Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Cerita Mira


__ADS_3

Sampai dirumah, tidak ada yang dipikirkan Nathan selain cepat membawa Mira ke kamarnya kembali. Menyandarkan Mira di ranjang miliknya.


Ken, tentu tidak ikut masuk. Dia tau, jika Nathan Tuannya bisa menenangkan Mira sendiri.


Nathan segera mencari baju Mira yang ia ingat pernah sebagian disimpan di lemarinya.


Nathan tidak ambil pusing lagi. Persetan istri orang, persetan Mira mau marah, mau matanya atau tangannya ternoda. Nathan tidak peduli lagi. Dengan cepat dia mengenakan pakaian itu pada Mira.


Mira sempat menolak.


"Jangan Tuan." Menahan tangan Nathan.


"Diam lah! Menurut lah padaku , kali ini saja!"


Mira langsung terdiam. Sorot mata Nathan penuh kesejukan, membuat Mira sedikit tenang. Membiarkan Nathan memakaikan baju padanya.


Selesai itu, Nathan segera bangun. Mengambil segelas air putih.


"Minum dulu. Kau pasti haus."


Mira menerimanya, menengguk air itu sampai habis tanpa sisa. Mungkin dia kehausan atau malah sangat kehausan saat harus memeras habis tenaga dan suaranya tadi.


Nathan mengambil gelas itu dan menaruhnya kembali. Kemudian duduk di samping Mira. Meraih kedua tangan Mira. Tanpa malu menggengamnya dengan erat dan menciumnya berkali kali. Mira menariknya. Tapi Nathan kembali mengambil kedua tangan itu.


"Kau tidak tau bagaimana paniknya aku ketika Ken menelpon ku dan memberitahu ku jika seseorang membawamu pergi. Kau tidak tau Mira! Aku hampir mati memikirkan itu." mengusap usap telapak tangan Mira.


"Aku bahkan memukul anak buah ku karena dia datang terlambat beberapa detik saja. Padahal dia tidak pernah mengecewakan aku selama ini."


"Aku takut Mira! Aku takut tidak bisa menyelamatkan mu. Aku takut terlambat. Tolong jangan membantahku lagi."


Mira masih terdiam, mencerna semua ucapan Nathan.


"Aku tau. Aku tau Mira, Aku tidak ada hak apapun atas dirimu. Aku bukan siapa siapa mu selain hanya sekedar teman, kenalan mu saja, kemudian tanpa sengaja menjadi majikan mu. Tapi Mira, berhati hatilah. Ini demi masa depanmu. Jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, bukan hanya kau yang rugi. Tapi Ayahmu. Bagaimana dengan Ayahmu dikampung yang selama ini selalu menyangka kau baik baik saja di kota ini?"


Mira terdiam cukup lama.


"Aku ingin tanya padamu. Tolong jawab yang jujur. Siapa yang melakukan ini? Siapa Mira? Tidak mungkin pria itu tiba tiba membawamu dan menginginkan tubuhmu tanpa ada alasan yang kuat!" Nathan menarik tangan Mira agar Mira mendongak menatapnya.


"Jujur padaku Mira! Jika kau menganggap ku sebagai temanmu!"


Lidah Mira Kelu, tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Nathan.


"Katakan padaku. Apa suamimu sendiri yang menyerahkan mu pada pria brengsek tadi?"


"Mira! Lihat aku! Jawab!"


Mira terkejut saat Nathan setengah berteriak.


"Mira. Jawablah. Aku hanya ingin berusaha membantumu. Kota ini sangat kejam untuk wanita seperti mu. Kau belum mengenal baik seluk beluk kehidupan di kota ini."


Mira terisak.


"Aku tau. Nasibku selalu malang." mengusap air matanya yang kembali menetes dengan lengannya.


"Bukan begitu, tapi kau .. kau hanya korban kejahatan Mira. Ku mohon beritahu aku! Supaya aku bisa melindungi mu! Kau tidak mengerti juga. Apa kau tidak percaya padaku? Apa kau juga mencurigai ku sebagai orang jahat?"


"Mira, aku hidup sebatang kara disini. Aku tidak punya siapa siapa selain Ken. Ken juga bukan siapa siapaku selain hanya sebatas bawahan dan atasan. Tapi kami saling setia. Kami bisa mengikat persaudaraan dan kesetiaan itu. Mira, mau tidak mau, sengaja atau tidak, kau sudah masuk dalam kehidupan ku dan menjadi bagian dari hidupku. Jadi kumohon, percaya padaku. Apapun yang terjadi kita bisa berteman baik."


Mira mendongak kembali,


"Aku juga tidak mengerti. Pria itu tiba tiba datang menagih hutang pada suamiku dan meminta diriku untuk membayar hutang suamiku."

__ADS_1


"Dan suamimu membiarkan pria itu membawamu?"


Mira mengangguk.


Nathan mengepalkan kembali tangannya.


"Seperti itu yang kau anggap suami?"


Mira bungkam.


"Suami yang kau patuhi. Yang hampir saja menjual dirimu demi kepentingan pribadinya?"


"Mira! Yang namanya Suami itu melindungi. Membahagiakan. Kau keterlaluan Mira! Kau merendahkan harga dirimu sebagai wanita. Ibumu akan sedih melahirkan anak yang hanya bisa hidup pasrah dengan penderitaannya."


"Aku tidak punya pilihan lain Tuan!" tiba tiba Mira berteriak.


"Jika aku bisa, aku sudah berlari dari awal. Tapi aku bisa apa? Aku mau tinggal di mana?


Aku mau kemana lagi? Ayahku disana menunggu uangku untuk bertahan hidup."


"Jika aku punya uang banyak, aku sudah pulang ke kampung. Tapi aku takut ayahku sedih. Kami sudah cukup menderita dengan kehilangan ibuku dan lumpuhnya ayahku. Hidup kami hancur tuan! Dan aku tidak menyangka jika suamiku akan menyia-nyiakan aku seperti ini. Ku pikir dia orang yang bisa bertanggung jawab." Mira menangis kembali.


"Maafkan aku. Maafkan aku. Sudah jangan menangis. Aku tidak akan bertanya lagi. Maafkan aku."


"Dia yang sudah membunuh ibuku. Menyebabkan ayahku lumpuh. Berjanji akan bertanggung jawab atas hidup ku. Tapi.. tapi setelah menikahiku dan membawaku kemari, dia ternyata hanya bersandiwara. Hanya sekedar ingin lepas dari jerat hukum."


"Maksudmu?" Nathan terkejut dengan pengakuan Mira.


"Dia yang sudah menabrak Ayah dan ibuku. Ibu meninggal di tempat dan Ayahku mengalami lumpuh. Lalu dia berjanji untuk menjagaku. Menikahi ku dan berjanji akan membahagiakan aku asal ayahku bersedia mencabut semua gugatannya di pengadilan. Lalu Ayah memikirkan nasibku jika harus tinggal bersama ayah yang sudah lumpuh. Dan menyetujui permintaannya."


"Tapi setelah sampai di kota ini, aku baru tau jika suamiku sudah mempunyai tunangan. Bahkan pernikahan mereka gagal karena dia harus menikahi ku. Dia sangat membenciku dan menyalahkan aku atas kegagalan Pernikahannya dengan kekasihnya itu. Aku tidak bisa berbuat apa apa selain hanya bisa patuh. Aku hanya berharap bisa merubah nasibku di kota dan kembali pada Ayahku tanpa membawa kesedihan."


"Tinggallah disini sesuka hatimu. Kau sudah bisa mendapat gaji bulanan bukan? Kau bisa meminjam uang padaku untuk beberapa bulan ke depan gaji mu agar kau bisa mengirim uang pada ayahmu segera. Aku akan memotong gaji mu sedikit demi sedikit. Bagaimana? Kau setuju ?" ucap Nathan berusaha menenangkan hati Mira.


"Boleh Tuan?" tanya Mira seperti belum percaya atas penawaran baik dari Nathan.


"Ah, tentu saja. Tentu boleh. Kita sudah berteman bukan ? Jadi tidak masalah."


"Terimakasih Tuan. Terimakasih. Kalau begitu pinjami aku uang ya? Aku ingin segera mengirim uang pada ayahku!" ucap Mira terlalu senang, bahkan sudah melupakan kesedihan yang baru saja ia alami tadi.


"Tapi berjanjilah padaku Mira." menatap Mira dengan tajam.


"Apa Tuan?"


"Jangan patuhi lagi suamimu . Dia tidak pantas untukmu! Kau bisa memberi penjelasan pada Ayahmu. Pelan pelan saja. Kau sudah bekerja disini. Kau tenang saja. Kau tidak akan kekurangan makan dan uang lagi." ucap Nathan.


"Ah, iya. Tuan benar. Kalau begitu bisakah saya mengirim uang pada Ayahku besok?"


"Malam ini. Ken akan mengirimnya. Tidak perlu besok. Berikan padaku nomor rekeningnya."


Mira segera merogoh sakunya. "Kertasnya. Bajuku! Tuan, kertasnya hilang di baju yang ku pakai tadi. Bagaimana ini?" Mira panik ketika ingat jika bajunya hancur di rumah pria biadab tadi.


"Apa tertinggal di rumah tadi?"


"Iya. Iya Tuan. Di bajuku tadi!"


"Tenang lah. Anak buahku bisa mencarinya." ucap Nathan segera meraih Hpnya.


Tiba tiba Mira teringat sesuatu.


"Tuan! Aku mencatatnya disini!" menunjukkan telapak tangannya.

__ADS_1


"Benarkah?" Nathan langsung memeriksa telapak tangan Mira.


"Hampir hilang tulisannya Mira?"


"Masih terlihat Tuan. Hanya samar saja." jawab Mira.


"Baiklah. Tunggu sebentar." Nathan segera mencatat Nomor rekening dan sekaligus nomor hp yang ada ditelapak tangan Mira itu.


Lalu menghubungi Ken.


"Tuan. Anda perlu sesuatu?" tanya Ken disana.


"Ken. Tolong kirim uang ke nomor rekening yang akan ku kirim nanti , malam ini juga Ken. Itu untuk ayah Mira. Dia sedang membutuhkannya."


"Baiklah Tuan. Berapa?"


Nathan menoleh dulu pada Mira.


"Berapa?" bertanya pada Mira.


"Dua juta Tuan."


"Apa? Dua juta?" Nathan terbelalak kaget.


"Tidak ada ya Tuan . Maaf. Kalau satu juta, apa ada tuan? Anda bisa memotong gaji saya langsung nanti."


Nathan menghela nafas saja.


"Ken, kau masih disana?"


"Ah, iya tuan. Berapa jadinya?"


Sambil menoleh kembali pada Mira. "Dua.."


"Dua milyar Tuan?" tanya Ken.


"Palamu itu, dua.. dua juta."


"Hah! Dua juta. Uang segitu , bisa untuk apa Tuan?"


"Untuk Jidatmu itu. Sudah lah. Aku akan kirim nomornya."


Nathan langsung mematikan panggilannya.


Cepat mengirim pesan pada Ken.


[ Itu nomor rekeningnya. Kirim Dua ratus juta. Ingat Ken, dua ratus juta. Bukan dua juta. Dan itu nomor hp pemilik rekeningnya. Kau harus menghubunginya , usahakan kau harus bisa berbicara dengan Ayah Mira langsung. Katakan jika sebagian uang itu untuk biaya ke dokter spesialis. Jika kurang untuk berobat., suruh hubungi nomormu segera. Jangan ada kesalahan Ken! ]


[ Siap Tuan Ku! Tenang lah. Jangan panik! ]


[ Untuk calon Mertua bodoh! Jangan ada kesalahan atau restu tak akan kita dapatkan ! ]


[ Hahaha.. Saya tau. Sangat paham! Di mengerti, di mengerti...!!]


Emoji ketawa yang banyak dikirim Ken pada Nathan!


"Taik Kau Ken!" Nathan menelpon Ken hanya untuk mengumpatnya.


Ken malah terbahak keras di ujung sana.


________________

__ADS_1


__ADS_2