Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Suami muda.


__ADS_3

Nathan melirik wanitanya yang sedang bersandar disisi ranjang dengan mengelus elus perutnya.


Pria itu segera menghampiri dan duduk disampingnya dengan tatapan yang cukup khawatir.


"Ada apa? Apa ada keluhan?"


Mira tersenyum menatap kekhawatiran Nathan.


"Tidak. Aku hanya ingin menyentuhnya."


"Kalau begitu, aku juga ingin menyentuhnya." Nathan menyentuh perut Mira. Namun segera ditepis oleh Mira.


"Jangan ikut menyentuhnya, Nath!"


Nathan mendongak. "Kenapa? Dia milik ku juga." dengan nada memelas.


"Ya. Tapi belum resmi."


"Sebentar lagi akan resmi Mira. Aku ingin menyentuhnya. Ayolah. Kenapa kau pelit?" iba Nathan, membuat Mira tertawa.


"Cengeng sekali. Baiklah, kau boleh menyentuhnya sesuka mu." Mira menarik tangan Nathan dan menaruh diperutnya.


"Sentuh lah. Dia milikmu."


"Ah, iya." Buru buru Nathan meraba disana.


"Jangan kemana mana. Cukup disini saja." ucap Mira.


"Memang kenapa kalau kemana mana? Beberapa hari lagi kau sudah akan menjadi milikku seutuhnya. Jadi tidak ada masalah lagi bukan?" sahut Nathan.


"Beberapa hari lagi? Maksudnya Nath?" Mira bertanya hanya untuk meyakinkan.


"Beberapa hari lagi, kita akan menikah. Ayah akan dijemput untuk kemari, setelah semua persiapan selesai. Kau tidak tau itu?"


"Sungguh kah?"


Nathan mengangguk. "Hari ini, Ken sedang menyiapkan segala sesuatunya untuk kita termasuk pelaminan dan undangan untuk para tamuku."


"Kau akan memeriahkan pesta pernikahan mu?" tanya Mira.


"Mira. Pernikahan ku ini, adalah pernikahan pertamaku dan aku pastikan hanya akan terjadi sekali saja dalam seumur hidupku. Aku, Nathan Edoardo. Apa kata dunia jika hanya akan menikah secara diam diam atau sederhana?"


Mendengar ucapan Nathan, Mira menunduk.


"Apa ada sayang...? Kau tidak senang dengan pernikahan kita?"


"Ah, aku senang Nath. Tapi aku.." Mira meremas jemarinya sendiri, kemudian mendongak.


"Ini bukanlah pernikahan pertamaku. Jika mengingat itu aku sedih."


Nathan langsung meraih wajah Mira. Memegang erat kedua pipi Mira.


"Jangan bicara seperti itu sayang.. Aku tau, ini pernikahan yang kedua kalinya bagimu. Tapi kau juga tau kan? Aku tetap yang pertama untukmu? Aku orang pertama yang mendapatkan hati dan tubuh mu. Tolong jangan bicara seperti itu. Aku lebih sedih mendengarnya." ucap Nathan.


Nathan kemudian membawa Mira dalam pelukannya.


"Ricard hanya menikahi mu sebatas status. Tidak seperti aku nanti. Aku akan menikahi mu untuk sepenuhnya. Lahir batin mu, dan untuk seluruh hidupmu." ucap Nathan.


"Tapi tetap saja Nath, statusku janda. Apa kau tidak malu, seorang pria berpengaruh hanya menikahi seorang Janda?"


"Ah, iya. Jandanya bunting lagi. Ck, benar benar Nathan ini. Benar benar sudah Gila!" sahut Nathan. Sambil mempererat pelukannya.


"Nath." Mira memukul dada Nathan.


"Jika saja diperbolehkan oleh Agama ataupun Negara, aku pasti sudah menikahi mu sejak kemarin kemarin sebelum kau resmi bercerai sekali pun. Aku rela menjadi seorang madu. Menjadi suami muda mu. Karena aku sudah gila oleh cinta ku." ucap Nathan kembali. Kemudian mengangkat wajah Mira, memandangi kedua bola mata Mira.


"Dengar aku Mira. Meskipun orang tau statusmu, aku tidak sedikitpun malu. Aku tidak peduli dengan dunia luar. Karena yang aku pedulikan adalah kamu. Kamu, cinta kita dan Dia." menunjuk perut Mira.


Mata Mira berkaca kaca.

__ADS_1


"Nathan."


"Sudahlah. Tak perlu ada yang kau pikirkan lagi selain, jaga selalu kesehatanmu. Kesehatan tubuh dan pikiran mu. Lakukan demi aku, demi calon bayi ku. Itu sudah membuatku sangat bahagia." Kemudian merengkuh tubuh Mira, membaringkannya.


"Tidurlah. Besok, kau akan sedikit lelah."


kemudian Nathan mendekap tubuh Mira dari belakang.


Mira pun memejamkan matanya dengan kenyamanan sepenuhnya dari pria itu.


Mereka pun tertidur dalam kebahagiaan. Lelap, tanpa ada sesuatu yang terjadi lagi. Semenjak pernah terulang untuk yang kedua kalinya itu, Nathan berjanji tidak akan mengulanginya lagi sebelum benar benar resmi. Dan Nathan ternyata menepati janjinya hingga detik ini.



Nathan Edoardo.



Mira.


Pagi menjelang,


Mira masih terlelap, sementara Nathan sudah berada di ruangan tengah bersama Ken.


Mereka nampak berbicara cukup serius membahas Tentang Rencana Pernikahan Nathan.


"Ijab Kabul akan dilaksanakan di Masjid terbesar di kota ini. Sementara Resepsi akan di gelar di Villa yang sudah aku siapkan ini." Ken menunjukkan beberapa gambaran persiapan yang ia sempat rancang kemarin bersama WO.


"Jika anda tidak setuju, kita bisa mengubahnya. Ini masih rencana dan belum positif."


Nathan tersenyum. "Tentu saja aku setuju. Apapun yang kau persiapkan, pasti itu yang terbaik Ken."


"Lalu Nona bagaimana? Apa dia setuju?" tanya Ken.


"Ya. Semalam aku sempat membahasnya sedikit. Awalnya Mira keberatan dengan pernikahan yang akan ku meriahkan ini, tapi sekarang dia sudah setuju."


"Baguslah. Kalau begitu, tinggal mempersiapkan Poto Prewedding dan Undangannya. Jangan lupa Harinya." sahut Ken.


Nathan mengangguk.


"Kita akan meninggalkan Nona sendirian?" tanya Ken.


"Tidak apa apa. Ada Fic yang bisa dipercaya."


"Tuan. Ku rasa Nona kesepian di rumah ini tanpa wanita lain. Aku ingin membawa seorang wanita untuk menemani Nona sementara kita sibuk diluar. Bagaimana? Kau setuju?" saran Ken.


"Kau ini. Katakan saja jika kau sedang ingin melindungi seorang gadis bukan?" selidik Nathan.


"Ternyata kau bisa menebak dengan gampang, Tuan."


"Tentu saja. Kau pikir hanya kau saja yang bisa mengerti dengan seluruh keadaanku, sementara aku tidak?"


"Ah iya, tentu saja kau juga bisa. Tapi ini hanya untuk sementara. Setelah itu, tergantung Nona. Kurasa, Nona akan segera memintamu untuk mengganti seluruh pelayan dirumah ini dengan wanita." sahut Ken.


"Ah, iya. Aku akan menunggu dia meminta sendiri padaku."


"Tebakan ku tidak akan lama lagi."


Keduanya tertawa hangat, kemudian menoleh ketika mendengar langkah kaki ringan milik Mira yang menghampiri mereka.


"Kalian sedang berunding?"


"Iya sayang, kemari lah." Nathan menepuk sofa disampingnya.


Mira pun duduk.


"Kau sudah mandi?" tanya Nathan. Mira hanya mengangguk.


"Nanti sarapan yang banyak ya? Kami harus pergi."

__ADS_1


"Kau tidak mengajakku?" tanya Mira.


"Hem, tentu saja. Tapi bukan sekarang. Nanti saja, saat Poto Prewedding, sekalian kau boleh meniti semua persiapan yang ada. Siapa tau ada yang kau tidak suka." balas Nathan.


"Aku akan suka semua Nath."


"Ah, iya. Tapi hari ini, kau harus banyak istirahat." sahut Nathan.


"Kau harus menyiapkan diri sebaik mungkin Nona. Setelah itu kau akan sangat lelah." Ken ikut bicara.


"Ken. Terimakasih. Kau sungguh pengertian padaku."


"Ah, tidak masalah. Kau akan menjadi Nona mudaku bukan? Sudah sewajarnya." sahut Ken.


"Apa Nona butuh teman? Aku akan mengenalkan mu pada seorang gadis yang sangat menyenangkan. Kau akan betah bersamanya." sambung Ken lagi.


"Benarkah?"


"Em."


"Ajak dia kemari Ken!"


"Besok, atau lusa. Karena hari ini, dia perlu membantuku dulu."


Mira mengangguk dan terlihat sangat senang. Sementara Nathan terus menatapnya dengan penuh kebahagiaan.


Kedua pria itu kini beranjak pergi, meninggalkan Mira sendirian lagi. Tapi kali ini bukan pergi untuk urusan yang mengkhawatirkan, melainkan untuk mempersiapkan hari bahagia.


__________


Siang ini, Mira berjalan sedikit terburu untuk memanggil Fic.


"Fic!"


"Nona. Ada apa?" yang di panggil langsung mendekat.


"Kran di dalam kamar mandi Tuan Nath mati. Bisakah kau memeriksanya?"


Fic sempat berpikir sejenak.


"Aku akan menghubungi Petugas servis. Sebab bukan hanya kran air di kamar Tuan Nath yang juga rusak. Karena memang sudah waktunya ada perbaikan dan aku lupa Nona." sahut Fic, dibalas anggukan kecil dari Mira.


"Untuk sementara Anda bisa memakai kamar mandi di kamar lain Nona." saran Fic.


"Ah, iya. Tidak masalah."


Setelah beberapa lama menunggu, Petugas servis pun datang. Fic segera memerintahkan pria yang tiba seorang diri dengan seragam lengkap dan koper kecil tempat peralatan itu untuk memeriksa kran di dalam kamar mandi milik kamar Nathan.


"Silahkan pak. Anda bisa memeriksanya."


Pria yang menggunakan topi dan masker itu hanya mengangguk, kemudian melangkah masuk ke kamar Nathan setelah sempat melirik Mira yang duduk di ruangan tengah itu.


"Nona. Tunggulah disini sebentar. Aku akan ke dapur untuk menyuruh Lucki menyiapkan sarapan untukmu. Anda belum sarapan kan?" ucap Fic.


"Oh,iya. Terimakasih Fic." sahut Mira.


Fic mengangguk kemudian berlalu.


Tak begitu lama, si Petugas kran itu sudah keluar dari kamar Nathan. Mira segera menghampiri.


"Apa sudah selesai pak?" tanya Mira.


Pria itu tidak menjawab, menoleh dengan tatapan yang cukup sadis. Kemudian mendekati Mira. Terus melangkah mendekat, membuat Mira mundur. Tapi pria itu terus mendekat.


"Mau apa kau? Jangan macam padaku?" jerit Mira.


Pria itu tiba tiba mengeluarkan pisau dari balik rompinya.


"Aku ingin membunuhmu, Jalanggg!"

__ADS_1


_______________


__ADS_2