![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Setelah kepergian Ricard dan Kayla, Nathan kembali ke atas. Menemui Mira yang masih menunggu di kamarnya.
Melihat wanita itu duduk termenung disisi sofa, Nathan bisa merasakan bagaimana kemalangan dan perihnya kehidupan Mira. Perjalanan hidup yang pasti tidaklah mudah bagi seorang wanita muda dari desa seperti Mira. Menikah dengan pria yang salah. Mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari suaminya sendiri.
Wanita baik, tulus tapi malang!
Nathan sangat ingin merebut Mira segera dari suaminya. Bahkan hatinya telah berjanji, apapun itu, akan ia hadapi demi wanita ini. Demi bisa menikahi Mira.
"Mira!" ikut duduk bersandar disebelah Mira.
"Tamunya sudah pulang?" tanya Mira.
"Ya."
"Mereka temanku. Aku di undang ke pesta ulang tahun si wanitanya malam Minggu ini. Kau ikut ya?" Nathan menggeser duduknya untuk lebih mendekatkan.
"Ikut? Ke pesta maksudnya?" mata Mira membulat.
"Iya. Kau mau kan? Kita bisa pergi mencari gaun untukmu. Lalu perhiasan dan kau bisa ke salon kalau mau. Kau pasti akan sangat cantik. Berjalan dengan Nathan Edoardo, pria tertampan di kota ini. Haha... kita akan menjadi sepasang kekasih yang serasi." meraih tangan Mira dan memainkannya.
"Semua orang akan tau, jika Nathan sudah memiliki kekasih alias pacar. Yaitu Mira. Gadis desa yang sudah merenggut kesucian bibirku." tersenyum senyum bahagia, sesekali mencium tangan yang di genggamnya itu.
"Tuan!" Mira menarik tangannya.
"Anda sedang melawak atau Bagaimana?"
Kali ini Nathan yang membulatkan matanya.
"Kau mengira aku bercanda?"
Melihat mata Nathan yang membulat itu, Mira tentu takut, meringsut mundur.
"Bukan begitu, tapi. Tuan Saya tidak layak pergi ke Pesta."
Nathan mendengus , kemudian berdiri dengan menarik tangan Mira.
"Ikut aku!" terus menarik Mira untuk melangkah keluar menuruni tangga.
"Tuan, kita mau kemana?"
Nathan tidak menjawab, terus saja membawa Mira keluar rumahnya. Menghampiri sebuah mobil yang terparkir dan membuka pintu mobil.
"Tuan, kita mau kemana?" Mira masih terus berusaha bertanya.
Kali ini Nathan menoleh. "Menurut lah."
"Tidak! Katakan dulu mau kemana?"
"Ke hatimu!" kata Nathan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Mira, dengan cengengesan.
"Tuan. Jawab yang benar?"
"Mencari gaun untukmu. Sudah masuk!"
"Aku tidak mau ke Pesta!" Mira berontak, bertahan di sisi pintu mobil ketika Nathan memaksanya masuk.
"Kau ini. Memang kenapa sih? Kalau kau malu, kau bisa bersembunyi di ketekku. Kalau kau takut, aku akan memegang tangan mu dari depan pintu rumah ini sampai pesta usai! Ayo.. masuk...!" masih saja mendorong paksa tubuh Mira.
"Masalahnya anda salah membawa saya!"
"Salah di mananya. Membawa pacar sendiri ke pesta, siapa yang menyalahkan. Biar ku tinju orangnya. Katakan siapa? Ayahmu, dia tidak melihat. Ken Atau suamimu, aku akan meninjunya."
"Tuan! Saya ini istri orang. Jika teman temanmu tau hal itu, Tuan akan malu!" ucap Mira setengah berteriak.
Nathan tergelak, lalu cepat mengangkat tubuh Mira dan mendudukkannya di jok depan.
"Diam! Awas kau!" segera menutup pintu dan cepat menyusul duduk di depan kemudi.
"Tuan!" Mira memekik.
"Apa?" jawab Nathan juga memekik, tidak menoleh tapi langsung menghidupkan mesin.
"Anda sungguh akan nekat?"
Kali ini Nathan menoleh, mematikan lagi mobilnya dan menggeser duduknya.
__ADS_1
"Jika iya kenapa?"
"Tuan Nath, tolong Pikirkan dulu?"
"Sudah dari kemarin kemarin Mira?"
"Maksudnya yang mau mengajakku ke pesta!"
"Ck, kau mau aku pergi dengan siapa? Ken? Ah, aku bosan Mira. Ken lagi Ken lagi. Lagian, kalau aku tidak membawamu, mereka tidak akan percaya jika aku sudah mempunyai kekasih!"
"Tapi anda akan malu!"
"Cukup Mira! Aku tidak malu. Mau kau istri orang, janda. Janda punya anak lima sekali pun. Butuhku, aku mencintaimu! Tidak peduli siapa kau. Aku hanya ingin wanita yang ku cintai. Kau paham?"
Nathan mendekatkan wajahnya.
"Apa Tuan benar benar mencintai ku? Mungkin anda salah, anda hanya kasihan!" ucap Mira memundurkan wajahnya.
"Kau tidak percaya? Setelah apa yang kulakukan padamu?"
"Baiklah. Akan ku ulangi dengan jelas!" Nathan langsung menarik tengkuk Mira. Mencium bibir Mira dengan sangat rakus.
"Emm..emm..!" Mira berontak, namun Nathan menahan tangan Mira dan tetap melakukan ciumannya.
"Kau dengar aku, kau yang sudah mengenalkan aku dengan ciumanmu. Kau yang sudah membuatku harus mencintaimu. Jadi jangan salahkan aku." bisik Nathan, kembali melanjutkan ciumannya.
Mira berontak dengan kuat, mendorong wajah Nathan.
Plak...!!!
Nathan terbelalak, memegang pipinya.
"Kau menamparku Mira? Ya Tuhan.. ini sakit?" mengusap usap pipinya yang panas karena tamparan Mira yang begitu kuat.
Mira terkejut dengan kelakuannya sendiri. Memegangi tangannya.
"Aku.. aku tidak sengaja. Itu reflek." ucap Mira lirih.
"Ah, tidak apa apa!"
Nathan kembali menyambar bibir Mira. Sekilas, kemudian menarik tangan Mira, untuk menampar pipinya kembali.
"Tuan, cukup!" Mira menahan tangan.
"Ayo tampar lagi, tidak apa apa. Aku rela. Asal 'satu kali tamparan, satu menit ciuman'!"
Plup..!
Satu kecupan mendarat lagi di bibir Mira.
"Berhenti Tuan. Sudah cukup!" teriak Mira.
Nathan terbahak.
"Kau menyerah?" kini Nathan menatap wajah Mira yang sungguh memerah.
Segera memeluknya, sambil mengusap kepalanya.
"Aku mencintaimu. Aku hanya ingin membahagiakan mu . Apa salah? Kau pantas bahagia. Kau harus bahagia."
Kemudian kembali menatap wajah itu dengan sangat dalam.
"Kau percaya padaku?"
"Em.." Mira mengangguk kecil.
Nathan tersenyum, masih mengelus kepala Mira.
"Apa kau juga mencintaiku?"
Mira terdiam,
"Aku tau, Mungkin ini terlalu cepat! Tapi inilah kenyataannya. Aku tidak mau menjadi pria munafik, yang lari dari tanggung jawab. Aku, meskipun tak sengaja atau pun disengaja sudah pernah menyentuhmu. Bagi Nathan Yang pertama, harus menjadi yang Terakhir juga."
"Katakan saja. Tidak apa apa. Katakan saja jika kau tidak menyukaiku. Aku, aku akan.. Aku akan mati saja kalau begitu."
__ADS_1
"Sudah cukup Tuan. Anda makin gila!" Mira membungkam mulut Nathan.
"Kau mengataiku gila?" menarik tangan Mira.
"Ya, aku memang sudah gila! Gila karena cinta. Cinta, cinta pada istri orang. Menyedihkan!"
"Sudah berhenti!" Mira kembali membungkam mulut Nathan.
Nathan kembali menariknya.
"Lalu bagaimana? Kau mencintaiku tidak Mira!"
"Aku bertanya, jawab!" Nathan semakin mendekatkan wajahnya.
"Iya..! Sudah, sudah. Aku lelah." Mendorong lagi wajah Nathan.
"Iya apa? Iya mencintaiku?" mengguncang bahu Mira dengan wajah cukup tegang.
"Iya , Tuan. Puas!!"
"Astaga! Sungguh? Kau sedang tidak menghiburku?"
Nathan menarik tubuhnya, kembali ke posisi semula. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sebentar. Kembali menoleh pada Mira. Terlihat wajahnya begitu sumringah.
"Kau tidak sedang merasa terancam atau takut padaku kan? Itu jawaban asli dari hatimu kan?" Nathan bertanya bertubi tubi.
Mira hanya mendengus, merapihkan diri dengan memasang wajah cemberut.
"Mira!"
"Anda ingin saya jawab apa sebenarnya?"
"A.. ya baiklah. Baiklah. Kau mencintaiku. Artinya kita sama sama saling mencintai. Jadi ini tidak salah."
"Kalau begitu, berjanjilah. Mulai detik ini untuk selalu di sampingku. Jangan pergi sedikitpun dari rumah ini kecuali dengan ku." ucap Nathan dengan nada yang cukup serius.
Kemudian meraih tangan Mira.
"Kita akan melewati ini sama sama. Kau percaya padaku?"
Mira hanya mengangguk. Sekali lagi memperhatikan wajah yang begitu serius itu.
"Aku akan segera berusaha melepaskan mu dari suami brengsek mu itu. Kau tidak perlu takut. Setelah itu , aku akan menemui Ayahmu dan melamar mu sendiri, langsung dihadapannya."
"Kemudian kita akan menikah. Jika kau tidak bahagia bersamaku, kau boleh membunuhku."
Nathan mencium tangan Mira, kemudian membelai rambutnya.
"Sekarang, gaunnya bagaimana?"
"Terserah anda saja Tuan!"
"Baiklah, kalau begitu kita tancap gas."
Baru saja Nathan akan menghidupkan mesin mobilnya, Hpnya berdering.
"Ken Arok! Menggangu saja sih? Tidak tau apa orang sedang berusaha!" keluh Nathan sambil menggeser tombol hijau dilayar Hpnya.
"Apa Ken?"
"Tuan, anda dimana?" tanya Ken di sebrang sana.
"Aku sedang mau keluar. Mengajak Mira untuk mencari gaun. Malam Minggu ini Kayla menyuruhku hadir di pesta Ulangtahun nya. Aku ingin membawa Mira ke pesta. Menunjukkan pada semua orang jika aku sudah pacar!" jelas Nathan dengan penuh semangat yang berapi api.
"Jangan pergi dulu Tuan. Tunggu aku, sebentar lagi aku sampai. Ada hal penting yang harus anda ketahui mengenai siapa Suami Nona Mira."
Nathan menoleh pada Mira yang menyimak obrolan mereka.
"Baiklah. Aku kembali ke dalam." Nathan menutup panggilannya.
"Mira. Kita, tidak jadi pergi. Ada hal penting yang ingin Ken sampaikan. Ini mengenai suamimu. Masih ada waktu beberapa hari lagi."
Mira hanya bisa mengangguk, hatinya cukup penasaran dengan ucapan Ken yang sempat ia dengar dari Hp Nathan tadi.
__________
__ADS_1