas dari siksaan berat.
Mira hanya mengangguk, padahal saat ini Mira ingin berguling guling karena senang sudah bisa membuat wajah dua pria itu menegang akibat rasa asam mangga muda itu.
"Mira. Kau ke kamar saja. Aku akan menyimpan ini di kulkas." ucap Nathan melangkah meninggalkan Mira sambil membawa sisa Mangga muda itu.
**
Mereka sudah berada di kamar. Di atas ranjang yang sama dibawah satu selimut yang sama juga.
"Sepertinya tidak."
"Tapi seharian ini, kau nampak lesu dan tidak berselera makan." ucap Nathan kembali.
"Tidak tau Nath. Mungkin hanya tidak sedang berselera saja."
"Ah baiklah. Jika merasakan sesuatu, cepat beritahu aku. Kita akan ke Dokter untuk memeriksa mu."
Mira hanya mengangguk.
"Tidurlah. Ini sudah malam." Nathan mengeratkan pelukannya.
Mira kembali mengangguk.
"Nath, kau tidak menyesal sudah mencintaiku? Aku banyak masalah." bisik Mira tanpa menoleh.
"Kenapa bicara seperti itu Mira? Aku mencintaimu. Mana mungkin aku menyesal." sahut Nathan. Menggenggam erat tangan Mira.
Suasana kini sunyi. Tidak ada lagi obrolan dari keduanya kecuali hanya suara nafas mereka saja yang terdengar. Tangan keduanya terpaut, saling menggenggam dan kemudian saling meremas pelan.
Darah Nathan tiba tiba berdesir hanya karena remasan jemari Mira. Begitu juga sama halnya yang dirasakan Mira.
Jantung keduanya mulai berjalan tidak stabil. Mencoba memejamkan mata mengusir gejolak yang terus menuntut mereka untuk menoleh.
Ada hentakan hentakan yang aneh di dalam tubuh mereka. Seperti sesuatu getaran yang indah yang menuntut sesuatu dari mereka.
Nafas Nathan mulai memburu, pria itu merapatkan wajahnya di leher Mira. Hingga Mira bisa mendengar dengan jelas deru nafas Nathan yang tak beraturan itu.
__ADS_1
Kali ini Mira menoleh, melihat itu Nathan langsung mengangkat wajahnya berada tepat di atas wajah Mira.
"Kau kenapa Nath? Sepertinya kau tidak bisa tenang?" tanya Mira.
"Tidak apa-apa. Tidurlah. Aku menunggumu tidur. Baru aku menyusul." jawab Nathan, suara itu terdengar tertahan, sambil menatap kedua bola mata hitam milik Mira.
"Aku sepertinya tidak bisa tidur. Aku memikirkan tentang perceraian ku dengan Ricard. Apa itu akan berjalan lancar?"
"Tentu saja. Dua bulan lagi. Dua bulan lagi, kau akan terbebas." Nathan mengusap pipi Mira.
"Lalu kita akan menikah setelah itu?"
"Ya. Kita akan menikah Mira. Aku akan menikahi mu setelah itu. Jika saja kau tidak ada masalah itu, mungkin kita sudah menikah dari kemarin kemarin." jawab Nathan masih mengusap lembut pipi Mira.
"Kenapa kita harus bertemu dengan keadaan seperti ini Nathan?" mata Mira berkaca kaca.
"Hus.. Tidak usah di bahas lagi. Yang penting sekarang, berjuang untuk menyatukan perasaan kita ini. Percayalah padaku. Semua akan baik baik saja." ucap Nathan.
Keduanya kini tersenyum, masih saling menatap. Dan kemudian semakin dalam. Tatapan Nathan kini beralih pada bibir manis milik Mira. Jarinya menyentuh itu. Kemudian dengan pelan wajahnya mendekat. Bibir Nathan sudah ada disana. Mengecap lembut.
Darah Mira seketika berdesir hebat. Dengan sendirinya membalas ciuman Nathan. Mereka akhirnya berciuman cukup lama.
Merasa tidak puas, Nathan mulai memainkan lidahnya. Kemudian bibirnya mulai beranjak ke leher Mira. Sementara tangannya tidak bisa lagi di cegah. Meraba lembut punggung Mira. Perlahan bergerak ke arah dada dan berhenti disana.
Seperti tidak ingin ditarik kembali, tangan itu justru bergerak meraba dan meremas, berhasil membuat Mira mendesahh. Desahann yang membuat Nathan jadi membara dan makin menggila. Tangan itu tak lagi ingin berhenti. Bibir Nathan pun semakin mendalam.
Sekarang Nathan sudah tertumpu di kedua lututnya berada tepat di atas tubuh Mira. Menyibak selimut dan terus bergerak lembut.
Kali ini Nathan yang mendesahh ketika wajahnya sudah berada di dada Mira.
Rasa itu, rasa ini. Tidak pernah dirasakan mereka sebelumnya. Meskipun Nathan pernah seperti ini pada Mira, tapi rasa itu tidak seperti saat ini. Rasa yang dulu, Nathan tidak ingat seperti apa. Mungkin karena terjadi dengan paksaan yang tidak dikehendaki oleh keduanya.
Berbeda dengan sekarang. Tuntunan dari keduanya semakin membuat keduanya terlena.
Ketika tangan Mira mulai bergerak, tangan Nathan pun sama. Keduanya berusaha membuka pakaian pasangan masing masing dan berhasil. Sehingga kedua tubuh polos itu kini saling merapat.
Tidak bisa dihindarkan lagi. Mereka menyatu. Dengan pergerakan lembut dari Nathan, dan hentakan menekan yang begitu pelan berhasil membuat kedua insan itu kalap dengan rasa yang melambung indah.
Nathan tidak ingin berhenti lagi, terus bergerak dan menekan hingga keduanya sama sama mengeluarkan desahann.
"Nath. Nathan.." panggilan merdu Mira membuat Nathan semakin menggila. Menerjang dan bergerak bebas. Menghujam semakin dalam. Hingga beberapa saat kemudian.
"Ah, Mira! Maafkan aku!" Nathan menekan kuat dan mengerang. Mira pun sama. Mencengkeram kuat lengan Nathan.
Akhirnya, keduanya melemas bersama.
Malam panjang yang melenakan mereka. Tidak bisa dihindari, tidak bisa dicegah lagi.
Nathan hanya bisa memeluk tubuh polos Mira dengan rasa bersalah dan menyesal sudah mengingkari janjinya. Jika itu tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya sebelum dia berhasil menikahi Mira.
Tapi malam ini, malam ini Nathan sudah mengingkarinya.
"Maafkan aku. Maafkan aku Mira. Aku tidak bisa menahan diri." bisik Nathan yang hanya dibalas senyuman oleh Mira.
______
[ Maafkan aku kakak! Sudah menyuguhi bab yang membuat otak traveling di bulan puasa ini ]
Bagi vote kak ya..??
__ADS_1