Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Tubuh Rimbun Penuh Setrum.


__ADS_3

Rimbun menggeliat , membuka mata perlahan dan berkali kali mengusap wajahnya.


Dia tidak lagi melihat Ken yang tadi ikut tidur dibelakang punggungnya.


Kemudian melirik kamar mandi. Seperti tidak ada orang. "Ken kemana?" Rimbun menjejakkan kakinya ke lantai.


"Apa balik ke kantor ya?" melirik jam. Sudah sore.


Baru saja Rimbun hendak bangun, sosok yang dicari sudah tersenyum dibalik pintu.


"Selamat sore menjelang petang, Jelekku..!" sapa Ken.


"Dari mana?" tanya Rimbun.


"Dari pergi." Jawab Ken santai, melangkah dengan beberapa kantong ditangannya.


"Aku tau, pergi dari mana maksudnya?" tanya Rimbun melotot sudah.


"Belanja." Meletakkan kantong kantong itu disampingnya Rimbun.


"Apa ini?" segera meraih dan memeriksanya.


Mata Rimbun seketika terbelalak. "Kau sendiri yang membeli ini semua?"


"Mau bagaimana lagi. Kau pasti membutuhkannya selama disini. Kau tidak membawa ganti kan?"


"Ah iya. Tapi ini?" menjinjing beberapa CD dan Bh.


"Kenapa? Bukankah Pacar kamu ini pengertian? Tau kebutuhan mu."


"Aku bukan pacarmu, Tuan Ken!"


"Tapi aku pacarmu, Jelek. Kita sudah jadian tadi siang. Kau lupa?"


"Stop! Aku bertanya. Kenapa kau membeli yang ini juga. Dari mana kau tau, ukuran ku?" Rimbun menoleh dengan tatapan penuh curiga.


"Hei.. hei.. Apa ini? Kau mencurigai ku sudah mengintip mu, begitu?"


"Lalu, bagaimana kau bisa tau ukuran ku?? Dan ini sangat pas!" Sekali lagi Rimbun bertanya.


"Hanya Filing Rimbun. Namanya juga sehati. Sudah pasti tau lah. Tanpa mengintip!" sahut Ken.


"Aku tidak percaya. Seperti sudah pengalaman saja." Rimbun mendengus.


"Aku memang pengalaman. Aku pernah membelinya sebelum ini."


"Hah!" Rimbun seketika membelalak. Begitu juga dengan Ken, terkejut dengan ucapannya sendiri.


'Sial, mulutku keceplosan.' menutup mulutnya.


"Kau pernah membeli ini? Artinya aku bukan wanita Pertama yang kau perhatikan?"


"Memang bukan. Astaga.! Maksudnya..!"


"Dasar Pria murahan. Dasar Playboy!"


"Em, Rimbun. Bukan begitu. Maksud ku.. Wanita pertama yang ku perhatikan adalah Nona Mira. Aku harus menjaganya kalau Tuan Nath sedang tidak bersamanya. Dan perabot dalam wanita...


Aku pernah membeli.. membeli.. maksudnya menemani Taun Nath membeli untuk Nona Mira. Begitu."


"Aku tidak percaya!!"


"Sungguh Rimbun. Kalau tidak percaya kau boleh bertanya pada Mereka. Saat itu adalah pertemuan pertama tama mereka. Tuan Nath membawa Nona Mira dalam keadaan basah. Karena tidak mempunyai ganti, terpaksa kami berdua mencarikan untuknya. Kami sempat berunding heboh masalah ukuran itu di toko. Sejak saat itu, aku punya pikiran jika kelak aku punya istri aku harus bisa tau ukuran istriku. Agar tidak bingung jika sewaktu waktu membelinya. Nah.. aku memakai filingku untuk memperkirakan ukuran mu. Ternyata Pas. Hebatkan aku." Ucap Ken panjang lebar, berharap Rimbun bisa kagum padanya.


"Hebat apanya? Artinya kau kurang ajar Tuan. Kau sudah membayangkan bentuk tubuhku bukan?" Rimbun menuding.


"Lebih baik begitu Rimbun. Dari pada aku membayangkan Tubuh perempuan lain. Lebih baik membayangkan Tubuh Pacarnya sendiri." sahut Ken tak mau kalah.


"Aku bukan Pacarmu. Sudah ku bilang, aku bukan pacarmu!"


"Kau Pacar ku. Kau kekasihku! Sudah ku bilang berkali kali, Aku ini pacarmu sekarang!" Ken mulai kesal.


"Kau memaksaku!"


"Ya! Aku memaksamu. Dan kau harus mau. Jika tidak aku akan mengurungmu disini. Kau tidak takut?" Kini Ken mendekat.


Mengangkat dagu Rimbun dengan telunjuknya.

__ADS_1


"Kau akan terkurung disini. Lalu aku akan memperkosa mu!"


"Hah!" Rimbun langsung menciut. Wajahnya seketika pucat.


"Aku akan memperkosa mu. Berkali kali, sampai kau hamil. Haha...!" Ken terkekeh licik.


"Kau Gila. Aku akan melaporkan mu pada Polisi!" menepis tangan Ken.


"Laporkan saja. Jika kau hamil, Kau mau apa? Siapa yang akan bertanggung jawab. Selain Tuan Ken yang tampan ini, yang sudah menghamili mu?"


"Kau Gila. Kau Psikopat!"


"Haha.. Makanya menurut. Atau kau mau aku melakukannya sekarang?"


Ken mendorong tubuh Rimbun hingga jatuh ke ranjang, segera memegangi kedua lengan Rimbun dan menekannya kuat dengan posisi sudah di atas tubuh Rimbun.


"Tuan. Anda mau apa?" Teriak Rimbun.


"Mau memperkosa mu!"


"Jangan Tuan." Rengek Rimbun.


Ken tergelak, menatap wajah ketakutan Rimbun. Kemudian menarik tubuhnya untuk duduk. Ken mengulurkan tangannya untuk membantu Rimbun bangun.


Rimbun juga duduk, dengan wajah yang masih pucat karena takut dengan perlakuan Ken tadi.


Ken merasa bersalah dengan candaannya yang mungkin kelewatan.


Pria itu meraih tangan Rimbun. Menggenggamnya dengan erat.


"Maafkan aku. Aku sudah membuatmu takut. Aku hanya ingin bercanda tadi. Adanya kau membuat aku senang. Hidupku jadi sangat berwarna." Ken menarik tubuh Rimbun dan memeluknya.


Membelai kepala Rimbun dan menciumnya berkali kali.


"Aku tidak mungkin memperkosa mu Rimbun. Aku tidak sejahat itu. Aku menyayangimu. Mana mungkin aku menyakitimu." bisik Ken.


"Kau membuatku takut." rengek Rimbun,memukul lengan Ken.


"Ah, iya. Maafkan aku. Tapi kau tidak boleh menolak ku. Aku bisa nekad melakukannya jika kau menolak ku." ucap Ken mengangkat wajah Rimbun.


Kemudian meraba Kening Rimbun.


Rimbun mengangguk. "Aku sudah sembuh sepertinya. Aku boleh pulang ke kost ku kan?"


"Belum Rimbun, ini masih sedikit turun saja. Sebentar lagi, aku harus memastikan kau sembuh total."


Tak ingin berdebat lagi, kali ini Rimbun mengangguk saja. Sepertinya Rimbun benar benar takut, jika Pria di depannya itu berbuat nekad dan sungguh sungguh memperkosanya.


Membayangkan itu, Rimbun ngeri dan meremang bulu kuduknya.


Tapi di dalam hati, Rimbun sempat heran. Bagaimana mungkin Ken yang tajir, tampan dan banyak digandrungi wanita itu bisa menyukainya. Apa yang menarik dirinya? Bahkan jika di banding wanita wanita lain, Rimbun tidak ada apa apanya.


Rimbun hanya wanita kelas bawah, bawah sekali. Tanpa makeup, tanpa perhiasan. Bahkan tidak bisa memakai gaun seperti wanita pada umumnya.


"Aku akan menyiapkan air hangat untuk menyeka tubuhmu. Kau belum boleh mandi." ucap Ken.


"Tunggu sebentar ya?" Ken beranjak. Lagi lagi Rimbun hanya mengangguk saja. Menatap punggung kekar itu menghilang dibalik pintu.


"Apa dia benar benar mencintai ku? Kenapa aku ragu ya?" bisik Rimbun.


"Apa aku juga menyukainya? Ah,. tapi aku sudah menjadi pacarnya. Dia tidak bisa ditolak. Tidak mau ditolak. Masak pemaksaan sih? Aneh. Aku kan belum mau punya pacar. Belum siap menikah." Rimbun bergumam sendiri.


"Tapi dia sudah sangat baik padaku. Walau kadang ngeselin. Tanpa dia, mana mungkin aku terlepas dari hutang hutangku. Mana mungkin kehidupan ku jauh lebih baik seperti sekarang."


Rimbun menoleh ketika terdengar derap langkah kaki.


Ken sudah kembali dengan membawa sebuah baskom berisi air hangat dan handuk kecil.


"Aku akan menyeka tubuhmu." meletakkan baskom itu di sisi ranjang.


"Aku bisa sendiri!" cepat menjawab.


"Tidak apa Rimbun. Biar aku saja." Ken mendekat.


"Tapi Tuan. Aku malu."


"Rim. Kita harus terbiasa. Jika kita sudah menikah nanti, kau menjadi tanggungjawab ku sepenuhnya. Biar aku belajar merawat mu."

__ADS_1


"Jauh sekali! Kapan memangnya mau menikah?"


"Kau mau cepat? Baiklah, sekarang saja. Ayo!" Ken menarik tangan Rimbun.


"Eh, tidak tidak."


"Kalau begitu menurut!"


Dengan wajah tertekuk, Rimbun mengangguk.


"Lepas bajumu!"


"Apa?" Rimbun kembali melotot.


"Kau mau aku yang melepasnya? Baiklah." Ken segera meraih pinggang Rimbun.


"Tuan!" Rimbun menahan Tangan Ken.


"Makanya lepas!" ucap Ken, beranjak ke arah lemari. Mengambil sebuah handuk.


"Pakai ini." Mengulurkan pada Rimbun.


Dengan ragu, gadis itu menerimanya.


"Cepat! Keburu dingin airnya." ucap Ken lagi.


Rimbun masih diam, ragu untuk membuka bajunya.


Gadis itu bangun dari duduknya.


"Aku akan melepasnya di kamar mandi."


"Ck, kau ini." Ken mendekat.


"Biar ku bantu."


"Tuan."


"Diam lah, jelek." Ken tak sabar akhirnya turun tangan.


Ken memutar tubuh Rimbun . Kemudian tanpa ragu atau sedikit pun malu, Ken mulai membuka baju Rimbun dari belakang.


Menyisakan Bra milik Rimbun. Kemudian melilit tubuh itu dengan Handuk.


"Yang bawah?" tanya Ken.


"Apa mau sekalian aku bukain?"


"Eh, tidak!" Rimbun langsung mencegah tangan Ken yang sudah memegang pinggulnya.


"Bagian ini biar aku sendiri." jawab Rimbun, cepat melepas celananya.


"Duduk lah!" perintah Ken.


Rimbun menurut. Duduk di tepi ranjang sambil sesekali membetulkan lilitan handuknya.


Ken mulai menyeka tubuh Rimbun, di mulai dari tangan, leher dan punggung atas.


Terlihat tangannya sedikit gemetaran.


"Tuan! Kau kenapa? Tanganmu gemetaran." tanya Rimbun.


"Ah, i-ini. Aku, aku belum makan. Ah ya, aku lupa belum makan. Lapar. Mungkin lapar." jawab Ken gugup.


"Ya Tuhan. Makan geh? Nanti sakit bagaimana?"


"I,iya. Iya. Setelah kau selesai." jawabnya masih gugup.


"Kakinya biar aku saja." Ucap Rimbun, saat Ken sudah hampir mengangkat kakinya.


"Oh, baiklah. Aku, aku ke sofa dulu." jawab Ken. Dia melangkah dan membanting tubuhnya di sofa.


"Astaga..!" Berkali kali mengusap wajahnya yang kini memerah.


"Kenapa jadi begini?" Ken memperhatikan tangannya yang masih gemetar, dengan nafas yang terasa sesak.


"Tubuh Rimbun penuh setrum!"

__ADS_1


_______________


__ADS_2