Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Mempercayakan hidupku sepenuhnya padamu.


__ADS_3

"SAMPAI KAPAN PUN SAYA TIDAK AKAN MENANDATANGANI SURAT CERAI!! KAMU TIDAK AKAN BISA BERCERAI DARI SAYA!!"


"Ungkapan ini memang sering kita dengar ketika menemui suatu perkara perceraian. Kebanyakan adalah kaum perempuan yang kebingungan saat akan mengajukan perkara perceraian. Mereka mengungkapkan kegelisahannya karena sudah tidak nyaman lagi dengan pasangan hidupnya, tetapi Suami/Istri mereka sudah memberikan Ultimatum untuk tidak akan menandatangani surat cerai.


Apa yang ditemui disini adalah gambaran nyata dalam masyarakat kita yang awan dengan permasalahan hukum, ditambah lagi tontonan beberapa sinetron TV yang [kurang lebih] menayangkan cerita menyesatkan, belum lagi informasi dari teman atau keluarga yang mengungkapkan informasi yang sama.


Prasangka itu sungguh salah dan tidak perlu kita hiraukan. Karena proses perceraian tidak memerlukan izin atau persetujuan [tanda tangan] dari Suami/Istri.


Jika salah satu pihak akan mengajukan gugatan cerai, maka proses yang benar adalah dengan mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan [ Pengadilan Negeri bagi Non Muslim dan Pengadilan Agama bagi umat Muslim].


Perlu diketahui jika Perkawinan di Indonesia diatur dalam UU nomor 1 Tahun 1974.


Bagi orang-orang yang memeluk agama Islam selain UU tersebut pengaturan lebih lanjut diatur dalam Kompilasi Hukum Islam.


Pihak yang mengajukan disebut Penggugat, dan pihak yang digugat disebut dengan Tergugat.


Setelah melalui proses Registrasi, maka para pihak Penggugat maupun Tergugat akan di beri panggilan [Relaas] oleh petugas yang disebut sebagai Juru Sita.


Bagi pihak Tergugat panggilan tersebut disertakan dengan berkas gugatan. Namun dalam beberapa kasus masih ada pihak Tergugat yang tidak mau menandatangani Relaas dengan anggapan ingin menghambat atau agar proses perceraian tidak bisa berjalan/batal, namun anggapan yang salah itu justru menjadi bumerang bagi Tergugat karena senyatanya panggilan itu layak menurut hukum [biasanya dalam Relaas Juru Sita menuliskan "telah bertemu dengan Tergugat namun Tergugat tidak mau menandatangani Relaas panggilan"] , dan apabila Tergugat tidak hadir di Persidangan maka "Hak wajib" terhadap gugatan tidak ada. Artinya Tergugat menyetujui atau tidak membantah dalil-dalil di dalam gugatan, kemudian jika Tergugat terus menerus tidak hadir dalam persidangan maka putusan Hakim terhadap perkara itu jatuh secara Verstek.


Verstek atau Putusan Verstek adalah putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim tanpa hadirnya Tergugat dan tanpa adanya alasan yang sah meskipun telah dipanggil secara resmi dan patut.


Jadi intinya, Hakim yang akan memutuskannya. Begitu Tuan."


Ken memangggut-manggutkan kepala tanda paham akan penjelasan Seorang Pengacara yang sengaja ia sewa dan pagi ini Ken sengaja memanggilnya untuk membahas hal terkait gugatan cerai Mira terhadap Ricard suaminya.


"Baiklah, kalau begitu Kau harus membantuku untuk menyelesaikan segera perceraian Nona Mira dengan Ricard Alexandre."


"Tentu saja Tuan. Saya akan mengurusnya segera. Percayalah hal seperti ini tidak akan rumit, hanya akan memakan waktu saja."


"Berapa lama kira kira?"


"Pada umumnya proses perceraian akan memakan waktu maksimal 6 (enam) bulan di tingkat pertama, baik di Pengadilan Negeri maupun di Pengadilan Agama. Tetapi jika prosesi sidang berjalan dengan lancar, maka waktu yang diperlukan biasanya 3 (tiga) sampai 4 (empat) bulan saja." jawab Sang Pengacara.


"Lama sekali! Apa tidak bisa dipercepat?"


"Jika melalui pengadilan tidak bisa Tuan. Itu sudah peraturan yang berlaku."


"Kecuali, jika Tergugat bersedia menandatangani surat cerai tanpa sidang atau menjatuhkan talak secara langsung. Maka hari itu juga mereka akan Sah Bercerai." sambungnya.


"Baiklah, berhubung Nona Mira tidak memegang surat apapun bahkan KTP sekalipun, kau harus melaporkan dulu pada pihak yang bersangkutan untuk membuat salinannya. Setelah itu, ajukan semuanya ke Pengadilan Agama."


"Akan segera saya urus. Itu mudah, karena pernikahan yang sah dokumennya tercatat di Depertemen."


Pengacara itupun segera beranjak.


Ken segera mengirim pesan kepada Nathan.


**


Pagi sudah berganti siang, Nathan terlihat masih mendengkur. Kali ini dia sudah berada di ranjang. Rupanya pria itu tidak menyadari jika Mira sudah tidak ada disampingnya lagi.


Saat terbangun tadi, Mira menemui Nathan yang tertidur dilantai dengan posisi kepala menyandarkan di sisi ranjang dengan tangan yang menggenggam tangannya.


Dengan pelan Mira membangunkan Nathan agar berpindah di ranjang. Mungkin karena masih sangat mengantuk Nathan yang terbangun langsung terlelap kembali sesaat setelah sempat membaca pesan dari Ken dihpnya sambil mendekap Mira. Mira kemudian menyisihkan tangan Nathan dan perlahan turun untuk kembali ke kamarnya sendiri.


Mira masih menatap dirinya di cermin setelah menyelesaikan mandinya. Meniti setiap inci tubuhnya yang tidak luput dari tanda merah itu. Sebentar ia menghela nafas, sebentar ia meraba.

__ADS_1


"Hiks.." Mira kembali terisak.


Bukan mengingat kejadian semalam, karena ia sudah memutuskan untuk melupakannya.


Namun kegelisahan dan kekhawatiran yang semakin mencengkram hatinya.


"Dia pria baik. Yang menjadi korban keculasan Mas Ricard. Nathan sudah banyak menolongku. Dan kejadian ini sudah pasti menjadi tekanannya yang akan berujung permusuhan panjang dengan Mas Ricard."


**


Sementara Nathan mulai menggeliat, hal yang sama terjadi seperti semalam saat ia terbangun dari tidurnya. Langsung terlonjak mengingat Mira. Mungkin karena pikirannya sudah dipenuhi oleh Mira. Sekali bangun yang pertama diingat hanyalah wanita itu.


"Mira!" tidak ada yang ingin dilakukan kecuali melihatnya. Segera beranjak dan membuka kamar mandi.


"Apa dia dikamarnya?" saat mendapati kamar mandi kosong.


Pikiran Nathan langsung buruk, "Kau tidak boleh pergi Mira!"


Nathan langsung berlari ke kamar Mira.


Brak!


Mira terpaku dikedua kakinya yang langsung gemetar.


"Apa yang kau lakukan?" mata Nathan langsung tertuju pada tangan Mira yang menggenggam gagang koper.


"Aku..Aku.." Mira terbata.


"Kau mau pergi?" Nathan mendekat.


Mira menunduk. Tidak sanggup menatap wajah Nathan.


"Mira! Kenapa?"


"Tuan, kehadiran ku hanya akan mempersulitmu. Aku tidak ingin. Aku hanya ingin pulang kepada Ayahku."


"Kau akan pulang, kau pasti akan pulang. Tapi bersamaku. Tunggu sebentar lagi. Ku mohon Mira! Bersabarlah." Nathan meraup wajah Mira dengan kedua tangannya.


"Aku tidak bisa."


"Kau tidak Bisa? Kau egois Mira. Lalu bagaimana jika kau hamil?"


Mira langsung mendongak.


"Kau tidak memikirkan itu?"


"Jika itu terjadi, apa yang akan kau katakan pada Ayahmu. Anak Ricard? Tidak Mira!"


"Jika kau hamil, itu milikku!" Nathan kembali berteriak.


"Tuan, aku. Aku tidak ingin mempersulit keadaan. Aku tetap akan pulang. Jika aku hamil. Aku berjanji tidak akan melibatkanmu. Ijinkan aku pulang."


"Hah, kau sudah keterlaluan Mira." Nathan menjambak rambutnya dengan frustasi.


"Baiklah, aku tidak bisa menahanmu. Itu hak mu. Aku bukan siapa siapa dihidupmu. Baiklah. Tapi kau perlu ketahui, jika kau sudah membawa banyak hal dalam hidupku. Mungkin bagimu mudah. Tapi tidak bagiku." Nathan melangkah, menyambar sebuah pisau buah di atas buah segar yang terletak di atas meja.


Tentu saja Mira terkejut melihat itu , seketika memundurkan kakinya ketika Nathan mendekat dengan pisau digenggaman tangannya.

__ADS_1


Nathan tiba tiba meraih tangan Mira dan menggenggamkan pisau itu ditangan Mira.


Lalu Nathan membuka pintu kamar dengan lebar.


"Pergilah! Aku tidak akan mencegah mu." ucap Nathan.


"Tapi sebelum kau melangkah keluar dari pintu ini. Bunuh dulu aku!"


Mira langsung menangis keras.


"Tuan."


"Kenapa? Kau tidak bisa! Baiklah, aku akan memberi tahu caranya." Nathan langsung mendekat dan meraih tangan Mira yang masih menggenggam pisau itu. Mengarahkan ujung mata pisau itu ke perutnya.


"Ayo Mira. Lakukan! Kau akan terbebas dariku dan aku akan terbebas dari beban ini!"


"Tuan."


"Sama saja Mira. Kau pergi, itu sama saja membunuhku secara perlahan. Jadi, lebih baik kau lakukan sekarang!!" Nathan menekan tangan Mira.


"TIDAK!!" Mira menjerit seraya melempar pisau itu ke sudut ruangan.


"Bukan begitu maksudku." tubuh Mira langsung ambruk dipelukan Nathan.


Menangis tersedu.


"Maafkan aku. Maafkan aku. Aku tidak jadi pergi. Aku tidak akan pergi Tuan. Tidak."


Nathan langsung memeluk Mira dengan sangat erat. Kemudian membawanya keranjang.


Menatap wajah Mira yang juga terus menatapnya.


"Urusanmu dengan Ricard sebentar lagi selesai.Ku mohon Mira. Jangan berpikir untuk pergi. Aku bisa gila, Aku bisa gila!" Nathan menciumi tangan Mira.


Mira menarik tangannya untuk meraih tengkuk Nathan. Kemudian mendekap kepala pria itu di dadanya.


"Maafkan aku. Aku berjanji. Aku berjanji."


Nathan mendongak. "Kau tidak akan mengingkarinya lagi?"


Mira menggeleng.


"Aku mencintaimu Mira. Aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Kau juga mencintaiku bukan?"


Mira mengangguk.


"Hari ini, Ken sudah mengurus semua berkas mu untuk menggugat Ricard. Sebentar lagi kau akan terbebas darinya. Setelah itu, kita akan menikah. Kita akan menua bersama Mira. Sampai diantara kita mati karena usia."


"Kau percaya padaku?"


Mira kembali merengkuh kepala Nathan. Mendekapnya kembali, menghujani kepala itu dengan ciuman.


"Aku percaya. Aku percaya padamu. Mulai detik ini aku akan "mempercayakan hidupku sepenuhnya padamu" Nathan!"


__________


Jangan lupa Like, tinggalkan komentar.Nanti Author updatenya rajin.

__ADS_1


___


__ADS_2