![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Pagi telah datang menyapa seluruh alam semesta, tempat berpijaknya jiwa jiwa yang berbeda pemikiran dan pendapat.
Lelah, sudah pasti menggerogoti tubuh Ken, namun tak sedikit pun ia rasakan setelah semalam ia telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik dan tepat.
"Saat kau merangkak di kaki Tuan Nath, disaat itu juga, aku akan meludahi wajahmu Ricard! Aku akan berbahagia ketika melihatmu sengsara. Itu adalah gantinya, karena kau sudah membuat Nona menderita dan berani mencoba untuk menghilangkan nyawaku. Kau tidak tau berurusan dengan siapa. Kau salah memilih lawan!"
Sementara Nathan, dengan segala upaya berusaha untuk meyakinkan Mira dan merayu Mira agar mau berdiam di rumah saja.
"Aku harus menemui Ricard. Hanya ini satu satunya kesempatan ku untuk bisa menuntaskan permasalahan kita yang ada Mira! Percayalah. Semua akan berjalan lancar, dan kau akan menerima kabar gembira dari kami." mengusap air mata Mira yang tak berhenti mengalir. Nathan melirik Ken yang sudah berdiri menunggunya di ujung sana.
"Tapi Nath, aku khawatir. Aku tidak bisa untuk tidak khawatir."
"Tidak apa apa. Wajar jika kau khawatir. Tapi kami tetap harus pergi."
"Fic." Nathan memanggil sang kepala pelayan yang langsung mendekat.
"Jaga Nona. Dan jangan tinggalkan dia sendirian."
"Siap Tuan Nath."
Kemudian Nathan berdiri dan melangkah di iringi Ken. Tanpa menoleh lagi pada Mira yang masih sesenggukan itu. Mira hanya bisa pasrah ketika dua pria itu semakin menjauh dan hilang di ujung tangga.
"Nona. Sebaiknya aku antar ke kamar saja." Fic cepat menghampiri Mira.
"Tidak mau!" jawab Mira ketus.
"Ah." Fic mendengus, duduk dihadapan Mira. Kemudian pria itu tersenyum, menemukan cara untuk menghibur Mira.
"Bagaimana jika, hari ini anda memasak? Aku akan menyuruh Lucki untuk membeli banyak bahan masakan. Kau bisa memasak sangat banyak untuk meyambut kepulangan Tuan Nath dan Tuan Ken nanti!" usul Fic, membuat Mira mendongak.
"Boleh?"
"Tentu saja. Hari ini kau bebas tanpa Tuan Nath di rumah."
"Ah, aku senang kalau begitu."
Fic segera mengangguk cepat dan berdiri.
"Mari silahkan!"
Mira langsung semangat, berdiri mengusap sisa air matanya dan melangkah ke dapur di susul Fic dari belakang.
Para pelayan yang terdiri hanya dari kaum Adam itu langsung menyambut kedatangan mereka. Lucki pun mendekat.
Fic, membisikkan sesuatu pada Lucki yang langsung mengangguk.
"Nona! Anda bisa menulis apa saja yang anda butuhkan." Lucki menyodorkan kertas dan pena.
Mira dengan senang menulis apa apa yang ia butuhkan untuk membuat masakan.
"Kau bisa mendapatkan ini? Aku ingin memasak makanan khas kampung yang tidak biasa kalian makan di kota ini. Semoga Tuan Nath kalian menyukainya." Ucap Mira pada Lucki.
"Tentu saja, Tuan Nath akan menyukai apapun yang di masak oleh Nona." sahut Fic menarik kursi dan duduk.
"Ah baiklah, aku akan mendapatkan bahan bahan ini. Anda bisa menunggu sebentar. Sebagian sudah ada di kulkas Nona!" ucap Lucki segera bergegas pergi.
Mira pun duduk dengan menarik kursi, menunggu Lucki membawa bahan masakan.
Mira melirik Fic yang ada di ujung hadapannya.
"Kau sudah berapa waktu bekerja di rumah ini?" tanya Mira , mengusir kebosanan.
"Sudah lama sekali. Bahkan saat kedua orang tua Tuan Nath masih ada." jawab Fic.
"Kalian semua, orang lama?"
"Ya. Tidak pernah ada orang baru disini Nona. Kecuali dari kerabat kami sendiri."
__ADS_1
Mira terlihat terdiam sebentar.
"Tuan Fic, jika rumah ini tidak lagi milik Tuan Nath, apa yang akan kau lakukan?"
Fic mendongak, sekilas menatap wajah Mira yang penuh kecemasan.
"Itu tidak mungkin terjadi Nona!"
"Aku hanya bilang, jika saja. Apa yang akan kau perbuat?"
"Aku akan mencari pekerjaan baru. Begitu juga dengan yang lain." jawab Fic, cepat.
"Karena kami tidak akan Sudi bekerja pada mantan suami Nona itu!" sambung Fic.
"Ah, iya. Em, andai kata kita masih tinggal di rumah ini, bolehkah aku meminta sesuatu padamu Tuan Fic?" tanya Mira kembali.
"Sesuatu? Apa itu?" Fic sedikit penasaran.
"Aku ingin meminta, kau menyiapkan pelayan wanita juga di rumah ini untuk menemaniku. Aku kesepian Tuan Fic, tidak ada satupun wanita disini selain diriku."
Fic tercengang dengan permintaan Mira, kemudian tersenyum hangat.
"Kau benar Nona. Anda memang perlu pelayan wanita. Ah, baiklah. Akan segera aku rundingkan dengan Tuan Nath. Dia pasti setuju dengan permintaan Nona."
Mira terlihat senang dengan jawaban dari Fic, terbayang oleh Mira saat rumah ini di penuhi pelayan wanita. Yang membantunya ketika ia ingin memasak, atau menemaninya ketika ia sedang sendirian tanpa Nathan di rumah.
Kita beralih,
Nathan dan Ken masih di dalam mobil yang melaju sedang.
Karena menunggu satu perkara yang belum kelar, mereka memutuskan untuk menunggu di kantor saja. Terlebih saat Ken mengingat jika Si Rimbun pagi ini sudah disuruhnya untuk datang menemuinya di kantor.
Mobil mereka berhenti sempurna di depan perusahaan mereka. Saat menginjakkan kakinya diluar mobil, pandangan pertama Ken tertuju pada sosok sawo matang yang berdiri di sana. Ken segera menghampiri setelah melirik Nathan yang juga sudah keluar dari mobil.
"Kenapa berdiri disini?" sapa Ken.
"Kau bisa menungguku di ruanganku."
"Mana bisa! Aku baru melangkah saja tadi, satpam langsung menyeret ku keluar!" seru Rimbun.
Ken terkekeh, melirik Nathan yang sudah berdiri disampingnya yang ikut terkekeh juga.
"Kenapa datang dengan pakaian seperti ini? Wajar mereka mengira kau pengamen!" kesal Ken.
Rimbun melirik bajunya sendiri, kemudian mendongak.
"Ini pakaian terbaik ku Tuan! Tidak ada yang lain lagi. Mereka mengusirku bukan karena itu, tapi karena sudah mengenalku sebagai karyawan yang terpecat!" bantah Rimbun.
"Ah, sudahlah."
Nathan mendekat pada Ken.
"Dia gadis yang sudah menolong mu itu Ken?" bisik Nathan
"Ah, iya Tuan."
"Rupanya kau ada kesalahan ya Ken. Haha.. Baiklah. Sepertinya kau harus segera meyelesaikannya." ucap Nathan.
Ken hanya mengangguk.
"Aku menunggumu di ruanganku. Selesaikan dulu urusanmu." ucap Nathan kembali. Tapi belum juga melangkah.
Ken menoleh pada Rimbun, "Ikut aku kedalam!"
"Ken, bersikaplah lembut. Jarang terjadi lho kau peduli pada seorang wanita." bisik Nathan.
"Bicara apa sih?"
__ADS_1
"Hati hati, biasanya dari peduli akan jatuh hati!"
"Diam!" Ken bersuara sedikit keras membuat rimbun terkejut.
"Tuan Ken! Anda kenapa kurang ajar sekali. Berani membentak Bos?"
Ken rupanya tak sadar jika Rimbun mendengar suaranya barusan.
"Itu, itu.. Ah, aku tidak sengaja. Maafkan saya Tuan!" Ken cepat meminta maaf pada Nathan yang malah tertawa, sambil melangkah dahulu.
"Ken itu memang sekretaris laknat. Kau harus berhati-hati jika dekat dengannya Nona manis!" seru Nathan sambil melangkah.
Rimbun mendekatkan wajahnya pada Ken.
"Kau kurang ajar sekali."
"Sudah diam!"
"Tapi itu Tuan Nath. Bos kita semua! Anda kurang ajar!" menuding Ken dengan telunjuknya tepat di dadanya.
"Seperti kau tidak saja. Kau lebih kurang ajar padaku. Aku ini atasanmu sekarang!" menepis tangan Rimbun.
"Eh, iya. Maafkan aku!" meremas jarinya sendiri.
"Sudah ayo masuk!" Ken melangkah di ikuti Rimbun.
Sebentar menghampiri Satpam.
"Mulai saat ini, gadis itu menjadi asisten pribadiku. Kalian harus bersikap sopan padanya dan katakan pada semua orang begitu." ucap Ken.
Para satpam itu segera mengangguk, kemudian menoleh pada Rimbun.
"Maafkan atas kelakuan kami tadi, Nona."
"Oh iya. Tidak apa apa." sahut Rimbun.
Akhirnya Ken membawa Rimbun ke ruangannya. Namun baru saja Ken hendak duduk, pesan dari Roy masuk di Hpnya.
["Aku sudah mendapatkan dua pria yang kau inginkan itu Tuan Ken."]
["Bagus! Untuk sementara ini, simpan dulu mereka. Saat dibutuhkan nanti, baru keluarkan."] Ken mengetik cepat.
["Beres Tuan"]
Ken menoleh pada Rimbun yang masih berdiri di sana.
"Kau pulang saja."
"Hah! Apa? Anda memecat ku? Bahkan aku belum mulai bekerja." wajah Rimbun langsung pucat.
Ken, mengambil beberapa uang dari dompetnya.
"Aku tidak memecat mu Rimbun. Ini uang." mengulurkan pada Rimbun.
"Untuk apa?" tanya Rimbun sangat bingung dengan uang yang sangat banyak ditangannya itu.
"Aku dan Tuan Nath punya urusan yang sangat penting dan akan segera pergi. Hari ini, pergilah membeli pakaian yang layak dulu. Besok, datanglah kembali kesini. Tapi dengan pakaian yang baik dan rapih." ucap Ken.
"Baik Tuan Ken. Aku tidak akan mengecewakan mu lagi."
Ken mengangguk.
"Jangan lupa rambutmu!" ucap Ken sebelum Rimbun melangkah.
"Rambut? Ada apa dengan rambutku Tuan?" Rimbun menoleh saat hendak membuka pintu.
"Aku tidak suka rambut Keriting. Luruskan!"
__ADS_1
_____________